Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 9: Lost
are you ready? awas part ini kalian pasti shick shack shock haha😌💗
jangan lupa vote dan comment untuk menghargai karya penulis💗⚜️
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
"KARES!!" Arula menjerit kencang kala Kares meluruh jatuh dengan tangan memegang sebelah pahanya yang terasa panas.
"A-Arula, kau berlarilah.." napas Kares mulai tersenggal. Model tampan itu begitu shock ketika melihat darah aegar mengalir di pahanya.
Arula menggeleng keras dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya, "Aku tak akan meninggalkamu!" tegasnya.
Kares menatap panik ke arah belakang saat gerombolan Hayden mulai terlihat.
"Arula Dara! Aku bilang pergilah atau mereka akan menangkapmu!" bentak Kares kalut karena Arula yang tetap ingin bersamanya.
"Jika aku lari lantas kau bagaimana?! Sekarang cepatlah, aku akan membawamu bersamaku!" Arula mulai membantu Kares untuk bangun.
"Jika kau tetap bersamaku, kau akan tertangkap! Jadi cepatlah berlari, kumohon!" Kares kembali putus asa. Ia merasa tidak yakin untuk mereka bisa selamat.
"Tidak! Aku akan terus bersamamu!" Arula keukeuh seraya membantu Kares dengan susah payah sebab bobot tubuh laki-laki itu yang jauh lebih besar darinya.
Akhirnya Kares mengalah dan mulai berjalan tertatih dengan dibantu Arula. Susah payah Kares menahan rasa sakit dipahanya.
"Kau akan baik-baik saja, kau tak perlu cemas!" seru Arula berusaha menenangkan Kares walau sebenarnya ia sendiri begitu ketakutan dan sangat panik.
Kares menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk, "Arula, terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih, ini memang sudah kewajibanku untuk membantumu." dengan susah payah Arula terus memapah Kares menuju ke tempat yang di rasa aman untuk mereka beristirahat sementara.
Arula menyipitkan matanya ketika beberapa meter di depannya terlihat sebuah cahaya lampu. Walau terlihat remang namun ia yakin itu adalah sebuah bangunan.
Tungkainya melangkah sembari terus menuntun Kares dengan sedikit harap-harap cemas. Arula berharap bangunan itu dihuni oleh orang baik.
Namun harapannya pupus terbawa angin kala menyadari jika bangunan itu merupakan sebuah gereja usang yang sepertinya sudah tidak terpakai.
"Astaga, kita harus bagaimana..." Arula menggigit bibir bawahnya cemas.
"Kita masuk saja dulu, aku sudah tak tahan lagi..." keluh Kares dengan keringat yang sudah membanjiri wajah tampannya.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menghampiri gereja itu sebagai tempat peristirahatan. Biarlah besok mereka mencari jalan keluar dari hutan liar ini.
Arula menelan ludah kasar ketika merasakan hawa dingin di gereja itu.
Arula memeluk tubuh Kares lebih erat ketika mereka masuk ke dalam yang ternyata amat gelap. Hanya di luar gereja saja yang terdapat lampu, selebihnya tidak.
Namum saat langkah mereka mulai mengisi hening di dalam sana, cahaya lampu membuat manik Kares serta Aeula menyipit karena silau.
"Siapa kalian?"
Seorang pria paruh baya berdiri beberapa meter di depan mereka.
"Apakah kau tinggal di sini?" Arula justru bertanya balik.
"Perempaun ini calon istriku dan kami tersesat di hutan ini," tutur Kares dengan susah payah karena darah di pahanya terus mengalir deras.
"Dia kenapa?"
"Calon suamiku tertembak saat kami tengah berlari." jawab Arula dengan sedih.
Pria paruh baya itu menatap Arula dan Kares bergantian, "Apa kalian sedang dikejar seseorang?"
Sontak Kares dan Arula saling berpandangan kemudian mengangguk ragu.
Hening sesat hingga pria itu mengangguk dan mempersilahkan sepasang sejoli itu untuk duduk.
"Terima kasih telah mengizinkan kami untuk beristirahat di sini," Arula berucap sopan pada pria paruh baya itu.
"Omong-omong, kau di sini sendirian?" sambungnya sembari mengedarkan pandangan.
Pria itu mengangguk, "Kebetulan aku memang seorang pastor dan sudah tujuh tahun yang lalu gereja ini sudah tidak terpakai," paparnya dengan pandangan menerawang.
Diam-diam Kares melirik pada Arula yang kini tengah fokus mengobati lukanya.
Setelah berbincang sejenak, sang pastor menawarkan diri untuk membantu mengobati luka Kares.
Arula merasa sangat tertolong dan berucap terima kasih kembali pada pria itu.
"Arula, mari kita menikah."
Arula spontan menoleh cepat pada Kares yang baru saja berucap demikian, "Apa? Kau berkata apa barusan?" tanyanya memastikan takut bila telinganya salah mendengar.
"Mari menikah besok."
"Kau tidak sedang mengigau? Kau serius mengatakan itu?" Arula masih belum percaya dengan penuturan Kares. Ia harap laki-laki itu tidak bertindak gegabah.
Laki-laki itu mengangguk yakin, kemudian melepaskan cincin yang semula berada pada jari manisnya kini berpindah ke jemari lentik milik Arula. Lingkar cincin yang terlalu lebar mengharuskan Arula memakainya dijari telunjuk alih-alih memakainya di jari manis.
"Aku ingin kau segera menjadi istriku. Walau besok kita menikah di tempat ini dan tidak ada kemewahan, apa kau mau?" tanyanya dengan suara rendah.
Arula tidak dapat menahan senyumnya, matanya mulai berkaca-kaca karena terharu kemudian ia lantas mengangguk, "Aku mau. Tidak apa-apa jika kita harus menikah di gereja ini. Aku tetap senang, terima kasih!" Arula menghamburkan tubuhnya pada pelukan Kares dengan perasaan yang membuncah bahagia.
Kares ikut tersenyum. Kedua tangannya yang menganggur lantas memeluk perempuan itu dengan hangat. Menghirup aroma rambut Arula yang nyaris ia lupakan. Hatinya kembali tenang bila ada perempuan itu di dekatnya.
Sebelumnya Kares memang sudah berbincang mengenai hal ini dengan pria paruh baya tadi yang merupakan seorang pastor. Kares memutuskan untuk menikahi Arula ketika pastor tadi membantunya mengobati lukanya. Kares tak ingin menyia-nyiakan waktu serta kesempatan yang tersisa dan memilih untuk segera meminang perempuan itu sebagai istrinya. Syukurlah akhirnya Arula menyetujuinya dan mereka pun akan menikah besok pagi.
•••
Kini kedua mempelai saling berhadapan dengan senyum manis yang terpatri di wajah keduanya.
Sayang sekali pernikahan seorang model terkenal hanya di saksikan oleh Arula serta pastor saja sebab waktu yang tidak memungkinkan bahkan untuk sekedar membawa satu orang saksi.
Keduanya saling melempar senyum dengan pandangan mendamba satu sama lain.
Kares menatap haru pada Arula yang kini begitu terlihat lebih cantik dengan dress berwarna krem seadanya, sedangkan laki-laki itu di pahanya terdapat lilitan perban walaupun terhalang oleh celana. Namun, tak bisa dipungkiri jika saat Kares berjalan kakinya masih terasa sangat ngilu dan sakit.
Kares menghembuskan napas lega begitu dirinya telah berhasil mengucapkan janji pernikahan. Kini Kares tinggal mendengar janji tersebut dari Arula
"Aku Arula Dara menerimamu Kares Edwin sebagai suamiku dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun__"
DOR!
Pintu gereja terbuka lebar bertepatan dengan seseorang yang muncul dari sana dengan tangan memegang pistol.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!" Kares berseru kencang ketika maniknya menemukan presensi Vello yang kini menjulang di depannya sembari membawa pistol revolver nya.
Tatapan matanya datar namun tajam. Bibir tipisnya menyeringai tipis tanpa merasa terancam sedikit pun. Bahkan teriakan lantang milik Kares sama sekali tidak membuat Vello gentar sama sekali.
Vello menjatuhkan tatapannya pada Arula yang kini menatapnya was-was, perempuan itu masih mengenakan pakaian kemarin, bedanya hari ini perempuan itu terlihat lebih cantik dan segar.
"Aku sudah memperingatimu, namun ternyata kau malah semakin senang bermain denganku." pria bermarga Lodovico itu tersenyum miring merasa lucu dengan permainan yang dimainkan wanitnya.
DOR!
Pastor yang tidak memiliki salah apapun kini ambruk begitu saja ketika Vello menembakkan peluru dari pistol Smith-Wesson 500 Magnum miliknya. Kedua tangannya terbalut sarung tangan hitam yang menambah kesan menyeramkan pada pria itu.
Arula spontan menjerit menutup mulutnya ketika darah mengalir begitu saja di dada bagian kiri sang pastor.
Kini hanya tersisa mereka bertiga. Kares dengan jalan tertatih memposisikan dirinya di depan Arula. Melihat itu Vello tertawa. Kares berlagak seperti pahlawan, padahal di dunia nyata laki-laki itulah yang di kawal oleh para pengawalnya sebagai seorang selebritas terkenal.
"Minggir dari tempatmu maka kau akan selamat." ucap Vello rendah tanpa ekspresi.
Pria dengan setelan hitam itu mencoba memberikan tawaran pada Kares agar laki-laki berkulit mulus itu tidak terlalu ikut campur dalam urusannya.
