3 страницаОпубликовано: 12.08.2026. 12:47
40

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

Part 2: He is Back

siap-siap buat part ini huhu☺️
are you ready??

enjoy guys!❤️‍🔥

jangan lupa vote dan comment untuk menghargai karya penulis⚜️

Happy Reading⚜️

•••

"Kau selesai kelas jam berapa?"

"Mungkin sekitar jam 3, kenapa?" jawab Arula seraya menolehkan kepalanya pada sang calon suami.

"Nanti datanglah ke studio pemotretanku," pintanya tanpa menjelaskan apapun.

Arula mengernyit heran, "Untuk apa?Kau kan pasti sibuk."

"Temani aku." balas Kares pada akhirnya.

Dengan sedikit ragu Arula menganggukan kepalanya singkat tanpa banyak berkata apapun. Kemudian perempuan itu memakai tas selempangnya serta mengambil buku-bukunya di atas dashboard mobil karena mereka sudah sampai di area parkir kampus Arula.

"Terima kasih sudah mengantarkanku. Aku pergi dulu. Bye!" Arula langsung keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban dari Kares.

Kares hanya mampu mengangguk pelan. Well, ini lebih normal dibanding saat mereka awal berpacaran dulu, mengingat sikap Arula yang dulu sedingin es. Kares memaklumi sikap perempuan itu.

Arula berjalan di lorong kampus hendak menuju kelasnya dengan tenang, namun tiba-tiba Viona berlari ke arahnya dengan begitu heboh.

"Arula gawat! Kau kena masalah!" serunya panik dengan napas yang tersenggal-senggal seperti habis dikejar seekor anjing.

"Masalah apa?" Arula berusaha tenang walaupun setengah dirinya nyaris panik melihat gelagat temannya yang begitu heboh.

"Lokermu penuh sekali...dan pintu lokernya nyaris terlepas..." papar Viona disela tarikan napasnya.

"Lalu?" ucap Arula dengan enteng. Ternyata masalah yang dimaksud Viona adalah pintu lokernya yang nyaris terlepas? Ah_bukan main. Karena menurutnya tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari penuturan Viona barusan.

"Tunggu... Tunggu! Kau tidak marah atau panik ketika pintu lokermu nyaris terlepas karena fans-fansmu yang mengirim surat dan hadiah?" Viona berubah heran. Wajah paniknya memudar seketika.

Arula menggeleng singkat.

"Memangnya calon suamimu tidak marah?" tanya Viona seraya menekan kata calon suami.

"Dia tak mengetahuinya," Arula menggelengkan kepalanya.

Viona lantas menatap Arula tajam, "Kau bisa dianggap berselingkuh jika sampai Kares tahu, Rula! Kau tak ingat jika penggemar Kares itu sangat banyak bahkan sangat membludak. Bisa-bisa kau kena goreng!"

"Kares tidak akan permasalahkan ini. Dia pasti mengerti," sahut Arula begitu tenang.

"Whatever. I warned you, Rula." balas Viona pasrah. Tidak ada gunanya juga ia menceramahi Arula yang keras kepala itu.

"Ini untukmu," Arula menyodorkan semua hadiah yang berada di lokernya pada Viona.

"Kau serius? Kau tidak ingin hadiahnya?" Viona melirik hadiah yang berada di tangannya. Di sana terdapat beberapa kotak coklat dalam berbagai macam. Boneka beruang yang masih terlihat sangat baru dan bersih, ada pula yang memberikan jam tangan mewah yang sudah pasti harganya selangit karena bisa dilihat dari brand ternama.

Dan masih banyak lagi, Viona hampir tidak tahu semua barang yang berada di pelukannya karena saking banyaknya Viona membawa semua hadiah itu.

Arula menggeleng, "Aku hanya akan membawa suratnya saja. Semua akan kubaca!" ujarnya seraya menatap beberapa surat yang terbungkus rapi.

"Oh ya, aku ada kelas sekarang, aku pergi ya!" selanjutnya Arula pamit kemudian berjalan meninggalkan Viona yang termangu dengan semua hadiah dipelukannya.

•••

"Eh? Kau Arula, ya? Sedang ada keperluan apa ke sini?" tanya seorang laki-laki sekitar umur 30-an berkaos abu-abu yang Arula kenal sebagai staf di studio ini.

"Aku ingin menemuin Kares." jawabnya singkat.

Setelah kelas selesai, Arula memang langsung pergi ke studio untuk menemani Kares seperti yang laki-laki itu katakan.

Tiba-tiba staf lain yang memakai kaos berwarna putih menghampiri rekannya yang kini bersama Arula. Dari wajahnya terlihat ada gurat cemas di sana.

"Yonina tidak bisa hadir. Tadi managernya memberi kabar
dan mengatakan jika Yonina sedang tidak enak badan. Lalu yang akan menjadi partner Kares siapa? Semuanya sudah siap. Sayang sekali jika kita membatalkan kerja sama dengan majalah terkenal," keluh staf berkaos putih itu yang mau tak mau terdengar oleh Arula yang sejak tadi berdiri di sana.

Mendengar nama orang yang tengah dicarinya, Arula sontak menatap kedua laki-laki dihadapannya_ hendak menanyakan keberadannya. Namun tepat setelah Arula menatap kedua staf itu, kedua staf itu pun kompak menatap Arula hingga beberapa detik kemudian timbul senyuman misterius dikedua laki-laki itu.

"Apa kau ingin menjadi partner-nya Kares?" tawar laki-laki berkaos putih to the point.

Arula mengernyit tidak mengerti sekaligus terkejut mendengar tawaran mendadak itu.

"Apa kau ingin menjadi partner photoshoot majalah bersama calon suamimu?" tanya laki-laki berkaos putih sekali lagi. Kali ini dengan sengaja menyebut kata calon suami berharap Arula menyetujui tawaran dadakannya.

"Tenang saja. Pemotretan ini tentu ada bayarannya. Nanti kami akan mengirimkan uangnya." sambungnya.

"Apa aku dengannya berada di satu frame yang sama?" Arula mulai tertarik dengan ajakan kedua staf ini. Bukan. Bukan soal uang yang ditawarkan, melainkan bagaimana reaksi Kares setelah melihatnya nanti.

Kedua staf itu spontan mengangguk.
"Tentu saja, tapi kalian tidak ada sesi foto berdua. Maksudnya, dalam satu majalah kali ini kalian hanya di foto masing-masing, tidak akan ada foto kalian bersama. Kau mengerti kan?" kali ini staf berkaos abu-abu menjelaskan.

Arula menganggukan kepalanya. Toh wajahnya pun tidak terlalu buruk untuk dipajang di buku majalah. Hitung-hitung mencari pengalaman baru juga. Pikirnya.

"Bagus kalau begitu. Jadi kau ingin menjadi partner-nya kan?" kedua staf itu kembali memastikan dan akhirnya dengan sedikit ragu Arula menganggukan kepalanya.

Di sisi lain dalam hati Arula tertawa. Bagaimana reaksi Kares jika tahu Arula yang akan menjadi partner nya dalam photoshoot kali ini.

"Ayo ikut kami ke ruangan tata rias." Arula pun menuruti ucapan kedua staf itu dan mulai mengikuti ke mana kedua staf itu membawanya.

•••

Sekarang Arula sudah siap dengan dress berwarna hitam selututnya, dengan bibir yang dipoles berwarna merah terang serta kuku yang sudah di cat dengan warna yang serupa dengan bibirnya.

Ketika memasuki ruangan yang hendak digunakan untuk pemotretan, Arula dapat melihat calon suaminya di sana. Laki-laki itu memakai pakaian berwana coklat dengan jam tangan mahal yang berada dilengan kirinya.

Nampak begitu sempurna.

Saat sedang asik-asiknya menontoni sang calon suami, tiba-tiba suara lain membuyarkan segala khayalan Arula tentang Kares.

"Nona Arula, bisa tolong berbaring disini? Pemotretan hendak dimulai."

Mendengar nama tidak asing itu terpanggil di lingkungan kerjanya sontak saja membuat Kares langsung menoleh ke asal suara. Di sana ia dapat melihat Arula dengan dress seksinya serta make up yang cukup tebal menghiasi wajahnya.

Seketika Kares membatu. Tidak menyangka akan mendapati calon istrinya di ruang pemotretan.

Yang membuat Kares semakin heran bukan kepalang adalah bagaimana bisa Arula ada disini? Memang benar Kares sendiri yang meminta Arula datang ke studio, namun bukan datang ke ruang pemotretan dan menjadi model dadakan seperti ini, apalagi pemotretan ini nanti akan dipajang di salah satu majalah terkenal. Kares tidak rela jika Arula memamerkan tubuh indahnya ke khalayak ramai.

Bagai model yang sudah terbiasa, Arula tidak merasa kaku sedikit pun dengan berbagai pose seksi yang dilakukannya. Arula hanya sedikit gugup kerika orang-orang mulai memandanginya. Mereka semua pasti sudah mengetahui statusnya dengan Kares bukan?

Semua itu tidak luput dari pandangan mata tajam Kares sehingga ketika melihatnya membuat Kares ingin sekali menyeret Arula ke ruang ganti dan memarahinya atau mungkin sekedar memberi sedikit pelajaran agar calon istrinya itu kapok.

Ketika Kares akan memanggil Arula, sebuah suara menggagalkan niatnya.

"Kita lanjutkan ke sesi foto berikutnya. Tolong bantu Kares berganti pakaian ke sesi kedua," Kares meninggalkan ruang pemotretan yang diikuti oleh asistennya, meninggalkan segala rasa kesal pada calon istrinya.

"Sesi pertama selesai. Kau berganti pakaian lebih dulu ya?" Arula mengangguk singkat kemudian pergi dari sana untuk berganti pakaian.

Saat Arula masuk ke ruang ganti bertepatan dengan itu pula Kares menatapnya sengit bak sebuah laser. Dengan tank top hitam yang memamerkan dadanya yang aduhai serta dilapisi oleh blazer abu-abu yang senada dengan celananya laki-laki terlihat sangat sempurna di matanya.

Arula masuk ke ruang ganti dengan kepala menunduk, mungkin serasa ditelanjangi karena Kares yang terus menatapnya. Beruntung ada seorang wanita yang mengajak Arula mengobrol.

"Ini pakaian untuk sesi selanjutnya," kemudian wanita itu mendekatkan wajahnya pada telinga Arula seraya berbisik, "Saya yakin calon suamimu akan jatuh mimisan ketika melihatmu memakai pakaian ini," ujarnya diselingi senyuman jahil namun berbeda dengan Arula yang tidak berkutik.

Arula tidak terlalu mengerti dengan ucapan wanita tadi, tidak ingin banyak berpikir ia langsung pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.

•••

"Gila! Ternyata benar apa kata wanita tadi. Semoga Kares sudah pergi keluar," Arula mengintip dari celah pintu kamar mandi dan benar saja jika Kares sudah tidak ada di tempatnya.

"Tapi untuk apa aku berharap dia tidak akan melihatku? Nanti juga di sana Kares pasti akan melihatnya kan? Dasar bodoh! Kenapa menjadi model harus serepot ini?!" gerutu Arula pada dirinya sendiri.

Tidak ingin banyak orang terlalu lama menunggu, Arula segera melilitkan selimut kecil pada pinggangnya lalu pergi meninggalakan ruang ganti.

"Nona Arula, kenapa lama sekali? Ayo cepat pemotretan sesi kedua akan segera dimulai," ujar sang fotografer.

"Ya ampun! Sekarang aku paham mengapa dia lama sekali di ruang ganti. Haha!" goda seorang manager wanita yang menemani Arula.

Di sebrang sana Kares baru saja menyelesaikan pemotretan sesi kedua, laki-laki itu menoleh pada Arula dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pakaian yang dipakai oleh perempuan itu.

Sial. Kenapa tidak pakai baju saja sekalian? Rutuk Kares dalam hati.

Dengan dada yang terbakar Kares tidak hentinya menatap Arula seolah hanya itulah satu-satunya objek yang paling menarik diruangan ini.

Setelah pemotretan sesi kedua Arula selesai dengan berbagai pose yang seksi bukan main, mereka pun melanjutkan beberapa sesi lagi yang harus diselesaikan.

Jangan lupakan pakain mereka yang membuat para manager serta fotografer yang melihatnya semakin terpesona. Bahkan si fotografer sempat berucap pada Arula 'Apa kau model baru di sini? Kau terlihat begitu cantik dan sangat ahli berpose'

Dan si fotografer yang tidak sadar jika si calon suami dari perempuan itu mendengarnya, dengan kesal Kares bergumam, "Apa dia tidak memiliki televisi di rumahnya? Apa berita soal lamaranku belum seluas itu sehingga dia tidak mengetahui bahwa perempuan itu adalah calon istriku?! Sial!!" beruntung Kares berucap pelan, jika sampai terdengar oleh orang lain maka sudah dapat dipastikan hilang sudah citranya sebagai laki-laki baik dan lembut.

•••

"Dua tahun yang lalu kau merupakan perempuan manis dan penurut. Tapi sepertinya kini kau sudah berubah. Sekarang kau jadi perempuan yang sangat seksi dan menggoda. Ahh_Aku jadi menyesal karena telah meninggalkanmu, tapi jangan bersedih sayang. Aku akan kembali dan merebutmu dari model sialan itu!"

Pria dengan setelan jas mahal itu menyimpan tab nya dengan sedikit kasar kemudian mulai berujar pada bawahannya, "Siapkan jet pribadi malam ini." perintahnya dengan nada dingin disertai seringainnya yang mampu melumpuhkan siapapun yang melihatnya.

___TBC___

yeayy pelan-pelan yak! Gimana buat part ini?? Semoga suka dan menghibur!❤️‍🔥💗

jangan lupa vote, comment, dan share yaa⚜️💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!