Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 3: The Owner
aku update lagii hihi, i hope
you like this story💗
jangan lupa vote dan comment untuk menghargai karya penulis, enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
Dalam perjalanan pulang Arula dan Kares sama-sama membisu. Well, lebih tepatnya Kares yang mendiamkan Arula. Mungkin masih merasa marah dengan kejadian di studio tadi siang.
Sang sopir yang melihat tingkah pasangan muda itu hanya mampu terdiam. Tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Arula yang melihat Kares masih merajuk pun berniat untuk menginap diapartement laki-laki itu. Ia akan berusaha untuk membujuknya.
Tak lama mereka pun sampai di basement dan keluar dari mobil tanpa bantuan sopir.
Diperjalanan menuju lantai 7, di mana unit Kares berada mereka berdua tetap bungkam sampai akhirnya mereka sampai dikediaman laki-laki tampan itu.
Mereka masuk ke dalam, Arula langsung mendudukan diri disofa namun berbeda dengan Kares yang dengan dinginnya malah melengos begitu saja menuju kamarnya.
Arula membiarkannya karena ia pikir Kares hendak masuk ke kamarnya untuk mandi atau sekedar berganti pakaian.
Sekitar 1 jam lamanya Kares mendekam di dalam kamar akhirnya laki-laki itu keluar dengan ekspresi yang masih datar. Kares berniat mengambil air namun harus tertunda begitu melihat calon istrinya yang tertidur pulas di atas sofa.
Kasihan bercampur kesal menjadi satu. Kasihan karena Arula harus tidur di sofa yang pastinya tidak nyaman, dan juga kesal karena perempuan itu bukannya membujuknya agar tidak merajuk lagi namun malah dengan enaknya tertidur pulas.
"Dasar tidak peka!"cetusnya dengan nada pelan namun masih terdengar oleh Arula yang sebenarnya tidak tertidur. Perempuan itu hanya menutup matanya saja.
"Kau masih marah padaku?" tanya Arula sembari membuka mata kemudian bangun dari posisi berbaringnya.
Kares sedikit terlonjak ditempatnya ia berdiri, ternyata calon istrinya itu tidak tertidur. Kares kembali melanjutkan pergerakannya untuk mengambil air.
"Kau marah karena aku menjadi partner-mu dalam pemotretan?"Arula kembali membuka suara. Kali ini lebih berhati-hati.
"Tidak."
"Lalu?"
"Pikir saja sendiri," balas Kares tak acuh.
"Karena pakaianku?" Arula mencoba untuk menebak.
Kali ini Kares tidak menjawab.
"Aku tidak tahu jika pakaiannya akan seterbuka itu, tadi pun aku tidak nyaman saat mengenakannya," tutur Arula berterus terang.
"Aku minta maaf karena tidak meminta izinmu terlebih dulu," sambungnya lagi kali ini dengan helaan napas berat yang keluar dari mulutnya. Ia sadar betul akan kesalahannya.
Kares masih tidak bergeming. Laki-laki itu bahkan seperti tak berniat untuk menjawab permintaan maaf Arula.
"Aku benar-benar menyesal. Sungguh!" Arula mencoba bangkit dan menghampiri laki-laki itu yang masih stagnan di samping meja makan, perempuan itu mencoba menatap Kares meskipun laki-laki itu nampak enggan untuk kembali menatapnya.
"Tidak ada ekspresi penyesalan diwajahmu. Tadi pun kau tampak nyaman memakai pakaian yang tidak layak untuk dipakai itu, lagipula kau tidak perlu meminta izin dariku memangnya aku siapa?" balas Kares begitu datar.
Kemana perginya sikap lemah lembut laki-laki itu? Apa Kares benar-benar marah padanya?
"Kenapa kau berkata seperti itu, kau calon suamiku! Ayolah, jangan seperti ini, kau sangat kekanak-kanakan!" Arula mulai merasa jengah.
"Kekanak-kanakan katamu? Apa itu tidak terbalik? Kau yang kekanak-kanakan! Tidak memperdulikan perasaanku ketika melihatmu memakai pakaian seperti itu. Kau tahu? Kau nampak seperti jalang saat memakai pakaian tadi!" sahut Kares dengan emosi yang sudah menguasai dirinya bahkan laki-laki itu tidak menyadari dampak dari ucapannya barusan.
