Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 12: Hope
aku dateng lagi hihii siapa yang nungguu??💗
ramein kuyy biar aku makin semangatt❤️🔥😗
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
Arula melamun di dalam gazebo yang terlihat sepi di belakang mansion besar itu. Tatapannya nampak kosong dengan pikiran yang entah kemana. Tubuh ringkihnya semakin kurus tatkala beberapa hari ini ia merasa tekanan batin yang sungguh luar biasa.
"Nona Arula ..."
Wanita itu mengerjap dan mendongak saat melihat Liliya menghampirinya sembari menaruh secangkir teh hangat.
"Sedang apa Nona di sini? Tuan Vello mencarimu." ucapnya setelah selesai menghidangkan teh serta sepiring kue kering.
Arula menatap Liliya tanpa ada niatan untuk membalasnya.
Liliya menunduk sejenak kemudian kembali bersuara, "Tuan Vello memiliki seorang adik, walaupun berbeda ibu_"
"Aku tahu, Liliya." potong Arula dengan suara rendah.
Wanita setengah baya itu termangu di tempatnya.
Kemudian terdengar suara menghela napas berat sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku menganal mereka, Liliya. Dulu aku sangat mengenal mereka," tatapannya menerawang ke beberapa tahun lalu.
Liliya merasa bersalah karena telah membuka lembaran lama yang membuat rasa sakit wanita di depannya itu kembali merangkak.
"Aku sangat mencintai pria itu," pernyataan Arula tentu saja menimbulkan tatapan tak terduga dari Liliya. Dalam hati Liliya berucap, 'lantas jika kau mencintainya, kenapa kau terlihat tidak bahagia?'
"Namun itu dulu."
Ya. Akhirnya Liliya paham semuanya setelah sahutan itu terdengar.
"Aku menyuruhmu agar dia menemuiku, bukan untuk bergosip, Liliya!" suara lain tiba-tiba datang dan mengintrupsi keduanya.
Liliya tersentak dan menoleh kerika Vello dengan gagahnya berjalan ke arah mereka. Liliya diserang panik dan sontak menunduk, sedangkan Arula tak merasakan apapun. Ia sudah tak peduli lagi pria itu akan melakukan apa padanya.
"Kau bisa pergi."
Liliya menunduk dan mengangguk patuh kemudian berjalan meninggalkan keduanya.
Arula memilih untuk memalingkan wajahnya-enggan menatap pria itu.
"Nanti malam bersiap-siaplah. Kita akan pergi menghadiri pesta di kapal pesiar."
Arula tak bergeming membuat pria itu menggeram pelan.
Pria dengan kedua tangan di dalam saku celana itu mendengus, "Kujemput nanti kau sudah siap dengan dress pilihanku."
Terdengar decakan keluar dari bibir Arula membuat Vello mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Kau yakin akan mengajakku ke pesta dengan kondisi seperti ini?" Arula menatap pergelangannya yang masih memar. Bukan hanya itu, tengkuknya yang banyak kissmark, kakinya banyak bekas lebam dan pukulan, wajahnya penuh dengan tamparan, serta sudut bibirnya yang sobek.
"Kau tetap akan ikut!" tegasnya tak ingin dibantah. Setelahnya pria dengan kemeja putih dan rompi abu itu pergi meninggalkan Arula sendirian.
•••
Arula stagnan di tempatnya ketika melihat kamarnya dipenuhi begitu banyak orang serta beberapa barang-barang bawaannya.
Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore namun sepertinya Vello ingin ia segera bersiap-siap untuk menghadiri pesta yang akan mereka datangi. Arula tak terlalu peduli, namun ia tak ada kuasa juga untuk membantah keinginan pria itu.
"Nona Arula, cepat kemari aku akan segera meriasmu!" salah satu wanita dengan semangat empat lima menarik tangannya dan mendudukan Arula di depan meja rias.
Arula tak banyak protes dan diam saja ketika seseorang mulai menggulungnya.
Ada yang bertugas mengecat kukunya, menata rambutnya, dan merias wajahnya.
Satu jam berlalu.
Arula perlahan membuka matanya dan maniknya langsung menemukan sosok dirinya di depan cermin dengan wajah yang sudah dipoles make up. Untuk sesaat Arula tidak mengenali sosok yang berada dipantulan cermin rias di depannya. Bahkan sobekan di bibirnya sudah tidak terlihat.
Para penata rias itu mesti diberi acungan jempol sebab telah membuat Arula menjadi semakin paripurna.
"Nona Arula, sekarang cobalah dress ini."
Arula menolehkan kepalanya dan menemukan satu buah long dress berwarna biru tua. Sepertinya Vello memang berniat agar tubuhnya tidak terekspos.
Arula berdiri dan mendekat.
Ditatapnya dress itu yang masih terpajang di atas manekin. Arula menyentuhnya perlahan. Betapa lembutnya dress itu, sudah Arula pastikan jika harganya mampu untuk membayar uang kuliahnya selama satu semester.
Arula dibantu oleh beberapa orang ketika mengenakan dress nya sebab takut bila ia nekat melakukannya sendiri ia akan berakhir merusak riasannya.
CEKLEK
Semua pasang mata tertuju pada pintu kamar yang terbuka dan menampilkan sosok Hayden.
"Nona Arula, apa kau sudah siap? Tuan Vello sudah menunggumu," ucapnya tanpa ekspresi namun masih terdengar nada hormat.
"Sebentar lagi Nona Arula selesai, Tuan," ucap salah satu wanita.
Hayden mengangguk dan kembali menutup pintu.
Selang beberapa menit Arula telah siap dengan gaun biru tua mewahnya yang melekat pada tubuhnya. Dengan rambut di sanggul sederhana dengan beberapa helai rambut yang berjatuhan membuat wanita itu terlihat begitu memesona.
Vello mengalihkan pandangannya ketika derap langkah terdengar dari atas tangga.
Pria dengan tuxedo biru yang serupa dengan gaun milik Arula itu kini memusatkan atensinya pada Arula yang begitu anggun.
Untuk beberapa detik Vello menatap Arula dari atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas dengan senyum miring, "Aku tak merasa rugi bila harus menunggumu selama satu jam bila penampilanmu akan sememesona ini."
Tak ingin menjawab, Arula justru memalingkan wajahnya ketika mendengar penuturan itu. Entah mengapa berbanding dengan hatinya, pipinya justru merasa panas dan dirinya berubah gugup.
Vello mengulurkan tangannya membuat Arula menatap pria itu bergantian dengan uluran tangannya yang belum ia terima.
Vello lantas mengangkat sebelah alisnya menunggu agar wanita itu segera menerima uluran tangannya.
"Cepat Nona, kita bisa terlambat jika kau terus mengulur waktu," serumya dengan nada menyindir.
Dengan berat hati Arula segera menerima uluran tangan pria itu. Vello tersenyum simpul dan mengajaknya untuk segera menuju mobil yang telah tersedia.
•••
Arula tak bisa berbohong jika kini ia nyaris seperti wanita norak yang baru saja di ajak ke tempat mewah dan megah. Begimana tidak? Ketika kakinya melangkah masuk ke dalam kapal pesiar berukuran sangat besar itu netranya langsung dimanjakan oleh desain kapal yang begitu elegan.
Ramai orang-orang kelas atas yang datang ke pesta ini. Arula bak orang bodoh yang terus mengedarkan pandangannya kesana kemari melihat bagaimana orang bersikap.
"Jangan gugup Sayang, ini hanya sebuah pesta." bisik Vello tepat di telinganya membuat Arula sontak menoleh kaget karena hembusan napas pria itu yang mengenai daun telinganya.
Well, ini memang sebuah pesta. Namun, orang seperti apa yang rela mengadakan pesta di sebuah kapal pesiar seperti ini? Sudah dapat dipastikan orang tersebut memiliki harta yang sangat membeludak.
"Ayo, kita harus memberi selamat pada pemilik pesta." Vello menggiring Arula umtuk membelah kerumunan untuk menemui sang tuan.
"Halo, Tuan Eugene! Selamat atas ulang tahun pernikahanmu." Vello menyapa ramah pada sosok pria paruh baya yang masih terlihat tampan diusia senjanya itu dengan akrab, kemudian ia alihkan pandangannya pada pasangan Tuan Eugene yang berada di samping pria itu dan melempar senyum manis sebagai ucapan selamat juga.
Tuan Eugene lantas membalas ramah pada Vello, "Vello Lodovico, bagaimana kabarmu? Terima kasih telah hadir!" Tuan Eugene menatap antusias atas kehadiran Vello. Maniknya yang sudah banyak kerutan itu kemudian beralih pada Atula yang senantiasa berada di samping Vello.
"Wanita ini siapa?" tanyanya dengan senyuman.
Vello lantas tersenyum tipis dan menatap Arula lirih, "Arula Dara, calon istriku."
Arula kontan melotot mendengar pernyataan itu. Wajah terkejutnya tak bisa wanita itu sembunyikan lagi.
Tuan Eugene nampak kebingungan terlihat dengan dahinya yang mengernyit, "Arula Dara? Bukankah kau merupakan calon istri dari mendiang model terkenal itu?"
Arula menelan ludah sudah payah. Ia tak mampu menjawab. Berbeda dengan Vello yang terlihat begitu santai bahkan masih sempat terkekeh pelan, "Setelah insiden kematian calon suaminya, kami bertemu dan saling jatuh cinta kemudian memutuskan untuk menikah beberapa bulan lagi." ucapnya begitu lugas dan tenang.
Arula mendengus dalam diam. Pria di sampingnya ini ternyata cukup lihai juga merakit cerita seolah serentetan kalimat itu benar-benar dialami oleh mereka. Jatuh cinta apanya!
Arula sudah tak tahan lagi, dadanya bergemuruh. Tangannya terkepal kuat. Apalagi merasakan rengkuhan Vello pada pinggangnya yang mengerat membuat Arula semakin tak tahan untuk segera pergi dari pesta sialan ini.
Tuan Eugene hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum sumringah, "Kalau begitu akan kutunggu undangan pernikahan darimu, Vello!" sahut pria paruh baya itu dengan nada menggoda membuat kedua pria berbeda usia serta istri Ruan Eugene tertawa, berbeda dengan Arula yang tengah menahan amarah.
"Sekarang nikmatilah pestanya, semoga kalian menyukainya. Aku dan istriku akan menyapa tamu-tamu yang lain," Tuan Eugene undur diri yang dibalas anggukan singkat oleh Vello.
"Aku ingin pergi," desis Arula membuat senyuman yang tadi bertengger di wajah tampan Vello kini luntur bergantikan dengan wajah datar.
"Jangan macam-macam. Sekarang nikmatilah pestanya!"
"Aku tak menikmati pesta ini! Aku tak nyaman berada di sini!" akhirnya Arula berani dan menoleh pada Vello dengan pandangan kesal.
"Coba saja kau pergi dari sini. Kau mungkin akan tenggelam di tengah laut!" Vello lantas meninggalkan Arula sendirian ditengah keramaian pesta.
Sial. Arula nyaris lupa jika kini dirinya berada di tengah laut. Kedua tangannya semakin mengepal kesal guna melampiaskan kekesalannya.
Arula memilih keluar dari sana untuk mencari angin segar. Tak ingin memusingkan diri karena Vello yang justru meninggalkannya sendirian, padahal pria itulah yang mengajaknya ke sini.
Tanpa Arula duga, ia malah menuju ke bagian depan kapal. Manik kucingnya lantas melihat Vorgin dengan pakaian nahkodanya yang rapi tengah sibuk dengan tugasnya sebagai nahkoda kapal.
"Arula, kau hadir di pesta ini juga?"tanya pria itu dengan nada tidak percaya. Vorgin nampak sumringah terlihat bagaimana manik pria itu yang bersinar-sinar.
Arula hanya tersenyum miris sembari mengangguk.
Vorgin lantas tertawa melihat respon itu. "Kau dipaksa kakakku?"
"Kupikir kau tak memerlukan jawabanku, Vorgin."
Vorgin hanya bisa geleng-geleng kepala dengan senyuman yang terpatri di wajah tampannya. "Dia masih menyukaimu," celetuknya kemudian.
Arula menoleh pada pria itu yang tengah fokus menatap ke depan. "Walau caranya begitu salah, namun dia sangat menyukaimu dan tak ingin kau pergi lagi dari hidupnya," sambungnya lagi.
Arula hanya diam mendengar penuturan dari Vorgin yang tidak terdengar seperti candaan itu. Namun, Arula memilih untuk tak menghiraukan ucapan itu dan kembali menatap luasnya laut di hadapnnya.
"Jika dia masih menyukaiku, lantas kenapa dulu dia meninggalkanku dengan cara yang amat menyakitkan?" tanyanya kemudian setelah beberapa menit hening.
Vorgin tak langsung menjawab dan justru terdengar helaan napas, "Dia memiliki alasan."
•••
Arula sedikit kesulitan mencari keberadaan Vello di tengah ramainya pesta di dalam kapal pesiar itu. Apalagi gaunnya yang panjang membuat Arula repot jikalau gaunnya terinjak oleh orang lain.
Arula melihat orang-orang berpasangan tengah berdansa karena musik telah berputar.
Wanita pemilik mata kucing itu berdecak, "Jika ini bukan di tengah laut, mungkin aku akan pergi saja!"
Langkahnya spontan terhenti ketika beberapa meter di depannya terlihat sepasang sejoli yang tengah memadu kasih dengan begitu syahdunya di tengah hiruk pikuknya orang-orang yang tengah berdansa.
Ditambah dengan suara musik yang berirama lambat membuat suasana bertambah mendukung. Arula merasakan dadanya sesak melihat Vello berciuman dengan seorang wanita yang tak ia kenal.
Entah perasaan apa yang mengerubungi hatinya, namun matanya terasa panas dengan dada bergemuruh ketika ia melihat adegan itu.
Mungkin setelah mendengar penuturan Vorgin beberapa menit yang lalu membuat Arula merasa sedikit mempunyai harapan terhadap Vello.
Namun, ketika melihat apa yang baru saja dilihatnya, harapan itu pupus seperti omong kosong belaka.
Hilang bak diterpa angin.
Arula sontak membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana tanpa ingin melihat aksi selanjutnya yang akan Vello lakukan pada wanita asing itu. Sekuat mungkin Arula menahan tangisnya.
Arula merasa heran dengan dirinya sendiri mengapa ia menjadi perasa seperti ini. Seharusnya ia tetap membenci pria itu setelah apa yang dilakukannya pada Kares.
Begitu keluar Arula dapat melihat seorang pria yang berdiam diri di dekat pembatas kapal sembari menghisap tembakaunya.
Arula lantas berjalan mendekat pada pria yang tak dikenalnya dengan posisi membelakanginya.
Merasa ada seseorang di sampingnya, pria itu spontan menoleh dan tertegun mendapati wanita cantik dengan air mata yang menghiasi pipinya.
"Nona Arula , kenapa kau berada di sini?"
___TBC___
kira-kira itu siapa ya?? ada yang tau??😗
i hope you like this story⚜️💗
jangan kupa vote, comment, dan share ya❤️🔥💗
see you


Комментарии