Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 6: Don't Want to Leave
jadi kalian udah milih belum mau naik kapal mana?? Vello-Arula atau Kares-Arula?? wkwk
jangan lupa vote dan comment untuk menghargai karya penulis💗
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
CEKLEK
Seorang pelayan membuka pintu dan masuk seraya membawa nampan berisi makanan serta segelas susu.
Namun setelah berhasil masuk, begitu terkejutnya pelayan itu ketika mendapati Arula yang sudah terkulai lemah diatas lantai.
Liliya_pelayan setengah baya berwajah bule berkewarganegaraan Inggris itu memekik kaget ketika melihat wajah Arula yang begitu pucat dengan sisa-sisa air mata yang telah mengering. Liliya memeriksa suhu tubuhnya yang juga dingin hal itu sontak membuatnya semakin panik.
Kepala pelayan itu buru-buru menyimpan nampannya dilantai lalu pergi keluar untuk memberi tahu Tuannya.
Namun nihil, ternyata Vello sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi. Liliya semakin panik dan segera memanggil pelayan lain untuk membantunya memindahkan Arula ke dalam kamar.
Dengan cepat pula Liliya menelpon dokter menggunakan telpon rumah dan memintanya agar segera datang.
5 jam kemudian.
Vello kembali ke mansion megahnya setelah berada di luar ruangan untuk menemui kolega bisnisnya untuk menandatangani kontrak kerja sama.
Tujuan utamanya yaitu gudang di ujung koridor. Kedua tangannya dengan santai berada di saku celana. Langkahnya yang gagah dan lebar membuat siapa saja tak berani untuk menahannya.
CEKLEK
Kedua manik tajamnya menyusuri ruangan itu dengan wajah datar. Rahangnya terlihat mengeras setelah menyadari jika perempuannya tidak ada di sana.
Vello keluar dengan membanting pintu kemudian berjalan menuju para pelayannya.
"SIAPA YANG BERANI MENGELUARKAN PEREMPUAN ITU!!" bentaknya penuh emosi. Wajahnya terlihat keras dengan kepalan tangan yang siap untuk meninju siapa saja yang berani menentangnya.
Semua pelayan terbirit-birit menuju ruang tengah di mana Tuannya berada. Semuanya menunduk ketakutan melihat pria itu yang tengah murka.
"Kemana perempuan itu pergi?!" tanyanya lagi membuat para pelayan terlonjak kaget.
Liliya yang merupakan kepala pelayan maju beberapa langkah untuk menjelaskan kejadian yang menimpa Arula.
Wanita itu menarik napas pelan kemudian menatap Tuannya dengan segan.
"Nona Arula tadi pingsan, Tuan," ucap Liliya dengan kepala menunduk.
Kening Vello mengerut tajam, "Di mana dia sekarang?"
"Nona Arula berada di dalam kamar_"
Vello segera pergi sebelum Liliya merampungkan ucapannya. Pria blasteran Inggris-Italia itu melangkah menuju kamar Arula dengan langkah lebar.
CEKLEK
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Vello langsung menerobos masuk dan menemukan perempuan itu yang tengah berbaring dengan selang infus yang berada di punggung tangannya.
Tanpa ekspresi Vello menatap wajah pucat Arula yang terlelap.
"Sudah kukatakan untuk jangan menentang ucapanku, tapi kau malah melakukannya," ucap Vello setengah berbisik dengan luapan emosi yang masih tersisa.
•••
Vello melihat Liliya yang hendak masuk membawa nampan makanan ke kamar yang Arula tempati.
Vello lantas menghampiri wanita yang selama ini telah berjasa membantunya.
"Berikan padaku."
Walau cukup ragu Liliya akhirnya menyerahkan nampan itu pada Tuannya.
Vello lantas pergi dengan nampan makanan yang berada di tangannya.
Pria itu membuka pintu dan netranya langsung bertabrakan dengan manik sendu milik Arula. Ternyata perempuan itu sudah siuman namun posisinya masih dalam keadaan berbaring.
"Kau bisa bangun?"
Arula hanya memalingkan wajahnya tanpa ingin membalas ucapan pria itu.
"Sekarang makanlah atau ingin ku suapi?" tawar pria itu berusaha berbaik hati.
Lagi-lagi hanya hening yang menjawab.
Vello memejamkan mata sesaat berusaha untuk bersabar menghadapi perempuan yang kini gemar memancing emosinya.
"Bisa kau pergi? Lagipula aku tidak lapar jadi bawa pergi saja makanan itu," ujar Arula masih dengan menatap ke arah lain.
"Kau belum makan sejak kemarin," sahut Vello masih berusaha bersabar.
Kini Arula memberanikan diri untuk menoleh pada pria itu, "Apa pedulimu? Lebih baik aku mati saja jika harus berada di sini denganmu!"
"Diam!" gertaknya sedikit tertahan. Rahangnya mulai terlihat mengeras.
"AKU TIDAK BISA DIAM SAJA JIKA AKU TERUS TERKURUNG DI SINI!" pekik Arula begitu kuat hingga sampai membuatnya merasa pusing karena pekikannya yang kencang. Tangannya yang terpasang infus bergerak meremas selimut sangat kuat untuk melampiaskan semua kekesalannya.
Arula tidak tahan lagi. Ia sangat frustasi mendekam di tempat terkutuk itu.
Vello mencengkeram kuat nampan makanan yang masih berusaha ia pegang, "AKU AKAN MENGHUKUMMU KEMBALI JIKA KAU BERTERIAK LAGI PADAKU!" balasnya tak kalah kencang.
"AKU TIDAK PEDULI DENGAN HUKUMANMU! KAU MAU APA?! MENJATUHKANKU DARI ATAS BALKON? MENGURUNGKU DI KAMAR MANDI? ATAU LANGSUNG MEMBUNUHKU SAJA?!" Arula membalas dengan jeritan hebat tidak peduli dengan ancaman yang pria itu layangkan.
Tak bisa menahan lagi akibat mendengar jeritan Arula, Vello lantas membanting nampan yang ada ditangannya dengan kasar. Tidak hanya itu, ia berdiri dan menendang nampan yang terbuat dari aluminium itu dengan kencang hingga menimbulkan suara bising. Makanan berceceran di atas lantai dengan tumpahan susu yang bercampur menjadi satu.
Arula mendadak ciut menahan ketakutan yang lagi-lagi melihat pria itu murka akibat ulahnya.
Salah satu pelayan yang hendak masuk segera mengurungkan niatnya setelah mendengar suara bising di dalam sana.
Tidak ada yang tahu apa hubungan antara Tuannya dengan Arula. Mereka hanya di perintahkan untuk melayaninya sesuai dengan apa yang Vello perintahkan tanpa banyak bertanya.
•••
Pukul 8 malam lagi-lagi Vello datang dengan kedua tangan yang memegang nampan yang berisi makanan serta minuman. Untuk siapa lagi? Jelas untuk Arula Dara.
Perempuan blasteran Indonesia-Inggris itu selalu berhasil membuatnya nyaris kehilangan akal sehat. Entah dulu atau sekarang. Sama saja. Yang sialnya Vello begitu memuja perempuan berusia 23 tahun itu.
Walau sudah dua kali Arula menyulut emosinya ketika ia hendak memberi perempuan itu makan, namun ia tak akan menyerah. Ia akan terus mencobanya hingga Arula lelah dan berakhir memakan makanannya.
"Cepat makan!" Vello menyimpan nampan itu di hadapan Arula. Entah sudah ke berapa kalinya Vello melakukan itu.
Lagi-lagi Arula tak bergeming sedikit pun.
"Kenapa kau malah kembali ke sini?" tanya Arula tanpa menatap Vello.
"Untuk mendapatkanmu kembali."
Arula lantas menoleh sinis pada pria itu, "Untuk mendapatkanku kembali?" tanya Arula dengan kekehan remehnya.
Vello hanya diam menatap perempuan itu yang entah sedang menertawakan apa.
"Perasaan seseorang bisa berubah kapan saja seiring dengan berjalannya waktu," sahut Vello acuh.
"Aku ingin pulang." kata Arula akhirnya. Wajahnya yang begitu cantik masih terlihat pucat.
"Tidak bisa." balas Vello mutlak tak ingin dibantah. Suaranya berubah dingin dan tajam seolah bila Arula
kembali berucap maka amarah pria itulah yang akan perempuan itu hadapi.
Keduanya hanya diam sebab Arula yang tidak kembali menjawab. Hingga tiba-tiba sebuah tangan meraih nampan makanan yang tersimpan tidak jauh dari sana.
Vello cukup tertegun melihat Arula yang kini tak banyak bertingkah dan justru menuruti perkataannya agar segera makan.
Mungkin perempuan itu sudah lelah terus-menerus melawannya.
Arula kemudian menyendokkan nasi dan memakannya dengan tenang. Hal itu justru entah mengapa membuat Vello menerka nerka apa yang telah terjadi dengan perempuan itu sehingga tiba tiba menurut padanya.
Seketika Vello menatap Arula curiga, pria itu menyipitkan matanya tajam menatap perempuan itu.
Sementara Arula nampak tidak memedulikan tatapan itu dan terus memakan lahap makanannya yang kini tersisa setengah.
Vello masih menatapnya curiga.
Entah apa yang perempuan itu rencanakan sekarang. Yang jelas Vello harus berjaga-jaga. Siapa tahu Arula tengah merencanakan sesuatu.
Tak hampir 10 menit makanan yang berada di piring telah tandas di lahap Arula. Perempuan itu mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangan. Hal itu masih tidak luput dari pandangan Vello.
"Aku sudah makan, sekarang pergilah." usir perempuan itu tanpa berani membalas tatapan pria di depannya.
"Apa yang kau rencanakan?" todong Vello tajam.
Arula mengernyit tidak paham mendengar penuturan itu, "Apa maksudmu? Bukankah ini keinginanmu supaya aku makan?"
"Kau pasti tengah merencanakan sesuatu karena tiba tiba menurut padaku," balas pria itu penuh intimidasi seraya menekuk sebelah kakinya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Arula yang berada di tepi ranjang.
Mendengar itu Arula hanya diam sembari menelan ludah kasar.
"Jika sampai kau melanggar perintahku lagi. Aku tak akan segan untuk menghukummu kembali!" tandasnya tajam kemudian pergi dari sana menyisakan Arula yang kini diterpa rasa cemas.
•••
Kini sudah pukul 4 pagi. Lagi-lagi Arula kembali mengendap- ngendap keluar kamarnya. Namun kali ini tujuannya bukanlah pintu utama, melainkan ruang kerja milik Vello.
Arula masuk ke dalam ruangan yang ia kira sebagai ruangan kerja pria itu.
Tujuannya masuk ke sana untuk mencari ponselnya yang diambil oleh pria itu. Arula pikir Vello pasti menyimpan ponsel miliknya di sana.
Arula sungguh berharap bahwa kali ini Vello tidak akan memergokinya lagi. Jika sampai hal itu terjadi maka habis sudah riwayatnya.
Meski begitu Arula sudah meyakini bahwa pria itu saat ini pasti sudah tertidur karena telah begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Arula lantas mengobrak-abrik isi laci serta lemari yang berada di ruangan itu. Tidak lupa di beberapa jajaran rak buku pun ia tetap mencarinya, bisa saja bukan Vello menyimpannya di antara rentetan buku tebal itu.
Saat netranya tidak sengaja melirik ke arah meja kerja berukuran besar milik pria itu, Arula menemukan sebuah ponsel tergeletak begitu saja di atas sana. Arula lantas berjalan mendekat seraya berdo'a berharap bahwa itu adalah ponsel miliknya.
Ketika sudah di depan mata, Arula segera mengambil ponsel itu dan memeriksanya. Dan bingo! Itu benar ponselnya.
Sepertinya beberapa jam lalu Vello baru saja memeriksa ponselnya. Terlihat bagimana ponsel itu yang berada di atas meja kerjanya.
Dengan cepat Arula lantas menyalakannya dan ia melihat bahwa baterai ponselnya tinggal tersisa 5% lagi. Tanpa sadar ia berdecak. Apakah memungkinkan untuknya menelepon Kares?
Dengan cepat Arula mencari nomor calon suaminya dan tanpa berlama-lama langsung mendialnya. Arula menggigit kuku jarinya cemas, ia berharap agar Kares dengan cepat mengangkat teleponnya.
"Halo?" sapaan dari seberang membuat Arula menghembuskan nafas lega.
Bibirnya sudah siap terbuka hendak meminta pertolongan pada laki-laki itu, hingga hal tidak terduga berhasil membuat Arula membeku di tempat.
"Sedang apa kau di ruanganku?"
___TBC___
huhuy gimana buat part ini guys?? semoga suka ya💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ⚜️💗
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии