15 страницаОпубликовано: 20.08.2026. 09:51
50

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 14: Hope it Get's Better

BUAHAHA AKU DOUBLE UPDATE LAGII GUYSS!!

ramein biar aku makin gacorrr❤️‍🔥❤️‍🔥

jangan lupa vote yakk, aku seneng bgt kalo kalian vote apalagi comment😗💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

Arula merasakan kepalanya begitu pusing ketika ia terbangun. Nyawanya yang belum terkumpul sempurna membuatnya celingukan menatap seluruh ruangan yang tak ia kenali.

Arula memijat pelipisnya dan berusaha duduk di tepi ranjang. Maniknya langsung tertuju pada seseorang yang tengah duduk di sofa tak jauh dari sana seraya memandanginya.

Vello- pria itu menatap Arula tanpa ekspresi dan sudah menunggunya semalaman. Ya, akhirnya mereka pun menginap di kapal pesiar karena Arula yang masih tertidur. Alhasil Vello berencana untuk pergi setelah wanita itu bangun karena kapal sudah menepi.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Arula dengan kernyitan didahi. Melihat Vello yang menatapnya tanpa berkedip membuat Arula kembali merasa waswas.

"Tentu saja menunggumu!" decak pria itu bukti akan kekesalan.

Arula beranjak dan pergi menuju kamar mandi yang tersedia di sana.
Ia nyaris memekik tatkala menatap wajahnya di pantulan cermin yang nyaris tidak ia kenali. Penampilannya kini bak orang kehilangan akal yang di tinggalkan di tepi jalan. Benar-benar memalukan. Arula yakin Vello pasti sempat menertawakannya.

Arula buru-buru membasuh wajahnya hingga kini wajahnya polos tanpa polesan make up.

Beberapa menit berada di kamar mandi ia pun keluar dari sana dan menatap Vello yang masih memakai pakaian semalam.

"Kita harus bergegas pulang."

Arula tak banyak berkata dan mengekori pria itu dari belakang.
Arula masuk ke dalam mobil begitu pun dengan Vello.

Suasana di perjalanan terasa begitu hening. Arula sedari tadi terus menolehkan kepalanya mencari keberadaan Hayden. Jujur saja, Arula begitu mengkhawatirkan pria itu. Apakah Vello melenyapkan Hayden setelah melihat mereka berciuman?

Oww__memikirkannya saja sudah membuat kepalanya kembali berdenyut pusing.

"Hayden tengah cuti. Dia belum bisa bekerja setelah aku menembak kakinya."

Spontan Arula menoleh mendengar seruan yang begitu enteng itu. Bello bahkan seperti tidak merasa bersalah sama sekali.

"Apa kau memecatnya?" cicit Arula hati-hati. Walau dalam benaknya ingin sekali melemparkan sumpah serapah pada pria di sampingnya ini, namun Arula berusaha menahannya agar tidak menyulut amarah pria itu.

"Tidak."

Sahutan singkat itu sudah cukup meloloskan helaan napasnya. Meski begitu, Arula masih merasa bersalah sebab Hayden harus menanggung akibatnya setelah perbuatannya yang cukup gila.

Tanpa sadar Arula mendengus. Sejujurnya ia pun tak akan melakukan hal gila itu jika bukan Vello penyebabnya. Ia masih ingat betul bagaimana pria itu mencium seorang wanita di kapal pesiar dengan begitu panas.

Huft. Membayangkan itu kembali membuat darahnya bergejolak.

"Ada apa denganmu?"

Arula terlonjak dan kontan menoleh pada Vello yang menatapnya aneh.

"Aku? Ada apa denganku?" Arula bertanya balik.

"Aku tak tahu jika di kapal pesiar milik Tuan Eugeme terdapat makhluk halus. Kau kini jadi bersikap aneh!" hardik pria itu membuat Arula membelalak. Jadi maksud pria itu kini ia tengah kerasukan begitu?

Setelahnya, mereka pun sampai di kediaman milik Vello. Keduanya naik ke lantai atas dengan sunyi. Namun, ketika Arula hendak menuju kamarnya tiba-tiba Vello menarik tangannya. Arula menoleh heran dan mendapati jika pria itu seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu.

"Ada apa?" Arula mengangkat sebelah alisnya. Menunggu pria itu untuk berbicara.

Vello merasa kaku, "Apa kau melihatku berciuman dengan Laurel?" tanyanya tiba-tiba.

Arula cukup terhenyak mendengar itu. Kenapa pria itu bisa mengetahuinya?

