1 страницаОпубликовано: 12.08.2026. 09:10
60

Озвучивание не поддерживается в этом браузере

PROLOG

haii aku datang membawa cerita baruuu. yang onoh aku unpub dulu karena kurang srek heheh.

tes ombak dulu, i hope you like this story guyss!💗

enjoy!

Happy Reading⚜️

•••

"Kau berjanji kan tidak akan pernah meninggalkanku?" seorang perempuan yang tengah berbaring di sofa mendongakan kepalanya bergerak ingin melihat wajah sang kekasih, kepalanya berbaring pada paha kekasihnya yang di jadikan sebagai bantal.

Laki-laki tersebut mengalihkan pandangannya dari yang awalnya sedang menonton film di televisi kini tertuju pada perempuan yang sangat ia cintai, "Apa aku pernah berkata kalau aku akan pergi meninggalkanmu? Seharusnya aku yang bertanya itu, apa kau akan meninggalkanku?"

Perempuan berusia 23 tahun tersebut menggeleng lucu, "Aku tidak akan meninggalkanmu. Walaupun fans fanatikmu terus menerus menerorku dengan komentar jahatnya, aku percaya kau akan melindungiku jika ada yang coba-coba menyakitiku," perempuan itu beranjak duduk dan memeluk laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya selama dua tahun itu.

Laki-laki tersebut membalas pelukannya dengan hangat, "Arula, aku sangat mencintaimu. Aku tak akan melepaskanku," setelah mengucapkan kalimat itu, laki-laki yang menjadi kekasih Arula pun mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

Arula menatap mata kekasihnya dengan tatapan penuh cinta, "Aku mencintaimu juga, Kares." setelah mengucapkan itu Arula memberanikan mencium rahang kekasihnya.

Arula Dara, seorang mahasiswi yang sangat di kagumi oleh banyak orang di kampusnya. Tak sedikit pun para perempuan lainnya yang iri kepada Arula karena mempunyai hubungan asmara dengan model tampan papan atas, Kares Edwin.

Kares Edwin, model tampan yang selalu menghiasi majalah-majalah terkenal serta kerap sekali muncul di televisi sebagai model iklan dari produk terkenal. Tak sedikit para model wanita yang ingin memiliki hubungan asmara dengan model tampan itu. Kata orang, Arula beruntung bisa menjadi kekasih model super tampan seperti Kares. Tapi bagi Kares, dirinya lah yang beruntung bisa memiliki Arula dan bisa menjadi kekasih perempuan kecilnya itu.

Pertemuan Arula dan Kares cukup menarik. Mereka bertemu saat di supermarket, Arula yang tengah berbelanja banyak karena kebutuhan bulanannya sudah habis tapi sialnya Arula saat itu lupa membawa dompetnya. Dan pada saat yang sama Kares menolongnya. Kares membayar semua belanjaan milik Arula.

Bukannya tersenyum dan berterima kasih, Arula justru menatap sinis pada Kares. Saat itu Arula merasa dirinya seperti pencuri karena berbelanja banyak dan berpura-pura jika dompetnya tertinggal, lalu laki-laki tampan yang memakai topi itu membayar belanjaannya seolah mereka saling mengenal.

Dia pikir aku ini miskin apa? Dia pikir aku ini tidak mampu karena tidak bisa membayar semua belanjaanku? Aku juga punya uang! Sok-sok an membayari segala. Pikir Arula saat itu.

Kares yang saat itu sedang membeli minuman di supermarket tanpa ada bodyguard yang menemaninya harus memakai topi sebagai penyamarannya agar tidak ada fans yang mengenalinya.

Kares yang saat itu tidak sengaja melihat Arula yang menatapnya sinis pun sedikit penasaran. Ada apa dengan perempuan ini, kenapa menatapku seperti itu, padahal aku kan sudah membayar belanjaannya. Pikir Kares kala itu.

Sejak saat itulah Kares mencoba mengenal Arula lebih jauh lagi dengan cara diam-diam.

Berawal dari mereka yang berkenalan, Arula masih terganggu dengan adanya Kares yang selalu mengganggunya. Tapi seiring berjalannya waktu dengan Kares yang selalu menghiasi hari-hari Arula yang sedikit suram karena kisah masa lalunya, membuat Arula menjadi terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu.

