25: Break
ETHAN sampai di rumah dengan keadaan yang lesu. Ada memar di pipinya karena pasukan The Crims sialan. Ia membanting pintu rumahnya yang berdaun dua itu. Tak ada lagi rahasia antara Ethan dan Vania. Tak ada. Vania sudah mengetahuinya, semuanya.
"Gue agen mata-mata dari ASA—Agent Spy Agency. Gue akselerasi dua tahun membuat gue seharusnya udah kuliah, tapi gue nggak memilih itu. Gue sekolah di Wirajaya karena ada satu misi, yang melibatkan seseorang di Wirajaya. Gue ketemu lo di The Beat Up waktu itu juga karena misi narkoba konsumsi yang ada di sana. Bian sama Radit juga. Elisa juga tau."
"Lo bohong sama gue, kan, Eth? Ini mimpi, kan? Tell me if it's just a dream." Vania menggeleng tak percaya. Ethan menggeleng lemah, lalu Ethan mengutak-atik interface dan mengetik nama lengkapnya di kolom search. Di interface tersebut memunculkan data-data milik Ethan. "It's not, Van."
"Jadi ini yang lo sembunyiin dari gue, Eth? Jadi ini? Rahasia sebesar ini yang nggak lo kasih tau ke gue? Eth, pekerjaan ini mempertaruhkan nyawa lo. Gue—gue nggak tau harus ngomong apa lagi, Eth." Vania terdiam. Ethan mengerti, ia kembali menjalankan mobil ke rumah Vania.
"Eth, boleh kita break dulu?" tanya Vania saat mobil Ethan sudah berhenti di depan rumah Vania. Ethan menoleh, menatap Vania kaget, "Break?" Vania tersenyum getir, "Gue butuh waktu untuk..., untuk semuanya. So, leave me alone, for a while. Gue..., shock dengan semua ini." Ethan mengangguk pahit. Ia mengerti dengan kondisi Vania dengan sekarang.
Vania membuka pintu mobil, Ethan membuka jendela mobil, "Makasih udah ngertiin gue, Eth. Thanks for the ride, too." Ethan mengangguk, "Van, jangan kasih tau ke siapa-siapa. Termasuk Fara, Risca, Claris, sama Deto. Semuanya." Vania tersenyum, "I'll keep it."
"Van, lo udah denger apa yang gue katakan pas pulang, kan? Apapun yang terjadi, I want you to know, I want you to realize that I really damn love you, I really do, and I always do. Lo harus ingat itu. Saat lo udah siap menghadapi kenyataan kalo gue..., gue seorang agen mata-mata. Bilang ke gue. Jaga rahasia gue."
And, here it is, a broken-hearted boy. "Ethan! Lo udah pulang! Tadi kenapa lama bang—Allahuakbar, Ethan! Pipi lo kenapa?" Elisa yang pertama kali menyadari Ethan ada di ruang keluarga pun berjengkit kaget melihat memar yang ada di pipi Ethan. Radit dan Bian yang ada di sana mengikuti tatapan Elisa.
Elisa menarik Ethan untuk duduk di sofa. "Lo kenapa, Eth?" tanya Elisa sembari membawa sebaskom air dingin dan kain untuk mengompres memar.
"Tadi..., anakbuahnya Ivar ke ngehalangin mobil gue di pertigaan. Gue nggak ngerti. Riky ngeliat Vania, Riky ngebongkar rahasia gue. Dan, Vania tau semuanya... abis itu, dia minta break." jelasnya pelan
Elisa membelalakkan matanya kaget. "Hah? Vania udah tau? Minta break sampai kapan?" tanya Elisa. Ethan menatap Elisa lalu mengangguk, "Gue nggak tau. Gue minta tolong, El. Jagain dia buat gue."
Radit yang sedari tadi diam tiba-tiba berceletuk, "Ini rencana mereka. Dan rencana mereka, sialnya berjalan dengan mulus." katanya dengan kilatan amarah di mata. Ethan menatap Radit bingung. Bian yang sudap mencerna ucapan Radit pun menjelaskan, "Riky di utus buat ngehalangin lo di jalan itu udah di rencanain. Semuanya udah mereka rencanain. Kunci mereka; Vania. Karena mereka tahu itu orang yang lo sayang, tapi dia nggak tau apa-apa. Mereka mempergunakan di saat lo lemah. Dia narik lo lalu bunuh lo. That's why."
"Gue nggak bakal selemah itu kalo galau. Jadi, gue marik kesimpulan; Ivar akan bergerak sebentar lagi. Anakbuah yang selama ini di Sekolah kuga pasti keluar. Kita harus bikin rencana."
Rey yang berdiri di ujung tangga, menyeletuk, "Kita bikin rencana A sampai Z. Papa udah membayangkan rencana yang extra-ordinary."
• • •
"EMANG masalah apa, sih? Sampe lo bilang break gitu?" tanya Claris penasaran. Kini mereka sedang berada di kantin. "Gue nggak bisa bilang ke kalian. Pokoknya, trust me, I'll be fine."
"Vania, can we talk?" kata Elisa setelah terdiam cukup lama. Vania tersenyum tipis, ia sedikit kecewa dengan Elisa, "Yeah."
Vania dan Elisa pun bangkit dari kursi mereka. Mereka berjalan ke arah lorong yang sedikit sepi. "Gue minta maaf karena nggak ngasih tau rahasia Ethan, okay? Ethan ngerahasiain ini karena misinya. Gue merasa bersalah karena ngerahasiain dari lo, Van. And I'm sorry."
Vania terdiam, ia menatap Elisa lamat-lamat. "Gue ngerti. Tapi gue kecewa sama lo, El. But we still bestfriends." Elisa tersenyum, mengangguk. "Umm, Van, lo harus percaya kalo Ethan cinta sama lo, banget. Gue nggak pernah ngeliat dia setulus ini, dan hancur pas lo minta break, dan... situasi hancurnya Ethan hampir aja di gunain buat anak buahnya Ivar beraksi. Gue nggak mau nakutin lo, tapi gue ngasih tau kebenaran kalo anak buah Ivar ada di sini, di Wirajaya. Lo harus bisa hati-hati dan jaga diri."
• • •
A.N
Hai! Nah, ini yang minta di update karena di gantungin. HAHAHA. Don't forget to tap the star and comment!