Hati Arula spontan mencelos ketika Kares menyebut dirinya sebagai jalang. Apakah tidak ada kata lain yang lebih baik dari itu?
Lantas saja Arula yang tidak terima dikatai jalang oleh Kares menatap nyalang pada laki-laki di depannya. Kedua tangannya sudah terkepal di masing-masing sisi tubuhnya.
"Benar! Aku jalang! Jalang ini yang tempo hari kau lamar sebagai calon istrimu!" pekiknya sembari menahan tangis, perempuan mana yang tahan dikatai jalang oleh orang lain, lebih parahnya Arula dikatai jalang oleh calon suaminya sendiri. Itu yang terburuk.
Arula berbalik dan mengambil tas selempangnya yang berada disofa dengan kasar, tepat ketika ia menarik tasnya, sepucuk surat cantik keluar dari dalam sana dan tidak sengaja jatuh ke lantai. Sebelum Arula berhasil mengambilnya kembali, tangan lain sudah lebih dulu memungutnya.
Kares dengan gesit mengambilnya dan kemudian membacanya.
Sesaat setelah ia baca surat singkat manis itu, Kares menatap Arula dingin lalu memintanya untuk melihat isi tas perempuan itu. Awalnya Arula sempat menolak namun melihat raut Kares yang menyeramkan membuat Arula ciut dan terpaksa memberikan tas selempangnya.
Kares membuka tasnya lebar dan membaca surat yang berisi pesan-pesan singkat yang penuh cinta itu satu persatu. Dari semua itu ia menyimpulkan.
"Kau berselingkuh dengan laki-laki sebanyak ini?" Kares mendengus tidak percaya.
"Tidak, itu dari penggemarku. Mereka menyimpannya di lokerku," bela Arula apa adanya. Ini tidak seperti apa yang Kares pikirkan.
"Sejak kapan mereka mengirim surat seperti ini?"
"Sejak lama."
"Dan kau tidak memberitahuku?!Katamu, aku ini calon suamimu tapi kau tidak memberitahu jika ada banyak laki-laki di kampusmu yang selalu mengirimimu surat seperti ini!" Kares tak habis pikir dengan perempuan didepannya. Laki-laki itu terkekeh remeh seolah apa yang telah Arula lakukan telah menggores setengah egonya.
"Kenapa kau marah dengan hal sekecil ini?! Kau juga memiliki banyak penggemar dan aku tidak mempermasalahkannya!" balas Arula yang mulai naik pitam karena perdebatan yang belum kunjung menemukan titik akhir.
"Hal sekecil ini katamu?" ulang Kares dengan dengusan kasar. Laki-laki itu menggeleng kecil, "Hal kecil saja kau sudah berani tidak memberitahuku, bagaimana jika hal besar nantinya?" balas Kares tak mau kalah, memang sama-sama keras kepala, sama-sama tidak mau mengalah juga. Bahkan sikap pengertian serta sabar laki-laki itu pun sudah hilang entah kemana.
"Dan bagaimana bisa kau memiliki penggemar? Penggemarmu mengagumimu karena hal apa?" kali ini Kares sudah cukup keterlaluan. Laki-laki itu seolah meremehkan Arula yang tidak pantas dikagumi oleh siapapun. Dan itu menyakiti harga dirinya.
Air mata Arula menetes keluar tanpa ia sadari. Perkataan Kares yang satu itu membuatnya sakit hati.
"Sepertinya kita butuh waktu untuk berpikir dengan jernih, aku pulang!" pungkas Arula datar dan berbalik begitu ia berhasil merebut tasnya yang semula berada digenggaman Kares.
Arula melangkah keluar dari apartement. Dan Kares hanya menatap diam kepergian sang perempuan tanpa berniat untuk mengejarnya.
•••
Arula berjalan lesu diatas trotoar. Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Arula memilih untuk berjalan-jalan dipinggir jalan alih-alih langsung pulang ke unit apartementnya.
Sungguh perkataan menyakitkan dari calon suaminya masih menghantui pikirannya. Bagaimana bisa Kares menyebutnya seperti jalang dan mengatainya tidak pantas untuk dikagumi oleh siapapun. Apakah laki-laki itu sadar akan ucapannya?
Arula pikir tidak ada salahnya ia berjalan-jalan tengah malam seperti ini seorang diri karena jika Arula ingin pulang pun sangat langka ada taksi dilarut malam seperti ini.
Tiba-tiba air mata merembes keluar dengan sendirinya, rasanya Arula sudah tidak tahan lagi untuk menahannya. Perkataan Kares sungguh telah menyakiti hatinya dan untuk pertama kalinya Arula disebut jalang oleh orang yang sangat ia cintai.
"Apa aku memang seperti jalang?" gumamnya pada diri sendiri dengan air mata yang semakin merembes keluar.
"KENAPA KAU INGIN JALANG INI MENJADI ISTRIMU?!" teriaknya dengan lantang tidak peduli jika ada orang yang akan mendengarnya.
"Baju sialan itu yang membuatnya memanggilku seperti jalang, aku menyesal telah menjadi partner nya dalam pemotretan!" sesalnya dengan kesal. Arula tahu ini juga bagian dari kesalahannya.
Entah setan apa yang merasuki akal dan pikirannya, tiba-tiba tempat yang paling haram menjadi tujuannya saat ini, sebuah club malam. Tempat itu menjadi tujuannya untuk dijadikan pelampiasaan atas rasa kesalnya pada sang calon suami.
Dan baru kali ini seorang Arula Dara merasa frustasi akan perkataan seseorang, sebab biasanya Arula tak pernah ambil pusing jika ada seseorang yang mengatainya.
Dengan perasaan dongkol Arula berjalan penuh rasa sakit menuju club yang kali ini menjadi kunjungan pertamanya.
•••
Suara musik yang sangat memekakkan telinga menyapa gendang telinga Arula begitu ia masuk ke dalam. Bau alkohol yang sangat menyengat tercium ke rongga hidungnya.
Arula yang memang pertama kali datang ke tempat biadab ini menjadi sangat terganggu. Arula bahkan sempat berpikir untuk kembali pulang karena sangat pusing ditambah dengan lampu kedap-kedip yang membuatnya bertambah pusing, dan juga mual.
Namun ketika mengingat kembali ucapan Kares yang begitu menyayat hati, Arula kembali membulatkan tekad hingga keberanian itulah yang membuat Arula sekarang masih bertahan di club itu.
Arula hendak berjalan ke salah satu meja, namun tiba-tiba seorang pria berjas hitam tidak sengaja menabraknya,
"Maafkan aku, aku sedikit terburu-buru dan tidak melihatmu." ujarnya dengan raut bersalah.
Mereka berpandangan sebentar. Arula sedikit terpana melihat ketampanan pria didepannya. Terlihat tampan, masih muda, maskulin, mapan, sopan, dan yang pasti kaya.
"Oh? Apakah kau Arula kekasih model terkenal itu?" pria itu kembali berseru sembari menunjuk Arula.
Mereka berdua tidak menyadari jika ada sepasang mata tajam yang memperhatikan keduanya dengan intens. Pria tampan dan juga berjas dengan sebelah tangan yang tengah memegang segelas wine.
Arula hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis, tidak menyangka pria berjas itu akan mengenalnya.
"Tapi sedang apa kau disini?" tanya pria itu lagi dengan kernyitan heran sebat mengingat tempat yang saat ini mereka pijak bukanlah tempat yang baik.
Pria satu ini banyak sekali bertanya, untuk apa tampan tapi cerewet, sangat menyebalkan! Kenal saja tidak sudah tanya ini dan itu. Batin Arula sedikit jengkel sembari menatap pria berjas tampan itu.
"Sedang ada urusan," balas Arula singkat.
Melihat mata Arula yang merah dan bengkak, pria itu menduga jika Arula baru selesai menangis. Tak ingin bertanya lebih lanjut, pria itu pun memutuskan untuk pergi.
