16 страницаОпубликовано: 21.08.2026. 13:40
40

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 15: Who is She?

warning 18+ yaak❤️‍🔥

buat yg dibawah 18 boleh skip ya, biar gak kaget makanya aku kasih warning wkwk, jangan lupa votenya biar aku makin gacorrr💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

Usapan lembut itu berhasil membuat kulit Arula seketika meremang. Ditambah dengan gaun tidurnya yang tanpa lengan serta panjangnya yang hanya sebatas lutut membuat seluruh tubuhnya membeku.

"A-apa yang kau lakukan...?" Arula bertanya kaku. Entah mengapa ia tak bisa langsung membalikkan tubuhnya dan menampar pria itu karena telah berani berbuat tak senonoh padanya- karena yang jelas kini Arula hanya dapat merasakan seluruh sarafnya seolah berhenti dan dengan bodohnya ia menikmati usapan yang pria itu berikan.

Namun Vello tak menyahuti pertanyaan itu dan justru terus melanjutkan aktivitasnya.

Perlahan tapi pasti Vello membalikkan tubuh Arula sehingga keduanya kini berhadapan. Arula memberanikan diri untuk menatap pria itu yang kedua tangannya bertengger di kedua sisi pinggangnya.

"Kau sedang apa di sini?" Arula bertanya dengan harapan kali ini pria itu akan menjawabnya.

"Mengawasimu. Kupikir kau akan nekat pergi dari sini lagi." jawabnya dengan suara rendah seraya mulai merapatkan tubuh keduanya.

Arula menahan napas dan menelan ludahnya kasar. Wanita itu mengerjap pelan dengan hati menerka-nerka apa yang akan pria itu lakukan. "A-aku hanya pergi untuk mengambil air. Aku tak akan pergi." tanpa Arula duga ia mengucapkan kalimat itu. Sepertinya ia telah terhipnotis oleh tatapan mengintimidasi milik Vello.

Oh! Bagaimana tatapan bak elang itu yang menatapnya tanpa berkedip membuat Arula tanpa sadar berdebar. Siapapun tolong sadarkan Arula agar tidak jatuh pada pesona pria yang telah menyakitinya itu.

Vello menurunkan tatapannya kepada bibir ranum milik Arula. Bagaimana bibir berwarna merah muda itu terkatup rapat. Ia ingin sekali menggigitnya.

Lambat laun Vello mendekatkan wajahnya membuat jantung Arula seperti akan meledak, namun entah mengapa ia justru tak bisa menolak dan menerima ciuman hangat itu.

Lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi lumatan yang panas dan menuntut. Arula tanpa sadar mulai membalas dan mengimbangi ritme ciuman itu.

BRUK!

Keduanya tersentak berhenti dan menoleh ke arah botol minum Arula yang baru saja terjatuh dengan air yang tumbah meleber kemana-mana-sebab Arula yang belum sempat menutupnya dengan benar.

Arula hendak membersihkannya namun segera di tahan oleh pria itu, "Biarkan saja." ucapnya dengan suara yang terdengar serak.

Kemudian pria itu menangkup rahang Arula dan kembali menggagahi bibir wanitanya.

Vello mengangkat tubuh Arula bak koala dan membawanya ke meja makan yang tak jauh dari sana kemudian mendudukan wanita itu. Arula membuka pahanya sehingga Vello dapat memposisikan tubuhnya di tengah-tengah.

Tangan kekarnya tak dibiarkan menganggur dan memilih untuk meremas bokong sintal milik wanita itu. Keduanya berciuman dengan mata terpejam seolah tersirat kata rindu di dalamnya setelah bertahun-tahun keduanya berpisah.

Sedangakan kedua tangan lentik milik Arula dibiarkan meraba dada serta perut Vello yang keras karena sixpack. Dulu bagian itu adalah bagian favoritnya.

Ciuman Vello beringsut turun menuruni dada mulus milik Arula dan memberikan beberapa kissmark di sana. Kedua tangannya pun sudah berpindah tempat dengan meremas kedua gundukan milik wanita itu. Arula mendongakkan kepalanya sembari menggigit bibir bawahnya-guna menahan desahan yang nyaris keluar. Manik kucingnya terpejam merasakan kenikmatan yang pria itu berikan.

"Astaga! Mataku! Oh goshh!"

Seolah ditarik paksa kembali ke dunia nyata-Arula serta Vello lantas berhenti dan menoleh ke sumber suara di mana Vorgin tengah berdiri dengan boxer serta kaos hitam yang menyembunyikan tubuh atletisnya.

Vello lantas mundur beberapa langkah dari Arula. Pria itu dilanda sedikit rasa gugup karena terciduk oleh saudaranya- begitu pun dengan Arula yang merasakan hal serupa. Wanita itu buru-buru merapikan rambutnya dan turun dari atas meja makan dan tak berani menatap Vorgin.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Vello dengan nada datar setelah ia kembali menetralkan suaranya yang tadi sempat serak. Pria itu menatap tajam pada adiknya-tak ingin membuat Vorgin menyadari kegugupannya.

Pria dengan boxer selutut itu hanya mengangkat bahu, "Aku berniat untuk mengambil makanan. Namun, ternyata kau di sini tengah asik makan dengan rakus." sindir Vorgin halus dengan sedikit melirik Arula yang berada di belakang Vello sembari menunduk dalam.

"Ck! Diamlah! Urusi urusanmu dan lupakan apa yang kau lihat tadi!" Vello lantas pergi meninggalkan Arula dan Vorgin yang masih mematung di sana.

Vorgin dan Arula saling pandang, namun Arula dengan segera menundukkan kepala sembari pura-pura merapikan rambutnya yang tidak kenapa-napa. "K-kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam, Vorgin!" Arula berusaha kabur dengan perasaan yang luar biasa canggung.

Vorgin tersenyum tipis sembari mengangguk, "Selamat malam juga."

Selanjutnya Arula terbirit pergi dari sana meninggalkan Vorgin seorang diri.

"Kuharap hubungan mereka kian membaik." gumamnya pelan kemudian melanjutkan langkahnya untuk menuju ke lemari es.

Namun saat tengah santainya berjalan dengan kedua tangan di dalam saku boxernya-tiba-tiba pria pemilik tubuh atletis itu terjerembab jatuh dengan begitu naas.

"ARRGGGHHH! SIAPA YANG MENUMPAHKAN AIR DI SINII!!!"

•••

Arula terbangun dari tidurnya dengan pikiran berkecamuk. Wanita itu langsung berlari menuju kamar mandi setelah mengambil sesuatu dalam laci kamarnya.

Benda itu kemarin Arula beli dengan menitip kepada salah satu pelayan sebab tidak mungkin jika ia sendiri yang membelinya mengingat untuk sekedar melangkah menuju teras saja ia sudah ditatapi bak laser oleh Vello.

Arula menghembuskan napas lega ketika melihat satu garis yang tertera di sana. Ya, itu adalah sebuah testpack.

Baru saja Arula bermimpi buruk melihat dirinya yang mengandung- yang sontak membuatnya teringat dan langsung memeriksanya.
Arula mengusap perutnya sembari merapalkan kata syukur. Beruntung dirinya tidak hamil apalagi hamil anak pria kejam itu. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Arula bergidik.

Tak lupa ia pun meminum pil kontrasepsi mengingat beberapa kali ini ia dan Vello sempat melakukannya tanpa pengaman.

Arula kembali menyembunyikan pil itu di tempat yang tidak akan Vello temukan, sedangkan testpack yang telah ia gunakan segera dibuang ke tempat sampah dengan harapan Vello tak akan menemukannya.

Arula duduk ditepi ranjang dengan pikiran yang kusut. Memang akhir-akhir ini Vello sudah jarang bertindak kasar padanya walaupun jika pria itu tengah diterpa emosi dan melampiaskannya pada Arula namun sejauh ini pria itu sudah tidak sekasar dulu lagi.

Arula termenung di tempatnya. Tak ada alasan lagi untuknya berlari dari sini. Masa depannya hancur.

Ia hancur seorang diri.

TOK TOK TOK

Arula sedikit terperanjat kemudian menatap ke arah pintu yang terbuka hingga menampilkan sosok Liliya. Arula dapat menduga kedatangan wanita itu.

"Nona Arula, sekarang waktumu untuk sarapan."

Mendengar itu Arula tidak memiliki pilihan lain selain menghela napas dan mengangguk.

Setelah membersihkan diri Arula keluar dari kamarnya dan menuruni tangga agar menuju ke meja makan.
Dahinya spontan mengernyit ketika tak menemukan siapa-siapa di sana.

"Liliya, Vello belum datang?" tanyanya dengan penasaran. Tumben sekali pria itu belum berada di sana karena biasanya pria itu sudah berada di kursi meja makan mendahuluinya.

"Tuan Vello berangkat pagi sekali karena ada urusan, Nona."

Kening Arula semakin mengenyit, "Urusan apa?"

Liliya membalasnya dengan gelengan, "Saya tidak tahu. Tapi, Hayden pun ikut serta dengan Tuan Vello."

Bukankah Hayden masih dalam masa pemulihan? Kenapa pria itu mesti ikut? Apa ini merupakan urusan penting sehingga Hayden terpaksa ikut mengingat pria itu merupakan orang kepercayaan Vello?

Arula kemudian mengangguk singkat tak ingin mencerca Liliya dengan pertanyaan yang kelewat penasaran itu. Kemudian Arula melahap makanannya dengan hening. Rasanya tak nyaman juga makan seorang diri di ruangan seluas ini. Bahkan Vorgin pun tak terlihat batang hidungnya setelah pertemuan terakhir mereka tadi malam.

Teringat sesuatu Arula lantas melirik satu pelayan yang tengah menuangkan air untuknya.

"Kau melihat Vorgin?"

Pelayan itu menggeleng tanda tidak tahu.

Arula berdecak tanpa sadar. Mengapa orang-orang mendadak meninggalkannya?

Arula memilih untuk tak ambil pusing dan menikmati waktu sendirinya.

Berbeda di belahan dunia yang lain, Vello nampak menukikkan alisnya tajam dengan manik elang yang menatap seluruh ruangan. Pria berperawakan tinggi besar itu terpaksa terbang ke negara tempatnya dibesarkan. Di Roma, Italia.

Mendapat kabar bahwa markas tempat persenjataan, narkoba, serta beberapa jenis minuman keras miliknya bocor membuat Vello naik pitam dan berangkat saat itu juga. Vello tak ingin ambil risiko jika ia menundanya.

Pria itu pun terpaksa membawa Hayden yang baru saja pulih walaupun belum sebugar dulu. Namun, beruntung pria Park itu patuh padanya.

Pengawal yang berjaga di markas itu percaya ada salah satu pengkhianat dan membocorkan itu semua.

Asetnya tengah berada dalam ancaman dan Vello yakin beberapa saat lagi polisi akan datang untuk menggerebeknya. Maka oleh karena itu ia bergegas memindahkannya ke tempat lain yang di rasa aman dan cukup untuk memuat semua hartanya.

Bayangkan saja satu botol anggur dan satu buah senjata dapat di tukar dengan satu lahan kebun jika Vello bersedia untuk menukarnya. Namun, ia tak sampai hati untuk melakukannya sebab semua itu merupakan jerih payahnya bersama sang ayah.

"Siapapun yang telah melakukannya, aku tak akan segan untuk memotong kepalanya dengan tanganku sendiri."desisnya dengan suara rendah hingga siapapun yang mendengarnya akan merasa merinding detik itu juga.

Pengawalnya bahkan kecolongan karena kamera CCTV yang berada di sana sengaja dimatikan sehingga beberapa senjata revolver antik miliknya hilang yang diduga dicuri.

Tak terbayang bagaimana mengamuknya Vello ketika tiba di sana. Bahkan beberapa pengawal menjadi sasaran kemarahannya.

"Tuan Vello, saya mendapat rekaman ketika dia hendak kabur dengan membawa barang curiannya!" Hayden mendekat dengan bantuan tongkatnya sembari membawa tab disebelah tangannya.

Vello lantas mengambil alih benda pipih itu dan di lihatnya. Rahangnya kontan mengeras seketika saat mengetahui siapa pelakunya. Buku-buku jarinya memutih dibalik sarung tangan hitamnya.

"Tuan Vello! Beberapa polisi tengah menuju ke sini!!"

Shit!

Vello lantas pergi dengan beberapa pengawalnya untuk menyelamatkan diri. Beruntung semua asetnya telah di amankan dengan tepat waktu.

Dalam perjalan menuju mobilnya Vello tak hentinya menggeram kesal. Pria itu tak terima jika semua dalang dibalik permainan ini merupakan ulah seorang wanita picik.

___TBC___

hehe gimana buat part ini?? i hope you like this story💗❤️‍🔥

jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!