Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 19: Back with Poison
aku balik lagi guysss sapa yg gak sabar???😖💗
sabar ya ketemu vello sm arula yang bucin😌❤️
jangan lupa vote untuk menghargai karya penulis
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
CEKLEK
Arula menoleh ketika pintu kamar terbuka dari luar dan menampilkan sosok Hayden di sana. "Nona Arula, apakah kau sudah siap?"
Arula berdiri dari duduknya namun tetap stagnan di tempat, "Sebenarnya aku akan di bawa ke mana?"
"Hanya Tuan Vello yang mengetahuinya." balas Hayden seadanya.
Sahutan datar dari Hayden berhasil meloloskan decakan dari Arula. Namun, meski dengan raut kesal ia memilih untuk menurut dan keluar dari kamar.
Kini Arula dan Vello sudah berada di dalam mobil beserta Hayden dan sopir yang menemani. Arula sedari tadi terus menatap ke luar jendela, tak ingin lagi bertanya kemana pria itu akan membawanya.
Tak lama mereka sampai di tempat tujuan yang entah di mana.
Arula mengedarkan pandangannya ke luar yang nampak ramai lalu lalang orang-orang.
"Ini di mana?" tanyanya setelah mobil berhenti.
Namun tak ada jawaban dari Vello hingga membuat Arula lagi-lagi berdecak.
Mereka masuk ke sebuah tempat yang tidak nampak ramai. Arula celingukan seperti orang bodoh dan atensinya langsung teralihkan ketika suara Vello mengalun.
"Hilangkan tato di dadanya hingga bersih." kata pria itu pada pemilik toko yang tadi menyambut mereka.
Arula menatap tak percaya pada pria itu. Jadi alasan mereka datang ke sini untuk menghapus tatonya?
Pria di depan mereka yang berbadan besar dan berotot itu melirik Arula hingga spontan membuatnya mengusap tengkuk tak nyaman. Haruskah ia kabur saja dari sini?
"Cepat ikuti dia." seru Vello menyadarkan Arula yang tengah merasa sedikit ketakutan.
Arula kontan menggeleng, "Aku tidak mau!"
"Kau masih ingin memelihara tanda itu?" tanyanya cukup sarkas namun tatapan matanya terlihat dalam syarat akan makna.
Tanpa banyak berucap akhirnya Arula mengekori pria menyeramkan tadi. Sepanjang perjalanan ia terus menelan ludah sembari mengepalkan tangannya risau.
Tidakkah Vello sadar bila Arula memiliki ketakutan besar terhadap pria-pria berotot menyeramkan seperti pria tadi? Karena jujur saja hal itu selalu mengingatkannya pada kejadian malam mengerikan itu.
Namun tanpa Arula sadari, Vello selalu memantaunya bahkan ketika wanita itu tengah duduk bersiap untuk menghapus tatonya menggunakan laser. Arula yakin rasanya pasti akan sangat menyakitkan persis ketika tato itu dibuat.
Selang beberapa menit kemudian Arula keluar dari ruangan itu sembari meringis dengan bagian dadanya yang terlihat memerah. Vello lantas berdiri dan melilitkan syal coklat yang Hayden ambilkan untuknya.
Arula sedikit tersentak mendapatkan perlakuan itu, namun sebisa mungkin ia bereaksi biasa saja.
"Apa sangat sakit?"
Arula melirik Vello tajam, "Menurutmu?" sarkasnya hingga mampu membuat Vello tak mampu menjawab.
Tak lama Vello menemui pria yang telah menghapus tato Arula dan berbincang sebentar. Setelahnya pria itu mengajaknya untuk keluar, sedangkan Hayden menghampiri pria tadi untuk memberikannya segepok uang. Ya segepok uang. Mengingat pekerjaannya yang hanya menghapus tato Arula entah setan mana yang merasukinya hingga pria bertubuh besar itu mendapatkan rezeki begitu deras dari Vello.
Vello melirik Arula yang sejak tadi diam. Wanita itu tak seperti biasanya yang selalu memberontak dan bersikap heboh, kali ini wanita itu nampak tenang dan cuek.
Vello memilih untuk tidak menghiraukan dan menatap ke arah depan dengan angkuh. Keduanya sama-sama diam, sama sekali tidak ada niatan untuk membuka suara.
Hingga akhirnya Arula menyadari bahwa mobil yang mereka kendarai tidak menuju ke arah mansion. Ia hendak menyuarakan kejanggalannya, namun ia mengurungkan niat sebab tahu apa yang akan ia dapatkan dari respon pria di sampingnya.
"Turunlah. Berbelanja sepuasmu. Aku akan menunggu di sini."
Arula sontak menoleh dengan alis bertaut. Pandangannya ia edarkan pada jendela mobil yang ternyata berada di basement pusat perbelanjaan.
Arula menatap Vello lekat. Tidak biasanya pria itu baik padanya. Ia harus waspada.
"Hayden akan menemanimu." suara seksi itu kembali terdengar hingga menarik atensi Arula.
"Aku tidak mau." balas Arula tak acuh dan kembali menghadap depan seraya bersedekap.
Arula melirik Vello yang tidak bereaksi. Sudut matanya dapat melihat pria itu yang tengah melepas jas hitam mahalnya. Refleks Arula menegakkan punggung dan menoleh. Pasalnya masih ada sopir di depan mereka serta Hayden yang menunggu di luar mobil.
"KAU AKAN MELAKUKAN APA?!" Arula spontan memeluk diri dan menjaga jarak.
Vello tampak tak memedulikan dan menyerahkan jas hitam itu pada wanita di sampingnya hingga tersisa rompi hitam serta kemeja putih.
Masih tanpa suara, Pria itu dengan telaten membuka lilitan syal yang melingkar di leher putih Arula dengan lembut. "Pakailah ini. Aku tahu kau tak nyaman memakai syal karena cuaca sedang terik."
Arula menatap jas serta pemiliknya pemiliknya.
"Aku tetap tak mau! Sebenarnya ada apa denganmu? Kau akan dengan terang-terangan membunuhku di sana, HUH?!" Arula berucap menggebu-gebu setelah kekesalan yang ia pendam sejak tadi akhirnya meledak juga. Bagaimana ia tidak merasa heran. Pasalnya Vello tak pernah mengajaknya keluar mansion barang sedikit pun. Dan kini? Justru pria itu yang memintanya agar keluar dengan dalih berbelanja. Wajar bukan jika Arula merasa waswas?
Penuturan Arula sama sekali tidak memprovokasinya. Pria itu justru melirik pada kaca spion depan sehingga bersitatap dengan sang sopir. Tatapan tajam itu membuat sang sopir peka dan berangsur keluar dari sana hingga menyisakan sepasang sejoli yang tengah bersitegang itu.
Arula menelan ludah ketika melihat rahang pria itu mengeras. Apa ia telah memancing amarah pria itu?
"Aku tidak akan membunuhmu, Sayang. Aku melakukan ini agar kau bersenang-senang." Pria itu dengan lembut mengusap kepala Arula lembut hingga membuat wanita itu terjengit kaget akan aksi yang tiba-tiba itu.
"Apa aku boleh pergi setelahnya?"
Tatapan lembut yang semula pria itu pancarkan kini redup bergantikan dengan tatapan tajam. "Jika kau sampai berani melakukannya maka aku tidak akan segan untuk menembak kakimu!" ancamnya tak main-main.
Kemudian pria itu membantu memakaikan jas miliknya pada Arula sebab wanita itu yang justru termangu. Anehnya Arula tak berani untuk menolak.
"Pergilah bersama Hayden. Bersenang-senang dan beli apapun yang kau suka." ucap Vello sembari menutupi luka merah akibat tato yang telah dihapus menggunakan jas miliknya.
"Lalu kau?"
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku di sini."
"Di sini? Memangnya kau tidak akan bosan?" Arula menatap pria itu sangsi.
Vello justru terkekeh kemudian menggeleng,"Menunggumu nyaris tiga tahun saja aku sanggup. Jadi, untuk apa aku bosan? Aku akan tetap menunggumu, Sayang."
"Bisakah kau berhenti memanggilku sayang?"
"Tidak. Aku justru mulai menyukai memanggilmu begitu."
Sial. Betapa menyebalkannya pria satu ini.
•••
"Nona Arula, kau akan membeli apa sebenarnya? Sejak tadi kau hanya berjalan-jalan saja." Hayden bersuara setelah hampir satu jam Arula mengelilingi pusat pembelanjaan tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam salah satu toko.
Padahal barang branded seperti Balenciaga, Dior, Hermes, Chanel, dan berbagai brand lainnya seolah memanggilnya untuk segera masuk mengunjunginya. Namun, Arula justru hanya mondar mandir tidak jelas membuat Hayden yang sedari tadi mengikutinya mulai bosan.
"Aku tidak tahu Hayden. Kau saja yang berbelanja, aku akan menunggu di sini." keluh Arula dengan kesal.
"Nona. Kau jangan meremehkan kartu Tuan Vello. Bahkan jika kau ingin, dia bisa membelikan seisi mall ini dengan sekali gesekan kartunya."
"Berhenti mengagung-agungkan dia di depanku. Aku mulai muak." decak Arula dengan sekali delikan mata tajam kemudian wanita itu melanjutkan, "Sana kau masuk saja ke toko itu. Beli apapun yang kau butuhkan." Arula menunjuk asal sebuah gerai brand dengan telunjuknya.
"Jika aku melakukan itu, sudah pasti kepalaku hilang ketika pulang nanti." balas Hayden tanpa nada bergurau, namun anehnya Arula tertawa.
Tawa itu reda setelah melihat Hayden tidak tertawa sama sekali. Arula kemudian kembali memasang raut sedih, "Aku tidak ada niatan untuk membeli apapun."
"Sepatu! Apa Nona ingin membeli sebuah sepatu? Atau tas? Pakaian mungkin?"
Arula menggeleng membuat Hayden lesu sendiri. Padahal jika wanita lain yang disodorkan kartu milik Tuannya sudah pasti wanita itu akan sangat senang hati menghambur-hamburkan harta Tuannya. Anehnya Arula tidak seperti itu membuat Hayden ikut merasa penasaran.
"Ayo pulang saja." Hayden terlonjak ketika Arula membalikan tubuh.
"No-nona, jika kau tak membeli apapun Tuan Vello akan membunuhku!" seru Hayden meninggikan suaranya namun diwaktu yang sama pria itu merasa gugup.
"Kenapa dia selalu mengancam pengawalnya yang tidak bersalah? Kau bahkan baru pulih setelah dia tembak. Apa dia memang sudah hilang akal?!"
Hayden mengerjapkan matanya beberapa kali, dalam hati pria itu berharap agar Arula tidak salah paham. "Bukan seperti itu Nona, Tuan Vello tidak akan menghukum bawahannya tanpa alasan, beliau__"
"Sudahlah! Yang aku inginkan sekarang pergi dari sini!" Arula berjalan melewati Hayden hingga membuat pria itu kalang kabut.
"Nona! Nona Arula! Kau tega melihatku hidup tanpa kepala? Tuan Vello tidak akan memaafkanku jika aku tidak melakukan tugasku dengan baik!" Hayden kembali berseru berharap agar Arula termakan oleh bujukannya yang sengaja ia lebih-lebihkan.
Pasalnya, Vello beserta mobil yang tadi mereka kendarai telah pergi. Vello yang mengatakan akan menyelesaikan pekerjaannya, itu tidak sepenuhnya salah.
Hanya saja Diana Amora__wanita gila yang ambisius itu berada di rumahnya tanpa dapat Vello cegah. Liliya menghubungi Hayden dan mengatakan jika Diana datang ke rumah dan membuat keributan.
Vello yang mengetahui hal itu tentu naik pitam, maka dengan kepercayaan yang ia berikan pada Hayden, Vello menitipkan Arula dengan alibi berbelanja di pusat pembelanjaan hingga urusannya selesai. Dengan begitu Hayden harus bisa menahan Arula di sana hingga Vello kembali untuk menjemputnya.
"TAPI AKU TAK INGIN MEMBELI APAPUN, HAYDEN! KAU SAJA SANA YANG BERBELANJA! AKU AKAN KEMBALI KE BASEMENT!" teriak Arula sembari berjalan cepat membuat mereka menjadi sorotan banyak orang.
Hayden tak memedulikan dan ikut berlari menyusul wanita satu itu.
Jika nanti Arula sampai mengetahui bahwa Vello tidak ada di basement maka akan dipastikan bahwa nanti lutut Hayden yang akan kembali menjadi sasaran revolver milik Tuannya.
"Nona! Nona Arula! Tolong dengarkan aku!" Hayden masih berlari dengan hati yang kesal. Pantas saja Tuannya selalu terbakar amarah tiap kali berhadapan dengan wanita satu ini, ternyata Arula memiliki hobi menyulut emosi para pria.
Hayden menghela napas lega ketika melihat Arula berhenti di dekat eskalator dengan sendirinya. Wanita itu merogoh saku dan mengeluarkan ponsel barunya.
Hayden tiba di samping wanita itu dengan ngos-ngosan. Hilang sudah reputasinya sebagai pria dingin dan cuek setelah berhadapan dengan Arula.
"Aku akan menelepon Vello."
Hayden kontan menegakkan tubuh dan membelalakkan matanya.
"Apa?!"
Arula menoleh penuh curiga melihat respon Hayden begitu panik.
"Kenapa? Bukankah dia tengah bersantai di dalam mobil sembari menungguku?"
Dia tidak sedang bersantai, Nona. Melainkan tengah beradu argumen dengan wanita ular yang selama ini selalu mengganggunya! Batin Hayden dengan geram.
Namun, mana mungkin Hayden mengucapkan itu. Yang ada nanti Arula akan salah paham dengan adanya wanita lain yang berada di mansion dan berpikir betapa teganya Vello meninggalkan Arula di sana bersama Hayden demi wanita lain.
"Tuan Vello memang tengah menunggumu di dalam mobil. Tapi beliau tidak sedang bersantai. Kau pasti ingat Tuan Vello yang berkata akan menyelesaikan pekerjaan seraya menunggumu?" Hayden menatap lekat pada Arula. Berusaha agar wanita itu menurut dan tak lagi berniat menelepon Vello apalagi menghampiri pria itu yang nyatanya tidak berada di basement.
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Vello. Terdapat wanita dengan gaya modern yang elegan bersikap angkuh yang duduk di sofa ruangan megah itu.
"Akhirnya kau datang juga, Vello."
Vello berjalan tegap dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana yang nampak santai, namun berbeda dengan wajahnya yang nampak keras dan dingin dengan manik menghunus tajam pada objek yang berada di depannya.
"Ada perlu apa kau datang ke sini?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
Singkat, padat, dan tajam.
Pria dengan setelan rompi serta kemeja putih itu nampak mendominasi dengan wanita di depannya yang tidak merasa terintimidasi sama sekali.
"Aku datang ke sini bukan tanpa alasan, Vello. Aku hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku!"
___TBC___
hihi gimana buat part ini?? villainnya mulai muncul👹😌
i hope you like this story💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️❤️🔥
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии