19 страницаОпубликовано: 23.08.2026. 07:22
50

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 18: Slowly

terima kasih yang udah vote ya, ily💗❤️‍🔥
enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

Arula membuka matanya dengan perlahan bertepatan dengan kepalanya yang terasa pusing.
Ia mengernyitkan dahi ketika melihat ke luar jendela yang nampak gelap.

Arula kembali mengingat-ingat bagaimana ia bisa terbaring selama itu hingga membuat tubuhnya terasa remuk.

Dan ya, Arula ingat. Ia jatuh pingsan setelah Vello menamparnya amat kencang dengan emosi meluap-luap. Pantas saja pipinya kini terasa sedikit linu.

CEKLEK

Pintu kamar terbuka tanpa di ketuk terlebih dulu. Arula beringsut menarik selimut saat mendapati Vello berjalan ke arahnya.

Arula tak berani menatap pria itu.

"Bagaimana keadaanmu?"

Arula melirik Vello sungkan. Apa pria itu tidak salah berucap? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu. Bukankah sudah jelas bahwa keadaannya jauh dari kata baik?

Arula akhirnya hanya diam tak menjawab.

Vello mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Pria itu menghela napas berat sebelum kembali membuka suara.

"Sejak kapan?"

Arula meliriknya tak mengerti.

Vello menoleh dan menatap wanita itu, "Sejak kapan kau mengkonsumsi obat itu?"

Arula menegang ditempat. Pasalnya tidak hanya satu ia mengkonsumsi obat, melainkan dua. Yakni obat kontrasepsi serta obat penenang. jadi obat yang mana yang pria itu maksud?

"Eumm... Obat apa...?" tanya Arula pelan nyaris tak terdengar namun beruntung pendengaran Vello begitu tajam.

"Obat penenang. Sejak kapan kau menggunakannya?"

Tanpa sadar helaan napas lega keluar. Arula membuang pandangannya. Jantungnya berdebar begitu kencang. Meski bukan obat kontrasepsi yang pria itu temukan, ia masih harap-harap cemas, takut bila sebentar lagi ia akan terkena amukan pria di sampingnya itu.

Namun, apa ini? Reaksi yang pria itu tunjukkan hanyalah menghela napas? Arula tentu merasa curiga dan bergeser menjauh, takut jika pria itu akan menerkamnya dan mencekiknya.

"Kenapa kau gunakan obat itu?" tanyanya dengan suara rendah.

Arula kembali menatap Vello dengan pandangan heran. Apa pria itu tengah kerasukan? Karena jujur saja mengingat topik pembicaraan mereka saat ini yang tengah membahas hal serius, seharusnya pria itu sedikit menampilkan raut tak suka dan emosi seperti beberapa jam
lalu.

Sejujurnya Arula bingung hendak menjawab apa. Seharusnya pria itu sadar alasannya mengkonsumsi obat itu akibat perbuatan kejinya!

Belum sempat Arula menjawab, wanita bertubuh mungil itu justru sudah kembali dibuat jantungan sebab Vello yang menggenggam tangannya dengan lembut. Dengan lembut? Rasanya hampir tidak mungkin, namun saat ini pria gila itu memang benar-benar menggenggamnya begitu lembut.

"Jangan mengonsumsinya lagi. Aku tak suka kau meminum obat sialan itu."

Oh, shit! Sebenarnya pria itu kenapa?!

FLASHBACK ON.

Vello turun dari lantai atas dengan wajah keras menuju para pelayannya. Pria itu memerintahkan untuk memindahkan Arula ke atas ranjang setelah pertengkaran mereka tadi.

"Liliya, buatkan dia teh hangat dan ganti pakaiannya!"

Liliya hanya menatap heran pada Tuannya. Kali ini ada masalah apalagi antara sepasang sejoli itu? Rasanya kepala Liliya nyaris pecah karena terus mendengar pertengkaran mereka.

Liliya hanya dapat mengangguk patuh dan segera melaksanakan tugasnya.

Dengan lengan kemeja yang dilipat hingga siku, Vello berjalan menuju meja bar.

Pria itu mengambil gelas dan menuangkan anggur hingga setengah kemudian meneguknya dengan tergesa. Kedua mata elangnya memandang lurus dengan tajam. Tangan yang satunya mengepal kuat karena luapan emosi yang masih tersisa. Sekali lagi ia meneguk anggurnya hingga tandas.

Langkah seseorang menuruni undak tangga mengalihkan fokus Vello yang masih berada di kursi bar. Pria itu melirik Liliya yang hendak membuat teh untuk Arula.

"Bagaimana kondisinya?"

Liliya menghentikan pergerakannya dan menatap Vello kemudian menunduk dan menggeleng, "Nona Arula masih belum sadarkan diri."

Tak ada sahutan dari Vello hingga membuat Liliya mendongak. Pria itu kini hanya termangu entah sedang memikirkan apa terlihat dari kedua alis tebalnya yang menukik samar.

"Tuan Vello... Aku tadi melihat ada tato di_"

"Jangan kau teruskan! Aku dan dia bertengkar justru karena tato sialan itu!" gertaknya sembari menatap Liliya tajam.

Liliya menelan ludah kasar, namun wanita yang mulai nyaris berusia enam puluh tahun itu masih setia dalam posisinya. "Tuan Vello... Kurasa tato yang berada di dada Nona Arula harus segera di hapus. Itu mungkin menjadi salah satu rasa sakitnya hingga kini..." papar Liliya dengan nada yang teramat sopan dan pelan.

Vello tak langsung menjawab hingga pria itu mulai beranjak dari duduknya kemudian melangkah mendekat ke arah Liliya.
Pria itu menatap Liliya tajam dengan penuh penghakiman, "Kau memiliki hak apa menyuruhku seperti itu, Liliya?!" serunya datar.

Liliya semakin menunduk ketakutan, namun hal itu tidak membuatnya gentar. Liliya sungguh merasa iba dengan kondisi Arula. Wanita tak bersalah itu begitu memderita baik fisik maupun mentalnya.

Bahkan ketika Liliya mengganti pakaian wanita itu, ia beberapa kali melihat luka lebam di beberapa bagian. Liliya tak tahu sejak kapan luka itu di dapat. Namun, bukan hanya itu, melihat pipi Arula yang memerah serta sudut bibirnya yang sobek membuat hati Liliya teriris. Ia memiliki anak perempuan dan ia merasakan betapa menyakitkannya jika hal serupa terjadi pada putrinya.

"Bukankah tugasmu hanya perlu menuruti perintahku?! Aku sama sekali tak membutuhkan saranmu!"

"Aku minta maaf Tuan Vello, namun... Nona Arula sudah beberapa kali berusaha untuk menyakiti dirinya. Kau tahu... Obat penenang yang Nona Arula konsumsi?"

Vello mendekat dan menatap Liliya bak laser yang siap menghunus manik sendu milik wanita paruh baya itu. Kilatan amarah mulai merangkak kembali mendengar penuturan barusan.

"APA KAU YANG MEMBERIKANNYA?!" sentaknya tak bisa ia tahan. Liliya memejam kuat ketika bentakan itu memenuhi gendang telinganya.

"JAWAB, LILIYA!"

Liliya tersentak dan mengangguk pelan.

Vello spontan kalang kabut dan nyaris memukul wanita itu namun berhasil ia tahan agar tidak lepas kendali.

"No-nona Arula memohon padaku agar membelikkan obat itu. A-aku tak langsung mengiyakan karena jelas kau akan marah, namun melihat jiwanya yang rapuh dan sakit aku tak tega. Wanita itu butuh ketenangan, Tuan. Dia memohon padaku_"

BRAK!

PRAANG!

"LANTAS JIKA DIA MEMOHON PADAMU, KAU MEMILIKI KEWAJIBAN UNTUK MENURUTI KEINGINANNYA?!!" bentaknya penuh murka setelah pria itu dengan kesetanan membanting gelas dan juga sebotol anggur hingga cairan mahal berharga puluhan juta itu terbuang sia-sia.

"Aku tak bisa mengeluarkannya dari sini sehingga aku mengabulkan keinginannya agar Nona Arula tidak tertekan hidup di mansion ini! Setidaknya Nona Arula tak lagi menyakiti dirinya agar membuatnya bisa merasa tenang."

Vello semakin menyorot tajam pada Liliya yang justru semakin berani menjawab ucapannya.

"Jika kau tahu dia selalu menyakiti dirinya, KENAPA KAU MEMBIARKANNYA?!! KENAPA KAU TAK MENGATAKANNYA PADAKU! Lagipula kau tahu bukan jika obat penenang itu tak baik untuk kesehatannya. Kenapa kau malah memberikannya! APA KAU SUDAH GILA DAN INGIN MENYAKITI WANITAKU?!" Vello menarik dagu Liliya sehingga manik keduanya bertemu. Vello tak peduli jika ia harus menyakiti wanita tua di depannya ini jika itu berkaitan dengan Arula

Liliya menatap sendu pada Vello dengan matanya yang sudah berkaca-kaca,  "Jika aku mengatakannya padamu, kau pasti akan menghukumnya lebih kejam! Aku tak ingin itu terjadi." sahut Liliya dengan suara bergetar hebat.

Selang beberapa detik sampai suara isakan Liliya terdengar, "Lantas jika Tuan tak ingin Nona Arula tersakiti kenapa Tuan sendirilah yang menyakitinya?! Dia sakit, Tuan. Dia tak seharusnya berada di sini!" Liliya kembali bersuara dengan nada rendah.

"DIAM!!"

Vello menatap penuh permusuhan pada Liliya. Tangan kekar terlapisi sarung tangan hitam itu mencengkeram kuat rahang Liliya.

"Jika sampai kau berani ikut campur lagi akan kupastikan kau berakhir di tanganku, Liliya!" ancamnya tak main-main kemudian menghempaskan Liliya begitu saja dan membalikkan tubuh.

Namun seolah tak terpengaruh, Liliya justru menatap punggung Vello sendu seolah menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan selama melihat keadaan Arula di mansion ini.

"Tuan, cobalah untuk berbuat baik pada Nona Arula. Jangan selalu menggunakan cara keras hanya untuk mempertahankan harga dirimu. Aku tak tahu apa yang terjadi pada kalian sebenarnya, namun aku tak ingin melihat Nona Arula semakin memendam rasa sakitnya  dan membenci dirinya sendiri. Dia wanita yang rapuh dan membutuhkan kasih sayang."

Vello menghentikan langkahnya tanpa menoleh. Penuturan Liliya yang terdengar memohon itu entah mengapa membuat hatinya sedikit tersentuh. Meski mulanya Vello mengabaikan hal itu, namun semakin lama ia mulai berpikir untuk mulai berubah.

Benarkah ia terlalu mementingkan ego serta harga dirinya sehingga memperlakukan Arula dengan tak manusiawi?

FLASHBACK OFF.

Vello sadar dengan apa yang telah ia lakukan selama ini terhadap Arula. Ia tak pernah benar dalam memperlakukannya. Ia selalu kasar dan arogan. Ia begitu sadar.

Namun, setelah mendengar penuturan Liliya kemarin malam yang berhasil menamparnya secara tidak langsung membuat Vello tahu bahwa ia telah begitu menyakiti wanita yang selama ini ia inginkan kembali.

Liliya benar, jika ia menginginkan Arula tidak seharusnya ia memperlakukan wanita itu begitu kasar dan kejam. Selama ini ia terlalu mementingkan harga dirinya sehingga ia tak sadar telah menyakiti fisik, mental, serta hati wanita itu.

Arula menunduk dalam sembari memilin jari-jarinya di atas paha dengan punggung menyandar pada kepala ranjang. Sedangkan Vello masih berada di sisi ranjang sembari menatap wanita itu lekat.

"Bisakah kau pergi?"

"Tidak."

Sahutan Vello jelas mengeluarkan helaan napas berat dari mulut Arula.
Tak lama Liliya datang dengan beberapa pelayan yang membawa apa yang Vello perintahkan.

Liliya melirik bagaimana Tuannya menatap Arula. Kali ini dalam tatapan itu terlihat sedikit sorot sendu seolah ada rasa bersalah yang mendalam. Liliya lantas memberikan senyum tipis pada Arula dan tak lama pamit dari sana hingga suasana di ruangan itu kembali hening.

Vello meraih piring berisi makanan, bersiap untuk menyuapi Arula. "Buka mulutmu."

Arula menatap Vello tanpa ekspresi, "Biar aku sendiri saja." Arula hendak meraihnya namun dicegah oleh pria itu.

"Biarkan kali ini aku yang menyuapimu." ucapnya dengan tegas.

Arula menghela napas dan menyerah. Hal itu tidak luput dari pandangan Vello, namun pria itu berusaha mengabaikan dan menepikan egonya untuk kali ini.

"Ayo, buka mulutmu..." Vello siap menyuapinya. Namun Arula justru kembali membuang wajah-enggan menerima suapan itu.

"Pergilah, aku bisa melakukannya sendiri." pintanya dengan suara lemah berharap Vello akan menurutinya.

"Tidak." pria itu benar-benar gigih pada keinginannya untuk menyuapi Arula.

"Jika begitu aku tak ingin makan!"

Vello spontan berdecak kesal. Kenapa di saat ia sudah mulai melunak, wanita itu justru bertingkah menyebalkan?!!

___TBC___

vello udah mulai jinak ye hahaha
gimana buat part ini?? i hope you like this story💗❤️‍🔥

jangan lupa vote, comment, share ya⚜️💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!