5 страницаОпубликовано: 13.08.2026. 10:23
50

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 4: Stuck with You

rajin banget kan aku, semoga chemistry nya sampe ke kalian yahhh😗

jangan lupa vote dan comment untuk menghargai karya penulis💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

"Aku adalah pemilik perempuan itu."

Si pria hidung belang menampakkan seringaiannya, "Penipu! Katakan saja jika kau menginginkan dia juga!"

"Aku memang menginginkannya, maka dari itu aku memintanya secara baik-baik padamu. Jangan sampai tangan bersihku ini menghabisimu," ucap pria dengan jas hitam yang menutupi tubuh atletisnya. Terlihat dari wajahnya sama sekali tidak menampilkan raut main-main.

"Jika aku tidak memberikannya, kau akan melakukan apa?" tantang si pria hidung belang seolah apa yang dikatakan pria di depannya hanya ingin membuatnya merasa takut saja.

Pria dengan setelan jas hitam itu mulai merasa jengah dengan pria setengah mabuk didepannya ini.

Si hidung belang yang sedari tadi mencekal pergelangan tangan Arula nampak tidak takut sama sekali dengan ancamannya.

"Sudahlah, jangan beromong kosong! Minggir kau dari jalanku!" serunya sembari mendorong pria tinggi itu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya senantiasa menggenggam pergelangan Arula.

Murka sebab pria brengsek di depannya ini meremehkan ancamannya, lantas saja pria berwajah dingin itu meraih sesuatu dibalik jas hitamnya dan tepat ketika  pria yang memegang tangan Arula hendak membuka pintu kamar, suara nyaring yang memekakkan telinga terdengar begitu kencang.

DOR!

Sekali pria itu menarik pelatuk dari pistolnya hingga menebus ke dalam jantung pria yang kini membantu di tempatnya. Ujung pistolnya mengeluarkan sedikit asap menjadi bukti bahwa peluru didalamnya keluar dengan begitu panas.

DOR!

DOR!

Tanpa belas kasihan pria itu kembali menarik pelatuknya hingga sekujur tubuh pria di depannya berubah kian kaku dengan darah yang mulai merembes.

Suara nyaring itu berhasil membuat Arula menjerit kala pria yang bersamanya kini mulai limbung dan bersimbah darah hingga berangsur melepaskan cengkeraman tangannya.

Pria hidung belang itu ambruk ketika menyadari dada dibagian kirinya berlumuran darah, bukan hanya satu peluru saja yang bersarang di tubuhnya, melainkan tiga peluru.

Arula lagi-lagi menjerit melihat darah yang kini jelas berada tepat di depannya, niat hati ingin memuaskan nafsu birahinya bersama lawan jenis justru malah berakhir mengenaskan.

Pria di seberang sana menatap datar dua manusia yang salah satunya sudah tak bernyawa itu. Lantas ia masukkan kembali pistolnya ke dalam  jas dan berjalan mendekat.

Pria itu menarik Arula pergi meninggalkan lawan mainnya yang kini tergelak mengenaskan dengan darah yang menghiasi sekujur tubuhnya.

•••

Cahaya mentari mengintip disela-sela tirai yang tidak tertutup rapat, membuat model tampan yang sedang terlelap itu sedikit terganggu.

Kares meraba-raba sisi tempat tidurnya berharap ada seseorang di sana yang bisa ia peluk. Namun begitu menyadari sang calon istri tidak berada disampingnya hal itu kontan membuat Kares serta merta  terbangun dari tidur lelapnya.

Apa dia tidak kembali? Pikirnya.

Kares mengira Arula akan kembali. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya berubah tidak enak.

Kares melihat ponselnya dan tidak ada notif apapun dari perempuan itu. Apa perkataannya semalam sudah keterlaluan?

Kares segera menghubungi Arula, namun hingga dering ke lima perempuan itu belum kunjung mengangkatnya. Ia pun beralih mengirimi banyak pesan tapi tidak satu pun terbalas.

Akhirnya Kares berniat untuk menemui Arula dikampus, beruntung jadwalnya hari ini tidak terlalu padat sehingga ia masih memiliki banyak waktu untuk sekedar mendapatkan maaf dari perempuan itu.

Kares tahu jika hari ini Arula memiliki kelas pagi dan oleh karena itulah ia segera bergegas ke kamar mandi untuk segera bersiap.

Tanpa hambatan apapun Kares kini sudah berada diarea parkir kampus. Kares sengaja tidak keluar dari mobil dan hanya mengamati setiap mahasiswi yang masuk kedalam kampus, jika Kares nekat keluar mobil pasti seantreo kampus gempar karena kedatangannya apalagi mahasiswi yang pasti mimisan karena melihat ketampanannya.

Sudah 30 menit Kares menunggu tapi tidak ada tanda-tanda calon istrinya yang datang ke kampus.

Apa Arula membolos? Pikirnya.

Kares kembali menghubungi nomor Arula dan mendapat balasan yang sama, hanya suara wanita operator.

Kares memutuskan untuk mencari calon istrinya di apartement perempuan itu, siapa tahu Arula berada disana untuk menghindarinya.

Setelah sampai di apartement Arula, Kares langsung menuju lift. Dan ketika sudah berada di depan unit apartement calon istrinya, Kares langsung menerobos masuk setelah menekan sandi yang ia ketahui.

Dan hasilnya, nihil juga.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana yang berhasil membuat Kares frustasi bukan main. Jika tidak di kampus dan apartementnya, kemana lagi Kares harus mencari Arula?

Kares tahu bila Arula tidak mempunyai keluarga lagi selain dirinya, Kares pun terpaksa menanyai para tetangga apartement perempuan itu dan alhasil ia yang repot sendiri sebab di kelilingi ibu-ibu yang menanyainya ini-itu.

•••

Arula terbangun dengan kepala yang terasa begitu berat. Perempuan itu meringis ketika pusing menyerang kepalanya.

Arula memaksakan untuk membuka mata dan menelusuri di mana ia berada. Sebab ranjang yang ditidurinya saat ini sangat berbeda dengan ranjang miliknya yang tidak seempuk ini.

Begitu sadar bahwa kini ia bukanlah berada di apartementnya atau bahkan apartement milik Kares, detik itu juga Arula diserang rasa panik.

Di mana ia sekarang? Apa ia diculik oleh orang jahat ketika ia berada di club?

Oh gawat! Waktu sudah menunjukkan pukul 10 dan itu berarti Arula sudah telat 2 jam untuk masuk kuliah. Tidak ada gunanya juga ia memaki dirinya yang terlambat bangun.

Yang jelas saat ini pikiran Arula berkecamuk memikirkan banyak hal.

Dan yang menjadi pertanyaannya sejak tadi adalah, di mana ia berada? Sungguh, saat Arula memberanikan diri untuk menoleh ke arah jendela ia tidak mengetahui daerah yang ditempatinya saat ini.

Ketika Arula sedang berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang  membuka pintu kamar dan munculah pria tinggi dengan setelan jas rapi.

Terlihat dari kemeja putihnya saja sudah dapat ditebak jika sepertinya tidak hanya sekali kemaja itu disetrika terlihat bagaimana kemeja itu begitu terlihat licin, di tambah dengan dasi hitam membuat pria itu terlihat semakin gagah, dan juga jas serta celana bahan hitam tidak lupa sepatu pantofel hitamnya yang begitu mengkilap.

Perlahan Arula mulai mendongak agar dapat melihat seseorang itu. Dan betapa tercengangnya ia ketika sosok yang dulu telah lama menorehkan luka padanya kini muncul di depan matanya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Sesaat manik keduanya terkunci_ di sana Arula tidak dapat membaca arti tatapan pria itu terhadapnya, sama seperti dulu. Pria itu sangat misterius. Hingga Arula memutus kontak mata lebih dulu dan memilih untuk memalingkan wajah.

Sekarang apalagi? Setelah ia dan Kares bertengkar, kini ia justru dipertemukan kembali dengan masa lalunya yang begitu keji.

"Bagaimana kabarmu?" suara bariton itu terdengar begitu jelas di ruangan yang senyap itu.

Namanya Vello Lodovico. Orang-orang mengenalnya sebagai pria yang handal dalam berbinis, sangat tegas dan sangat bijaksana_ setidaknya itu yang Arula ketahui dari orang-orang dulu.

Namun sisi lain dari Vello Lodovico, pria itu dikenal juga sebagai sosok yang mahir dalam bisnis gelapnya dan juga terkenal sebagai pria bengis yang mampu menaklukkan kaum hawa hanya dengan seringaiannya.

"Apa kau yang membawaku ke sini?" Arula memilih untuk tak menjawab pertanyaan pria itu dan kembali melemparkan pertanyaan. Manik kucingnya menatap sosok Vello dengan kedua tangan yang mengepal dibalik selimutnya.

"Ya. Dan mansion ini akan menjadi rumahmu mulai saat ini." balasnya begitu santai untuk ukuran seseorang yang baru saja menculik mantan kekasihnya.

"Kenapa kau melakukan ini? Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun lagi. KENAPA KAU MENCULIKKU, BRENGSEK?!" Arula menjerit hebat akibat rasa sesak yang menggunung setelah melihat pria itu yang dengan mudahnya muncul dihadapannya tanpa memedulikan bagaimana luka yang dulu pria itu torehkan padanya.

Pria itu tidak bereaksi apapun setelah mendengar jeritan Arula seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah angin lalu. Bahkan kini pria itu justru menerbitkan senyum miring hingga membuat Arula mencengkeram kuat seprai putih yang membalut ranjang, matanya memerah menahan gejolak emosi yang kian merangkak.

"Aku ingin memilikimu lagi."

Tubuh Arula menegang kala mendengarnya. Setelah pria itu menghancurkannya berkeping-keping kini dengan mudahnya ingin memilikinya lagi?

Dalam hati Arula tertawa miris mendengar itu.

•••

Baru satu hari Arula menghilang dari peradaban nyatanya berhasil membuat sang calon suami menjadi risau dan kian merasa bersalah.

Pikiran-pikiran buruk menggentayanginya. Apa Arula bunuh diri karena merasa sakit hati oleh ucapannya kemarin malam?  Itulah yang selalu Kares pikirkan.

Kares bahkan sudah menghubungi teman dekat Arula namun hasilnya sama, nihil.

Media belum mengetahui kabar tentang menghilangnya Arula. Jika salah satu media kedapatan menanyai hal itu pada Kares, ia selalu berdalih bahwa Arula sedang sakit. Di kampus pun sama, banyak para mahasiswi yang menanyai kemana presensi calon istri model terkenal atas itu.

Viona selaku teman dekat Arula pun dibuat kalang kabut karena banyak temannya yang menanyai.
Bahkan sempat ada yang berkata,

"Kemana model dadakan kampus kita itu?"

"Mungkin hilang tertelan bumi, haha!"

"Apa dia malu masuk kampus karena pakaiannya menjadi model terlalu terbuka?"

"Omong kosong! Dia bahkan kadang selalu berpakaian seksi saat ke kampus!"

"Dasar jalang!"

"Benar! Penampilannya kadang menyerupai jalang!"

"Apa Arula putus dengan Kares?"

"Jangan asal bicara. Kares bilang Arula sedang sakit oleh karena itu dia tidak masuk kampus."

Viona terkadang ingin sekali membakar mulut-mulut yang berani menjelek-jelekkan sahabatnya, tapi sesabar mungkin ia menahan amarahnya.

Viona juga sebenarnya ingin marah pada Arula karena tidak menjawab panggilan serta tidak membalas pesannya. Tapi sayang, sejak kemarin ponsel sahabatnya itu sudah tidak aktif hingga membuat Vionw semakin khawatir.

"Sudah ada kabar dari Arula?" tanya Niko ketika mereka sedang makan di kantin kampus.

Sejak menghilangnya Arula, Viona dan Niko mendadak menjadi dekat, katanya bekerja sama akan memudahkan mereka untuk menemukan Arula.

Viona hanya menggeleng lesu. Tiba-tiba tatapannya lurus ke depan, "Jika aku menemukannya, aku berjanji akan memukulnya habis-habisan!" ucapnya kesal.

"Bagaimana bisa kau memukulnya, kita saja tidak tahu keberadaan Arula ada di mana," celetuk Niko hingga Viona langsung terkulai lemas ketika mendengar perkataan laki-laki itu.

Di tempat lain, tepatnya saat melakukan photoshoot. Kares sama sekali tidak bisa fokus. Ia bahkan selalu melakukan kesalahan karena pikirannya yang kesana kemari hingga berakhir ditegur oleh managernya.

Tidak biasanya manusia favorit warga London itu lemas seperti itu. Kira-kira begitulah isi hati para staf yang melihatnya.

"Kares tolong tepikan dulu masalah pribadimu. Tumben sekali kau membuat banyak kesalahan. Kami tahu kau mencemaskan calon istrimu, tapi kau juga seorang model, kau harus profesional!" seru sang fotografer seraya menepuk pelan bahu Kares untuk sekedar memberi laki-laki itu dukungan agar tetap semangat.

"Maafkan aku, aku terlalu memikirkannya sehingga membuatku tidak fokus bekerja," balas Kares sembari membungkuk pelan tanda meminta maaf.

"Tak apa." balas sang fotografer seraya tersenyum maklum.

•••

Berbeda di tempat lain, Arula masih termenung diatas ranjangnya sembari memeluk kedua lututnya.

Tidak terasa sudah 3 hari ia terjebak di mansion terkutuk ini dan Arula sangat takut.

Arula bertemu kembali dengan pria yang sudah lama menjadi masa lalunya. Parahnya yang dulu sempat menorehkan luka serta trauma yang luar biasa.

Dan sudah 3 hari pula Arula tidak memakan apapun. Meski dihidangkan makanan dan minuman yang mampu menggoyahkannya namun ia tetap menahannya. Arula pun tidak mandi sehingga membuatnya terlihat semakin kacau.

"Nona, kau harus makan jika tidak Tuan Vello sendiri yang akan kemari," entah sudah berapa kali para pelayan datang untuk membujuknya agar segera makan, namun Arula masih tetap diam seolah tidak ada yang mengajaknya berbicara.

Arula masih sangat terkejut ketika bertemu dengan Vello. Pria yang miliki darah campuran Italia itu benar-benar membuatnya panik sekaligus cemas padahal belum tentu pria itu akan melukainya, lagi.

Pelayan yang memegang nampan berisi makanan terdengar menghela napas panjang kemudian berjalan keluar dari kamar yang Arula tempati.

Arula semakin merasa hening setelah pintu kamar tertutup. Matanya menatap sayu ke arah depan dengan pandangan kosong.

Tidak lama sang pemilik mansion megah itu pun datang dengan hanya memakai kemeja putih yang lengannya dilipat hingga sebatas siku. Suara sepatu pantofel yang beradu dengan ubin menjadi alarm bahwa sang Tuan telah masuk ke dalam area Arula.

Pintu kamar sudah tertutup sehingga hanya mereka berdua di kamar.

"Jadi kau tidak ingin makan?" tanyanya tanpa ekspresi berlebih yang sama sekali tak ditanggapi oleh perempuan itu.

Arula masih menatap kosong ke arah depan tanpa sedikit pun melirik Vello yang kini berdiri menjulang tinggi di samping ranjangnya.

Hingga akhirnya Arula memaksakan untuk menatap pria itu, "Jika aku makan, apa kau akan melepaskanku?" tanyanya penuh harap dan rasa permohonan yang amat sangat.

"Lebih baik kau tidak perlu makan!" sahut pria itu dingin.

Tanpa memaksa Arula kembali menangis dalam diam. Hatinya begitu sakit dengan perilaku Vello yang tidak ada perubahan bahkan setelah 2 tahun mereka berpisah.

Arula mulai risau, ia mulai merindukan Kares. Calon suaminya.

___TBC___

gimana buat part ini guyss?? seru gaxx???💗❤️‍🔥

jangan lupa vote, comment, dan share yaa⚜️💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!