24 страница1 мая 2026, 08:12

23: Claris and Deto

ETHAN berjalan dengan Bian dan Radit di koridor sekolah dengan santai. Kakinya hendak melangkah ke parkiran, menunggu Vania yang sedang mengobrol dengan sahabat-sahabatnya. "Ethan," panggil seseorang membuat Ethan berhenti dan berbalik, begitupun juga Bian dan Radit. Menemukan Claris dengan pandangan yang sendu.

        "Apa?" kata Ethan malas. "Lo tau Vania di mana? Gue pengen ketemu dia, sekarang." Ethan memutar bolamatanya, "Kalo lo mau nyakitin pacar gue lagi. Mending nggak usah ketemu." balasnya tajam. Claris menggeleng cepat, "Nggak, Eth. Nggak. Gue berani bersumpah kali ini gue nggak bakal nyakitin cewek lo."

        Ethan memandang Claris dari atas sampai bawah. Cewek itu terlihat buruk. Apalagi Ethan melihat kantung mata dan mata sembabnya. "Gue nggak mau ngancem cewek, sebenernya. Tapi, sekali gue denger lo nyakitin Vania, lo nggak akan hidup tenang," ancam Ethan pada Claris yang membuat cewek itu mengangguk cepat.

        Ethan menarik napas lalu menghembuskannya, "Vania ada di kelas."

• • •

VANIA yang sedang mengobrol dengan Fara, Elisa, dan Risca pun menoleh saat seseorang memanggilnya. "Claris?" tanya Vania tak percaya saat melihat siapa yang memanggilnya. Vania melirik Fara, Elisa, dan Risca yang menaikkan sebelah alis mereka, kening mereka mengernyit karena bingung.

"A–ada yang pengen gue omongin, Van." kata Claris tergagap sedikit. Ia mengepalkan tangannya gugup. "Setelah apa yang lo lakuin ke Vania, Clar? Seriously? Is this really you?" tanya Fara tajam. Claris menatap Fara dan Risca bergantian, "Gue—"

"Udahlah, Far, El, dan Ris. Gue pergi dulu, ya." Vania bangkit dari duduknya. Menghampiri Claris yang menggogit bibir bawahnya gugup. "Yuk, Clar. Di mana?"

"Di taman belakang, boleh?" tanya Claris ragu. Vania mengangguk, lalu berjalan ke arah taman belakang. Mereka berjalan dengan keheningan. Setelah sampai di taman belakang, Vania duduk di bangku taman, di ikuti oleh Claris.

"Jadi...?"

Claris menggigit bibir bawahnya, memainkan jari-jarinya. Lalu ia duduk menghadap Vania, "Look, Van, gue tau gue nggak pantes ngomong ini ke lo. Tapi gue cuma mau bilang; Maaf. Maaf atas kejadian yang dulu, maaf atas ke ambisian gue, maaf karena nusuk lo dari belakang, maaf karena ngekhianatin lo, maaf untuk ledekan gue dua tahun ini, maaf atas semuanya. Gue minta maaf, Van."

Vania terpaku, "Clar...—"

Claris tersenyum getir, "I know. Gue udah nyakitin hati lo sedemikian rupa. Tapi dengan nggak tau dirinya gue minta maaf sama lo dan di otak gue sekarang ada pertanyaan yang bikin gue malu sama lo; Apa Vania masih nganggep gue sahabat? Gue emang nggak tau diri, Van." Claris menunduk dalam.

"Clar..., listen. Gue emang nggak munafik kalo gue sakit hati sama lo. Bohong kalo gue bilang selama ini gue oke-oke aja. Gue, Fara, Risca ngerasa kurang kalo kita nggak bareng. Rasanya sepi. Kita sama-sama salah, Clar. Lo jarang curhat sama gue tentang cowok. Sehingga gue nggak tau kalo selama ini lo suka sama Deto.

"Lo tau? Gue hampir mau musnahin kenangan kita waktu itu. Tapi gue pikir, otak gue cetek banget ya? Akhirnya gue putusin buat nyimpen kenangan lo sama Deto di satu kotak yang gue taro di atas lemari. Pernah gue pengen buka itu. Tapi hasilnya gue belom bisa." tutur Vania panjang lebar.

"Sorry for everything." lirih Claris. Vania tersenyum, "Gue maafin lo, Kanina Clarissa. Tapi gue cuma belum bisa percaya sama lo. One chance."

Perlahan, senyum Claris terbit di wajahnya, "Makasih. Gue akan mempergunakan kesempatan itu dengan baik, Van." Saking senangnya, Claris sampai memeluk Vania erat.

Namun tiba-tiba sebuah suara mengintrupsi mereka, "Apa kita melewatkan sesuatu?" Sontak Vania dan Claris melepaskan pelukan mereka. Menatap ke asal suara. Fara dan Risca. "Look, guys, I'm so sorry."

Fara mengulum bibirnya, "Di maafin apa enggak, yaa??" tanyanya menggoda Claris sembari menaik turunkan alisnya. "Sialan, jangan bikin gue tegang, deh." gerutu Claris membuat Fara, Risca dan Vania tergelak. "Oke, oke. I forgive you. Tapi, lo harus membuat kita percaya lagi sama lo. Nggak ada rahasia-rahasiaan." kata Risca membuat Claris mengangguk cepat, "I will. I promise."

Mereka berempat pun berpelukan. "Ehm. Guys, how about me? Gue terlantar gitu?" tanya Elisa menaikkan sebelah alisnya. Fara, Risca, Vania, dan Claris saling pandang, lalu menyerbu memeluk Elisa. Namun tiba-tiba Claris berbicara, "I have surprise for you, Van." Mereka melepas pelukan mereka, lalu saling berpandangan bingung. Claris menunjuk dengan dagu apa yang ia maksud. Tubuh Vania membeku. Ethan dan Deto menghampiri mereka.

• • •

ETHAN yang sedang menunggu di depan mobil sembari memainkan iPhone-nya menoleh saat merasakan pundaknya di tepuk beberapa kali. Ethan mengernyitkan dahinya, merasa familiar dengan wajahnya.

"Lo...," katanya menggantung, mencoba mengingat-ngingat orang di depannya ini. "Oh, lo Deto, kan?" lanjutnya saat mengingat nama orang di hadapannya itu. Orang itu mengangguk.

"Mau apa?" tanya Ethan to the point membuat Deto sedikit bergerak tak nyaman. "Gue..., mau ketemu sama Vania." Ethan merengut, "Ketemu Vania?" beonya memastikan. Deto mengangguk, lalu ia meneliti ekspresi Ethan. Matanya membulat saat menyadari sesuati, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bukan. Gue nggak mau macem-macem. Lo pacarnya, kan? Yang waktu itu di The Beat Up?" tanya Deto langsung. Ethan mengangguk singkat.

"Gue cuma mau minta maaf sama dia." Ethan mengernyitkan dahinya lagi, "Setelah Claris, sekarang elo. Aneh." Deto terkekeh mendengarnya, "Yah, begitulah."

Ethan menyilangkan tangannya di depan dada, bersender di kap mobil, "Gue udah denger cerita kalian dari Vania," katanya membuat Deto menoleh, "Kenapa lo bego banget ninggalin Vania demi Claris?"

Deto terkekeh, "Gue emang bego. Pemikiran gue cetek. Duh, gue jadi ngerasa tolol sendiri kan," kata Deto membuat Ethan memutar bolamatanya, "Emang lo tolol, njing."

"Oke, oke. Seperti yang lo bilang kemaren. Ambisi, man. Pertamanya, gue make a deal sama Claris. Gue matahin hati Vania; gue dapet Claris, itu isi deal gue sama Claris waktu itu. Waktu pertama kali gue putusin Vania, gue oke-oke aja. Apalagi gue seneng karena ada Claris di samping gue. Tapi lama kelamaan, entah kenapa gue mikirin Vania terus. Dan gue baru sadar kalo gue sama Claris cuma kagum atau ambisi semata." Ethan mendengus saat mendengar hal tersebut, "Goblok."

Deto terkekeh mendengar cemo'ohan dari Ethan, "Emang." Ia mengakuinya. "Thanks banget udah nyadarin gue kemaren. Gue udah tenang, setidaknya Vania di tangan yang bener kayak lo. Nggak orang brengsek kayak gue." Ethan tersenyum, "Sama-sama. By the way, lo anak mana, deh?"

"Gue anak SMA Tanujaya, deket dari sini kok." Ethan menegakkan tubuhnya, "Oh. Yang deket Café enak banget itu kan? Yang murah?" Deto menganggukkan kepalanya, "Iya. Gue suka nongkrong di situ sih, ada free wifi juga. Kadang kalo madol juga kaburnya ke sana." Deto mengendikkan bahunya, melirik mobil Ethan.

"Eh, ini Ferrari 458 Spider itu, kan?" Ethan mengangguk, "Iya." Deto beranjak dari tempatnya, mendekati mobil Ethan, mengelus atap mobil. "Lo anak konglomerat, Eth?" Ethan mengendikkan bahunya, "Bisa di bilang begitu. Gue nggak tau juga."

"Wih, Vania nggak bakal mati kelaperan kalo sama elo, kan?" Deto melirik Ethan jail. "Apa kata lo deh." kata Ethan malas. Deto menepuk punggung Ethan, "Gara-gara ngobrol jadi lupa kan tujuan gue kesini. Di mana dia?"

"Kayaknya..., di taman belakang."

Dan mereka pun berjalan ke arah taman belakang, dan ia melihat Elisa sedang di serbu oleh Claris, Vania, Fara, dan Risca. Mereka terus mendekat ke arah sekelompok gadis itu.

"Deto?" panggil Vania sembari mengernyit. Deto tersenyum canggung, "Hai, Van." Ethan menahan tawanya, "Goblok, anjir. Sempet-sempetnya bilang hai." Ethan menendang betis belakang Deto dengan pelan. "Diem gek lo. Bacot banget dari tadi." Deto melotot kesal ke arah Ethan. Ethan tersenyum geli.

Ethan lalu melirik Elisa yang menatapnya. Ia pun mengkode ke arah Elisa agar mengikutinya sebentar. Lalu mereka pun berjalan menjauh, setidaknya sampai omongan mereka tidak terdengar oleh Fara, Vania, Risca, dan Deto.

"Apa? Kenapa? Kabar dari Ivar lagi?" tanya Elisa cemas membuat Ethan tersenyum lalu menggeleng, "Nggak." Ethan merogoh sakunya, mengeluarkan sepasang anting yang cantik, "Ini bukan sebatas anting. Ini earphone wireless mini yang gue modif membentuk anting. Suka, nggak?"

Elisa mengangguk cepat. "Ini buat lo," Ethan menjulurkan tangannya memberi sepasang anting tersebut, yang di sambut langsung oleh Elisa, "Thanks, Eth." kata Elisa sembari sibuk memasang ke dua anting di telinganya. Ethan mengangguk.

Saat Ethan dan Elisa balik, mereka melihat pemandangan yang tak biasa. Hatinya berdenyut. Vania memeluk Deto. Apa selama ini gue cuma di jadiin pelarian sama dia?, tanya Ethan dalam hati. "No, Eth. Dia bener-bener tulus cinta sama lo." jawab Elisa yang tau pikiran irish twins-nya itu. Ikatan batin mereka kuat.

• • •

"MAAFIN gue, Van. Kesalahan gue udah fatal, gue tau. Tapi nggak ada salahnya gue bilang maaf, bukan?" Deto menarik napas, ia melirik Claris, "Gue emang brengsek. Dengan mainin hati lo. Ngekhianatin lo. Kemarin gue sama Claris sadar kalo misalnya ini bukan yang namanya cinta, tapi ini yang namanya ambisi atau kagum semata. Kita putus dan memilih untuk sahabatan aja. Lo mau jadi sahabat gue?"

Vania tersenyum, mengangguk, "Gue maafin lo, Det. Sahabat? Sounds good to me." Vania pun memeluk Deto, menandakan ia memaafkan Deto dan bersahabat dengannya. Namun ternyata, itu pilihan yang tidak tepat. Karena ia melihat Ethan baru datang dari tempatnya dan Elisa.

Vania langsung melepaskan pelukannya, "Ethan. Ini nggak kayak lo pikir," tuturnya. Ethan tersenyum getir, "Gue ngerti. Ya udah, gue..., tunggu di mobil aja ya?"

Ethan berbalik, berjalan menjauh. Vania berlari mengejar Ethan tanpa memperdulikan Fara, Risca, Elisa, dan Deto. "Ethan! Listen to me. Gue meluk Deto tanda persahabatan, Eth. Tanda bahwa gue maafin dia. Gue—"

"Sahabatan?" Ethan menaikkan sebelah alisnya, "Sounds good. Iya, gue percaya sama lo, Vania. Gue cuma, agak kaget gitu. Udah, gue tunggu di mobil, lo urus aja dulu urusan lo. Oke?"

• • •

HENING. Hanya itu yang mendeskripsikan suasana mobil Ethan kali ini. "Eth, ayolah. Jangan ngambek, plis." Vania menarik-narik ujung lengan kaos hitam Ethan—ia membuka kemeja seragamnya menyisakan kaos hitam, merajuk.

Ethan membelokkan mobilnya di depan KFC. Ia melepas safety belt-nya dan lantas keluar mobil, di ikuti oleh Vania. "Kita makan," senyum Ethan mengembang membut lesung pipitnya terlihat. Membuat Vania tertular untuk tersenyum. "Ayo. Gue laper."

Ethan nyengir, lantas merangkul pundak Vania. Merekapun memasuki restoran tersebur. Dan lagi-lagi, Ethan menjadi pusat perhatian. Beberapa berbisik-bisik, yang gadis-gadis nongkrong maupun Ibu-Ibu yang makan bareng keluarganya.

"Beuh, ganteng banget njir."

"Ya Allah, rezeki nemplok ketemu cogan."

"Cowok itu ganteng banget, ya. Jadi pengen punya anak kayak dia." Nah, yang itu Ibu-Ibu yang lagi hamil.

"Pacar-able banget."

Vania mendengus. Dasar ganjen!, batinnya menggerutu. "Lo mau makan apaan, Van? Lo duduk aja ya, biar gue yang ambil." Vania mengangguk saja, duduk di dekat meja kasir. Menatap Ethan yang sedang mengantre. Matanya meneliti Ethan yang sedari tadi bergerak sedikit gelisah.

        Belakangan ini banyak sekali yang ia curigai dari Ethan. Mulai dari perkataan Elisa tempo hari, pemberian anting tadi—ngomong-ngomong, Vania melihat hal itu, lalu pergerakan Ethan yang sedikit gelisah, apalagi ia selalu menatap Vania dengan tatapan bersalah. Maksudnya apa?

        Vania tidak mengerti. Dan belum mengerti. Notifikasi Line di iPhone-nya membuat ia tersadar. Ia pun membukanya dan mendapatkan Deto dan Claris yang sudah masuk di grup persahabatan mereka.

Deto joined the group

Clarissa joined the group

Fara: HAAIIIII!!! Selamat datangg!

Risca: Selamat datang ke grup gk jelas ini ya, both of you.

Clarissa: Duh! Kita di sambut dengan baik, Det. *colek Deto*

Deto: Apaan lo colek-colek, najis tau gk.

Clarissa: Bodo amat. Suksukgu.

Fara: Apaan tuh suksukgu?

Deto: Gk tau. Yg jelas, pasti aneh-aneh nih. Tau gue.

Risca: Apaan tuh, Clar?

Claris: SUKA-SUKA GUWEEE.😂😂

Deto: Njs. Benerkan apa kata gue? 😒

Vania: HAI KALIAANNN!

Claris: Hai!

Deto: Hai, Van!

Elisa: okay. Gue berasa newbie disini. Hihuhihu.*NangisDiPojokanSambilNgomong'ETHANNN, tolongin guee!'

Vania: Ethannya lagi sama ue. Pinjem ya, sist.

Fara: Bhaks. Tabah aja ya, El.

Risca: nggak kok. Lo gak newbie, El.

Deto: ^1

Claris: ^2

Fara: ^3

Vania: gitu ae terus dah. Lo nggak newbie kok El.

Claris: ^1

Fara: ^2

Risca: ^3

Deto: ^5

Fara: Woy! Gk bisa ngitung lo ya. SMA di Tanujaya bukannya tambah pinter malah tambah bego.

Risca: ^1

Claris: ^2

Elisa: ^3. Tau nih, ck ck ck. Tak betul, tak betul, tak betul.

        "Lo kenapa sih?" tanya Ethan yang ternyata sudah sampai di meja dengan baki yang berisi dua piring ayam dan nasi, serta frenchfries, satu mocha float, dan satu tropical float. Vania nyengir kearah Ethan, menunjukkan chat group-nya ke arah Ethan, membuat cowok itu mengangguk mengerti lalu menaruh piring mereka.

Vania: Udah ya. Gitu aja terus. Bodat dah gue. Pengen makan. Laper. Btw,

        Vania menarik piringnya, memfoto piring ayam dan nasi, frenchfries serta mocha float miliknya di satu frame.

Vania: *sent a picture*
Vania: selamat makan bagi yang ingin berdiet, wankawan!!

        Vania tahu, Fara, Risca, Elisa, dam Claris sedang mencoba diet dan tidak makan sore—ini juga nggak bisa di bilang sore karena for your information ini udah jam setengah enam.

Claris: VANIAAAAAA!!!

Elisa: SIALAN LO!

Fara: Dasar perusak diet org! Bgst. Gue mau masak indomie dulu oke. BHAY!

Risca: VANIALA ALETHA ARDANA!!

Deto: BERSISIIIKKKK!!

Elisa: BerISIK, bukan BerSISIK, Bego!

Claris: Tau. Bego banget jadi anak.

        Vania tersenyum. Masalahnya dengan Claris dan Deto; selesai. Dan ia tidak tahu, kalau ada satu masalah yang berdampak besar bagi hubungannya dengan Ethan yang menunggu. Yang bisa saja membuat hubungan mereka retak, menimbulkan kekecewaan yang mungkin cukup dalam di diri Vania. Pertanyaan yang menggunakan 'bagaimana jika...,'—seperti, bagaimana jika Vania tidak mau bertemu dengannya lagi? Bagaimana jika Vania membencinya?, dan pertanyaan 'bagaimana jika...,' lainnya—berkeliaran dan menggelayuti pikirannya. Dan memikirkan hal itu, membuat Ethan terus bergerak gelisah tak karuan.

• • •

A.N

Rekor, bruh. 2137 words! Puas lah ya? Ohya, pokoknya don't forget to tap the star and comment, ya! Dan satu lagi, yang nunggu Bian dan Radit, harap bersabar!

24 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!