25 страница1 мая 2026, 08:12

24: Who Are You?

DUA bulan telah berlalu. Murid kelas 10, 11, dan 12 kini disibukkan dengan ulangan tengah semester. Hubungan Ethan-Vania baik-baik saja. Bahkan, hampir seluruh Wirajaya iri kepada mereka. Hubungan mereka terkadang ada pertengkaran kecil. Dan Ethan maupun Vania selalu menyelesaikannya dengan kepala dingin. Lalu mereka kembali seperti semula. Ledek-ledekkan, terkadang romantisan yang membuat yang lain gigit jari.

Dan selama dua bulan itu pula, pengawasan Ethan terhadap Vania semakin ketat. Ethan hanya merasa ada yang tak beres, entah itu apa. Bian dan Radit sudah mewantinya agar tidak terlalu mengawasi Vania karena cewek itu pasti akan merasa risih. Dan Ethan pun tersadar dan akhirnya menurut, ia melonggarkan pengawasannya terhadap Vania.

"Udah, lah, Eth. Jangan terlalu di pikirin. Nanti pala lo botak." celetuk Bian saat melihat Ethan masih berkutat dengan MacBook-nya di bangkunya. Ini waktu istirahat dan Ethan menghabiskannya dengan mencari apapun tentang Ivar.

Bian dan Radit sedikit khawatir tentang kesehatan sahabatnya itu. Pasalnya, mau di rumah maupun di sekolah, Ethan sibuk dengan MacBook-nya. Bahkan hampir melupakan makan kalau tida diingatkan oleh Elisa dengan suara yang melengking.

Ethan menaikkan kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya, ia menghela napas lelah, mengusap wajahnya gusar, menutup tab-tab yang tadi ia buka dan mematikan MacBook-nya. "Gue nggak tau harus ngapain lagi. Gue takut kalo misalnya gue nggak bisa jaga Vania, Dit, Yan." jawab Ethan demgan nada gusar.

"Lo pasti bisa. Elisa aja yang selama ini lo jaga. Bisa, kan?" Radit menyodorkan sebotol Pocari Sweat ke arah Ethan. "Masalahnya beda lagi. Elisa itu adek gue. Lebih gampang. Kalo Vania? Gimana gue bisa ngejaga?" Ethan membuka tutup botol tersebut, lalu meminumnya. "Akhir-akhir ini juga gue mikirin tentang hubungan gue sama Vania. Nggak tau, rasanya kayak ada yang nggak beres aja gitu. Nggak ngerti gue. Udah dua bulan lebih gue ngerasa kayak gitu."

Radit dan Bian sama-sama menghela napasnya. "Lakukan apa yang harus lo lakukan, Eth. Lo tau saat dimana lo harus melakukan sesuatu. Lakukan semampu lo. Gue tau ini cheesy abis, tapi serius, how hard your problems are, we're always standing besides you. Your problems, our problems too, begitupun sebaliknya." kata Radit tiba-tiba.

Ethan tersenyum miring, "Cewek banget." Radit menggeplak kepala Ethan, "Kan udah gue bilang di intro-nya."

        Mereka tidak tahu, Vania mendengar semuanya.

• • •

VANIA duduk di hadapan Ethan yang terlihat gusar. Beberapa kali ia mengusap wajahnya, lalu merubah gaya duduknya seakan tak nyaman. Vania menghela napas, pasti ada yang dia sembunyiin dari gue.

        "Lo kenapa, sih? Kok kayak nggak nyaman gitu?" Ethan terlihat kaget, lalu menatapnya, matanya mengedip beberapa kali lalu ia mengeluarkan cengirannya, "Nggak apa-apa. Nggak enak aja kursinya, keras."

        Vania mengernyit. Ini di kursi Café deket sekolah yang biasa Ethan duduki, dan ini ada matrasnya sehingga sedikit empuk. Sekarang beri tahu Vania, dari sisi mana kursi ini keras? Dan jawaban Ethan membuat Vania semakin curiga.

        "Keras? Ini ada matrasnya, Eth. Lo kenapa, sih?"

        Skak. Ethan mati kutu. Njir, bego banget gue, batinnya mengumpat. Ia terdiam, menghindari tatapan Vania.

        "Hello, guys! What yo doin'?" tiba-tiba Bian duduk di samping Ethan, tak lama, Radit duduk di sebelah Bian. Mereka memang nongkrong di Café dekat sekolah dengan Bian, Radit, Fara, Risca, Elisa, Claris, dan juga Deto.

        Selang beberapa detik, Fara, Risca, Elisa, Claris, dan Deto pun sampai. Para cewek duduk di barisan Vania, dan Deto duduk di sebelah Radit.

        Ethan diam-diam bernapas lega, ia memberikan tatapan berterimakasih ke arah Bian, Bian hanya mengangguk kecil.

        Deto mengernyit merasakan hawa tak enak dari Vania maupun Ethan. Vania memainkan sedotannya, bertopang dagu. Ethan menatap Vania seolah meminta maaf. Deto mengakui, Ethan adalah cowok tampan pujaan para gadis, ia pun ramah kepada semua gadis. Namun ada satu yang membuat gadis tak bosan untuk menjadikan Ethan sebagai pujaan mereka. Kalian pasti merasakan hawa itu jika berada di dekatnya, hawa kemisteriusan.

        Deto tahu track record Ethan yang menjadi culun karena ada sepupu perempuannya yang bersekolah di Wirajaya. Cowok itu unpredictable. Saat Deto mengenal Ethan, ia mengakui hal yang sepupunya itu bilang. Tapi, Deto melihatnya dari sisi laki-laki.

        Mereka mengobrol dengan ramai. Bahkan Deto sudah bisa menyesuaikan diri.

• • •

"ETH," panggil Vania saat mereka sampai di mobil. Ethan menoleh, menatap Vania dengan tatapan yang lembut, "Ya?"

        "Kenapa lo beda?" tanya Vania to the point. Ethan terkekeh, "Apaan sih? Enggak kok. Gue nggak beda. It is me."

        "Enggak, Ethan." balas Vania kekeuh, ia membuang muka. "Van," panggil Ethan lembut, ia menyentuh dagu Vania dan mengarahkan agar menatapnya. Perasaannya semakin tak karuan, ini perasaan gelisahnya yang klimaks. Ia benar-benar yakin pasti ada sesuatu yang membuat rahasianya benar-benar terkuak nyata di hadapan Vania. Apapun rencana Ivar itu.

        "You know what, Van? Apapun yang terjadi. Apapun yang akan terjadi. You have to know that I love you, I really do." Ethan berkata dengan lembut. Vania mengangguk, "I know it. I trust you. And I love you too. Tapi gue cuma mau nolong lo dengan kasih tau gue apa yang membuat lo jadi kayak gini." Ethan tersenyum, mengecup dahi Vania, "Nggak ada, Van."

        Ia sangat takut kehilangan Vania. Sangat. Vania yang di perlakukan seperti itu hanya terheran, walaupun tak ayal ia merasa senang. Dan perasaannya pun juga tak enak.

        "Oke. Kita harus pergi. Maaf karena tadi terdengar cheesy abis." Vania hanya tersenyum, "Lo tau? Lo aneh kalo lagi cheesy." Vania memicingkan matanya sembari berkata dengan nada seperti di iklan.

        Ethan hanya terkekeh. Lalu menjalankan mobilnya. Namun saat ia sampai di pertigaan jalan, sebuah mobil besar menghalanginya. Membuat Ethan ngerem mendadak.

        Mereka—orang yang dari mobil besar, keluar membuat Ethan menahan napasnya. Itu anakbuah Ivar. "Itu siapa, Eth?" tanya Vania. "Lo stay di sini, oke. Kunci pintu. I love you." Ethan mengecup bibir Vania singkat, membuat Vania membeku.

        "Gue akuin, gue cukup kagum sama strateginya pemimpin kalian," Ethan bersender di mobilnya. Menatap orang-orang berbadan yang cukup kecil namun menenteng senapan mereka. "Sekarang, di mana dia?" tanya Ethan tajam. 

        "Wow, Ethaniel!—" seseorang yang Ethan kenali keluar dari kumpulan orang-prang tersebut. Dia ketua pasukan dari The Crims—kelompok yang dipimpin oleh  Ivar.

        "Panggil aja Ethan." Ethan memutar bolamatanya, orang tersebut terkekeh. "Oke, Ethan. Lo masih ngenalin gue, huh?"

        Ethan tersenyum miring, "Gue maunya sih, nggak ngenalin lo lagi." Ethan berjalan mendekati Riky, si Ketua Pasukan The Crims. "Apa yang lo mau?"

        Riky seperti melihat ke belakang Ethan, kembali menatap Ethan dengan senyum miring, lalu menyeletuk, "Lo bawa pacar lo?" Ethan mendesis, "Bukan urusan lo." Lalu Ethan memutar otaknya. Wait, bagaimana dia bisa tahu? Ethan memutar kepalanya. Vania ada di luar. "Vania! Masuk!"

        "Agent spy Ethaniel Abraham Ardinata, pilihanmu bagus. Hai, Vania! Pacarmu ini adalah seorang agent spy dari ASA, kau tahu?"

        "Shut up!" Ethan memberikan bogeman mentah ke arah Riky, membuat yang lain mengokang senjatanya. "Lo masih nggak takut mati, huh? Tetap Ethan yang masih gue kenal." Ethan menatap Riky tajam, "Di mana pemimpin lo?"

        "Oh. Ivar?" tanya Riky santai walaupun pipinya lebam. "Siapa lagi?" tanya Ethan sarkas. Ethan berbalik, menatap Vania yang masih terpaku di samping pintu. "Vania, masuk!" Dan Vania menurutinya, airmata jatuh dari pelupuk matanya. Ia merasa terbodohi.

        Vania melihat ke luar, menatap Ethan yang sedang bertarung dengan orang-orang dengan senapan. Ia hanya memejamkan matanya.

        "Hai, Vania! Pacarmu ini adalah seorang agent spy dari ASA, kau tahu?"

        Vania kembali mengingat perkataan orang yang ada di depan Ethan itu. Vania tersadar. Ia mencari-cari sesuatu. Sebuah tombol. Dan ia pun menemukan sebuah tombol sedikit kecil di dekat speedometer. Vania menyentuhnya.

        Dan muncul banyak interface-interface berprogram ASA di sana. Vania menutup mulutnya. Tepat saat itu juga, Ethan membuka pintu mobilnya. Vania menatap Ethan sangsi, "Who are you, really, Eth?" tanya Vania dengan nada getir.

• • •

A.N

Haaloooo. Nah, ini udah sampai di konfliknya ya guys. HAHAHA. Don't forget to tap the stars and commentN

25 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!