Namun sekali lagi. Kares merupakan tokoh penting dalam kehidupan Arula. Maka oleh karena itu, Kares menggeleng tegas tanda bahwa ia tidak akan menyingkir dari posisinya.
"Kau yakin ingin melawanku? Dengan tangan kosong?" Vello mencibir dengan nada meremehkan.
Kares hanya mampu terdiam dengan tangan yang menggenggam erat tangan Arula di belakangnya yang kini sudah berkeringan dingin.
Tak sengaja Vello melihat itu hingga membuat hatinya semakin memanas. Vello tidak akan membuang waktunya untuk melihat hal remeh seperti itu.
Tanpa banyak berbasa-basi Vello mengangkat pistolnya kembali dan menodongkannya ke arah Kares.
"Aku tak memiliki pilihan lain. Jika kau keras kepala pada keinginanmu maka ucapkanlah selamat tinggal!"
"TIDAK VELLO! KUMOHON JANGAN!" jerit Arula melihat tidak ada raut bercanda di wajah pria bengis itu.
Tanpa memedulikan jeritan Arula yang memohon padanya, dalam hitungan detik suara nyaring itu terdengar kembali bertepatan dengan teriakan Arula yang putus asa.
DOR!
Pekikan Arula terdengar di seluruh penjuru gereja. Perempuan itu luruh sembari memegangi Kares yang kini mulai melemas.
"KARES!! TIDAK! JANGAN TINGGALKAN AKU. Kumohon..." suaranya melemah dengan air mata yang bercucuran. Arula berusaha untuk menyadarkan laki-laki itu yang kini mulai merasa kesakitan di bagian perutnya.
Kares merasakan bagian perutnya yang terasa panas karena timah panas yang bersarang di perutnya. Napasnya kontan tercekat dengan tenggorokannya yang seperti ada batu besar yang menahannya untuk tidak mengeluarkan suara.
"A-Ar-Arula..." terlepas dari suaranya yang benar-benar tercekat, maniknya justru menatap lurus pada Arula yang kini bercucuran air mata.
"Kares, aku ada di sini. Kau akan baik-baik saja. Lebih baik sekarang kita segera ke rumah sakit!" Arula berusaha mengangkat bobot tubuh Kares yang kian melemah.
Perempaun itu kepayahan agar bisa membuat Kares berdiri, namun naas suara tembakan kembali terdengar membuat Arula lagi-lagi menjerit bersamaan dengan Kares yang kian tak berdaya. Kelopak matanya nyaris tertutup hingga membuat Arula semakin dilanda panik yang nyaris membuatnya putus asa.
DOR!
"VELLO BERHENTI!!! CUKUP...Jangan lagi keluarkan peluru itu pada Kares...Hisk... Cukup..." Arula menangis histeris hingga suaranya nyaris tidak terdengar. Perempaun itu menangis hingga merasakan kepalanya begitu pusing.
"KARES!! KUMOHON BERTAHANLAH!" Arula mencoba menyentak kedua bahu Kares yang nyaris tidak sadarkan diri. Perempuan itu semakin kalut ketika paha yang kemarin tertembak kini kembali mengeluarkan darah segar.
Luka yang kemarin belum sepenuhnya kering itu kembali menganga lebar dengan masuknya peluru baru ke dalam sana.
Betapa mengenaskannya keadaan Kares saat ini. Hal itu sangat-sangat membuat Arula hancur.
Darah terus keluar dengan deras di area perut serta paha milik Kares.
Akhirnya Arula memberanikan untuk menatap Vello dengan sayu, "Kumohon berhenti membuat Kares kesakitan... Dia sudah sekarat! Biarkan kami pergi ke rumah sakit!" mohonnya begitu berharap jika Vello akan membebaskan mereka.
Namun yang Arula dapati justru dengusan kasar dari pria itu. Hingga tidak lama Hayden bersama pengawalnya yang lain berbondong-bondong masuk ke dalam sebab tadi Vello hanya datang sendiri.
"Tak akan kubiarkan kau menemuinya lagi. Jadi, sekarang ucapkanlah selamat tinggal pada suamimu itu." Vello berucap begitu dingin kemudian pria itu kembali menodongkan pistol revolvernya membuat Arula kembali menahan napas lemas.
DORR!
•••
HOT NEWS
Model terkenal Kares Edwin dikabarkan meninggal dunia!
BREAKING NEWS
Penyebab kematian belum ditemukan. Tim kepolisian masih menyelidiki kasus ini!
HOT!
Penggemar begitu gempar ketika kabar meninggalnya Kares Edwin tersebar!
BREAKING HOT
Meninggal tiba-tiba. Penggemar khawatir jika keluarga Kares Edwin akan memperebutkan harta kekayaan model terkenal itu.
___TBC___
huhu gimana buat part ini guys?? sedih gak kares meninggoy? wkwk i hope you like this story💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️💗
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии