Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 17: Pain
HOHOH AKU DOUBLE UPDATE LAGIHHH😡❤️🔥❤️🔥
part ini ada manis-manisnya dikitt hihhi, dikit dulu tapi ya wkwk😌💗
jangan lupa vote untuk menghargai karya penulis⚜️❤️🔥
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
Vello melepas sarung tangan hitam yang seharian ini membungkus tangan kekarnya. Selain untuk melindunginya dari cipratan darah, ada sesuatu yang mesti ia sembunyikan juga dari sana. Yakni bekas luka yang ia terima 2 tahun yang lalu.
Mengingat serentetan kejadian yang telah ia lewati saat itu, tanpa sadar membuat pria blasteran Italia-Inggris itu mendengus.
Sudah 4 hari sejak Vello meninggalkan Arula tanpa kabar. Meski begitu, ia semakin memperketat penjagaan di mansionnya sebab ia yakin bila Arula akan melakukan berbagai cara agar dapat keluar dari sana dengan memanfaatkan ketidakhadirannya.
Vello menatap ke arah jendela yang nampak tenang di luar sana. Namun itu bukanlah sebuah keberuntungan sebab ia yakin musuhnya saat ini tengah memantaunya walau tidak terlihat. Tiba-tiba sekelebat pikiran mengenai 2 tahun lampau kembali merampas pikirannya.
Vello tak akan membenarkan tindakannya kala itu. Ia tahu benar jika dirinya salah dan pantas untuk dibenci. Ia dibutakan oleh keberlimpahan sehingga mengabaikan kasih sayang seorang wanita yang telah menemaninya kala itu.
Andai saja dulu ia tak menerima perjanjian itu, mungkin saat ini ia dan Arula akan tetap bersama walaupun akan banyak gangguan dari orang lain yang membencinya.
TOK TOK TOK
Suara ketukan berhasil mengalihkan atensinya. Hayden muncul dengan membungkuk sopan.
"Tuan Vello, makanan untukmu sudah siap."
Pria dengan balutan kemeja putih serta rompi hitam itu melangkah keluar bersama Hayden yang mengikutinya dari belakang.
Makan malamnya terasa hening seperti malam-malam sebelumnya. Hanya ia seorang diri di meja makan yang luas itu.
Vello menyeruput anggurnya yang terasa begitu menyegarkan. Sejenak pria bermarga Lodovico itu memejamkan matanya-sekedar untuk menikmati rasa rindu yang beberapa hari ini ia sangkal terhadap wanitanya.
Ia akui ia merindukan wanita berdarah campuran Indonesia-Inggris itu.
Meski begitu ia selalu memantau wanita itu walaupun jarak mereka yang terbentang jauh.
•••
Satu minggu ditinggalkan oleh Vello membuat Arula merasa tenang sekaligus kesepian. Ia akui bahwa dirinya sedikit merindukan pria berwatak keras itu.
Wanita dengan dress selutut itu kini tengah tersenyum senang sembari menyiram bunga di taman belakang.
Ia merasa sangat ceria di pagi hari yang indah dengan dress hijau favoritnya.
Sepertinya ketidakhadiran Vello dapat membuat Arula bernapas dengan bebas. Setelah ponselnya yang hancur beberapa bulan yang lalu membuat Arula merasa bosan dan bingung mesti melakukan apa untuk membunuh rasa bosan sehingga menyiram bunga menjadi pilihannya.
"Nona, ada panggilan untukmu."Liliya datang sembari membawa telepon rumah.
Arula menoleh dan menegakkan tubuh karena tadi posisinya tengah membungkuk. Keningnyanya mengernyit samar. Siapa gerangan yang ingin bertukar kabar dengannya? Seingatnya ia sudah tak memiliki kerabat lain.
"Dari Tuan Vello." ucap Liliya menjawab tanda tanya di kepala Arula.
"Ya?" seru Arula begitu menempelkan telepon genggam itu di sisi kiri telinganya.
"Kau... Sedang apa?" tanya pria itu tak bertele-tele, namun jelas terdengar sedikit kegugupan pada suaranya.
Arula sedikit melirik ke arah Liliya yang masih berada di sampingnya. Mengerti akan tatapan wanita itu, Liliya pun pergi setelah membungkuk sopan dan meninggalkan wanita itu di taman dekat gazebo.
"Aku...?" sejenak Arula nampak bingung untuk menjawab. Padahal ia hanya perlu menjawabnya dengan jujur.
"Aku tidak sedang melakukan apa-apa," balasnya pendek.
Hening sesaat sebab Vello yang bingung mesti bertanya apalagi di seberang sana. Pasalnya mereka sudah tidak pernah lagi bertukar kabar seperti ini setelah kejadian 2 tahun lalu.
"K-kau kapan pulang?"
"Hm?"
"Kau kapan pulang?" Arula mengulangi pertanyaannya dengan lugas.
Tanpa wanita itu ketahui, di seberang sana Vello menyunggingkan senyum tipis. "Kenapa? Apa kau merindukanku?" padahal semesta tahu betul bahwa pria itulah yang sebenarnya begitu merindukan Arula.
Arula terhenyak dan gelagapan, "AP-APA? AKU MERINDUKANMU?! Bermimpi saja!"
Terdengar kekehan dari seberang sana sehingga membuat Arula terdiam untuk dapat mendengar suara tawa yang sangat langka ia dengar. Tiba-tiba Arula dapat merasakan debaran jantungnya yang menggila ketika mendengar kekehan berat nan seksi itu. Sudah berapa lama ia tak mendengar tawa pria itu?
Vello berhenti terkekeh setelah menyadari bahwa ia telah membuat suasana menjadi canggung. Pria itu bahkan harus berdeham beberapa kali untuk menetralkan suara serta ekspresinya.
"Omong-omong, kau sedang apa di taman belakang seorang diri?" Vello kembali bersuara hingga membuat Arula tersadar.
"Ak-aku tidak sedang melakukan apa-apa hanya_" Arula spontan berhenti setelah menyadari sesuatu.
"Kau tahu dari mana jika sekarang aku berada di taman belakang? Oh! Atau Liliya telah memberitahu_"
"Berbaliklah."
Arula semakin tak mengerti dan menautkan alisnya. Namun meski begitu, tungkainya bergerak untuk membalikkan tubuh.
Kontan seluruh sarafnya seolah berhenti bersamaan dengan tenggorokannya yang terasa kering.
Di depan sana. Tepatnya beberapa meter di depannya-terlihat presensi pria jangkung yang selama ini entah mengapa selalu Arula tunggu-tunggu kepulangannya-padahal dulu ia sangat menginginkan pria itu menghilang.
Vello mematikan sambungan telepon dan berjalan mendekat dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Terlihat begitu gagah dengan tubuh atletisnya yang terbalus setelan jas hitamnya.
Tatapan keduanya tak lepas dan saling mengunci.
Arula mengerjapkan matanya beberapa kali, bibirnya sedikit terbuka hendak mengucapkan sesuatu namun seolah ada batu besar yang mengganjal ia tak mampu berucap satu patah katapun.
"Bu-bukankah kau sedang berada di luar negeri?" dengan susah payah Arula bertanya.
"Dan kini aku pulang karena merindukanmu."
DEG!
Arula semakin merasakan jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Ada apa dengan pria itu? Kenapa tiba-tiba berucap menyeramkan seperti itu?
Namun tak bisa disangkal lagi bahwa jantungnya memang merasakan debaran bahagia ketika mendengar penuturan itu.
Spontan Arula memalingkan wajah karena merasakan kedua pipinya memanas. Vello menarik dagu Arula agar kembali menatapnya dan detik itu juga ia mendaratkan kecupan singkat dibibir ranum milik Arula.
"Pipimu kenapa, hm?" godanya yang berhasil membuat Arula mendelik tajam.
Arula menepis tangan pria itu dan memelototinya, "Kau tak waras ya?! Kenapa bertingkah menyeramkan seperti ini?!" omelnya tajam. Namun percayalah, ia melakukan itu untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
Vello menatap Arula yang tengah misuh-misuh tanpa ekspresi.
Kemudian wanita itu pergi dari sana dengan langkah mencak-mencak. Memang bukan tanpa alasan Arula bertingkah seperti itu. Ia memang ingin menutupi rasa gugupnya dengan marah-marah pada Vello agar pria itu tidak merasa menang karena telah berhasil membuatnya berdebar dan salah tingkah.
•••
"Untukmu."
Arula mendongak dan mendapati Vello yang berada di depannya.
Ia kemudian menatap barang yang baru saja pria itu berikan.
"Apa ini?"
"Ponsel. Kau pasti membutuhkannya untuk menghapus rasa bosan dan rasa rindumu padaku. Gunakanlah." ucapannya yang refleks membuat Arula mendelik.
"Tapi, jangan pernah coba-coba untuk melakukan sesuatu yang akan membuatku marah." tekannya penuh peringatan.
"Berbuat macam-macam seperti apa yang kau maksud? Toh, aku juga tak bisa menghubungi Kares karena dia sudah tidak ada." balas Arula sedikit ketus.
"Bisakah kau tak membawa nama pria itu dalam percakapan kita? Terlebih aku tak suka mendengarnya!"
Arula hanya mampu terdiam menatap ke arah lain dengan dada menggebu. Vello lantas menarik tangan Arula yang anehnya tarikan itu tak terasa kasar sama sekali dan justru terasa begitu lembut.
Arula menatap takut-takut pada pria itu yang kini berada tepat di depannya. Jarak keduanya yang cukup dekat membuat Vello dapat melihat jelas paras indah tanpa cela milik wanitanya.
Cukup lama Vello menatap lamat wanitanya hingga akhirnya pria itu menyipitkan mata ketika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
Tangan kekarnya yang terbalut sarung tangan hitam maju terulur untuk menyentuh sesuatu yang berada di dada Arula.
Sebuah tato kecil yang berisikan tulisan. Tato itu berada di dekat tulang selangkanya.
'Pelacur'
Arula menepis tangan pria itu dan menutupinya dengan tangannya sendiri dengan kaku. Sepertinya ia salah memakai dress berdada rendah sehingga tato sialan itu tertampang jelas dan berkahir pria itu mengetahuinya. Lagipula Arula tak tahu bahwa Vello akan pulang hari ini.
Vello mencekal tangan Arula dan menatap tato bertulisan kecil itu dengan lamat. Tato tersebut sangatlah kecil sehingga Vello tak pernah melihatnya bahkan ketika mereka bercinta sekalipun. Kedua alis tebalnya menukik tajam tanda bahwa ia tak menyukai apa yang baru saja ia temukan.
"Apa wanita itu yang melakukannya?" Vello bertanya dengan intonasi yang datar. Maniknya menatap tajam pada Arula yang tak berani membalas tatapannya.
"JAWAB AKU, ARULA!"
Arula tersentak ketika Vello membentaknya dengan kencang. Namun bukannya merasa takut, Arula justru ikut tersulut emosi.
"Apa hakmu berteriak padaku!? Jika bukan karenamu, wanita itu tak mungkin mengambil kesempatan dan membuat tato sialan ini!!" Arula berucap sengit tak ingin kalah. Suaranya bergetar namun sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak luruh.
Vello bungkam. Sepertinya ia telah membuat kesalahan dengan membuka luka lama wanita di depannya ini.
"Saat aku tak sadarkan diri di hotel itu. Dia membuat tato ini untukku." Arula terkekeh miris membuat Vello mengernyit samar.
"Lagipula bukankah aku ini pelacur dari pengawal-pengawalmu itu? Yang dengan sadisnya dilakukan secara bersama-sama. Bukankah malam itu begitu gila dengan seorang wanita yang dijamah oleh empat pria sekaligus yang di perintah oleh kekasihnya sendiri?" Arula menatap remeh pada Vello yang mampu terdiam. Sesaat pandangan mereka saling mengunci.
Arula mulanya ciut karena Vello yang seperti akan menerkamnya dengan tatapan tajamnya itu. Namun kali ini Arula berusaha menepis perasaan itu setelah mengingat kembali insiden menyakitkan kala itu. Baginya, masa itu merupakan masa kehancurannya.
Arula tertawa sumbang kemudian menunjuk tato kecil di dekat tulang selangkanya, "Pelacur. Bukankah kata itu begitu hina bagiku yang hanya seorang korban pemerkosaan?"
"Cukup!" tekan Vello tak ingin semakin memperkeruh keadaan yang seharusnya penuh cinta itu.
Arula tak mendengarnya dan terus melanjutkan apa yang selama ini mengganjal dihatinya. "Kenapa tidak sekalian saja kau panggil seluruh pengawalmu untuk memerkosaku_"
"KUBILANG CUKUP!" bentaknya dengan rahang yang sudah mengeras.
"KENAPA?! KENAPA AKU HARUS BERHENTI?! Bukankah itu kelakuan bejatmu padaku kala itu?! KENAPA TIDAK SEKALIAN SAJA SEKARANG KAU PANGGIL SELURUH PENGAWALMU UNTUK MEMERKOSAKU SEKARANG JUGA?!!"
PLAK!!
Habis sudah kesabarannya. Tanpa bisa Vello cegah, ia menampar pipi Arula amat kencang hingga membuat wanita itu memekik dan terjatuh.
Dadanya bergemuruh hebat mendengar ucapan Arula yang begitu asal dan berhasil memancing amarahnya. Vello melirik Arula dengan matanya yang memerah berkabut amarah.
Arula tak bergerak sama sekali dalam posisinya yang terkulai di lantai. Hal itu sukses membuat Vello bergerak panik untuk membangunkan wanita itu.
Arula pingsan dengan kondisi pipi memerah serta sudut bibirnya yang robek akibat tamparan Vello yang sangat kencang.
Vello berniat memindahkan Arula ke atas ranjang, namun sesuatu di atas sana berhasil mengambil atensinya.
Di raihnya botol berukuran kecil berwarna putih itu dan ia teliti dengan manik elangnya.
Sedetik kemudian botol itu ia remas dengan penuh emosi. Pandangannya kembali berkabut oleh amarah.
PRAAANG!
Vello melempar botol itu kasar ke atas meja hingga pecah dan berakhir butiran pil itu berserakan di mana-mana.
Sebuah obat penenang.
"Dari mana dia mendapatkan obat itu?!"
___TBC___
gimana buat part ini guiss?? semoga sukak yakk💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️❤️🔥
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии