Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 8: Run Away
siap-siap buat part ini guyss?? kalian lebih pilih vello atau kares? 😌🫵🏻
jangan lupa vote untuk menghargai karya penulis⚜️💗
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
Kares menunggu Arula di depan gerbang kampus tanpa ditemani oleh managernya.
Arula dengan mengejutkan meneleponnya menggunakan telepon umum. Meskipun sudah larut malam namun Kares tetap memaksakan untuk menemui calon istrinya itu. Perasaannya begitu membuncah lega.
Walau sedikit kesulitan karena mesti mencari telepon umum ditengah Arula yang tidak mengetahui kediamannya sebab Vello yang menculiknya di dekat hutan, namum ia berhasil keluar karena tekatnya untuk menemui sang calon suami.
Kares sungguh khawatir karena Arula mengatakan jika perempuan itu datang sendirian. Ia belum mengetahui kronologi kejadian yang menimpa calon istrinya itu, maka oleh karena itu Arula akan menceritakan semuanya setelah mereka bertemu.
Kares menunggu dengan tidak sabar. Laki-laki itu berdiri di luar sembari bersandar pada badan mobilnya. Ia ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya setelah 2 bulan lamanya ia berpuasa tidak bertatap muka dengan Arula.
"Kau sudah menunggu lama?" Kares spontan mendongak menatap seseorang yang sejak tadi ditunggunya akhirnya tiba.
Dari jarak beberapa meter Kares dapat melihat perempuannya berdiri dengan tubuhnya yang ringkih. Dadanya membuncah detik itu juga.
"Akhirnya kau tiba!" Kares segera menghampiri perempuan itu dan menggenggam kedua tangannya, seolah sedang memastikan jika di depannya ini memang benar calon istrinya.
Arula menatap Kares yang kini terlihat begitu kurus dan juga kantung mata yang terlihat menghitam.
Tak banyak menunggu, Kares lantas menarik tubuh Arula dan memeluknya erat untuk melepas segala rindu setelah sekian lama tak bertemu.
Arula melepas masker yang sejak tadi sempat menutupi sebagian wajahnya. Hal itu ia lakukan karena takut orang suruhan Vello akan mengenalnya jika ia melarikan diri untuk menemui Kares.
"Maaf karena telah membuatmu kesulitan karena diriku," lirih Arula kembali membuka suara. Hatinya begitu lega setelah ia berhasil kabur dan berakhir bertemu dengan Kares.
Kares mengernyit samar kemudian menggeleng, "Jangan menyalahkan dirimu. Karena ini semua bisa terjadi pun karena salahku. Jika bukan karena aku yang terlebih dulu marah padamu waktu itu, mungkin kau tidak akan pergi dan menghilang seperti ini."
"Jadi, bagaimana bisa kau meninggalkanku? Kau pergi ke mana selama ini?" sambung Kares dengan tatapan sendu menatap sang pujaan hati.
"Lebih baik kita pergi dulu dari sini. Nanti akan kujelaskan," sahut Arula kemudian keduanya pun masuk ke dalam mobil Kares.
"Kita pergi ke mana? Apartementmu? Atau apartemenku?" Kares menoleh singkat ketika ia berhasil memutar kemudi dan keluar dari area kampus.
"Kurasa kita tidak bisa pergi ke sana."
"Kenapa?"
"Aku yakin pria brengsek itu akan memeriksa lokasi apartement kita."
Dahi Kares semakin mengerut, "Maksudmu siapa?"
"Vello Lodovico."
•••
"Astaga! Kau serius?!" Kares membelalak tak percaya begitu mendengar penjelasan Arula.
Arula lantas memperlihatkan pergelangan tangnnya yang kini sudah diperban akibat ulah Vello tempo lalu yang menyayat tangannya.
Kares mengusap lembut pergelangan tangan calon istrinya, "Betapa gilanya dia!"
Akhirnya yang bisa Kares lakukan adalah kembali memeluk perempuan itu erat, "Maafkan aku, tolong maafkan aku..." lirih laki-laki itu dengan mata terpejam seolah kalimat itu merupakan mantra.
Arula tersenyum tipis dan ikut memejamkan matanya, "Aku sudah memaafkanmu." balasnya gak kalah lirih nyaris seperti bisikan.
Kini keduanya berada di salah satu hotel yang cukup jauh jaraknya dari lokasi apartement mereka. Tujuannya jelas untuk bersembunyi dari pria bernama Vello itu.
Arula yakin pria bengis nan kejam itu tengah mencarinya di apartemennya.
"Cincinmu... Kemana?" Kares bertanya setelah pelukan keduanya terurai, ia menyadari jari manis Arula tidak terdapat cincin pemberiannya.
Arula ikut melirik jarinya yang polos dan benar saja tidak ada cincin melingkar di sana. Arula yakin bahwa Vello lah pelakunya.
"Pasti pria itu melepasnya," gumam Arula namun masih terdengar oleh Kares.
"Aku perhatikan tubuhmu semakin kurus dan wajahmu semakin tirus," Arula menangkup kedua rahang Kares dan menatap sendu ke arah mata laki-laki itu.
Kares memberikan senyum tipis, "Bagaimana bisa aku baik-baik saja ketika calon istriku hilang? Aku bahkan membatalkan beberapa kontrak kerja sama dengan majalah terkenal karena aku tidak bisa fokus bekerja. Dan... Sekarang aku dalam masa hiatus."
Arula spontan membelalak mendengar itu, "HIATUS?!"
Mau tak mau Kares mengangguk lemah, "Agensi memberikan waktu istirahat padaku, dan aku tidak bisa menolaknya. Mungkin saat ini memang waktuku untuk beristirahat."
Arula menatap sendu pada laki-lakinya. Perempuan itu lantas menubruk kembali dada Kares untuk dipeluknya lagi dengan erat. Cukup lama keduanya berpelukan hingga suara Arula kembali mengudara.
"Kares, aku sudah muak berada di sana. Dia menyakitiku. Aku sudah dibuat terkejut dengan kedatangannya secara tiba-tiba dan kini aku tidak mau tinggal di rumah yang sama bersamanya. Dia sungguh membuatku gila!" keluh Arula pada Kares dengan kepala yang disandarkan pada dada bidang milik laki-laki itu.
Tiba-tiba laki-laki itu memegang kedua sisi wajah Arula hingga membuat perempuan itu mau tak mau harus menatapnya.
"Arula dengar. Aku akan berusaha umtuk menjagamu. Apapun caranya. Kau bisa percaya aku? Walau aku tahu kini dia jauh lebih kuat karena kekuasan sudah berada di tangannya. Namun, aku yakin kita bisa melalui ini semua. Aku akan selalu ada di sampingmu," tangan halus laki-laki itu mengusap pipi Arula dengan lembut membuat perempuan itu merasa nyaman dengan sentuhannya.
"Aku hanya takut," cicitnya pelan.
Kares tak menyahut dan justru mengecup kening Arula, seolah memberikan kekuatan pada perempuannya.
Hening sesaat hingga Kares menatap raut Arula dengan intens yang membuat si perempuan salah tingkah.
"Kenapa kau menatapku begit_"
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu spontan mengambil alih atensi keduanya, bahkan Arula tidak sempat untuk melanjutkan ucapannya.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan tidak sabaran itu kembali terdengar membuat Kares mau tak mau segera melepaskan tangannya dari wajah Arula.
CEKLEK
Baru saja Kares membuka pintu, laki-laki itu sudah dikejutkan dengan beberapa orang berpakaian hitam tengah menodongkan pistol ke arahnya.
Kares lantas membeku dan refleks mengangkat kedua tangannya.
"Di mana Nona Arula?" todong Hayden dingin dengan wajah datar.
Arula melotot ketika seseorang menyebut namanya. Arula memang sudah memprediksi bahwa ia tidak akan lolos semudah itu.
Sudah jelas itu adalah anak buah Vello. Arula segera menyambar jaketnya berniat kabur lewat jendela namun ia baru ingat jika kini dirinya berada di lantai 9. Ia tentu tidak segila itu untuk melompat dari atas sana.
Kares tak menjawab membuat Hayden mendekatkan pistolnya ke arah pelipis.
Tanpa menunggu, Hayden mengintruksikan kepada yang lainnya untuk masuk memeriksa ke dalam.
Arula berniat bersembunyi di dalam kamar mandi, namun baru saja tangannya menyentuh tuas pintu sebelah tangannya yang lain sudah ditarik seseorang.
Kares menarik tangannya dan membawanya keluar. Arula terkejut ketika Kares tiba-tiba membawanya keluar dari kamar hotel tanpa melihat di belakang sana Hayden serta antek-anteknya tengah mengejar mereka sembari menodongkan pistol.
Arula berpikir mereka tidak akan menembaknya karena saat ini mereka berada di area hotel. Beberapa pegawai dan tamu pun terkejut melihat ada banyak orang yang membawa senjata api.
"KITA AKAN PERGI KE MANA?!" Arula berseru dengan napas tersenggal.
"KEMANA PUN YANG PENTING KITA HARUS MENJAUH DARI MEREKA!" dengan napas ngos-ngosan Kares membalas ucapan Arula.
"Bagaimana jika mereka menembak?" tanya Arula cemas. Pasalnya kini mereka sudah berada di luar hotel. Kemungkinan besar Hayden dan para pengawal yang lain pasti melalukan hal keji itu untuk menangkapnya.
"Tidak akan. Ayo cepat, kita harus ke basement terlebih dulu!" Kares menarik tangannya dan membawanya ke basement untuk mengambil mobilnya. Sesekali Kares menoleh ke belakang untuk melihat Hayden.
"Bagus! Mereka tertinggal!" decak Kares sedikit lega sembari membuka pintu mobil.
Arula ikut menyunggingkan senyum dan segera memakai sabuk pengaman.
Kares segera mengeluarkan mobilnya dari dalam basement hotel dan pergi dari kawasan itu.
Arula menoleh ketika Kares menyentuh tangannya dan mengusapnya lembut seolah berusaha menenagkan, padahal laki-laki itu pun kini sama paniknya.
"Kita akan baik-baik saja." ucapnya dengan sunggingan tipis.
Arula mengangguk mengiyakan, walau jantungnya berdegup tidak karuan namun ia tetap meyakinkan dirinya bahwa ia dan Kares akan selamat dari orang-orang suruhan Vello.
Kares memelankan laju mobilnya sembari menatap kiri dan kanan jalanan untuk menemukan tempat peristirahatan untuk mereka sementara.
Namun Kares lengah. Laki-laki tampan itu tak melihat jika di belakang sana ada sekitar delapan mobil hitam tengah memburunya.
DOR!
Arula terkejut ketika suara tembakan terdengar.
Arula menoleh ke belakang dan membulatkan mata ketika melihat kepala Hayden yang menyembul dari jendela mobil tengah menodongkan pistol ke arah mobil yang mereka kendarai.
"Kares. Bagaimana ini? Mereka belum berhenti mengejar kita!" Arula panik bukan main.
DOR!
"Sial!" umpat Kares tanpa sadar.
"Kenapa?!" tanya Arula panik saat merasakan mobil yang mereka kendarai bermasalah dan nyaris oleng.
"Dia menembak roda mobilnya!" decak laki-laki itu sembari mulai menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sama sekali tak diketahuinya.
"Kita harus turun!"
"Ini di mana?" Arula menatap sekitar dengan ragu. Tempat itu seperti hutan liar.
"Arula Cepat!" sentak Kares cukup kencang karena melihat Arula yang justru terdiam.
Kares menarik tangan perempuan itu dan masuk ke dalam hutan.
Hayden berdecak saat mengetahui Arula dan Kares masuk ke dalam hutan.Laki-laki bermarga Park itu mengeraskan rahangnya.
Beberapa menit yang lalu setelah Hayden mengabarkan pada Vello bahwa Arula dan Kares berhasil meloloskan diri, Tuannya itu sempat mengamuk.
Vello memerintahkannya untuk mendapatkan Arula bagaimana pun caranya. Meski harus dengan mencelakai keduanya.
Vello mempercayakan semuanya pada Hayden karena Vello yakin jika Hayden mampu membawa Arula kembali ke hadapannya dengan mudah. Namun naas, Hayden justru kecolongan karena tak berani menembak kedua orang itu dengan alibi banyak pasang mata yang menyaksikan. Jika itu Vello, mungkin pria itu sudah menembak beberapa kepala yang berani menghalangi urusannya.
"KITA BERPENCAR! Malam ini kita harus segera mendapatkan Nona Arula! Jika mereka memberontak, jangan segan untuk menembaknya!" instruksi Hayden dengan lantang.Laki-laki berperawakan kekar itu mulai melangkah dengan pistol yang sudah terisi penuh dengan peluru.
"Kares, kita akan pergi ke mana?"Arula mulai cemas dengan jalanan yang tak ia ketahui tujuannya.
Keduanya berdiri di tengah hutan yang sama sekali tak mereka ketahui. Kares menyugar rambutnya kasar sembari berdecak.
Arula menunduk dengan rasa bersalah, "Biarkan saja mereka membawaku. Aku tak ingin kau celaka."
Kares berhenti dan menoleh. Laki-laki itu menatap tak suka pada perempuannya, "Jaga ucapanmu! Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan dirimu!" tukas Kares tajam.
Arula hanya mampu terdiam dengan sebulir air mata yang mulai menuruni pipinya.
Kares menoleh ketika mendengar suara langkah seseorang, "Ayo kita pergi dari sini!" Kares kembali menarik tangan Arula, namun perempuam itu justru menepisnya. Kontan laki-laki itu menatap heran pada sang pujaan hati, "Arula, ada apa?"
"Kau pergilah lebih dulu."
"Kau gila?! Jangan seperti ini, mereka tak akan berhenti sampai__"
"Maka justru itu! Mereka tak akan berhenti sampai mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan!" pekikan Arula membuat Kares menoleh ke sekitar dan telinganya dapat mendengar beberapa pasang kaki yang mendekat ke arah mereka.
"Persetan! Aku tidak akan melepaskanmu, Arula!" Kares terpaksa menarik tangan Arula dengan paksa.
DOR!
DOR!
Mereka berlari dari sana, namun hal itu hanya berlangsung beberapa detik hingga suara tembakan yang memekakkan telinga membuat keduanya terhenyak karena bertepatan dengan itu Kares mendadak ambruk dengan darah yang mulai mengalir dari sebelah pahanya.
___TBC___
gimana buat part ini guys?? i hope you like this story💗❤️🔥
jangan lupa untuk vote, comment, dan share ya⚜️💗
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии