21 страницаОпубликовано: 24.08.2026. 13:47
50

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 20: Have a Good Sleep

hihiyy aku double update lagih😌❤️‍🔥

jangan lupa
vote, comment, dan share yaa⚜️💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

DRRRTTT DRRRTTT

Vello sedikit mengernyit begitu ponsel dalam saku celananya bergetar. Pria itu lantas meraih dan melihatnya.

Nama Hayden tertampang di sana.

Vello melirik Diana yang setia memandanginya. Tak lama ia mengangkatnya sebab takut terjadi sesuatu pada wanitanya.

"Ya?" sahutnya langsung.

"Tuan Vello, maafkan aku. Tapi, Nona Arula ingin pulang dan kini Nona tengah mencarimu. Aku harus bagaimana?" terdengar nada bersalah dari suara Hayden.

Vello menatap Diana yang lagi-lagi tengah menatapnya seolah di ruangan itu hanya ialah seorang yang menjadi objek paling menarik. Mata tajamnya ia arahkan ke arah lain dan lantas menjawab. "Katakan saja yang sebenarnya."

Tidak ada sahutan dari Hayden hingga beberapa detik pria Park itu kembali menyahut, "Kau serius, Tuan?"

"Tak ada cara lain. Jika wanita itu marah, aku sendiri yang akan menanganinya."

"Baiklah."

Vello kemudian menutup sambungan telepon dan memasukkan kembali ponselnya.

"Jadi, wanita itu sedang bersama Hayden?" Diana berucap dengan senyum miring.

Vello lantas menatap datar pada wanita itu tanpa ada niatan untuk membalasnya.

"Wanita itu pun tinggal di sini juga rupanya." gumam Diana bersedekap sembari mengangguk-anggukkan kepala.

Vello hanya diam mendengar wanita itu yang terus berkicau hingga membuat telinganya berdengung.

"Pasti dia di sini bahagia sekali karena bisa dilayani oleh para pengawalmu? Betapa puasnya wanita it__"

BRAK!

"APA YANG KAU LAKUKAN BRENGSEK?!!" Diana melotot marah seraya memegang tangan Vello yang mencekik lehernya hingga mereka terjatuh di atas sofa.

Vello yang berada di atas tubuh Diana nampak tak peduli sama sekali. Ia hanya ingin wanita in itu berhenti mengoceh dan pergi dari mansionnya.

Posisi Vello yang berada di atasnya membuat Diana sulit bergerak, napasnya tersenggal-senggal sebab Vello yang mencekiknya tak main-main.

"Jika kau mengucapkan satu kata lagi mengenai wanitaku maka akan ku robek mulut sialan ini!" desisnya tajam. Namun Diana tidak menghiraukan sebab yang terpenting saat ini adalah Vello melepaskan cekikannya.

Tapi tanpa keduanya sadari, Arula berdiri di belakang sana. Wajahnya terlihat begitu terkejut dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Entah apa yang terjadi padanya karena melihat posisi kedua insan itu yang sangat intim membuat pikiran Arula kemana-mana.

"Nona Arula! Tunggu sebentar_" Hayden berhenti ketika Arula mematung di dekat pintu dengan pandangan lurus ke depan.

"No-nona Arula, itu tidak seperti yang kau_"

"Jadi ini yang dia katakan menyelesaikan pekerjaan?" Arula menoleh pada Hayden dengan tatapan sayu. Sorotnya begitu terlihat putus asa dan penuh kekecewaan.

Hayden jadi serba salah. Kenapa ia harus berada di posisi menyulitkan seperti ini?

Dalam keadaan leher yang masih dicengkeram erat oleh Vello. Diana tidak sengaja melirik ke arah belakang hingga senyum miring terukit di bibir tipisnya. Hal itu tentu membuat Vello mengernyit heran melihat wanita di bawah kuasanya justru tersenyum miring.

Baru saja Vello hendak menolehkan kepala, Diana dengan kasar mendorong tubuh Vello hingga kini posisi keduanya terbalik. Diana tersenyum penuh kemenangan melihat Vello yang kini berada di bawahnya.

Kemudian Diana menoleh ke arah samping dengan senyuman manis, "Bagaimana? Kau akan menyerahkan pria ini padaku sekarang?"

Mendengar itu sontak Vello ikut menoleh dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Arula serta Hayden yang tengah memandang keduanya.

Vello menggeram marah. Kenapa mereka datang disaat yang tidak tepat? Terlebih posisinya saat ini pasti membuat Arula salah paham.

Dengan penuh amarah, Vello mendorong Diana kencang tak peduli bagaimana keadaan wanita itu yang kini terdorong mundur. Namun, alih-alih merasa kesal. Diana justru tersenyum licik melihat bagaimana Arula kini menatap Vello penuh kebencian.

"Hayden, bawa dia ke kamarnya!" perintahnya tegas tanpa menatap Arula. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa cemas dan merasa sangat bersalah pada wanitanya setelah melihatnya bersama Diana.

"Jadi, ini alasanmu meninggalkanku?"

Vello masih tak bergeming di tempatnya. Pria itu masih terduduk di sofa dengan rahang yang mengeras.

"Nona Arula, kau harus beristirahat di kamarmu." Hayden mencoba menggiring Arula namun wanita itu justru menepis tangan Hayden dengan kasar.

"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan. Jika kau ingin bersamanya kenapa kau harus repot-repot membawamu ke sini, bajingan?! Jika kau sengaja ingin menyakitiku lagi, maka kau berhasil brengsek!" setelah memberikan tatapan permusuhan itu pada Vello, Arula pergi ke lantai atas setelah melirik Diana di belakang sana yang menatapnya angkuh.

Bajingan, brengsek.

Dua kata yang memiliki makna yang tidak jauh berbeda. Vello tertawa miris dalam hati mengingat betapa brengseknya ia.

Hayden hendak menyusul Arula berniat untuk memastikan wanita itu baik-baik saja, namun Vello segera menahannya.

"Biarkan dia."

Seruannya itu membuat Hayden tak kuasa dan berakhir patuh.

Vello bangkit dan membalikkan tubuhnya hendak menghadapi Diana yang seingatnya masih berada di belakangnya, namun ketika ia sudah berhasil membalikkan tubuh mata tajamnya tak menemukan siapapun.

Shit! Wanita itu pergi setelah membuat masalah di sini.

Pria itu tak bisa melakukan apapun selain berdecak kesal.

Berbeda di tempat lain, Arula justru tengah meringkuk di kasurnya dengan air mata yang entah mengapa merembes deras.

"Sial! Kenapa aku menangisinya?!" kesalnya sembari mengusap air matanya dengan kasar.

Tanpa sadar Arula memejamkan mata akibat terlalu lelah menangis dan terlelap begitu mudah dengan keadaan yang masih memakai jas hitam milik Vello dengan keadaan meringkuk seperti janin dalam perut.

•••

Vello duduk seorang diri di sebuah restoran mewah. Sengaja pria itu tidak memilih tempat VIP sebab kali ini ia bukan hendak melakukan pertemuan bisnis yang formal sehingga ia tak masalah dengan sekitarnya yang berisik.

Vello meraih gelas berisi wine dan meneguknya. Mata tajamnya menyapu sekitar yang tidak nampak ramai.

"Ibu, kemana ayah?"

Sebuah suara menggemaskan sukses menarik atensi Vello di depan sana yang tidak terlalu jauh dari jaraknya. Terlihat anak perempuan berusia sekitar 5 tahun dengan gaun mungil berwarna hijau sedang bertanya pada ibunya yang berada di sampingnya.

"Ayah sedang ke kamar mandi sebentar, Sayang." sang ibu dengan senyum tipis mengusap surai sang putri dengan lembut.

Anak perempuan itu menolehkan kepala dan tanpa sengaja bersitatap dengan Vello. Katakan jika kini Vello tengah berdelusi karena melihat gadis kecil itu yang memiliki mata kucing persis seperti wanita yang Vello kenali.

Tak lama seorang pria datang membuat gadis kecil itu mengalihkan pandangannya dan berlari tergesa menuju ayahnya.

Pria dengan setelan kemeja hitam itu mengangkat putri semata wayangnya dan menggendongnya penuh sayang.

"Kau lama sekali." ucap wanita yang berada di depannya hingga membuat si pria yang merupakan ayah gadis kecil itu terkekeh.

"Hanya ditinggalkan lima menit saja kalian sudah merindukanku." kekeh pria itu membuat si wanita mendengus geli.

Ketika pria yang tengah menggendong putrinya itu mengangkat pandangan, tak sengaja maniknya bertemu dengan manik tajam milik Vello.

Vello menahan napas untuk sesaat ketika meneliti paras tak asing itu.

Kares Edwin.

Bukankah pria itu sudah mati tepat di tangannya? Dan ia pun juga melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria itu sudah di makamkan.

Vello mengalihkan pandangannya pada sang wanita yang menghadap samping. Dadanya kontan bergemuruh hebat melihat wanita itu berada di sana. Arula Dara.

Setelahnya Vello mengalihkan pada anak perempuan yang masih setia berada di gendongan ayahnya. Mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia.

"Arula, kenapa kau berada di sana?" gumamnya tanpa sadar. Bertepatan dengan hatinya yang mencelos sakit melihat anak perempuan itu yang begitu mirip dengan Arula.

"Sayang, apa kau sudah kenyang?"

Anak perempuan itu mengangguk menggemaskan dan kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang ayah.

Tanpa sadar Vello mengepalkan tangannya dengan kuat. Bertepatan dengan kedua matanya yang terbuka lebar dan langit-langit kamarnya lah yang menjadi objek pertama penglihatannya malam ini.

Sial! Mimpi sialan itu lagi.

Vello bermimpi. Mimpi buruk yang kerap menghantuinya di kala ia terlelap. Inilah alasan mengapa Vello tak ingin tidur dan lebih memilih untuk berkutat dengan pekerjaannya.

Vello duduk di atas ranjang besar miliknya dan meneguk air dengan rakus. Napasnya memburu tak beraturan serta dadanya yang masih bergemuruh dengan keringat yang bercucuran.

Teringat akan wanita yang berada di dalam mimpinya, Vello lantas beranjak dan keluar dari kamarnya.

CEKLEK

Vello dapat melihat Arula yang terlelap di ranjang dengan keadaan gelap. Wanita itu masih mengenakan jas miliknya. Vello terdiam sesaat untuk menimbang-nimbang. Jujur saja setelah kejadian tadi siang ia masih merasa bersalah pada wanita itu.

Namun, mengingat kembali mimpi buruknya yang tadi ia alami membuat Vello mantap melangkah mendekati wanita itu yang tengah berbaring membelakanginya.

Suara ranjang berdecit menjadi tanda bahwa Vello berhasil naik ke atas sana dengan perlahan.

Ya, pria dengan piyama hitam satin itu memutuskan tidur di sana untuk menghilangkan rasa takutnya akan mimpi buruknya tadi. Vello menarik selimut untuk menyelimuti mereka berdua sebab sejak tadi Arula tertidur tanpa memakai selimut. Biarkanlah ia melakukan ini sebab besok pagi ia akan pergi tanpa sepengetahuan wanita itu.

Vello merapatkan tubuhnya dan memeluk pinggang wanita itu.

Arula yang merasa tidurnya terganggu lantas bergerak perlahan untuk mencari rasa nyaman. Beruntung wanita itu tidak terbangun sehingga Vello tak akan tertangkap basah.

Dengan ketenangan malam serta pelukan hangat yang ia berikan pada wanitanya. Vello mulai memejamkan matanya dengan perlahan untuk mengisi energinya kembali sebab esok hari ia masih harus menghadapi pekerjaan serta wanita ular itu yang kini semakin dekat dan berbahaya pada wanitanya.

Tak ada apapun yang Vello lakukan selain mendekap erat wanita itu semalaman.

Esok harinya, takdir lagi-lagi tidak sedang berpihak pada Vello sebab niat hati ingin pergi sebelum matahari terbit dan sebelum Arula bangun, namun kini nyatanya pria itu kehilangan start sebab sudah pukul 8 pagi pria dengan rambut berantakan itu masih terlelap pulas.

Arula menatap lekat paras Vello yang terlelap dengan damai.

Jangan tanya bagaimana terkejutnya Arula ketika mendapati Vello berada di atas ranjang yang sama dengannya. Hal pertama yang Arula pastikan ialah pakaiannya. Jelas. Ia terlalu takut untuk di perkosa lagi. Beruntung ia tak terkena serangan jantung sebab pakaiannya yang masih utuh.

Arula tak berniat membangunkan pria itu. Hanya saja ia memberi beberapa jarak untuk keduanya.
Arula dapat melihat kerutan samar di kening pria itu tanda bahwa tidur lelapnya sedikit terganggu.

Tanpa sadar Arula mengulurkan jemari lentiknya untuk menyusuri paras tampan pria di depannya.
Namun, baru saja tanganya terangkat  hendak terjun ke wajah rupawan milik Vello, pria pemilik mata tajam itu dengan mengejutkan membuka matanya membuat Arula spontan membatu.

Wanita itu membelalak dan segera menurunkan tangannya kemudian membuat jarak diantara keduanya, namun Vello dengan gesit menahannya dan ikut bangkit.

"Apa yang akan kau lakukan tadi?"

"A-aku tidak melakukan apapun. Tadi ada lalat yang menempel di wajahmu jadi aku dengan baik hati menghempaskannya." alibi wanita itu tanpa menoleh.

Vello mengangkat sebelah alis seraya tertawa meledek mendengar itu, lelucon yang bagus.

Belum sampai Vello membuka suara, Arula sudah lebih dulu menatap pria itu tajam.

"Lalu kau? Apa yang kau lakukan di sini dan tidur di sampingku?"

Sial! Untuk kali ini Vello tak mampu menjawabnya. Entah karena gugup diberi pertanyaan mendadak atau sebab separuh nyawanya yang belum terkumpul sempurna.

___TBC___

terima kasih yang udah baca. gimana buat part ini?? i hope you like this story⚜️💗

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!