Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 7: Act Back
bismillah dulu buat part ini yokk wkwk
di sini arulanya bandel banget jadinya vello marahh😗, btw aku rajin bgt suka double update😗🫵🏻
janga lupa vote dan comment untuk menghargai karya penulis⚜️💗
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
"Sedang apa kau di ruanganku?"
Bak petir yang menyambarnya, Arula merasakan jantungnya merosot sampai ke perut. Kakinya membatu disertai lemas dan lidahnya kelu tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
Tangannya yang semula menggenggam ponsel refleks ia jatuhkan hingga menimbulkan suara nyaring karena terkena ubin yang keras.
Vello berjalan santai menghampirinya dengan pandangan lurus menatap Arula yang persis seperti maling yang tertangkap basah.
Tangannya terulur meraih ponsel yang terjatuh kemudian seringaian tipis muncul di wajah tampannya.
"Kau berniat menelepon calon suamimu, hm?" tanyanya disertai kekehan kecil. Suaranya terdengar meledek.
Melihat Vello yang tampak santai Arula memasang raut was-was.
Arula hendak merebut kembali ponselnya dari Vello namun jelas pria itu tak akan menyerahkannya.
BUGH!!
PRANGG!
Suara benda yang terbentur ubin begitu jelas terdengar hingga membuat Arula terperanjat.
Vello baru saja melemparkan ponsel itu dengan kasar hingga menimbulkan suara nyaring.
Arula memekik tertahan ketika melihatnya. Matanya membelalak kahet mendapati kondisi ponselnya yang kini hancur berkeping-keping.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" murka Arula tidak terima.
"Apa yang aku lakukan?" Vello membeo tanpa merasa bersalah. Bahkan terdengar dari suaranya pria itu justru telihat saat santai.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan di ruanganku?" sambungnya penuh penekanan.
Arula membisu dengan bola mata yang berlarian cemas.
Vello mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban dari perempuan di depannya. Pria itu menatap Arula yang tak mampu menjawab pertanyaannya.
"Sekarang pergi ke kamarmu dan tidur!" perintahnya tak ingin dibantah. Namun...
"Kumohon izinkan aku untuk menelepon Kares sekali saja," pinta Arula penuh permohonan.
Vello berdecih pelan dan menatap perempuan itu datar, "Tidak." putusnya final.
Arula mencelos ketika mendengar jawaban itu, "Vello... Kumohon satu kali saja..." Arula menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Jawabanku kurang jelas? Kubilang tidak!" balas Vello sedikit membentak.
Arula menahan amarah dengan mengepalkan tangan. Maniknya memerah menatap Vello murka.
PLAK!
Rasa panas menjalar di sebelah pipinya yang telah berhasil Arula tampar dengan kencang.
Vello menyentuh rahangnya yang terasa sedikit ngilu setelah perempuan itu dengan berani menampar wajahnya. Pria itu mendengus kasar.
Arula membatu di tempatnya dengan dada bergemuruh. Terdapat sedikit harap-harap cemas melihat reaksi Vello yang terlihat sangat santai.
Melihat pria itu yang justru terkekeh setelah ia menamparnya membuat Arula kian merasa was-was.
Arula menelan ludah melihat Vello yang menatapnya dengan lekat nan tajam tanpa berkedip.
Pria dengan setelan kemeja hitam
serta celana bahan berwarna serupa itu pun tetap bersikap tenang setelah apa yang Arula lakukan padanya barusan.
Dan sesaat kemudian setelah beberapa detik hening...
PLAK!
Wajah Arula tertoleh ke samping tatkala rasa terkejut serta rasa panas yang menjalar di area pipinya ketika Vello menamparnya dengan begitu kencang.
PLAK!
Tak hanya sekali, Vello kembali menampar pipinya tak kalah kencang. Arula meringis kesakitan saat kedua pipinya ditampar oleh pria itu dengan kasar.
Pipi tirus itu kini sudah berwarna merah akibat tamparan Vello.
Vello Lodovico tak pernah memandang bulu ketika seseorang telah berani berbuat seenaknya padanya.
Tidak sampai di situ. Vello kemudian menarik tangan Arula kasar hingga perempuan itu memekik kesakitan karena cengkeraman Vello yang terlalu erat.
Arula dapat melihat wajah pria itu yang mengeras, sepertinya Arula telah berhasil menyulut emosi pria itu.
Arula tak tahu Vello akan membawanya ke mana, namun yang jelas saat ini alarm bahaya telah berbunyi.
Belum merasa puas setelah menyakiti pipi dan lengan Arula, kini Vello membawa Arula ke dapur dan mendorongnya kasar hingga Arula terlempar kuat.
"KAU AKAN MELAKUKAN APA, BRENGSEK?!" Arula menatap ketakutan pada Vello yang kini berkacak pinggang dengan lengan kemeja yang sudah di lipat hingga siku. Terlihat nampak dominan dibanding Arula yang kini terlihat seperti domba dungu yang ketakutan.
Vello membawa Arula masuk ke area dapur. Entah apa yang akan pria itu lakukan yang pasti kini perasaan Arula sangat tidak tenang.
Arula terpojok di dekat lemari dingin. Maniknya menatap tajam pada Vello yang kini mendekat ke peralatan dapur.
Arula menelan ludah kasar ketika Vello meraih salah satu pisau yang terlihat begitu tajam. Pria itu dengan sengaja memainkan ujung pisaunya dengan gelagat yang santai tak lupa dengan seringaian misteriusnya hingga membuat Arula kian ketar-ketir.
"K-kau akan melakukan apa?!" sial! Arula justru tergagap ketika Vello beringsut mendekat ke arahnya.
Peia itu tak menggubrisnya membuat Arula semakin cemas.
"Aku akan sedikit memberimu pelajaran, Sayang..."
Tubuh Arula menegang mendengar sebutan itu. Hal itu menjadi alarm baginya untuk bersikap waspada.
"Jangan gila, kau! Apa yang akan kau lakukan?!" Arula benar-benar panik saat Vello ancang-ancang akan menusukkan pisau itu tepat di kepalanya.
Ketika Vello semakin dekat, Arula berniat berlari untuk menghindari pria itu, namun baru saja kakinya melangkah sebuah tangan sudah mencekal kuat pergelangannya.
"Lepaskan aku!"
"Kau akan pergi ke mana? Sudah kukatakan aku akan memberimu pelajaran, Sayang."
Maka dengan cepat pula Vello menempelkan ujung pisau runcing itu ke atas pergelangan tangan Arula dan menekannya.
Arula membelalak tak percaya dan refleks menahan nyeri ketika pisau itu nyaris menembus nadinya.
Pria itu dengan gila menyayat kulit Arula bahkan dengan tatapan datar. Sama sekali tidak memedulikan wajah Arula yang sudah memucat.
Darah segar keluar begitu saja membuat pisau yang semula nampak bersih kini ternodai oleh darah milik Arula.
Vello mengangkat pisau itu hingga sejajar dengan wajahnya.
"Ini baru hukuman kecil. Jika kau terus berbuat lancang dan berusaha kabur dari sini, kau akan merasakan lebih dari ini!" ancam pria itu dengan tajam, maniknya yang tak menampilkan rasa bersalah sama sekali.
Vello melempar pisau itu ke sembarang arah kemudian pria itu pergi bertepatan dengan para pelayan yang berbondong-bondong datang setelah mendengar suara ribut dari arah dapur.
Liliya serta pelayan yang lain panik sekaligus terkejut melihat keadaan pergelangan tangan Arula yang bercucuran darah. Liliya segera menenangkan perempuan itu yang kini histeris dengan darah yang terus mengalir di pergelangannya.
"Tolong panggilkan dokter!" Liliya berseru panik pada pelayan yang lain sembari memegang pergelangan Arula agar darah itu tidak terus keluar.
•••
Liliya mengelap leher Arula dengan air hangat. Perempuam itu belum sadarkan diri setelah pingsan beberapa menit sehabis di pindahkan ke kamar.
"Dia belum sadar juga?" Liliya mendongak saat pelayan yang lebih muda darinya bertanya dengan nampan berisikan makanan di tangannya.
Liliya hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Aku tahu Tuan Vello memang kejam, namun baru kali ini Tuan Vello berani melukai seorang perempuan. Sebenarnya siapa dia?" ucap pelayan itu dengan manik lurus menatap Arula yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
Liliya menatap pergelangan Arula yang kini sudah terbalut perban. Setelah dokter memeriksanya, dokter menyarankan agar Arula tidak terlalu banyak berpikir dan lebih memperbanyak istirahat.
"Entahlah Ela, semuanya pun bertanya-tanya siapa perempuan ini. Namun yang pasti perempuan ini pasti memiliki peran penting di dalam hidup Tuan Vello," sahut Liliya dengan pandangan lurus menatap Arula sendu.
Wanita bernama Ela itu menarik napas panjang, "Kasihan sekali. Jariku saja saat teriris pisau sakitnya minta ampun, bagaimana dengan dia yang pergelangan tangannya sengaja diiris?" ucapnya dengan pandangan ngeri.
"Sudahlah. Untuk saat ini keselamatan Nona Arula adalah yang terpenting," tukas Liliya berusaha untuk menghentikan percakapan mereka.
Ela mengangguk singkat kemudian menyimpan nampan yang sedari tadi berada di tangannya ke atas nakas, "Kutaruh sarapannya di sini, siapa tahu Nona Arula sebentar lagi terbangun."
Liliya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sedangkan di tempat lain, pria pemilik mata tajam itu tengah berjalan dengan beberapa pengawal di belakangnya yang menjaga. Jalannya yang angkuh membuat siapa pun merasa ciut bahkan untuk sekedar menghadang jalannya.
Salah satu pengawal membukakan pintu mobil kemudian pria bernama lengkap Vello Lodovico itu masuk ke dalam mobil sedan yang sudah pasti harganya jutaan dolar.
Hayden Park_ pria berdarah campuran Korea-Canada itu merupakan tangan kanan sekaligus sekretaris Vello. Pria itu ikut masuk ke dalam mobil tepatnya di samping kemudi. Kini mereka hendak menuju ke kawasan City of London di mana kolega mereka berada.
Vello menatap ke luar jendela dengan pandangan datar. Tanpa orang lain tahu hatinya justru sedikit khawatir dengan keadaan Arula. Karena setelah insiden pukul 4 pagi tadi Vello langsung pergi tanpa melihat keadaan perempuan itu terlebih dulu.
"Tuan, apa kita perlu ke suatu tempat terlebih dulu?" tanya Hayden dengan kepala menoleh ke belakang.
Vello melirik singkat, "Tidak perlu." jawabnya singkat dan Hayden hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tuan, Liliya memberi pesan jika Nona Arula telah sadarkan diri," Hayden kembali berucap.
"Biarkan saja. Aku akan menemuinya nanti malam," pungkas Vello dan setelahnya kembali hening.
•••
"Aku ingin kita memiliki senjata itu seluruhnya! Meski dengan cara kotor sekalipun!" tandas Vello kemudian pergi meninggalkan Hayden bersama pengawalnya yang lain.
Hayden termangu, namun beberapa detik kemudian lelaki itu mengangguk patuh pada Tuannya.
Vello pergi setelah menyelesaikan urusannya. Tangannya mengusap noda darah yang mengenai jas hitamnya, walau tidak begitu kentara namun ia dapat merasakannya.
Pria berusia 28 tahun itu menatap lurus jalan untuk segera menuju ke mobilnya.
Setelah Vello menghabisi pembelot yang sudah berani mengkhianatinya, Vello tanpa membuang waktu lagi langsung menghunus kepala dua orang itu dengan pistolnya.
Tak ada yang bersuara selain nyaringnya suara tembakan pistol. Bahkan Hayden pun hanya mampu menutup mata melihat kejamnya seorang Vello Lodovico.
•••
Vello melempar jasnya asal hingga menyisakan kemeja putih serta vest hitamnya. Pria berperawakan tinggi itu naik ke lantai atas berniat untuk menemui perempuannya.
Suasana hatinya tidak jauh lebih baik dari tadi siang. Terlihat dari wajahnya yang terlihat mengeras dengan tatapan tajam yang tiada henti.
CEKLEK
Manik legam itu menyorot tajam ke penjuru kamar untuk mendapatkan perempuan bertubuh mungil itu. Namun netranya sama sekali tidak menemukan presensi perempuan yang dicarinya.
Menyadari sesuatu Vello kontan berdecak dan mengumpat, "Shit!"
Namun sebelum ia menyimpulkan apa yang terjadi. Vello lebih dulu mencari Arula di kamar mandi atau pun balkon kamar.
Tapi setelah memeriksanya, perempuan itu tetap tidak ada.
DUGH!
BRAK!
Vello meninju pintu dengan kencang hingga menimbulkan suara nyaring. Dadanya bergemuruh sembari menuju lantai dasar.
Tujuannya saat ini hanya pada satu orang.
"LILIYA!!" teriak pria itu penuh emosi.
Amarah yang belum kunjung surut telah terpancing kembali hingga membuat kekesalannya bertambah dua kali lipat.
"LILIYA!!"
Dari arah barat Liliya tergopoh-gopoh menghampiri Tuannya dengan kepala menunduk. Wanita setengah baya itu pun menatap Vello dengan segan.
"Ya, Tuan?"
"Di mana Arula?" tanyanya langsung dengan tatapan menyorot tajam.
Manik sendu Liliya berlarian untuk mencari jawaban yang pas akan pertanyaan Tuannya.
"N-nona Arula..."
BRAK!
Dengan tak sabaran Vello menendang meja yang berada di sana hingga membuat vas yang berada di atasnya terjatuh dan pecah.
"Katakan dengan jujur Liliya! Kau tidak bisa berbohong padaku!" amuknya penuh penekanan.
Liliya semakin menunduk, "N-nona Arula keluar, Tuan."
Air wajah Vello semakin keruh mendengar jawaban itu. Terdapat beberapa kerutan di dahinya hingga Liliya yakin bahwa kini dirinya sudah membangunkan singa di dalam diri Tuannya.
"SIALAN, KAU LILIYA! Apa hakmu mengeluarkan dia dari sini?!! Ini rumahku! Dan kau tak perlu ikut campur dalam urusanku!" murka pria itu dengan raut semakin menyeramkan. Berbeda dengan Liliya yang hanya mampu menunduk dengan jantung berdebar-debar.
"Ke mana dia pergi? Dan bersama siapa?!" tanya Vello penuh intimidasi.
Dengan susah payah Liliya menjawab, "N-nona Arula pergi sendirian dan mengatakan ingin menemui calon suaminya."
___TBC___
yang nakal jadinya vello atau arula guyss😌😌
kayaknya aku suka bgt sama yang kasar-kasar deh, dua-duanya ceritaku tentang cowok obses semua🥲😭
jangan lupa vote,comment, dan share⚜️💗
see you!


Комментарии