6 страницаОпубликовано: 13.08.2026. 14:18
30

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 5: Not Better

lagi rajin niee hihi. btw, buat yang bingung ini latarnya di luar negeri yahh alias di london😗⚜️

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

Malam sudah tiba dan di sinilah Arula akan melancarkan aksinya. Arula akan mencoba pergi dari neraka berkedok mansion mewah itu.

Arula berpikir jika dirinya tidak berusaha untuk keluar dari sana, maka ia akan selamanya berada di tempat terkutuk itu.

Saat ini pukul 2 dini hari dan Arula sudah membuat rencana. Ia yakin rencananya akan berhasil dalam satu kali percobaan.

Perlahan Arula mulai membuka pintu kamar yang beruntungnya tidak terkunci dari luar. Ia menoleh kesana-kemari takut bila ada pelayan atau yang lebih bahaya Vello sendiri yang melihatnya bahwa
ia tengah berniat untuk kabur.

Ternyata tidak ada siapapun, itu berarti kondisinya aman.

Arula kembali melanjutkan langkahnya dengan perlahan, takut jika langkahnya akan menimbulkan suara ketika ia menuruni anak tangga.

Karena memang kamarnya berada di lantai atas dan itu berarti Arula membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa menuju pintu utama rumah besar ini. Apalagi jarak tangga dengan pintu yang cukup jauh membuat Arula tanpa sadar berdecak.

Ketika Arula menuruni undak tangga semuanya tidak ada kendala sama sekali sehingga membuat perempuan itu semakin yakin besar peluangnya untuk kabur dari mansion Vello. Dalam hati Arula sumringah, sebab ia akan segera bertemu dengan calon suaminya yang sangat ia rindukan meskipun pertemuan terakhirnya menimbulkan kesan tak baik.

Saat langkah-langkah terdekatnya menuju pintu utama tiba-tiba seseorang mengintrupeksinya dari arah belakang.

"Kau akan pergi ke mana?"

Tangan Arula yang semula hendak meraih tuas pintu kontan membeku di tempat ketika mendengar suara dingin yang cukup familiar itu.

Dengan bahu merosot lemas Arula terpaksa membalikkan haluannya dan di sanalah presensi seorang Vello Lodovico terlihat dengan masih memakai kemeja putih yang bagian lengannya dilipat sampai siku. Tangannya bersedekap membuat pria itu terlihat seperti seorang ayah yang sedang menangkap basah putrinya yang ingin keluar rumah.

"Bukan urusanmu!" sahut Arula ketus.

Vello berjalan mendekat hingga tanpa sadar membuat Arula berdiri waspada.

Rencana yang Arula wanti-wantikan akan berhasil ternyata gagal total. Belum sempat ia menghirup udara segar malah sudah terlebih dulu ketahun oleh si pemilik rumah.

Arula mungkin tidak mengetahui bahwa pukul 12 sampai 3 dini hari adalah waktu di mana Vello sibuk begadang untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.

Sebenarnya sejak Arula melangkahkan kakinya diatas tangga, Vello sudah mengetahuinya karena suara sandal perempuan itu yang berisik sehingga membuatnya terdengar jelas di suasana malam yang hening.

"Kau akan melarikan diri?" tebak pria itu tepat sasaran. Hal itu entah kenapa membuat Arula merasa tak nyaman di tempatnya.

Arula menelan ludah kasar saat netra tajam pria itu menghunus matanya lurus.

"Pergi ke kamarmu dan jangan coba-coba untuk pergi dari sini!"

"Jika aku menolak?"

Vello mengangkat sebelah alisnya dengan seringaian meremehkan, "Kau yakin ingin membantah ucapanku?"

Arula diam. Rasanya seperti ada batu besar yang mengganjal tenggorokannya sehingga sulit untuk mengeluarkan sepatah katapun.

"Perlu ku panggil pengawal untuk menyeretmu ke kamar?" Arula menatap pria itu yang masih gemar menyulut amarahnya. Namun Arula hanya mampu diam membuat pria itu berdecak.

Pria itu maju beberapa langkah dan tanpa berucap apapun langsung menggendong Arula seperti karung beras hingga mau tak mau membuat perempuan itu memekik kaget.

"APA YANG KAU LAKUKAN, SIALAN!" bak kesetanan Arula memukul punggung tegap Vello bertubi-tubi. Namun pria itu bak robot yang tak terpengaruh sama sekali.

"Diam! Atau aku akan membantingmu ke atas lantai?!" ancamnya membuat Arula berhasil terdiam.

Alhasil dengan berat hati Arula berada di dalam gendongan pria itu sampai ke dalam kamar dengan perasan gondok karena rencana yang sejak tadi Arula idamkan akan berhasil malah berakhir gagal total.

•••

"Nona, bangun..." salah satu pelayan menggoyangkan tangan Arula berusaha untuk membangunkannya.

Arula mengernyit samar dengan kelopak mata yang beringsut terbuka.

"Tuan Vello memintamu untuk segera menemuinya dimeja makan," seru pelayan paruh baya itu dengan sopan.

Sepertinya wanita itu adalah kepala pelayan di mansion ini, terlihat dari pakaiannya yang berbeda dengan pelayan lainnya.

Pelayan tersebut menepuk-nepuk lengan Arula agar segera bangun dari tidurnya.

Dengan terpaksa Arula segera membuka matanya semakin lebar dan bangun dengan perlahan.

"Nanti aku menyusul," ucapnya dengan terpaksa. Sedikit muak juga karena pelayan itu terus mengganggunya.

Setelah mandi dan berganti pakaian karena sudah berhari-hari ia tidak mandi membuatnya menjadi jijik sendiri. Arula melihat postur tubuhnya dicermin yang kian ramping karena sudah beberapa hari ini ia tidak mengisi perutnya. Arula hanya minum air putih jika merasa haus.

Di anak tangga terakhir Arula dapat melihat Vello yang sedang menunggunya sembari memainkan tab nya, Arula menyusulnya dan duduk di seberang pria datar itu.

"Habiskan makananmu," perintahnya kemudian pria itu memulai makannya dengan tenang. Berbeda dengan Arula yang masih terdiam.

"Kau tidak dengar? Kubilang habiskan makananmu!" tekannya lagi dengan penuh penekanan ketika melihat Arula tak bergeming sama sekali.

"Aku tidak makan karena sedang diet," bohongnya.

Vello lantas melepas genggaman sendok dan garpunya sedikit kasar, lalu menatap perempuan itu dengan penuh intimidasi.

"Sudah berapa hari kau tidak makan?"

"Tidak tahu!" balas Arula tak acuh, namun hal itu sukses menyulut emosi seorang Vello Lodovico.

"Kau berani berbohong padaku!!?" tanyanya dengan emosi yang mulai tersulut.

"Aku tak berbohong."

"Alasan!" Vello menggeram kesal mendengar jawaban itu. Dengan emosi meluap pria itu lantas membanting semua yang berada di atas meja makan. Makanan serta minuman yang masih hangat nan lezat itu lantas berhamburan jatuh ke lantai, suara bising memenuhi ruangan.

Para pelayan tidak berani sama sekali untuk menampakkan wajah mereka disaat Tuannya sedang murka seperti sekarang karena bisa-bisa mereka yang akan terkena imbasnya.

Arula memekik terkejut melihat Vello yang membanting semua benda yang berada dimeja makan.

"APA SULIT BAGIMU UNTUK MENURUTI PERINTAHKU?!!" bentaknya tak kalah emosi.

Salah satu kekurangan Vello ialah pria itu mudah sekali tersulut emosi dan sikap temperamennya itulah yang membuat orang lain enggan untuk berhadapan langsung dengannya.

Arula termangu di tempatnya dengan air mata yang menuruni pipi tirusnya.

"SIALAN KAU! JAWAB PERTANYAANKU!" setelahnya Vello berdiri dan berjalan mendekat ke arah Arula berdiri dan menarik lengan perempuan itu dengan kasar.

Arula terseok-seok mengimbangi langkah Vello yang lebar tengah menyeretnya. Tangisnya tak bisa dicegah lagi, perempuan itu meronta-ronta minta dilepaskan.

"Kau akan membawaku kemana, brengsek?!!" pekik Arula dengan napas tersenggal-senggal. Perempuan itu berusaha memberontak tapi nihil, tenaganya dengan Vello sudah jelas berbanding jauh.

Vello membuka salah satu pintu yang berada diujung koridor dengan sebelah tangannya. Pria itu membuka pintunya lebar dan masuk ke dalam tidak lupa untuk menyeret Arula masuk juga.

Itu adalah gudang yang sudah lama tidak terpakai dengan kondisi di dalamnya yang berdebu, sempit, serta kurangnya pasokan oksigen membuat siapapun yang berada di dalamnya akan merasa sesak. Dan jangan lupakan bila gudang itu pun sangat gelap.

Vello mendorong Arula dengan kasar sehingga perempuan itu terhuyung ke belakang akibat tidak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.

"Ini hukuman untukmu. Kau akan berada di sini sampai kau sadar jika berani melawan perintahku kau akan mendapat hukuman!" ucapnya dengan rahang yang masih mengeras.

"Tidak! Ini sangat gelap. Kumohon jangan hukum aku, aku takut gelap!"Arula tanpa sadar memohon dengan air mata yang terus mengalir.

"Jangan memelas! Aku tidak akan luluh dengan tangisan murahanmu!" setelah itu Vello mendorong tubuh Arula kasar dan menutup pintu tak lupa untuk menguncinya.

"JANGAN TINGGALKAN AKU DISINI! AKU TAKUT GELAP KUMOHON HIKS... HIKS..." teriak Arula sembari menggedor-gedor pintu gudang yang sudah tertutup rapat bahkan dikunci.

Vello tak mengindahkan teriakan Arula yang semakin menjadi, tak ada rasa kasihan didalam hatinya.

"TOLONG SIAPAPUN KELUARKAN AKU DARI SINI!" Arula berteriak hebat hingga tenggorokannya terasa sakit. Bayangkan saja Arula belum mengisi perutnya tapi ia dihukum dengan apa yang sangat ia takuti.

•••

"Kumohon kembalilah, aku sangat menyanyangimu, Rula..." Kares menangis dengan tangan yang memengang pigura berisikan foto Arula yang selalu laki-laki itu pajang dinakas kamarnya.

Sudah satu bulan semenjak hilangnya Arula dan para awak media pun sudah mengetahui bahwa Arula menghilang sejak perempuan itu dimintai menjadi partner calon suaminya disalah satu majalah terkenal.

Tidak sedikit yang mengatai Kares bahwa laki-laki itu seorang model yang sudah lancang berbohong karena memalsukan keadaan sang calon istri karena sebenarnya Arula tidak sakit sama sekali melainkan hilang entah kemana.

Namun beruntung masih ada juga penggemar setianya yang selalu membela, mereka bilang Kares melakukan itu agar penggemar tidak cemas dengan keadaan Arula.

Seantreo kampus pun turut berduka karena hilangnya Arula. Arula adalah salah satu mahasiswa popular dan terkenal karena kepintaran serta kecantikannya.

Viona selaku teman dekat Arula merasa tak berguna karena tidak bisa menjaga sahabatnya dengan baik. Apalagi Niko, laki-laki yang menyukai Arula meskipun Arula sudah memiliki calon suami namun Niko masih tetap gencar mengejarnya.

"Kenapa kau menghilang tiba-tiba? Jika punya masalah seharusnya bercerita, bukannya menghilang seperti ini," seru Viona sembari sesenggukan.

Niko yang setia berada disamping perempuan itu hanya mampu mengusap-usap bahunya pelan, berusaha menenangkan.

Dan ditempat lain Kares seperti perawan tua yang belum dinikahi, menjerit seperti perawan yang akan disetubuhi. Ia nyaris sekarat di unitnya.

Laki-laki itu terus menangisi calon istrinya. Bagaimanapun juga yang paling sedih atas hilangnya Arula adalah dirinya. Karena Kares adalah calon suami dari Arula Dara.

Berbagai berita pun bahkan masih heboh karena hal ini, padahal Kares sudah mengklarifikasi masalah ini kemarin lusa siang, tapi sampai saat ini publik masih heboh membicaraknnya. Bahkan masih banyak wartawan yang berkeliling disekitar luar apartementnya sehingga Kares enggan untuk pergi keluar jika bukan karena pekerjaan.

"Jika aku tahu kau akan menghilang seperti ini, aku tidak akan marah bahkan mengataimu seperti jalang. Aku sangat menyesal, maafkan aku..." lirihnya dengan putus asa.

"Kumohon cepatlah kembali," ujarnya lagi dengan mata yang mulai membengkak.

Kares sudah mencari Arula kemanapun. Bahkan pria itu sempat menyewa dua orang detektif swasta untuk menemukan Arula tapi sampai detik ini perempuan itu belum kunjung di temukan.

Tapi sepertinya Kares melupakan satu tempat. Di mana tempat itu menjadi saksi bisu hilangnya Arula.

___TBC___

gimana buat part inii?? semoga chemistry nya sampe ke kalian yahh💗❤️‍🔥

i hope you like this story⚜️💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!