Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 13: Realize
kali ini aku updatenya siang karena lagi mood bgt sama vello dan arula hihi, siapa yang nungguin??😗❤️
jangan lupa vote untuk menghargai karya penulis ya⚜️❤️🔥
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
"Nona Arula, kenapa kau berada di sini?"
"Boleh aku minta rokokmu?" tanpa memedulikan pertanyaan dari lawan bicaranya Arula justru lebih tertarik dengan benda yang tengah diapit oleh jemari pria di depannya.
Hayden membelalak mendengarnya, pria itu hendak melemparkan batang rokoknya namun segera di tahan oleh Arula. "Tidak-tidak! Kumohon jangan kau buang!"
Hayden semakin mengernyit tak mengerti. Siapa sangka pria yang Arula temui di luar kapal adalah Hayden, tangan kanan sekaligus orang kepercayaan Vello.
"Nona Arula, apa kau mabuk? Kau tidak boleh merokok." Hayden menggeleng pelan dengan raut yang sulit diartikan.
Arula membalasnya dengan gelengan pelan. "Boleh kuminta rokokmu?" ucapnya kembali sembari melirik tembakau yang terbakar di jemari Hayden.
Walau ragu Hayden merogoh saku celananya, "Aku punya yang baru." dengan sedikit was-was Hayden tak seharusnya memaksa Arula untuk kembali masuk ke dalam kapal, melihat bagaimana kondisi wanita itu yang tidak baik-baik saja.
Arula menggeleng, "Punya kau saja." tunjuknya pada tembakau yang sudah terbakar dijemari Hayden.
Hayden lantas memberikan rokok miliknya pada Arula dengan ragu. Arula refleks menelan ludah ketika jemarinya mengamit rokok tersebut.
Kemudian tanpa menunggu lagi ia segera menghisap benda itu dan sontak terbatuk ketika berhasil menghisapnya satu kali. Ini adalah kali pertamanya ia merokok. Katakan saja bahwa dirinya sangat nekat.
"Nona Arula, kau tak seharusnya melakukan ini!" gertak Hayden agar Arula berhenti melakukan hal gila itu.
"Kau tak perlu ikut campur!" geram Arula kesal seraya menjauhkan jangkauan rokoknya ketika Hayden hendak merampasnya.
Lagi-lagi Arula terbatuk setelah menghisap rokok itu. "Persetan!" wanita itu melempar rokoknya dengan kesal ke laut kemudian menarik tengkuk Hayden dan menciumnya kasar.
Hayden spontan melotot kaget dan berusaha mendorong Arula agar menjauh namun wanita dengan akal yang tinggal setengah itu justru semakin menarik tuxedonya hingga lumatan kasar itu terus berlanjut.
DOR!
DOR!
Hayden memekik kesakitan bertepatan dengan Arula yang melepaskan lumatannya.
Arula menoleh dan mendapati Vello yang menghampirinya dengan tatapan membunuh. Sepertinya kini ia dalam bahaya.
Beberapa orang terkejut dan berlarian panik ketika suara tembakan kencang ituterdengar, namun Vello tak memedulikannya.
Arula menatap Hayden yang bersimpuh sembari memegangi betisnya yang kini bercucuran darah. "T-tuan V-vello... Maafkan ak_"
"Bawa dia pergi!" serunya pada pengawalnya yang senantiasa berada di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan pada Hayden!" Arula berseru tak terima. Perbuatan Vello amat sangat salah karena telah mencelakai Hayden yang tak melakukan kesalahan apapun.
Tanpa rasa bersalah Vello hanya diam-menunggu agar kondisi sekitar tidak sericuh tadi.
PLAK!
Arula memekik kesakitan begitu pipinya ditampar begitu hebat oleh Vello tanpa belas kasihan.
"SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA, APA YANG KAU LAKUKAN BERSAMA HAYDEN DI SINI?!!" bentaknya begitu murka hingga membuat Arula bungkam seribu bahasa dengan sebelah pipi yang memerah.
Vello menarik dagu Arula cukup kasar kemudian tanpa meminta persetujuan wanita itu ia langsung melumat bibir ranum itu dengan kasar kemudian melepasnya lagi.
Pria itu terkekeh sinis seolah ia baru saja berhasil dibodohi dan tak lama ia kembali menghadiahi Arula satu tamparan kasar.
PLAK!
"TAK HANYA BERCIUMAN, KAU BAHKAN BERANI MEROKOK DI BELAKANGKU, HUHH!" murkanya tak bisa di tahan lagi. Wajahnya mengeras penuh amarah.
Arula tiba-tiba ciut dan merasa ketakutan. Air matanya turun tanpa ia suruh. Rasa panas yang menjalar dikedua pipinya begitu menyiksa hingga membuat dadanya terasa sesak.
Merasa kesal sebab wanita di depannya malah terdiam tanpa memberikan pembelaan. Vello lantas kasar menarik tangan wanita itu masuk ke dalam.