Arula lantas memalingkan wajah, "Jadi nama wanita itu Laurel? Pantas saja cantik, seperti namanya." balasnya yang entah kenapa terdengar ketus.

Vello tertegun-seperti dugaannya, Arula memang melihatnya malam itu.

"Jadi itu alasanmu mencium Hayden?" kini pria itu menyunggingkan senyum miring.

Arula sontak membelalak menatap pria itu dan spontan menghentakkan cekalannya.

"A-apa maksudmu?"

Vello kembali menarik tangan Arula sehingga kian dekat dengannya membuat wanita itu semakin membulatkan matanya kaget.

"Caramu membalas dendam tidak harus seperti itu, Sayang. Aku marah melihatmu dan Hayden berciuman." bisiknya begitu halus hingga mampu menggelitik telinga Arula.

Arula menatap Vello tak percaya. Tanpa sadar ia menelan ludah dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan pria itu lagi.

"Balas dendam apa yang kau maksud, brengsek?!" Arula mulai panik dan memberontak.

"Pikirmu aku tidak tahu, huh? Aku mengetahuinya, Sayang."

Mendengar kata sayang yang pria itu ucapkan lewat bibirnya, entah kenapa selalu berhasil membuat perut Arula merasa mual.

Cukup jengah dengan tingkah Arula yang semakin memberontak, Vello akhirnya melakukan cara jitu untuk menjinakkan wanita itu.

Cup.

•••

Arula menyentuh dadanya yang  tengah berdisko. Di dalam sana jantungnya berpacu sangat berisik. Namun, di sisi lain ia pun merasakan perutnya yang seperti dilingkupi oleh ribuan kupu-kupu ketika Vello yang tak lagi memperlakukannya dengan kasar. Parahnya pria itu bahkan mengecup pipinya tadi.

TOK TOK TOK

Arula terperanjat ketika suara ketukan pintu berhasil mengejutkannya.

Liliya membuka pintu dan berjalan mendekati Arula.

"Nona Arula, sekarang waktunya sarapan pagi. Tuan Vello ingin kau segera bergabung," seru Liliya dengan sopan.

Arula mengerjapkan matanya dan mengangguk kaku. "Baik. Nanti aku menyusul."

Arula menghembuskan napas panjang setelah Liliya menutup pintu. Tak ingin membuat Vello menunggunya lama, Arula akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai dasar.

"Hai, Arula!" sapa Vorgin begitu riang dibarengi dengan senyuman manisnya.

Arula membalasnya dengan senyuman tipis kemudian melirik pada Vello yang tengah fokus pada tabnya.

Arula lantas duduk di hadapan kedua pria itu.

Tak lama para pelayan datang dan membantu menyiapkan makanan mereka.

Vorgin menarik napas dalam dan menghembuskannya, "Aku merasa aura di mansion ini tidak terlalu mencekam seperti beberapa waktu lalu," celetuknya yang mampu menghadirkan tatapan datar dari Vello.

"Apa maksudmu?"

Vorgin tak langsung menjawab dan justru menatap Arula dan saudaranya bergantian, "Kalian telah berbaikkan, huh?" tebaknya dengan senyum meledek.

Arula dan Vello saling pandang. Namun Arula segera menundukkan kepala sembari mengulum bibirnya.

"Jangan mengurusi kehidupan orang lain. Fokuslah habiskan makananmu, Vorgin!" hardik Vello kemudian fokus kembali pada makanannya.

"Kalian harus ingat bahwa ada pahlawan Vorgin yang telah menyatukan cinta kalian."

BRAK!

"Baiklah-baiklah! Aku akan fokus makan, sialan!" dengus Vorgin sedikit terkejut setelah Vello menggebrak meja kasar.

Sehabis sarapan Vorgin langsung berangkat bekerja dengan seragam yang melekat gagah di tubuh tegapnya. Berbeda dengan Arula yang berniat untuk pergi ke halaman belakang untuk mencari udara segar. Namun, tanpa wanita itu sadari Vello justru mengikutinya dari belakang.

Arula nampak panik ketika barang yang dicarinya tidak kunjung ia temukan.

Dari belakang Vello mendengus kemudian ia merogoh sakunya dan mengambil benda kecil yang tadi dibawanya.

Sebuah cincin.

Cincin pernikahan Arula dan Kares kala itu. Vello masih bertanya-tanya mengapa Arula tidak menyimpan perhiasannya di meja rias ataupun laci melainkan di meja gazebo seolah wanita itu tahu tidak akan ada seorang pun yang akan mencuri barangnya.

"Vello, apa kau melihat cincin milikku?"

Vello kembali memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya ketika Arula berjalan ke arahnya.

Pria itu lantas menggeleng.

Arula menghembuskan napas lesu, "Ke mana perginya cincin itu?" gumamnya frustrasi dengan air muka yang nampak risau.

Vello menatap wanita di depannya dengan lekat. "Sudahlah, itu hanya sebuah cincin. Aku akan membelikanmu yang baru."

Arula menatap Vello tidak percaya, "Itu bukan cincin biasa. Itu cincin pernikahanku bersama Kares!"

Vello menggeram kesal. Mendengar nama pria itu disebut oleh Arula entah mengapa membuat dadanya bergemuruh tidak terima.

Tak ingin membuat pertengkaran di pagi hari yang cerah ini, Vello memilih untuk pergi setelah meninggalkan tatapan tajam pada Arula. Wanita itu termangu di tempatnya dengan frustrasi kala ia kehilangan cincin berharganya.

•••

Liliya berjalan menuju dapur setelah mendengar suara bising malam-malam. Liliya pikir salah satu pelayan telah berbuat keributan. Maka oleh karena itu, ia bergegas untuk memeriksanya untuk menegur karena sudah mengganggu waktu tidur mereka semua. Apalagi jika sampai Tuannya tahu, sudah dapat dipastikan pria itu akan mengamuk.

Namun, beberapa meter setelah masuk ke dapur tungkai Liliya spontan berhenti. Wajahnya kaku, lidahnya kelu, dan pikirannya buntu.

"A-apa yang..." gumamnya begitu pelan. Wanita setengah baya itu tak tahu apa yang harus ia katakan.

Di depan sana terlihat sepasang sejoli yang tengah bergelut memadu kasih tanpa menghiraukan keributan yang terjadi.

Liliya memegang dadanya yang berdegup dua kali lipat. Sebelah tangannya mengucek mata berusaha untuk memastikan penglihatannya yang bisa saja salah. Namun, adegan di depannya masih terus berlanjut bahkan setelah ia mengucek matanya beberapa kali.

Barulah ketika indera pendengarannya mulai mendengar suara desahan, Liliya sadar bahwa kedua orang itu ialah Tuannya serta wanita yang beberapa minggu ini tinggal di mansion.

Liliya pikir pria itu adalah Vorgin, mengingat jika pria itu selalu datang dengan menggandeng wanita yang berbeda setiap tahunnya. Berbeda dengan Vello yang nyaris tidak pernah membawa wanita satu pun ke mansionnya.

Kedua insan itu terus mencium, melumat, bahkan mencecap dengan tergesa seolah tidak akan ada hari esok.

Liliya menelan ludah dan memutuskan untuk pergi dari sana.

Kejadian panas itu bermula ketika Arula tengah mengambil air di dapur sebab air di dalam botol minumnya telah habis.

Seluruh ruangan yang gelap dan hening membuat Vello yang berada di ruang kerjanya dapat mendengar derap langkah itu dengan pendengaran tajamnya. Ia beringsut keluar untuk memastikan. Ia sedikit cemas jika Arula berniat untuk kabur lagi dari mansionnya. Karena ingin bagaimana pun juga hubungan antara keduanya belum lekas membaik.

Vello mencari di dekat ruang tengah dan pintu utama namun tidak kunjung menemukan wanita itu.

Terdengar sebuah suara dari arah dapur membuat Vello tanpa sadar menghela napas lega. Ternyata wanita itu berada di sana. Ia lantas menghampiri wanita itu untuk memeriksanya.

Dari pencahayaan yang temaram Vello dapat melihat tubuh Arula yang membelakanginya. Wanita itu mengenakan gaun tidur satin berwarna putih pemberiannya.

Vello terdiam sesaat hingga sebuah pemikiran gila mendorongnya untuk ia lakukan.

GREP!

Arula yang tengah menutup botol minum nyaris mengumpat kecil ketika sebuah tangan nakal melingkar di perutnya.

Arula berniat untuk menyikut seseorang yang telah berani memeluknya, namun setelah dehaman serak dari pria yang amat dikenalnya Arula lantas mengurungkan niat itu.

Arula terdiam beberapa detik menikmati pelukan yang telah lama tak ia dapatkan. Hingga sebuah usapan lembut di perut ratanya membuat ia merasakan sesuatu yang disebut kenikmatan.

___TBC___

gimana buat part ini?? i hope you like this story⚜️💗

jangan lupa vote, comment, dan share ya💗❤️‍🔥

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!