12 страницаОпубликовано: 18.08.2026. 08:45
40

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 11: Brother

aku dateng lagii membawa vello dan arula hihii, ada yang nunggu??😗💗

jangan lupa vote umtuk menghargai karya penulis⚜️💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

Vello menarik rambut Arula dengan kasar hingga wanita itu segera meraup udara sebanyak-banyaknya sebab paru-parunya yang nyaris kehabisan oksigen. Arula merasakan kepalanya begitu pusing luar biasa setelah Vello menarik rambutnya kasar, Arula yakin beberapa helai rambutnya tercabut karena tarikan tak manusiawi itu.

"A-apa yang lakukan?!" dengan napas tersenggal-senggal karena air yang masuk ke hidungnya, Arula menatap nyalang pada Vello dengan mata yang sedikit perih akibat terkena air. Rambutnya yang tadi sudah agak mengering kini kembali basah tak tersisa.

SREK!

Arula lagi-lagi dibuat terkejut dengan sikap Vello yang tiba-tiba merobek dressnya kasar.

Arula sontak mundur beberapa langkah namun Vello malah menarik tangannya hingga Arula masuk ke dalam bathtub yang penuh dengan air.

Dressnya telah tanggal, sehingga dengan perasaan panik Arula menutupi aset tubuhnya yang terekspos.

Vello menatapnya tanpa ekspresi membuat Arula kian berdebar takut.
Melihat tatapan pria itu yang dingin membuat Arula berpikir jika pria di depannya ini tengah kerasukan.

Tanpa di sangka pria itu ikut masuk ke dalam bathtub membuat Arula bergeser berniat untuk keluar dari sana namun pria itu justru menahan tangannya membuat Arula mau tak mau harus memberontak.

"L-lepaskan aku!"

"Tidak akan!" tekan Vello tajam. Kemudian tanpa rasa kemanusiaan pria itu menekan kepala Arula kembali dan menenggelamkannya di dalam air.

Kedua tangan Arula melambai-lambai meminta agar pria itu segera menghentikan aksi gilanya.

Vello menurut kemudian melepaskan tekanan di kepala wanita itu dan beranjak dari sana membuat Arula tanpa sadar menghela napas lega. Namun, wanita dengan bra serta celana dalam berwarna putih itu mesti menerima perlakukan kasar Vello yang lagi-lagi berbuat kasar.

Vello menarik tangan Arula agar keluar dari bathtub dan membawanya keluar dari kamar mandi. Lebih gilanya pria itu memaksa Arula agar ikut bersamanya keluar dari kamar yang Arula tempati.

"JANGAN MEMBERONTAK ATAU KAU AKAN SEMAKIN MENDAPATKAN PERLAKUKAN KASAR DARIKU?!" ancamnya tak main-main membuat Arula detik itu juga berhenti meronta-ronta.

Dadanya bergemuruh diperlakukan seperti itu. Apalagi di lantai dasar ada beberapa pelayan dan pengawal yang menatapnya penuh rasa penasaran membuat Arula malu bukan main dengan penampilannya saat ini. Ia tak bisa menahan tangisnya lebih lama lagi. Ini terlalu memalukan dan juga menyakitkan untuknya.

Ternyata Vello membawanya ke sebuah ruangan di samping gudang yang dulu pernah menjadi tempat Arula dikurung.

"Kau akan membawaku kemana?!" Arula mulai panik ketika Velli sedari tadi hanya diam.

"Jangan banyak bertanya. Kau pasti akan menyukai hukumanmu!" pria itu tidak banyak bersuara dan justru menerbitkan seringain kecil.

Liliya yang melihat itu di lantai dasar hanya mampu menatap nanar pada Arula, "Semoga Nona Arula diberikan kekuatan. Dia perempuan yang baik," gumamnya tanpa sadar.

Sedangkan di tempat lain tepatnya di sebuah ruangan, Arula menatap takut-takut pada Vello yang kini tengah mengunci pintu. Tanpa sadar ia menelan ludah kasar. Sebenarnya apa yang akan dilakukan pria gila itu?

Arula mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Lagi-lagi ia menelan ludah gusar.

Ruangan apa ini?

Arula memeluk tubuhnya sembari menahan tangis.

Apakah kejadian beberapa tahun silam akan terjadi lagi padanya? Dengan perlakuan serta cara yang tidak terhormat Vello membuang dan meninggalkannya seorang diri. Dan dari sanalah Arula memiliki trauma yang belum bisa ia sembuhkan. Bahkan hingga detik ini.