Arula pikir Vello akan mempermalukannya di depan tamu yang lain, namun ternyata tidak. Pria itu malah menariknya menuju ke suatu tempat yang merupakan susunan kamar VIP. Tak hanya kamar, di kapal pesiar itu pun ternyata terdapat beberapa fasilitas mewah seperti restoran, kolam renang dan klub.

Vello melempar Arula ke atas ranjang dengan cukup kasar hingga membuatnya sedikit terpental akibat tak memiliki keseimbangan dan berakhir terjatuh.
BRUK!
Arula meringis kesakitan dan berusaha untuk bangkit, namun dressnya yang merepotkan membuatnya sulit untuk bangun.
"Kau sepertinya belum jera dengan hukumanku!" desis pria itu seraya mendekat membuat Arula mendadak siaga dan bergerak mundur.
Arula lagi-lagi terisak dengan keadaan berantakan, eyeliner serta mascara-nya luntur hingga sekitar matanya menghitam.
Percuma ia menangis dan berteriak kencang, toh tidak akan ada seorang pun yang mengetahuinya sebab ruangan itu kedap suara.
"K-kau akan melakukan apa...?" Arula mendadak pias ketika Vello bergerak membuka gespernya. Apa pria itu akan memperlakukannya seperti binatang lagi?
Vello tak menggubris ucapan Arula dan terus fokus melangkah mendekat. Bahkan pria itu sudah menanggalkan tuxedonya dan menyisakan kemeja putih. Tanpa sadar Arula menelan ludah gusar, ia tak akan biarkan pria itu bertindak seenaknya lagi.
"VORGIN BILANG KAU MASIH MENYUKAIKU!!" teriak Arula lantang dengan mata terpejam yang basah karena air mata. Berharap setelah kalimat itu tercetus Vello akan mengurungkan niatnya untuk menghukum dirinya.
Sesuai harapannya, Vello menghentikan langkahnya dan menatap wanita di depannya dengan pandangan yang sulit di artikan.
Perlahan namun pasti, Arula mulai membuka kembali matanya dan menatap Vello dengan sorot sayu.
"Lantas kenapa kau melakukan hal menyakitkan padaku? Ini sangat menyakitkan, begitu pun dulu..." lirihnya dengan suaranya yang serak. Ketakutan yang tadi membelenggunya sirna seolah diterpa angin bergantikan dengan perasaan sedih yang begitu kental.
Arula melihat Vello yang nampak enggan menatapnya. Pria itu masih stagnan di tempatnya. Arula harap pria itu akan luluh dan berhenti memperlakukannya dengan kasar.
"Kau masih percaya dengan omong kosong pria itu?" ucap Vello terkesan seperti ejekan.
Arula menatap lekat pada pria itu, dari posisinya terduduk dan Vello yang berdiri menjulang di depannya membuat Arula dapat melihat wajah pria itu yang begitu dingin tanpa ekspresi.
"Jika kau tak lagi menyukaiku, lantas kenapa kau ingin memilikiku lagi? Apa hidupku seperti permainan untukmu!?!" sahutnya dengan suara bergetar.
Vello tak menjawab dan justru membalikkan tubuhnya dan menjauh. Pria itu duduk di sofa yang tidak jauh dari sana dengan pikiran yang berkecamuk. Keduanya tidak mengeluarkan suara hingga tiba-tiba pria itu berdiri, "Rapikan dirimu. Kita akan berpamitan pada Tuan Eugene dan bergegas pulang."
Arula menangis dalam diam. Dadanya begitu sesak ketika Vello tak memedulikannya dan keluar dari sana seolah tak terjadi apa-apa.
Arula berusaha bangkit dan berdiri di depan cermin. Melihat penampilannya yang begitu berantakan tangisnya justru semakin histeris. Riasannya sudah hancur dan gaun panjangnya sudah robek.
Arula memilih menjatuhkan diri di atas ranjang dan berbaring. Ia lelah dengan semuanya. Dan ia tak sanggup menghadapi berbagai macam pandangan yang akan menatapnya begitu ia keluar dari kamar. Pasti semua orang akan membicarakannya.
Tanpa sadar Arula memejamkan mata dan terlelap dengan sisa air mata yang merembes di kedua pipinya.
•••
Vello meletakkan pistolnya di bawah dagu Hayden sehingga mau tak mau membuat Hayden harus bertatapan langsung dengan sorot mata tajam Tuannya itu.
"Kau tahu aku tak suka bermain-main, Hayden." desisnya dengan posisi berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Hayden yang bersimpuh tak berdaya.
Sedangkan Hayden hanya mampu menunduk dengan wajah babak belur. Ia mengaku bersalah dan pantas mendapatkan hukuman.
"Maafkan aku Tuan Vello, aku lengah dan__ARGHHHH!" salah satu pengawal yang berada di belakangnya dengan sengaja menginjak luka tembaknya hingga membuat Hayden memekik kesakitan.
Kini mereka berada di ujung kapal dengan terpaan angin malam yang mencekam. Vello tersenyum miring dan mendengus, "Kau orang kepercayaanku, Hayden. Dan kali ini kesalahanmu sudah sangat melewati batas! Kau mencium wanitaku!" gertaknya tajam membuat Hayden terus bercucur keringat dingin. Ditambah dengan darah yang terus mengalir di betisnya membuat Hayden sekuat tenaga untuk tetap diam mematuhi Tuannya.
Dengan rahang mengeras Vello kembali berdiri kemudian memasukkan pistolnya ke dalam tuxedo. Pria itu menatap para pengawalnya, "Bawa dia dan obati lukanya."
Hayden mendongak dan menatap Vello tak percaya. Pria itu menerbitkan seutas senyum tipis dan menunduk penuh rasa hormat, "Terima kasih Tuan Vello, terima kasih!" ucapnya dengan amat sangat bahkan nyaris menangis.
Hayden tak menyangka jika ia akan selamat dan di maafkan oleh pria itu mengingat kesalahannya yang membuat Tuannya itu murka.
Vello tak menggubrisnya dan berlalu meninggalkan mereka. Walau sebenarnya Vello tahu jika kejadian tadi bukanlah kesalahan Hayden, sebab dari yang ia lihat lewat kamera CCTV Arula lah yang terlebih dulu menghampiri orang kepercayaannya itu dan berbuat ulah terlebih dulu.
Dalam perjalanan menuju ke dalam kapal, Vello tidak sengaja berpapasan dengan Vorgin.
"Apa yang kau lakukan!" bentaknya begitu tak ramah karena pria itu yang disebut adiknya itu kini menghadang jalannya.
Vorgin menghela napas dan menatap saudaranya, "Apa yang telah kau lakukan?" tanyanya balik membuat Vello mengangkat sebelah alisnya dengan geram.
"Apa maksudmu, sialan?! Jangan ikut campur dalam urusanku!" tekannya tajam.
Vorgin memang tidak memiliki urusan lain selain pekerjaan sebagai nahkoda di kapal pesiar mewah ini. Namun kebetulan saat ini kemudi tengah di ambil alih oleh asistennya sehingga Vorgin memilih untuk mencari tahu mengenai keributan yang terjadi beberapa saat lalu.
"Aku dengar kau berbuat keributan tadi."
"Lantas?" balas Vello penuh intimidasi.
Vorgin bersedekap seraya menatap saudaranya dengan malas. "Berhenti berpura-pura dan mengakulah, badebah!"
Air muka Vello kian mengeras setelah mendengar umpatan itu. Sepertinya adiknya itu memang berniat untuk berkelahi dengannya. Namun belum sempat Vello membogem rahang adiknya dengan kepalan tangan yang mengeras itu, Vorgin lebih dulu menyela.
"Arula menemuiku tadi. Dia nampak kesal dan aku tahu itu pasti karena kau!" jeda sejenak sebelum pria berpakaian nahkoda itu melanjutkan ucapannya. "Aku mengatakan bahwa kau masih menyukainya. Dia tak langsung percaya. Kau tahu bukan bahwa Arula wanita yang keras kepala," Vorgin menganggukkan kepalanya sembari terkekeh pelan.
"Kemudian dia bertanya padaku, kenapa kau meninggalkannya dulu. Aku bilang, kau pasti memiliki alasan waktu itu, walau aku sendiri tak tahu alasanmu meninggalkannya entah karena apa. Dan setelah mendengar itu, Arula langsung pergi dan hendak menemuimu, tapi ternyata wanita itu justru bertemu dengan Hayden dan berbuat keributan di pesta menyenangkan ini." papar Vorgin berusaha santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Vorgin melirik saudaranya yang termangu, senyum tipis terukir di bibirnya. "Tidakkah kau berpikir, mungkin saja Arula hendak menemuimu. Namun ketika di tengah jalan ia berubah pikiran dan malah bertemu dengan Hayden?" Vorgin berusaha memancing. Ia ingin tahu bagaimana reaksi pria dingin itu.
Mata elang Vello menatap pada saudaranya, "Kapan dia datang menemuimu?"
Vorgin tak langsung menjawab dan nampak berpikir, "Mungkin saat acara dansa..?" balasnya sedikit ragu.
Shit.
Tidak salah lagi. Arula marah padanya pasti setelah melihatnya berciuman dengan wanita lain ketika wanita itu hendak menemuinya.
Tanpa menggubris ucapan saudaranya yang panjang lebar bak kereta api itu. Vello dengan dinginnya melengos pergi begitu saja hingga memunculkan senyum miring dari pria berpakaian nahkoda itu.
"Pada akhirnya dia akan takluk juga pada wanita itu."
___TBC___
gimana buat part ini guys?? suka gaa??💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ya biar aku nambah semangat updatenya⚜️❤️🔥
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии