17 страницаОпубликовано: 22.08.2026. 07:40
40

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 16: Sick Period

aku comeback lagi huhuu. ada yang nunggu???😌💗

jangan lupa vote untuk menghargai karya penulis⚜️💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

2 tahun lalu.

Diana Amora. Wanita muda dan cantik penuh ambisi itu baru saja selesai bertukar kabar dengan pria pujaan hatinya. Meski mereka berada di negara yang berbeda, namun rasa cinta yang dimilikinya tidak menyurut sama sekali.

Diana menghisap tembakaunya kuat kemudian menghembuskannya cukup kasar sehingga kepulan asap itu keluar mengudara. Seringaian tak luput menghiasi wajah anggunnya yang berpoleskan make up tebal.

"Kukira dia telah berhenti menyukai wanita itu, namun sepertinya dia masih ingin bermain-main denganku. Menarik!" gumamnya dengan sebelah sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian mengejek.

Wanita itu menatap jalanan kota New York yang nampak padat di keadaan malam hari dari atas balkon kamarnya. Kamar itulah yang menjadi saksi bisu antara ia dan sang pujaan hati melakukan pergulatan panas 3 hari yang lalu.

Meski kejadian panas itu sudah berakhir 3 hari yang lalu, namun bagi Diana hal itu seperti kaset rusak yang kerap berputar terus menerus di kepalanya.

"Ah! Dasar wanita picik! Kenapa dia menyukai priaku alih-alih mengencani pria lain! Apa dia masih tidak jera setelah aku memberinya peringatan?! Atau dia masih ingin bermain-main denganku?" monolognya pelan kemudian kembali menghisap rokoknya yang tinggal setengah.

Tak lama deringan ponsel yang berada di saku cardigannya bergetar tanda telepon masuk. Diana lantas meraih dan melihatnya. Tertera nama sang ayah di sana. Kontan wanita berparas cantik itu mengangkatnya.

"Ya, ayah?" sapanya lebih dulu.

"Kau masih menginginkan pria itu?" tanya sang ayah tanpa berbasa-basi di seberang sana.

Diana tak langsung menjawab, meski begitu sudut bibirnya melengkung membentuk senyum kemenangan. "Ya. Aku masih dan selalu menginginkan Vello! Dia sudah merupakan belahan jiwaku, ayah." ucapnya dengan suara yang dibuat manja.

Terdengar kekehan berwibawa dari seberang sana, "Baik putriku. Tunggu saja dan dia akan datang padamu dengan sendirinya."

Diana membuang rokoknya dan menegakkan tubuh. Wanita itu merasa amat beruntung sebab sang ayah yang begitu memihaknya walaupun tahu jika putrinya telah melakukan segala cara agar mendapatkan apa yang diinginkannya. Meski dengan cara kotor dan licik sekali pun.

"Ayah, kau tak sedang bercanda bukan? Kupikir kau akan kesulitan mengingat Vello yang sangat keras kepala dan arogan."

"Ayah sudah cukup bermain-main. Kini sudah saatnya ayah membuatmu bahagia dengan mengabulkan keinginanmu. Jika kau menginginkan pria itu maka ayah akan segera memberikannya padamu. Tak peduli jika kini pria itu tengah menjalin hubungan dengan wanita lain." ujar sang ayah dengan nada tenang namun tersirat tekad yang begitu besar.

Diana terkekeh pelan, "Jangan membicarakan wanita itu, ayah. Mendengarnya saja sudah membuatku kesal karena telah berani menyukai dan mengencani priaku!" desis Diana hingga tanpa sadar mengepalkan sebelah tangannya.

Sang ayah tertawa kemudian meminta maaf, "Baiklah sayang, selamat malam dan selamat tidur. Ayah harap kau bermimpi indah!"

Diana tersenyum dan membalas ucapan sang ayah dengan serupa. Tak lama sambungan telepon antara ayah dan putri itu terputus. Alih-alih kembali masuk ke dalam kamarnya, wanita itu justru termangu dengan pandangan menerawang.

Pandangannya lurus menatap padatnya kota New York hingga tak lama seringaian kembali muncul di wajah anggunnya.

"Haruskah aku melenyapkannya agar wanita itu tak lagi menjadi penghalang bagiku mendapatkan Vello?" tanyanya pada diri sendiri.

TOK TOK TOK

Diana sedikit terhenyak mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Ia membalikkan tubuh dan berjalan masuk ke dalam kamar ketika melihat beberapa pelayan datang.

Di sana menampakkan dua orang pelayan yang mengenakan pakaian serupa- yang satu memegang nampan yang terdapat cangkir juga teko kaca yang berisikan teh sedangkan yang satunya memegang piring yang berisikan beberapa biskuit.

"Ini teh panas yang kau minta Nona." ucap salah satu pelayan.

Saat kedua pelayan itu hendak menyimpan piring serya nampan diatas meja, suara Diana tiba-tiba mengudara, "Tunggu!" tahannya dengan mengangkat sebelah tangannya hingga kedua pelayan itu mengurungkan niat untuk menyimpannya.

Diana berjalan mendekat kemudian ia buka tutup teko itu dan tanpa pikir panjang ia memasukkan ponselnya yang sedari tadi ia genggam ke dalam teko yang berisikan teh panas itu.

Sontak kedua pelayan itu dibuat terkejut akan aksinya. Mereka bahkan harus bekerja berbulan-bulan agar bisa membeli ponsel pintar itu, namun majikannya itu dengan mudahnya justru menenggelamkan benda pipih itu ke dalam air panas.

"Tolong ambilkan ponselku."

Kedua pelayan itu spontan mendongak-berusaha mencerna ucapan Diana yang sulit mereka cerna.

Diana mengangkat sebelah alisnya, "Kau lihat apa? Cepat ambilkan ponselku!" Ia menaikkan oktaf suaranya sebab kedua pelayan itu justru menatapnya bak orang bodoh.

Pelayan yang tengah memegang nampan mendadak gelagapan dan berkeringat dingin, "Ta-tapi airnya panas Nona..." cicitnya dengan rasa cemas yang menggunung. Tidak mungkin kan ia mengambil ponsel itu dengan tangan kosong?

"Aku tak peduli yang kuinginkan adalah tanganmu masuk kedalam sana dan mengambil ponselku!" tekannya tak ada belas kasihan sama sekali.

Kedua pelayan itu tercengang dan saling melempar pandang dengan sorot yang sama-sama ketakutan. Hingga...

PRANG!

Kedua pelayan itu kontan terkejut begitu Diana menepis kasar nampan serta piring yang dibawa oleh pelayan hingga semuanya berhamburan berantakan dengan suara nyaring yang memenuhi ruangan.

"Kalian berdua membuat suasana hatiku memburuk! Seharusnya kalian menurut apa yang aku katakan barusan! DASAR KALIAN PELAYAN BODOH TAK BERGUNA!" amuknya tak bisa wanita itu tahan serta dengan luapan emosi yang begitu kentara.

Berbeda di tempat lain. Seorang pria menggeram kesal dengan sebelah tangan menggenggam ponselnya begitu erat setelah mendapatkan kabar dari rekan bisnis ayahnya yakni ayah Diana Amora.

Pria tua itu dengan mudah memerintahnya bak seorang pion agar melakukan apa yang diinginkannya. Jika tidak, maka kerja sama antar perusahaan mereka akan dibatalkan.

"Tuan Vello?"

Vello menoleh ketika Hayden sudah berada di sampingnya.

"Apa kita akan tetap melanjutkannya?" tanya pria Park itu dengan segan.

Vello mendengus dan memejamkan matanya geram. Pria itu tak menjawab dan pergi dari sana.

Vello dengan berat hati terpaksa melakukan sesuatu yang pastinya akan ia sesali. Jika bukan karena perusahaan serta ayahnya yang tengah bertaruh nyawa, Vello tak akan sudi melakukan hal bejat ini, terlebih pada kekasihnya sendiri.

"Hayden, panggilkan pengawal yang berada di ruang bawah tanah untuk menuju ke hotel tempat kita menuju ke sana."

Hayden mengangguk patuh tanpa banyak bertanya.

Di dalam perjalanan, Vello membuka ponselnya dan menampilkan pesannya yang belum Arula balas.

To Arula:
Malam ini tolong temui aku di hotel dekat apartemenmu. Akan kukirim nomor kamarnya.

Tanpa sadar Vello menelan ludah gusar berharap Arula tak akan menurutinya. Ia tahu betul jika rencana bejatnya ini benar-benar terlaksana, maka Arula akan sangat membencinya.

From Arula:
Tumben sekali mengajakku ke hotel. Tapi aku akan segera datang:)

Vello cukup tertegun ketika pesan itu muncul. Apalagi dengan ketikan wanita itu yang terlihat ceria membuat Vello merasa sedikit sedih. Namun, keadaan yang memaksanya hingga terpaksa Vello menepikan perasaannya demi masa kejayaan yang akan ia raih kelak.

•••

Arula berusaha bangkit dengan perasaan panik sembari menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya yang tak terlapisi sehelai benang pun.

Kejadian tadi malam membuatnya tak dapat berpikir jernih. Perasaannya campur aduk. Sedih, gelisah, dan juga panik. Manik kucingnya terlihat sayu dan terlihat gelisah.

Arula memeluk tubuhnya erat dengan sebelah tangan yang meremas rambutnya begitu frustrasi. Kejadian tadi malam bagaikan film rusak yang senang berputar di dalam kepalanya.

"Vello...! Bantu aku! Siapa pria-pria itu?"

"Vello? Kenapa kau diam saja dan tidak membantuku? Pria-pria itu akan berbuat jahat padaku!"

