Озвучивание не поддерживается в этом браузере
Part 1: Accept You
yuhuu aku comebackk⚜️
oiya cuma mau bilang story ini genrenya dark romance ya jadi nikmati alurnya pelan-pelan hihi❤️🔥
silakan vote untuk menghargai karya penulis💗
enjoy!
Happy Reading⚜️
•••
Arula terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara bel apartementnya yang berbunyi. Perempuan itu mengucek matanya dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat pegal karena sehabis tidur. Dengan keadaan yang masih setengah sadar Arula mulai beranjak dari ranjang untuk menuju pintu.
CEKLEK
Arula membuka pintu dan tidak mendapati siapa pun di depannya. Ia celingukan mencari seseorang yang tadi telah menekan bel apartementnya.
Saat tidak sengaja melihat ke arah lantai ternyata di sana terdapat box berukuran sedang berwarna merah jambu yang di hiasi sebuah pita di atasnya. Melihat itu Arula langsung mengetahui siapa pengirim dari benda tersebut.
Arula mengukir tersenyum dan mengambil box itu kemudian kembali masuk ke dalam apartement.
Perempuan itu duduk di sofa yang di depannya terdapat televisi yang berukuran sedang. Arula lantas membuka box itu untuk melihat apa isinya.
Begitu penutupnya ia angkat ternyata di dalam kotak tersebut terdapat selembar kertas, setangkai bunga mawar merah yang masih segar, serta satu buah dress selutut berwarna hijau tosca. Well, malam ini mereka memang berencana untuk makan malam bersama di sebuah restoran yang telah Kares pesan.
Arula meraih kertas yang terdapat tulisan tangan kekasihnya yang sangat ia kenali itu. Lantas ia segera membacanya.
Selamat pagi pacarku yang manis, bagaimana hari ini? Kau bermimpi indah? Aku harap kau bermimpi indah karena memimpikanku ahaha.
Hari ini jadwalku cukup padat dan pasti kita bertemu sedikit terlambat. Aku memiliki rencana untuk mengajakmu makan malam walaupun agak sedikit sedikit. Maaf juga karena hari ini aku tidak bisa mengantarkanmu ke kampus, sekarang kau ada kelas pagi kan? Cepatlah bersiap agar tidak terlambat.
Dari kekasihmu, Kares Edwin.
Arula mengulum senyum begitu selesai membaca secarik kertas penuh cinta itu, ia lantas merapikan kembali barang-barang tersebut ke dalam box dan beranjak dari sofa untuk segera bersiap-siap berangkat ke kampus, mengingat hari ini Arula memang memiliki kelas pagi.
•••
"Bagaimana hubunganmu dengan model tampan itu?" tanya Viona pada Arula yang kini berada di depannya.
Mendengar serangan seperti itu Arula tersedak dan Viona cepat-cepat memberikannya sebotol minuman. Omong-omong mereka saat ini sedang berada di kantin kampus untuk mengisi perut setelah beberapa jam lalu mengikuti kelas kuliah yang begitu merampas tenaga serta pikiran.
"Kenapa bertanya itu?" Arula balas bertanya. Bukannya tidak mau menjawab ia hanya merasa tidak nyaman jika membahas perihal hubungannya dengan Kares yang buat orang sembarangan.
Viona menggeelng kecil, "Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran." sahutnya berusaha untuk tidak memaksa Arula.
"Hubunganku dengannya baik," balas Arula pada akhirnya. Berharap bahwa jawaban singkat itu membuat Viona puas.
Viona mengangguk singkat, Mereka pun kembali fokus pada makanan masing-masing.
"Oh ya, tadi Niko mencarimu." ujar Viona kembali menghentikan acara makan mereka.
"Mencariku? Kenapa?" Arula bertanya heran.
Viona mengedikan bahunya pelan,"Aku kurang tahu, tadi dia hanya menanyakanmu saja." sahut Viona apa adanya.
Arula hanya membalasnya dengan anggukan singkat, tanda bahwa ia tidak terlalu peduli juga.
Mereka pun akhinya fokus kembali pada makanan masing-masing.
"Setelah ini kau ada kelas lagi?" disaat makanannya nyaris tandas Viona kembali melayangkan pertanyannya.
Arula menggeleng, "Setelah makan aku akan langsung pulang."
•••
Waktu telah menunjukan pukul 22:30, hal itu membuat Arula menjadi sangat kesal.
"Ck! Jam berapa dia akan menjemputku? Sekarang sudah larut sekali!" Arula yang sudah rapi hanya bisa mendudukan dirinya di ruang tengah. Perempuan itu sudah siap sejak jam 9 malam, bayangkan saja sudah seperti apa sekarang riasannya. Tapi, tentunya tidak akan membuat wajah Arula menjadi jelek, karena tanpa make up saja wajahnya sudah sangat cantik.