Arula kembali melanjutkan langkahnya menuju meja bertender.
"Aku ingin minuman beralkohol yang memiliki kadar tinggi!" serunya saat sudah berada didepan meja bertender, Arula berucap seperti itu karena ia tidak mengetahui jenis-jenis alkohol.
Pria yang sedang memegang gelas berisi wine tadi masih setia menatap Arula dengan penuh minat. Juga seringaian tipis masih terus menghiasi wajah tampannya.
Si bertender memberikan seloki berisikan wiski, tanpa banyak berpikir Arula langsung meneguknya. Dan sedetik kemudian lehernya terasa seperti terbakar. Arula memang baru pertama kali meminum minuman beralkohol apalagi dengan kadar yang tinggi.
Tak ingin menyerah begitu saja, Arula kembali meminta si bertender untuk mengisi selokinya. Hal itu terus ia lakukan sampai dirinya tidak sanggup lagi untuk meneguk.
Si pria yang masih menontoni Arula dari jarak beberapa meter hanya menyeringai kian lebar dengan mata yang tak lepas dari wajah perempuan itu.
"Ingin bertingkah rupanya. Aku berniat untuk mencarinya, tapi dia sendiri yang datang padaku," ucapnya dengan senyum miring yang menghiasi wajahnya.
Sampai akhirnya Arula mabuk yang membuat akal sehatnya hilang entah kemana. Pasalnya setelah Arula puas minum, ia malah menghampiri pria-pria berjas yang sedang berkumpul disebuah meja tak lupa disana ada beberapa jalang sebagai penghibur.
"Apa boleh aku menjadi wanita penghiburmu?" Arula yang dikenal datar, dingin, dan tidak banyak tingkah sekarang menjadi sebaliknya.
Dari tubuhnya yang digoyang-goyangkan sampai dirinya yang tertawa seperti orang gila, membuat Arula seperti bukan Arula yang orang lain kenal. Sangat berbanding jauh dengan kepribadiannya yang banyak diam.
Arula duduk diatas salah satu pangkuan pria berhidung belang, dengan tangan nakalnya membuat pria itu nampak tidak nyaman diposisinya sekarang.
"Ayo ikut denganku, aku akan membayarmu lebih mahal dari biasanya," ujar si pria nakal itu sembari mengusap-usap bokong sintal Arula.
Arula menggeleng sembari tersenyum membuat si pria mengernyit.
"Kau tidak perlu membayarnya, aku akan melakukannya dengan gratis!" sahut Arula seraya mengalungkan lengannya dileher si pria, mendengar ucapan barusan tentu si pria tersenyum lebar.
Si pria menurunkan Arula dari pangkuannya dan menuntun perempuan itu menuju salah satu kamar yang sudah tersedia di club.
Saat kedua manusia itu sampai didepan pintu kamar untuk melakukan hal tidak senonoh, tampak presensi pria jangkung berdiri dihadapan keduanya.
"Berani sekali kau menghalangi jalanku!" seru si pria berhidung belang terlihat kesal.
"Berikan gadis itu padaku." ujar pria jangkung itu dengan tenang namun penuh intimidasi.
Arula tertawa masih dengan mata telernya, perempuan itu heboh sendiri merasa senang karena direbuti oleh dua pria tampan.
"Kau yakin dia masih gadis?" si pria hidung belang menyeringai seraya melayangkan tatapan meledeknya.
Arula yang sudah kepalang mabuk hanya bisa menatap kedua pria yang sedang beradu argumen itu tanpa repot untuk menimbrung.
"Jika kau tidak memberikan perempuan itu, aku akan mengambil jantungmu sebagai gantinya," ujar pria itu dengan nada dinginnya namun tersirat ancaman didalamnya.
"Memangnya kau siapa berani mengancamku, huh?" si pria hidung belang mulai kesal karena ada seseorang yang berani mengancamnya.
"Aku adalah pemilik perempuan itu."
___TBC___
gimana buat part ini?? i hope
you like this story💗❤️🔥
jangan lupa vote, comment, dan share ya⚜️💗
terima kasih tidak menjadi silent readers:s
see you!


Комментарии