•••

Arula membuka matanya dan merasakan seluruh tubuhnya nyaris remuk. Kepalanya begitu berat dan pusing yang melanda. Ia pikir ia sudah mati. Well, setidaknya itu lebih baik daripada mendapati dirinya masih hidup yang terkurung di mansion Vello.

Wanita itu mengernyit sembari mengusap pelipisnya yang terasa begitu pening. Ia mengedarkan pandangannya melihat sekeliling.

Jantungnya terasa berhenti untuk beberapa detik ketika kejadian semalam teringat di kepalanya.

Arula kembali menelan ludah gusar.

Ia tolehkan kepalanya ke samping dan tidak menemukan sosok pria yang telah melukainya. Dibalik selimut tebalnya Arula tidak mengenakan sehelai benang pun sehingga lagi-lagi ia merasakan dadanya bergemuruh. Semalam ia sudah diperlakukan dengan sangat tidak hormat. Ia diperkosa.

Setetes air mata kembali mengalir mengingat kejadian itu. Begitu kejammya Vello yang bahkan tega telah melukainya berkali-kali.

Walau masih terasa begitu kesakitan Arula berusaha bangun, namun kedua tangannya yang tiba-tiba sakit membuat Arula mengurungkan niat. Ia melihat kedua pergelangan tangannya yang memar. Tangisnya kian kencang melihat itu.

Lihatlah bagaimana pria itu menyiksanya.

"Hiks..." isaknya tak bisa Arula tahan.

CEKLEK

Suara pintu terbuka membuat Arula kembali berbaring dan melihat  presensi Liliya dengan beberapa pelayan yang lain.

"Nona Arula, saya akan siapkan air hangat untukmu membersihkan diri. Apa kau membutuhkan hal lain?" ucap Liliya halus.

"Bisa kau pergi?" balas Arula tanpa melihat ke arah Liliya sebab air matanya yang malah semakin deras menuruni pipi.

Liliya beserta pelayan yang lain nampak diam.

"Baik. Setelah kau siap, Tuan Vello memintamu untuk turun ke lantai bawah karena ada tamu yang akan beliau perkenalkan," setelahnya Liliya dan pelayan yang lain menunduk sopan kemudian pergi dari sana.

Arula memejamkan matanya yang terasa begitu lelah. Lelah sebab terlalu sering menangis hingga membuat kedua matanya terasa kebas.

Susah payah Arula bangun dengan selimut yang melilit tubuh polosnya.
Ia menatap seluruh tubuhnya di cermin kamar mandi yang banyak sekali bekas memar, pukulan, dan juga kissmark. Siapa lagi pelakunya jika bukan Vello?

Arula kembali terisak sembari menyabuni tubuhnya. Rasa sakit di pergelangannya masih terasa jelas.

Entah pria itu menyetubuhinya atau tidak, namun yang jelas rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya benar-benar tak dapat dijabarkan. Toh keperawanannya pun sudah hilang 2 tahun yang lalu akibat pria brengsek itu.

•••

"AHAHAHAA! Aku masih ingat kalau kau selalu membayangkan lidahmu berada di dalam mulutnya!" tawa kencang seseorang memenuhi mansion megah itu.

Vello menatap tajam pada seorang pria yang berada di depannya, "Diamlah!" decaknya merasa sedikit risih dengan pembahasan yang pria itu ucapkan.

Pria dengan setelan putih rapi khas nakhoda itu memelankan tawanya dan berhenti. "Jadi, mana wanita itu? Aku tak sabar ingin melihatnya setelah beberapa tahun lalu."

"Sebentar lagi dia dat_Kenapa kau berdiri di sana? Kemarilah!" Vello sedikit tertegun melihat Arula yang kini berada di ujung tangga.

Tatapan Arula dengan pria berseragam nahkoda itu bertubrukan. Arula mengetahui siapa pria itu. Dia Vorgin Vincent, Adik Vello. Walau keduanya beradik kakak, namun mereka tidak dilahirkan di rahim yang sama. Namun, ada satu persamaan dari mereka berdua yakni sama-sama bajingan.

Pria bernama Vorgin itu berdecak sembari menatap Arula, "Ck! Semakin kulihat, dia semakin menawan." senyum manisnya terukir membuat kedua matanya membentuk bulan sabit.

Vello tersenyum miring, "Benarkan? Aku bahkan sudah meninggalkannya dua tahun lalu namun dia tetap terlihat menarik!" timpal Vello ketika kini Arula berada di sampingnya, tentu dengan jarak yang cukup jauh.

"Hai, Arula! Kita bertemu lagi setelah sekian lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" sapa Vorgin dengan begitu riang nyaris seperti anak TK yang baru pertama kali masuk sekolah.

Arula melirik Vello sekilas, kemudian ia membalas, "Seperti yang kau lihat. Tak lebih baik." ucapnya begitu jujur.

Hal itu membuat Vorgin meringis. Ia jelas tahu apa yang dimaksud oleh Arula. Mana mungkin Vorgin tak mengetahui sikap bengis nan sadis saudaranya.

"Jadi kau akan tinggal di sini berapa lama?" Vello memilih merubah topik hingga mengalihkan atensi Vorgin.

"Hingga tugasku di sini selesai. Karena kebetulan sekali aku sedang banyak pelayaran di London."

Arula menatap kedua pria berbeda watak itu dengan intens. Akalnya memikirkan cara apakah Vorgin dapat membantunya untuk keluar dari mansion terkutuk ini?

Tidak lama para pelayan datang dan mulai menyiapkan berbagai macam menu makanan di meja makan dengan begitu banyak.

Ketiga manusia itupun beranjak untuk menuju meja makan. Arula senantiasa berada di belakang kedua pria tinggi itu.

Setelah sampai Arula berniat untuk duduk di samping Vorgin, namun melihat tatapan bak laser yang menatapnya membuat Arula sontak menelan ludah dan pasrah untuk duduk di samping Vello.

"Astaga! Masakan Liliya tidak pernah berubah, selalu memancing rasa laparku!" decak pria berseragam putih rapi itu dengan senyum sumringah, Vello mendengus mendengar penuturan itu.

Ketiganya fokus dengan makanan masing-masing, hingga Vorgin menyadari pergelangan tangan Arula yang memerah ketika tengah menyendokkan makanan.

"Arula, pergelanganmu kenapa?"

Arula tersentak begitu mendengar penuturan itu hingga sontak menghentikan pergerakannya. Tidak hanya dirinya, tapi Vello juga. Tanpa ekspresi berlebih pria itu memandang Arula dan Vorgin bergantian.

Arula sedikit menegakkan tubuhnya dan melirik Vello sejenak, "I-ini bukan apa-apa. Hanya luka biasa." sahutnya dengan miris sebab ada rasa takut yang seolah mengikat lehernya.

Seharusnya Arula berucap jujur saja, bisa saja Vorgin akan membantunya utnuk keluar dari rumah sialan ini. Namun entah mengapa Arula justru memilih untuk berbohong.

Tanpa rasa curiga berlebih Vorgin tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya.

"Apa kau ingin berjalan-jalan denganku setelah makan?"

Alih-alih merasa lega, tawaran itu justru malah semakin membuat Arula tak nyaman di tempatnya. Arula dapat merasakan tatapan elang dari sampingnya yang menghunus tajam.

"Eung_Sepertinya aku tidak bisa. A-aku masih sedikit lelah, Vorgin..."Arula merutuki dirinya yang tergagap ketika menjawab tawaran Vorgin. Sial! Seharusnya Arula iyakan saja tawaran emas itu.

Karena yang Arula tahu Vorgin memang memiliki sifat bajingan seperti Vello namun pria itu tidak mengetahui perbuatan bejat saudaranya itu terhadap Arula.

"Lelah? Memangnya kau telah melakukan apa?" Sepertinya Vorgin sudah tidak berselera dengan makanan lezat di depannya dan lebih tertarik mencerca Arula.

Arula menunduk pelan dan melirik ke arah Vello__untuk meminta bantuan pria itu.

Dalam hati lagi-lagi Arula merutuk kenapa dua pria di sekitarnya ini begitu menyebalkan.

"Arula semalam telah menamaniku menghadiri pesta. Wajar jika dia merasa lelah. Kau tak perlu mengajaknya kemana-mana." suara bariton itu akhirnya terdengar setelah beberapa menit bungkam.

Berbeda dengan Vorgin dan Vello yang kembali memakan makanannya, Arula justru semakin pening memikirkan percakapan kedua pria itu tadi ketika ia belum bergabung.

Jelas kedua pria itu tengah merendahkan dirinya seolah ia bukanlah wanita berharga.

___TBC___

hihi gimana buat part ini guyss?? I hope you like this story!💗❤️‍🔥

semoga chemistrynya sampe ke kalian yakk, jangan lupa vote, comment, dan share⚜️💗

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!