Ketika Arula nyaris memejamkan mata akibat mengantuk, tiba-tiba suara bel berbunyi hingga membuat Arula kontan terbangun saking terkejutnya.
Arula bangkit dengan wajah mengantuk bercampur kesal. Bagaimana tidak, disaat Arula hendak menutup mata karena mengantuk, seseorang datang mengganggunya. Bukan kesal lagi, rasanya jika dihalalkan untuk membunuh orang Arula sangat ingin menebas kepala si pengganggu.
Arula membuka pintu hingga munculah si tampan Kares Edwin dengan wajah tanpa dosanya. Laki-laki itu tersenyum begitu sumringah seolah rasa lelah yang tadi ia rasakan akibat jadwal yang padat sirna begitu saja.
Senyuman Kares perlahan memudar saat melihat ekspresi Arula yang menatapnya datar.
"Kau kenapa?" ujarnya begitu polos tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aku ingin tidur, besok saja kita makan malamnya," tukas Arula tanpa repot mengukir senyum.
"Basuh wajah saja agar kantuknya hilang," sahut Kares begitu enteng tanpa mengetahui pengorbanan Arula ketika memakai make up.
Arula menatap Kares dengan sorot tajam, "Kau pikir memakai make up mudah?! Aku sudah mempersiapkan diri dari jam 9!" balasnya kesal bukan main.
"Bukankah aku sudah mengatakan jika hari ini jadwalku padat sehingga kita pergi makan malamnya sedikit larut," balas Kares senantiasa berusaha sabar dan mengerti perasaan kekasihnya.
"Tapi aku tidak tahu larut yang kau maksud itu jam berapa! Aku mengira jam 9 atau mungkin jam 10," balas Arula tidak mau kalah.
"Baiklah. Baiklah. Aku minta maaf jika sudah membuatmu menunggu lama. Sekarang ayo kita berangkat, nanti makin malam," Kares hendak meraih lengan Arula, namun perempuan itu dengan segera menepisnya, "Aku sudah bilang kalau aku mengantuk, besok saja!"
"Arula please. Jangan seperti ini, aku sudah bergegas datang ke sini agar kita tidak terlambat. Aku bahkan membatalkan jadwalku yang terakhir," Kares tanpa sadar memohon pada perempuan itu. Ia tidak memedulikan gengsinya dan masih berusaha untuk membujuk Arula berharap perempuan itu mengerti akan perjuangannya untuk meluangkan waktu agar mereka bisa bertemu disela sibuknya.
Arula tertegun mendengarnya merasa cukup tersentuh dengan perjuangan kekasihnya bahkan sampai-sampai membatalkan jadwalnya, akhirnya Arula pun luluh dan mengangguk mengiyakan. Hal itu kontan membuat Kares dapat bernapas lega dan tersenyum lebar.
Memang, membujuk Arula itu harus dengan kesabaran ekstra dan lemah lembut tidak boleh ada unsur membentak ataupun dengan marah-marah, yang ada nanti malah Kares yang dicueki seharian.
"Jika mengantuk tidur saja. Nanti jika kita sudah sampai aku akan membangunkanmu." ucap Kares menatap kekasihnya. Beruntung mereka memakai sopir jadi Kares bisa dengan leluasa menatap perempuan itu.
Arula menggeleng kecil, "Aku sudah tidak mengantuk."
•••
Kini mereka berada di restoran mewah bintang lima, tentu saja restoran itu adalah pilihan Kares Edwin.
Setelah hidangan pembuka tiba, mereka pun segera memakannya dengan khidmat. Sayang sekali bukan jika makanan mahal didiamkan terlalu lama nanti bisa-bisa menjadi dingin dan tidak enak.
Kares telah selesai dengan makanannya terlebih dulu dan kini laki-laki itu tengah memfokuskan diri menatap kekasihnya yang sedang mengelap mulutnya dengan serbet kecil, tampak sangat anggun dan terlihat dewasa dimata Kares. Mengingat bentang usia mereka yang terpaut 3 tahun membuat Kares merasa yakin bahwa Arula sudah mulai serius juga dengan usianya yang kini sudah menginjak 23 tahun.
"Bagimana pemotretan hari ini?" Arula membuka percakapan setelah keheningan tercipta diantara keduanya.
Kares mengukir senyum menatap sang kekasih, "Lancar seperti biasanya, hanya saja aku membatalkan satu jadwal terakhir," Arula hanya mengangguk pelan meskipun ia sedikit merasa tidak enak karena telah membuat Kares harus membatalkan jadwalnya hanya untuk makan malam mereka.
"Aku ingin membicarakan sesuatu," lanjut laki-laki itu seraya membenarkan jasnya yang sama sekali tidak kenapa-napa.
"Sekarang kau sedang berbicara," kekeh Arula membuat Kares tanpa sadar ikut tertawa pelan.
"Ini serius," ucap Kares akhirnya hingga membuat kekehan kecil Arula mereda.
"Ya sudah apa?" Arula mempersiapkan kekasihnya untuk melanjutkan ucapannya.
Kares tidak langsung menjawab laki-laki itu terlihat berdeham pelan untuk sekedar membasahi kerongkongannya. "Tidak terasa kita sudah menjalani hubungan ini selama 2 tahun dan selama 2 tahun ini aku merasa sangat nyaman denganmu, Arula. Dan aku ingin menjalani kehidupanku seterusnya bersamamu."
Laki-laki itu kembali melanjutkan, "Aku tahu kita masih kekanak-kanakan jika sedang mengahadapi masalah, tapi pada akhirnya kita selalu bisa mengatasi itu semua dengan baik tanpa harus ada kata perpisahan. Aku sangat bersyukur karena kamu selalu sabar dan mengerti bagaimana padatnya jadwal pekerjaanku. Dan aku ingin kamu terus di sisiku sampai kulitku keriput dan sampai aku bisa melihat rambutmu ikut memutih juga," jeda sejenak sebelum laki-laki itu kembali meneruskan.
"Jadi, untuk kedua kalinya. Maukah kau nerimaku sebagai calon suamimu?" ucap Kares pada akhirnya seraya menyodorkan sebuah kotak beludru merah berisi cincin berlian yang sangat cantik dan elegan. Jangan tanya berapa harganya karena sudah pasti harganya selangit.
Saat ini dahi laki-laki itu sudah dipenuhi oleh keringat, mungkin efek ia sangat takut jika ditolak untuk kedua kalinya.
Mendengar semua serentetan kalimat panjang lebar dari kekasihnya sukses membuat hati Arula terenyuh, matanya tak bisa berpaling dari cincin indah yang dulu sempat akan menghiasi jari manisnya. Seperti 6 bulan lalu dihari ulang tahunnya, Kares juga melamarnya di waktu yang tidak terduga, namun naas lamaran yang meriah itu Arula tolak.
Bukan apa-apa, Arula hanya ingin lulus kuliah terlebih dulu tanpa memikirkan banyak hal, masa depannya masih panjang. Arula ingin meraih cita-citanya terlebih dulu sebelum akhirnya ia akan menikah.
Lagipula masa depan Kares pun masih panjang, laki-laki itu masih harus meneruskan pekerjaannya sebagai model karena itu adalah impiannya.
Arula pikir mereka masih terlalu belia untuk menikah. Arula takut suatu hari Kares sudah muak dengannya dan berakhir dengan perceraian. Arula tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya tanpa sosok laki-laki itu, ia pasti akan merasa kesepian lagi.
Tapi Arula juga sangat membutuhkan Kares di sisinya. Selama 2 tahun ini belum pernah sekalipun Kares membentaknya meskipun Arula membuat kesalahan, namun Kares selalu memberinya nasihat layaknya Arula masih kanak-kanak, alih-alih menegurnya sebagai seorang perempuan dewasa.
Kares juga selalu membuat perubahan baik pada diri Arula. Dan kali ini Arula mulai berpikir 'sepertinya aku harus menghabiskan sisa hidupku dengannya' jadi sekarang Arula akan memilih jalan untuk dirinya sendiri.
Dan...
"Ya."
"Apanya yang 'Ya'?" tanya Kares tak mengerti dengan raut wajah yang masih gugup.
"Aku menerima lamaranmu."
"Memangnya kau yakin jika yang barusan aku lontarkan adalah sebuah lamaran?" Kares mengerling jahil, meski begitu tanpa sadar ia menghembuskan napas lega.
"Ya sudah tidak jadi," balas Arula kepalang santai sehingga mau tak mau Kares berucap heboh.
"Ehh! Ehh! Tidak bisa begitu. Tadi aku hanya bercanda hehehe," Kares terkekeh pelan hingga membuat kedua matanya menyipit membentuk bulan sabit. Namun tidak lama laki-laki itu kembali memasang raut wajah serius.
"Terima kasih sudah menerimaku, aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu dan berusaha membuatmu bahagia," tutur Kares bertekad sungguh-sungguh, setelahnya laki-laki itu mendekat dan memasangkan cincin indah itu dijari manis calon istrinya.
Tak lama kemudian terdengar suara riuh tepuk tangan dari berbagai arah, ternyata para pengunjung yang berada di restoran menatap kedua insan itu dengan senyum bahagia bahkan sampai ada yang menitikan air mata akibat terharu.
Meskipun Kares melamarnya dengan cara yang sederhana, tapi Arula sangat senang. Menurutnya, ini lebih romantis dari pada harus meriah seperti bulan lalu yang sempat ia tolak lamaran kekasihnya ini.
Pasangan yang sedang berbahagia itu saling melemparkan senyuman satu sama lain. Arula bahkan ingin menjerit saking menawannya senyuman Kares yang begitu menawan bak titisan dewa Yunani.
•••
Belum genap sehari setelah insiden Kares melamarnya, berita hot pagi ini sudah hadir di mana-mana tentang kabar mengejutkan itu.
BREAKING NEWS
MODEL TERKENAL 'KARES EDWIN' TELAH MEMPERSUNTING KEKASIHNYA 'ARULA DARA' SEBAGAI CALON ISTRINYA.
HOT BREAKING
'KARES EDWIN' TELAH MELAMAR KEKASIHNYA 'ARULA DARA' MALAM TADI DI RESTORAN BINTANG LIMA!
NEWS
MODEL TAMPAN KARES EDWIN TELAH MELAMAR KEKASIHNYA!
HOT NEWS
SELURUH PENGGEMAR GEMPAR MENDENGAR KABAR KARES EDWIN TELAH MELAMAR ARULA DARA SEBAGAI PASANGAN HIDUPNYA!
HOTS
PENGGEMAR KECEWA KARES EDWIN MALAH MELAMAR ARULA DARA ALIH-ALIH YONINA ALLORA.
"Artikel paling akhir buruk banget! Aku tidak suka!" Arula melempar ponselnya ke atas meja dengan kasar.
Kares yang sedang mengambil minum langsung menoleh menatap calon istrinya itu. Semalam Kares memang menginap di apartement perempuan itu, itupun ia harus mengeluarkan rayuan mautnya.
Disaat Arula sudah melarang keras agar Kares tidak bermalam di apartementnya karena ia takut para tetangga akan membuat gosip yang tidak-tidak. Namun dengan penuh keyakinan Kares berkata, "Ucapkan kepada tetanggamu itu jika aku sekarang adalah calon suamimu. Tidak ada salahnya calon suami menginap semalam di apartement calon istirnya."
Memang mudah bagi Kares mengatakan itu, tapi tidak bagi Arula.
"Kenapa?" tanya Kares sembari mendudukkan bokongnya di sebelah Arula.
"Memangnya sedekat apa kamu dengan Yonina? Sampai-sampai sebagian fansmu kecewa jika kau melamarku?"
"Tidak perlu dibaca berita-berita yang membuatmu sakit hati, sayang." Kares memegang tangan calon istrinya lembut.
"Tadi aku penasaran, jadi aku spontan melihatnya. Oh ya, sekarang kau ada pemotretan kan?" tanya Arula memilih untuk mengalihkan topik.
"Sudah ku batalkan," balas Kares sangat enteng, seperti berkata 'kunci mobilku hilang tapi aku tidak ingin mencarinya.'
Arula mengernyit tak setuju kenapa manusia bodoh ini malah membatalkan jadwalnya? itu kan akan menghasilkan banyak uang.
"Kenapa kau membatalkannya? Katanya itu pemotretan majalah terkenal," Arula berusaha tetap lembut walau setengah hatinya merasa tidak ikhlas.
"Aku ingin menghabiskan waktuku hari ini bersamamu!" ucapnya begitu kecintaan sembari mengikis jarak diantara keduanya, namun dengan cepat Arula segera menghindar sebab merasa geli dengan tingkah laki-laki itu.
"Kau kenapa sih? Sana jauh-jauh jangan dekat-dekat!" usir Arula seraya mendorong tubuh Kares agar menjauh dengan gestur tangan mengusir seolah Kares memiliki penyakit menular.
Tanpa merasa tersinggung sedikit pun Kares beringsut mendekatkan wajahnya pada telinga Arula sembari berbisik dengan begitu seksi, "Aku akan membuatmu tidak bisa jauh-jauh dariku," dengan cepat pula laki-laki itu menggondong tubuh Arula secara bridal membuat si empu yang berada dalam gendongan menjerit-jerit karena terkejut.
Mereka pun pergi menuju kamar Arula dimana mereka tidur di sana tadi malam.
___TBC___
tenang guyss, tokoh utama cowonya bentar lagi dateng. SENG SABAAAR YAKK☺️😗
VOTE, COMMENT, SHARE YUK!! ⚜️💗
terima kasih tidak menjadi silent readers:d
see you!


Комментарии