15 страница1 мая 2026, 08:12

14: Vania's Flashback

VANIA menatap kotak yang sudah tidak ia buka lagi selama ini; Karena takut perasaan itu hadir kembali. Perasaan yang Vania mengerti apa. Ia perlahan tapi pasti membuka kotak tersebut. Well, hanya ada lembar foto dan figura-figura serta boneka, dan masih banyak lagi.

Vania mengambil selembar foto tersebut. Sepasang kekasih sedang tertawa bersama, candid. Vania tersenyum getir. Ternyata, ternyata ia belum bisa melupakan perasaan itu. Getaran itu ada saat Deto mencengkram pergelangan tangannya itu masih seolah menyengatnya.

Namun, ia tak bisa menepis bahwa ia have a crush ke Ethan. Just a crush, maybe. Dan Vania belum bisa menyimpulkan perasaan tersebut. Vania merobek foto itu, membelahnya menjadi enam. Lalu membuangnya. Lalu ia mengambil figura. Terdapat empat gadis, yang satu wajahnya penuh dengan tepung, yang lain tersenyum senang, background mereka adalah balon-balon huruf yang ditempel di dinding, bertulis;

Happy Birthday,
Kanina Clarissa!

Kehilangan kekasih dan sahabat di saat yang bersamaan dan dengan alasan yang sama; Menusuk dari belakang, dan itu sangat sakit.

Kecewa. Mungkin itu kata yang mewakili perasaan itu. Vania kecewa dengan mereka, Vania sangat percaya pada mereka berdua. Tetapi apa? Ini yang didapatnya. Sebuah kekecewaan yang besar. Vania menghela napas, kembali menutup kotak tersebut. Masih belum siap untuk membongkarnya lebih dalam.

Ia membanting tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Satu persatu, serpihan kenangan dengan sahabat maupun kekasihnya itu kembali menyergapnya.

"Woi, elah, minta catetan lo, dong. Pelit lo." dumel Vania kesal. "Makanya, jadi orang jangan bego-bego, jangan males-males." kata gadis dihadapannya. Vania berdecak, "Ah, Clar, plis, sedikit aja, deh."

"Sedikit apaan? Sedikit banyak, maksud lo?" Vania nyengir. "Ayolah, Kanina Clarissa yang cantiks. Yang bohay. Yang alay. Yang... Apa lagi, Clar?" Claris mendengus. Akhirnya ia menyodorkan buku catatannya ke arah Vania, membuat Vania berteriak kegirangan. "WOI, BERISIK!" pekik Fara dari sebelahnya. "Lo juga berisik, Dodol." kata Risca kesal.

"Eh, hai, Det," pekik Claris saat melihat Deto yang sedang berdiri di ambang pintu Kelas. Posisi Vania memang membelakangi pintu. Vania membalikkan badannya, lalu tersenyum saat melihat Deto sedang tersenyum ke arahnya. "Eh, hai. Bentar ya, aku lagi ngumpul dulu sama mereka, sekalian nyatet." kata Vania membuat Deto mengangguk, lalu mendekati mereka.

"Nggak apa-apa, aku lagi bosen aja. Makanya kesini." Deto menarik kursi, lalu duduk di antara Vania dan Claris. "Kamu tuh, selalu deh. Pasti kekurangan catetan. Ngapain aja sih?" ledek Deto. "Ih, kamu sama Claris sama aja, ya. Resek." gerutu Vania kesal.

"Iya, ya?" Deto melirik Claris yang sedang menatapnya juga. Mereka berpandangan beberapa detik, namun Fara berdeham, mengintrupsi mereka. Deto mengalihkan pandangannya lagi ke Vania yang masih serius mencatat. Sedangkan Claris mengalihkan pandangannya ke arah Buku Novel yang ia bawa dari rumah.

Fara dan Risca saling berpandangan, curiga. Namun mereka setuju untuk tidak memberitahukan hal tersebut ke Vania.

Kenangan manis. Sampai pada saat itu... Waktu mereka libur mau masuk SMA,

"Eh, Claris mana?" tanya Vania pada Fara dan Risca. "Nggak tau, katanya nggak bisa ngumpul." Vania mengangguk-anggukan kepalanya. Seperti yang mereka rencanakan, mereka jalan-jalan ke Gandaria City. Namun ternyata, Gandaria City entah kenapa sedang penuh. "Yah, penuh. Ke Pondok Indah Mall aja ya?" kata Vania pada ketiga sahabatnya. "Pak, ke Pondok Indah Mall aja, deh." kata Vania pada supirnya.

"Boleh. Yang penting hang-out. Kurang Claris aja nih. Nanti kita panas-panasin dia aja pake foto kita di mall, pasti dia iri abis." kata Risca dengan senyum liciknya. "HAHAHA. Boleh, boleh."

Sesampai di Pondok Indah Mall, mereka berjalan dengan santai. Vania memasuki outlet Planet Sports, hendak membelikan sepatu impian Deto; sepatu New Balance. Vania pikir, kapan lagi sih, ia membahagiakan Deto yang sering membahagiakannya?

"Lo beneran pengen beliin dia ini, Van? Nggak berlebihan, apa?" tanya Fara. Vania menggeleng, "Kalo diitung-itung, dia juga banyak ngasih gue hadiah, lagi. Jadi seimbang, lah." kata Vania.

Namun, tiba-tiba ada sebuah suara yang familiar ditelinga Vania, maupun Fara dan Risca, "Aku mau beli baju buat work-out." Mereka menoleh ke asal suara. Mata Vania memerah, berair. Fara dan Risca saling berpandangan, lalu serentak menatap Vania prihatin. "Apapun kondisinya, kalian jangan pernah ngeliat gue kayak gitu." kata Vania kesal. Fara dan Risca cepat-cepat merubah tatapannya menjadi biasa, walaupun sulit.

Vania mengeluarkan handphone-nya, keluar dari toko tersebut dan berdiri di seberang pintu toko. Ia mengetik beberapa angka, lalu mendekatkan handphone-nya ke telinga.

Terlihat disana—Vania melihat dari kaca etalase, Deto dan Claris kelabakan karena tak menyangka Vania akan menelfon Deto. Gotcha, gumam Vania menatap ekspresi mereka. Sampai Claris mengangkat telfonnya.

"Halo, bae." kata Vania sok ceria.

"Halo, too, bae. Ada apa? Maaf nih, gue nggak bisa ngikut kalian hang-out." Vania merubah menjadi speaker sehingga Fara dan Risca bisa mendengarnya juga.

"Oohh, gitu. Nggak apa-apa, kok. Emang acara apaan, by the way?"

Terdiam. Vania melirik ke dalam lagi dan melihat mereka lagi saling menyikut, mencari alasan yang pas.

"Oh, eh, acara keluarga gitu." jawab Claris. Vania tersenyum miring, "Oh, gitu. Ya udah deh, good luck buat acara keluarganya. Oh ya, by the way, kita nggak jadi ke Grand Indonesia, nih." kata Vania memancing.

"Oh, terus kalian kemana?" Vania melirik Fara dan Risca, meminta persetujuan, mereka mengangguk mantap, lalu Vania kembali menjawab pertanyaan Claris, "PIM. Kalo bisa, kesini ya."

Klik.

Dengan sekali gerakan Vania memutuskan sambungan telfon. Tak lama, terlihat Deto dan Claris yang sedang panik keluar dari outlet Planet Sports. "Loh, kalian ngapain disini? Deto? Clar? Katanya ada acara keluarga?" sindir Fara langsung. Sok melihat yang paling pertama. Vania berbalik, lalu tersenyum. "Well, kalian ngapain disini? Dan Det, aku ngasih seluruh kepercayaan aku ke kamu, lho. Aku nggak salah kan, ya?"

"Ng–nggak, kok. Aku tadi cuma... Baru ketemu Kanina disini. Aku juga lagi jalan-jalan di PIM." kata Deto. Vania tersenyum, lalu melirik Claris, Vania menatap lamat-lamat mata Claris, karena jujur, Vania tidak pernah menatap Claris seperti ini. Terdapat binar keberhasilan disana, kepuasan. Vania merutuk dalam hati, kenapa dia terlalu percaya dengan fake friend?

Becareful, fake friends everywhere and anywhere.

"Acara keluarga gue di Bakmi GM situ, Van. Jadi, ya gitu. Gue juga gabut, jalan-jalan, eh, ketemu pacar lo, deh." Vania mengangguk. "Kenapa harus dijelasin, Clar? Kan gue nggak nanya." Vania semakin memojokkan.

Claris dan Deto terdiam lama. "Ya udah, gue pengen jalan lagi. Kalian lanjutin aja jalannya." kata Vania hendak mengayunkan kakinya. "Kenapa kamu nggak cemburu, Van? Kamu nggak sayang sama aku, ya?"

Vania membalikkan badannya, "Karena gue percaya sama sahabat dan pacar gue." Vania menekankan kata 'percaya' bermaksud menyindir keduanya. Dan sepertinya berhasil, Deto sudah berdiri gelisah disana.

Vania memejamkan matanya. Menghilangkan bayangan itu. Namun bayangan itu tetap hadir,

"Gue udah nggak bisa, Nin."

"Kenapa nggak bisa? Kan lo tinggal minta putus sama dia aja susah banget? Udah ketauan juga, kan? Huh?"

"Gue nggak bisa."

"A deal is a deal, Det. You'll break her heart's, then you with me."

"Oke."

Vania yang sedang mengupingpun merasa handphone-nya bergetar. Ia membuka lock screen-nya dan melihat Line dari Deto, isinya;

Kita putus, gue nemu yang lain.

Sekarang Vania tau, Deto bermain api dibelakangnya. Dan Claris—yang Deto panggil Kanina, tidak pernah menjadi true friend-nya. Ia hanya ingin menghancurkan Vania dari dalam.

• • •

A.N

Well, buat yang nggak ngerti. Kayaknya udah cukup jelas, ya. Kanina sama Claris itu orang yang sama. Cuma Kanina itu panggilan dari Deto, Claris itu panggilan umum. Kayak, Kanina itu panggilan kesayangan Deto buat Claris, gitu. Buat yang nggak ngerti, comment aja, ya. Don't forget to tap the star⭐️ and comment💬!

15 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!