Meski dilanda jadwal pemotretan yang padat Kares selalu sempat mengirim sebuket bunga segar kepada Arula di waktu sibuknya sebagai seorang model yang cukup tenar, padahal waktu itu mereka belum berpacaran.

"Kenapa dulu kau gencar sekali mendekatiku?" Arula masih memeluk Kares dengan erat disela pertanyaannya yang mengudara.

Kares terlihat menerawang kepada kejadian 2 tahun yang lalu di saat mereka pertama bertemu.

"Awalnya aku hanya penasaran dengamu karena dulu kau begitu sinis tiap melihatku, padahal waktu itu aku sangat tampan dan wangi begitu pun dengan sekarang. Belum ada seorang perempuan pun yang berani melihatku seperti itu. Jadi aku semakin gencar untuk mendekatimu.
Tapi setelah kita resmi berpacaran, kau ternyata jauh lebih menggemaskan yang membuatku semakin menyayangimu. Dan setelah aku mengetahui masa lalumu yang kelam itu, aku memiliki keinginan besar untuk selalu bisa membuatmu tersenyum dan bahagia," papar Kares panjang lebar dengan senyuman manis yang tertera di wajah tampannya.

"Memangnya dulu aku terlihat begitu jutek ya?" tanya Arula begitu polos.

Kares tersenyum sembari mengacak surai coklat milik Arula dengan gemas seraya mengangguk, "Ya, dulu kau terlihat sangat galak dan beraura misterius."

Arula berdecih diiringi tawa pelan, "Berlebihan."

"Itu kan menurut sudut pandangku, sayang," ujar Kares bernada menggoda.

"Terserah."

Arula beranjak dari duduknya untuk mengambil minum di dalam kulkas, gerak-gerik perempuam tidak luput dari pandangan Kares.

"Kenapa rokmu pendek sekali?" dengus Kares sedikit kesal.

Arula menatap roknya sendiri.
"Pendek dari mana? Ini tidak terlalu. Apa aku harus mengenakan rok yang sepanjang mata kaki agar kau puas?"

"Hm, boleh." jawab Kares asal yang mendapat delikan dari Arula.

"Dasar posesif!"

"Setelah ini antarkan aku pulang," lanjut Arula.

"Kenapa buru-buru sekali? Padahal kau baru sebentar di sini."

Kares dan Arula saat ini memang berada di apartement mewah nan megah milik Kares. Sehabis pulang dari kampusnya pukul 2 siang tadi, Kares meminta Arula untuk segera datang ke apartementnya sehingga membuat Arula tidak memiliki waktu untuk sekedar mengganti pakaian.

"Sebentar apanya? Sekarang sudah jam 9 malam dan aku di sini sejak jam 2 siang!" dengus Arula dengan cebikan dibibirnya.

"Kenapa kau tidak menginap saja di sini? Aku akan memelukmu dengan erat agar kamu tidak kedinginan." ucap Kares dengan tatapan tengilnya.

"Yang ada nanti bukan hanya tidur. Dasar modus!" Arula beralih mengambil tasnya yang tergeletak di atas single sofa.

"Ayo cepet antarkan aku pulang atau aku pulang sendirian? Baiklah!" Arula hendak berjalan ke arah pintu setelah memakai sepatunya. Namun Kares dengan tergesa berdiri dan memblokir langkah kekasihnya, "Tidak tidak! Aku akan mengantarkanmu pulang. Aku takut ada sesuatu yang terjadi pada kekasihku. Atau bagaimana jika aku saja yang menginap di apartementmu? Itu bukan ide yang buruk." seru Kares dengan sumringah tak lupa kedua alis tebalnya bergerak naik turun masih belum puas menggoda kekasihnya itu.

"Tidak!"

Seketika senyuman manis Kares memudar detik itu juga ketika jawaban final Arula mengudara.

"Memangnya kenapa aku tidak boleh menginap di apartementmu? Apa aku ini kurang tampan hingga kamu tidak ingin tidur bersamaku?" Kares tampak merajuk, tapi anehnya di mata Arula Kares terlihat sangat menggemaskan.

"Bukan begitu. Aku hanya takut jika ada tetangga di apartementku yang curiga kenapa perempuan yang tinggal sendirian membawa laki-laki ke unitnya larut malam. Apa lagi kan statusmu seorang model terkenal. Kau tahu? Kau sangat tampan!" Arula tersenyum sembari menangkup kedua pipi Kares membingkainya dengan kedua tangan mungilnya.

"Apa aku lebih tampan dari mantan-mantanmu?" tanya Kares tiba-tiba.

Arula spontan berbalik dan melenggang menuju pintu begitu saja dan hendak membukanya.

Kares yang sadar telah salah berucap langsung dengan cepat mencegat Arula, "Aku hanya bercanda sayang, kamu tak perlu marah."

Arula menghadap Kares dengan wajah datar, "Aku tak marah, aku hanya malas jika kau membahas soal itu."

"Baiklah. Tapi sekarang kamu sudah melupakan mantanmu itu kan?"

Arula mengangguk singkat.

Kares tersenyum manis kemudian menggandeng tangan Arula untuk mengantarkan perempuan itu pulang.

•••

"Jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku."

"Ya."

"Besok aku akan ada pemotretan, jadi mungkin besok kita bertemu sedikit terlambat. Tidak apa-apa kan?" ucap Kares sedikit berhati-hati. Takut bila kekasihnya merasa kecewa jika waktu yang akan keduanya nikmati terlalu sedikit.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti dengan pekerjaanmu. Kamu tidak perlu memikirkanku. Jangan khawatir."

Kares mencubit pelan pipi tembam Arula, "Kamu memang kekasih impian, aku sangat menyayangimu. Jaga diri ya."

"Kau berkata seperti itu seakan kita tidak akan ketemu lagi. Aneh!" sahut Arula seraya hendak keluar dari mobil tapi tiba-tiba Kares menghentikan pergeraknnya dengan menahan sebelah pergelangan tangannya.

"Aku meminta bayaranku karena telah mengantarkanmu pulang."

Arula menaikan sebelah alisnya samar kemudian merogoh saku celananya hendak mengambil uang.

"Aku tidak butuh uang. Uangku sudah banyak." sela Kares dengan nada pelan yang sedikit sombong.

Hal itu membuat Arula memutar kedua bola matanya," Ck! Lalu kamu ingin aku membayar dengan apa? Yang aku miliki hanya uang, itu pun tidak sebanyak dirimu!"

Kares menunjuk pipinya berharap Arula paham akan maksud dari kodenya. Arula yang melihat itu pun sontak mengerti namun perempuan itu memilih untuk berpura-pura bodoh, "Kenapa kau menyentuh pipimu? Kau sakit gigi?"

Kares berdecak dengan sedikit cemberut, "Dasar tidak peka, aku ingin dicium tahu!" tuturnya tidak tahu malu. Bagaimana bisa seseorang meminta untuk dicium segamblang itu. Dasar Kares Edwin.

Arula menahan senyumannya,
"Baiklah. Sekarang tutup matamu."

"Tidak mau! Nanti kau malah kabur dari mobil." tolak Kares yang sudah mengetahui akal-akalan kekasihnya itu.

"Tidak akan. Cepat tutup matamu atau tidak sama sekali," ancamnya.

Akhirnya Kares menuruti kata-kata kekasihnya itu, ia menutup mata lalu tiba-tiba...

Cup!

Kares begitu terkejut dan langsung membuka matanya. Ia melihat Arula yang kini menjauhkan wajahnya.

Arula mengecupnya di bibir padahal Kares memintanya untuk mencium pipinya saja.

"Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan menciumku di bibir?" Jika Kares tahu Arula akan menciumnya di bibir pasti ia akan melahap habis bibir ranum milik kekasihnya itu.

Arula mengedikkan bahu pelan, "Hanya ingin."

"Ingin yang lebih?" tawar Kares seraya mendekatkan tubuhnya. Namun Arula yang melihat itu langsung mengelak, "Sudah ya, aku mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur, bye!" Arula cepat-cepat keluar dari mobil mewah milik Kares tanpa memedulikan kekasihnya.

Kares hanya mampu menatap tubuh mungil kekasihnya yang kini berjalan menjauh dengan senyuman yang menghiasi paras tampannya, "Bisa-bisa aku gila karena terlalu cinta padanya."

Tak lama Kares pun pergi meninggalkan basement apartement yang di tempati oleh Arula.

___TBC___

aku ganti bahasanya jadi baku yaa. semoga suka💗

hihi masih prolog nieee, pantengin terus yaa!⚜️💗

tes ombak dulu, i hope you like this story!💗💗

terima kasih tidak menjadi silent readers:d

see you!

Комментарии

0 / 5000 символов
Пока нет комментариев. Будьте первым!