"Diam kalian! Jangan coba-coba untuk menyentuhku, brengsek!"

Arula mulai terengah dan bulir air mata mulai merembes keluar dari kedua mata kucingnya yang ketakutan.

"Ti-tidak! VELLO! KUMOHON JANGAN TINGGALKAN AKU DI SINI BERSAMA PRIA-PRIA BAJINGAN INI!!"

Namun Vello seolah tuli dan tak menghiraukannya kemudian melengos pergi dari sana membuat hati Arula mencelos saat itu juga.

Dan ketika pintu hotel itu tertutup rapat. Di sanalah neraka bagi Arula di mulai. Neraka yang tidak seharusnya ia rasakan sehingga menorehkan rasa trauma yang begitu dalam.

Sekitar empat pria berbadan besar itu menatap Arula dengan tatapan bermacam-macam. Sedangkan Arula tak bisa berbuat apapun selain menangis meraung-raung meminta tolong.

Arula menggeleng kuat dengan air mata yang mengalir deras. Kedua tangannya ia letakkan di depan dada-memohon agar keempat pria itu tak berbuat macam-macam padanya. Namun semuanya terasa sia-sia. Sebab pada malam itu- kesucian yang telah Arula jaga selama ini mesti direbut paksa oleh seseorang yang bahkan tak ia kenali. Dan itu semua disebabkan oleh pria yang selama ini ia anggap sebagai pelindungnya.

•••

Di lain tempat Vello baru saja sampai di lobi hotel. Kakinya yang terbalut sepatu pantofel hitam mengkilap berhenti mendadak hingga beberapa pengawal di belakangnya ikut menghentikan langkah.

Hatinya tiba-tiba dihantui oleh rasa bersalah. Ia tak seharusnya melakukan hal bejat itu pada wanita yang dicintainya. Ia merasa bersalah dan tak pantas untuk dimaafkan.

Maka, oleh karena itu Vello mantap memutar haluannya dan kembali menuju kamar di mana Arula ia tinggalkan bersama para pria bajingan yang sialnya merupakan orang suruhannya.

Tanpa sadar ia mengetatkan rahang dan mengepalkan tangannya. Perasaan kesal dan gelisah bercampur menjadi satu.

"Kau akan pergi ke mana, hm?"

Vello sontak menghentikan langkahnya kala melihat presensi seorang wanita yang amat dikenalnya berdiri

Pikirnya, bagaimana bisa wanita gila di depannya itu begitu nekat hingga mengikutinya ke sini mengingat bahwa mereka sebelumnya berbeda negara.

Vello memilih tak mengindahkan dan berniat untuk kembali melanjutkan langkahnya. Namun wanita dengan setengah akalnya itu justru mengeluarkan pistol hingga lagi-lagi menahan langkah Vello.

Vello tak segan untuk melakukan hal serupa dan mengeluarkan senjata api dari balik jas hitamnya, namun pria itu kalah cepat dan sedikit lengah sehingga wanita itu telah mengambil start lebih dulu.

DOR!

Vello refleks melepaskan cengkeramannya pada pistol dan melihat tangannya sendiri yang berlumur darah. Hayden melangkah mendekat dan menatap punggung tangan Vello yang tertembak.

Vello mengintruksikan Hayden agar diam. Ia masih bisa menahan rasa panas di punggung tangannya walaupun darah sudah meleber keluar.

"Satu langkah lagi kau berjalan, aku tak segan untuk menembak tanganmu yang satunya." tekan Diana membuat Vello menggeram.

Pria itu menatap tajam pada Diana. Wanita itu merasa paling berkuasa setelah tahu bahwa ayah wanita itu telah membantu perusahaan milik ayahnya yang nyaris bangkrut. Namun, Vello tak akan tunduk semudah itu. Ia bukan pria yang akan dengan mudahnya patuh pada lawan jenis kecuali wanitanya, Arula.

"Tak ada yang akan berubah jika kau pergi menemui wanita itu, Vello. Dia sudah membencimu dan tak ingin lagi melihatmu!"

Vello mengeraskan rahang dengan dada bergemuruh marah ketika mendengar itu. Matanya tak sengaja melirik ke samping dan mendapati Hayden tengah menatapnya seraya memegang pistol.

Spontan Hayden melemparkan pistol itu dan di tangkap oleh Vello dengan begitu tanggap.

Vello lantas menyeringai, "Persetan! Mulai hari ini aku memutus hubunganku denganmu dan juga keluargamu!"

Diana menautkan alisnya tajam, perasaan cemas menggerayangi dadanya.

"Dan... Terimalah ini, jalang!" belum sempat Diana mengeluarkan sepatah kata, Vello mengarahkan pistol itu ke arah Diana. Dan...

DORR!

___TBC___

makasi yang udah baca. gimana buat part ini?? i hope you like this story💗❤️‍🔥

jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!