Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 10: Hurting
di part ini yang mau hujat vello di persilakan haha😌💗
jangan lupa vote untuk menghargai karya penulis⚜️❤️🔥
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
Arula berada di dalam mobil dengan di apit oleh dua pengawal. Pandangannya nampak kosong dengan kedua tangan saling bertaut.
Sedangkan sosok bengis yang telah tega merenggut nyawa suaminya kini berada di mobil lain yang entah pergi kemana. Arula tak tahu dan tak peduli. Pikirannya berkecamuk. Kejadian beberapa menit yang lalu masih belum bisa diterima oleh akal sehatnya.
Karesnya telah tiada.
Kini hanya Arula sendiri tanpa penyemangat hidupnya.
Arula mengangkat kepala ketika mobil yang ditumpangimya berhenti.
Mansion terkutuk ini lagi.
Melihat dari luar saja sudah terlihat bagaimana mistisnya bangunan bak istana klasik ini. "Cepat turun!" salah satu pengawal menarik tangan Arula cukup kasar hingga membuatnya yang tak fokus nyaris terjatuh.
Arula berjalan masuk dengan raut putus asa. Tidak ada yang membuatnya bersemangat lagi untuk bisa keluar dari sini.
"Cepatkan langkahmu! Jangan terlalu lamban!" pengawal yang tadi menariknya kini mendorong Arula dengan keras membuat perempuan itu yang kehilangan keseimbangan akhirnya terjatuh dengan keras.
BRUK!
Semua pengawal terdiam melihat Arula yang jatuh. Tidak ada satu pun dari mereka yang membantunya. Hingga Liliya datang dengan tergopoh-gopoh untuk membantunya.
Arula meringis pelan saat merasakan perih dibagian lututnya dan ketika ia lihat ternyata lututnya mengeluarkan sedikit cairan merah segar.
Arula meringis kesakitan, namun ia sedikit terbantu dengan Liliya yang menolongnya.
"Nona tunggu di sini, aku akan mengambil kotak obat terlebih dulu."
Arula hanya bisa diam ketika Liliya pergi untuk mengambil kotak obat. Tak lama Liliya kembali dan duduk di sampingnya. Wanita setengah baya itu mengangkat kaki Arula agar mempermudah mengobati lututnya.
Liliya melirik singkat pada Arula ketika ia tak mendengar ringisan sama sekali saat ia mengobati lukanya yang berada di telapak tangan milik perempuan itu.
Liliya tak tahu saja jika kini Arula sudah mati rasa. Bahkan luka perih yang dirasakannya sudah tak lagi membuat Arula kesakitan.
"Tuan akan pulang sebentar lagi. Sebaiknya Nona segera membersihkan diri." seru Liliya setelah selesai mengobati luka telapak tangan dan lututnya.
Arula menurut tanpa banyak berkata dan masuk ke dalam kamarnya.
Di kamar mandi Arula banyak melamun. Pandangannya menatap cermin yang memperlihatkan dirinya.
Ia lebih kurus dari biasanya. Pipinya yang semula terlihat tembam kini mulai menirus.
Arula melanjutkan ritual mandinya dengan hening, hanya terdengar suara gemercik shower yang mengalir membasahi tubuhnya.
Selesai mandi Arula melihat pakaiannya sudah disiapkan di atas ranjang. Sebuah dress feminin berwarna hijau tosca. Warna favoritnya.
Arula yakin itu pemberian dari Vello. Dan ya, Arula pikir kini pria itu sudah pulang dengan keadaan yang lebih tenang setelah menghabisi nyawa suaminya.
Well. Meskipun saat itu pastor belum mengucapkan kata sah pada perjanjian pernikahannya, namun Arula akan menganggap bahwa ia dan Kares sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Biarlah seperti itu. Setidaknya menganggap Kares sebagai suaminya membuat Arula senang.
Memikirkan itu lagi-lagi air matanya kembali menetes tanpa ia sadari. Bagaimana nasib Kares saat ia di seret menuju mobil tadi? Apakah laki-laki itu di makamkan dengan layak? Atau dibiarkan begitu saja di dalam gereja bersama jasad sang pastor?
"Hiks..." isaknya begitu sesak dengan air mata yang semakin mengalir deras. Rasanya terlalu menyakitkan untuk kembali mengingat pada hal-hal yang membuatnya sedih.
CEKLEK
Suara pintu yang terbuka tanpa ketukan berhasil membuat Arula terkejut dan segera menghapus air matanya dengan kasar.
•••
BRUK!
"APA HAKMU MELUKAI WANITAKU, SIALAN!!" bentaknya begitu lantang dengan raut wajah yang keras.
Tanpa belas kasih Vello menginjak luka tembak yang baru saja ia lakukan pada salah satu pengawalnya.
Ketika Vello sampai di mansionnya, ia mendapat kabar bahwa Arula terjatuh dan sedikit terluka akibat ulah salah satu pengawalnya. Langsung saja tanpa banyak membuang waktu, ia langsung pergi ke ruang bawah tanahnya dan mengintruksikan kepada Hayden untuk memanggil pengawal yang sudah berani menyentuh bahkan melukai wanitanya.
"M-maafkan aku Tuan Vello, aku tak sengaja melakukannya..." rintih pengawal itu yang kini sudah tak bertenaga. Tulang keringnya yang tertembak serta diinjak membuatnya merasakan rasa sakit berkali-kali lipat.
Bibir tipisnya tersenyum miring, "Tidak sengaja?" ia mendengus kasar mendengarnya. Tidak akan ia biarkan seorang pun melukai wanitanya barang seujung kuku pun kecuali dirinya.
Vello melepaskan injakan kakinya hingga tanpa sadar membuat pengawal yang sudah tidak berdaya itu menghela napas lega. Namun itu bukan hal yang baik untuknya. Karena setelahnya Vello berdiri di depannya dengan kedua tangan yang seperti biasa dipalipisi sarung tangan hitam untuk melakukan sesuatu.
Pengawal itu menelan ludahnya kasar melihat Tuannya merogoh sesuatu disaku jas hitamnya.
Vello tersenyum lebar sembari menatap revolver miliknya. "Peluruku masih terisi penuh. Kau ingin merasakannya satu?"
Spontan pengawal itu menggeleng kencang dengan tangisan yang berderai. "Tidak Tuan. Kumohon maafkan aku... Aku mengaku bersalah."
"Coba kau ucapkan sekali lagi," pintanya dengan halus.
Dengan jantung berdebar-debar, pengawal itu mulai membuka mulutnya lagi, "A-aku minta maaf Tu-tuan Vell__"
DOR!
DOR!
DOR!
Tidak ada lagi suara rintihan serta permohonan ampun yang terdengar. Kini yang terlihat hanyalah aliran darah yang mulai merembes dari tubuh mengawal tadi.
Vello menjauh mundur dari sana dan mendekat pada Hayden sembari membuka sarung tangan hitamnya. "Selesaikan dia. Jangan sampai aroma darahnya tertinggal di sini!"
Hayden membalasnya hanya dengan anggukan patuh. Setelahnya Vello pergi untuk menghampiri wanitanya karena sejak kedatangannya ke mansion, ia belum bertemu dengan wanita itu.
Dengan jas hitam yang sudah ia tanggalkan dan hanya tersisa kemeja putih serta rompi berwarna hitamnya, ia mulai melangkah gagah menuju kamar yang Arula tempati.
CEKLEK
Suara pintu terbuka berhasil membuat Arula terkesiap dan segera menghapus air matanya.
Pria itu berjalan mendekat dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. "Bagaimana lukamu?"
Arula mendongak sehingga dapat ia lihat jika pria itu kini tengah menatap ke arah lututnya yang tertutup plester.
"Lebih baik." jawab Arula singkat bermaksud tidak ingin memperpanjang percakapan mereka dan ingin pria itu segera enyah dari hadapannya.
"Laki-laki itu sudah di makamkan."
DEG!
Tanpa sadar Arula menegang mendengarnya. Matanya mulai memanas dan berkaca-kaca. Lantas apakah ia harus berterima kasih? Berterima karena apa? Berterima kasih karena sudah memakamkannya atau berterima kasih karena telah membunuhnya?
Tanpa sadar Arula melirik tajam pada pria itu. Kedua tangannya mengepal di masing-masing sisi tubuhnya. Dasar pria gila.
"Kuharap kau bisa melupakannya_"
"Bisa kau pergi?" potong Arula penuh penekanan.
Arula meremas seprai dengan kuat hingga buku kukunya memutih setelah mendengar ucapan Vello yang terdengar begitu enteng. Sudah berapa nyawa yang hilang di tangannya hingga pria itu begitu apatis pada seseorang yang baru saja kehilangan sosok tercintanya.
Hening sesaat menyelimuti keduanya hingga barulah terdengar decakan dari pria itu, "Baik. Nanti temui aku di meja makan."
'Tidak akan, keparat!' batin Arula berteriak.
Namun Arula lebih memilih untuk diam tak menggubris ucapan itu.
Setelah terdengar suara pantofel melangkah menjauh. Barulah air mata kembali terjun dari pelupuk matanya. Semakin lama air mata itu semakin membeludak keluar dengan perasaan sedih yang menggerogoti hatinya. Arula kembali merasa kehilangan.
Arula pikir, ia tidak akan pernah lagi merasakan kesedihan setelah Kares hadir di hidupnya. Setelah banyak orang yang meninggalkannya Arula begitu putus asa dan tak mempercayai siapa pun.
Namun, dengan hadirnya Kares yang berhasil merobohkan dinding dingin yang ia bangun akhirnya ia pun luluh dan mulai bisa menerima Kares sebagai sosok yang kini mulai menjadi bagian hidupnya.
Arula meraba jemarinya yang terpasang cincin milik Kares. Bahkan cincin tersebut bukan tersemat di jari manisnya melainkan di jari telunjuknya. Tapi ia tak mempermasalahkannya dan akan tetap mengenakannya.
Arula menatap cincin itu dengan nanar, "Kares, tunggu aku. Aku akan segera menyusulmu."
•••
"Liliya, panggilkan Arula kemari."
Liliya mengangguk patuh dan mulai melenggang untuk menjemput Arula untuk segera menghadap Tuannya.
CEKLEK
"Nona Arula?" panggil Liliya sembari beringsut masuk ke dalam karena tak menemukan Arula di atas ranjang.
"Nona Arula, apa kau ada di sini?" panggilnya lagi dengan suara yang sedikit tinggi.
Liliya memilih untuk memeriksa Arula di dalam kamar mandi. Maka wanita setengah baya itu mulai membuka pintu kamar mandi dan sontak membuat matanya membelalak dengan pekikan yang tak bisa ia tahan.
Liliya beringsut berlari keluar kamar untuk memanggil Vello. Wanita itu begitu terkejut melihat Arula yang terkulai lemas di bawah guyuran shower dengan keadaan tubuh yang mulai kaku dan membiru.
Vello datang tak kalah panik, pria yang masih mengenakan kemeja putih serta rompi hitam itu masuk ke kamar mandi dan segera menutup shower.
Para pelayan hanya bisa melihat dari luar kamar mandi dengan ekspresi yang sama, panik dan khawatir.
Pakaian Vello ikut basah bersamaan dengan rambutnya yang kini basah berantakan. Pria itu membawa Arula keluar dari bilik shower kemudian mulai menepuk-nepuk pipinya agar wanita itu cepat tersadar.
"Arula, kau bisa dengar suaraku?! Bangunlah!" Vello menekan dada Arula berharap hal itu dapat membantu mengeluarkan sisa air yang masuk ke dalam tubuh wanita itu.
Vello tahu betul jika Arula sengaja melakukan ini. Hal itu terlihat jelas dengan pakaian Arula yang masih lengkap. Wanita itu tengah berusaha untuk mengakhiri hidupnya.
Akhirnya Arula terbatuk dan mulai membuka matanya yang sukses membuat Vello serta bebeapa pelayan yang ada di sana menghela napas lega.
Vello mengintruksikan pada pelayan agar meninggalkan mereka berdua.
Arula bangun dan terduduk di hadapan pria itu.
"Apa yang baru saja kau lakukan! KAU BOSAN HIDUP, HUH?!!" amuknya penuh penghakiman, wajahnya kembali mengeras.
Arula diam masih dengan sisa-sisa batuknya. Wajahnya begitu pucat dengan bibir yang sedikit membiru.
"Kau berusaha mengakhiri hidupmu?" kali ini Vello bertanya dengan suara rendah dan lagi-lagi Arula hanya mampu terdiam.
Vello yang mulai merasa kesal lantas berdiri dari tempatnya dan memukul cermin wastafel dengan kepalan tangannya hingga kaca itu pecah tanpa sisa.
Tak memedulikan tangannya yang bercucuran darah, kini ia kembali menatap nyalang pada Arula yang masih setia menunduk.
"JAWAB PERTANYAANKU, SIALAN! KAU BERUSAHA MENGAKHIRI HIDUMU?!!" teriaknya lantang membuat tubuh Arula tanpa sadar bergetar ketakutan.
Air matanya mengalir lagi tanpa Arula sadari. Rasanya teramat sakit, tubuhnya, pikirannya, serta hatinya. Semuanya. Pria itu berhasil meluluhlantakan dirinya.
"DASAR WANITA SIALAN! JIKA SESEORANG BERTANYA MAKA JAWABLAH!!"
"YA!! AKU BERNIAT UNTUK MENGAKHIRI HIDUPKU?! LANTAS KENAPA?! KAU KEBERATAN JIKA AKU MATI, HUH?!" Akhirnya dinding pertahanan Arula runtuh detik itu juga. Ia sudah tak bisa menahan semuanya, ini terlalu sakit jika semakin dibiarkan.
"SETIDAKNYA JIKA AKU MATI, AKU BISA TENANG DAN BERTEMU SUAMIKU!! AKU TIDAK AKAN TERSIKSA DENGAN BADEBAH IBLIS MENYERAMKAN SEPERTIMU!!" Arula menjerit hebat hingga merasakan pening di kepalanya.
"SIALAN KAU!!"
BRAK!
DUGH!
Vello melempar sesuatu yang berada di sana hingga mengenai pelipis Arula.
"KINI KAU SUDAH BERANI BERTERIAK PADAKU, HUH?!! DAN SATU HAL LAGI, JANGAN PERNAH BERUCAP MENGENAI LAKI-LAKI SIALAN YANG KAU SEBUT SEBAGAI SUAMIMU ITU!!" Maki Vello tak kalah lantang. Kilatan amarah tercetak jelas di kedua mata elangnya. Wajahnya mengeras dengan kepalan tangan yang mengepal kuat.
Vello bergerak untuk menyalakan air di dalam bathtub. Volume air yang besar membuat bathtub berukuran cukup besar itu terisi dengan cepat.
Tanpa Arula duga, pria itu menarik tangannya kasar hingga kini berada di depan bathtub yang kini sudah terisi air dengan penuh.
Dan tanpa banyak berucap, pria itu menenggelamkan kepala Arula dengan kasar tanpa belas kasihan hingga membuat Arula nyaris kehilangan kesadaran saat itu juga.
___TBC___
wkwk gimana buat part ini guiss? merinding gak liat Vello marah?? i hope you like this story💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️💗
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии