16 страница1 мая 2026, 08:12

15: Swim, Swim, and Swim!

"UDAH hadir semua, kan?" pekik Wisnu di depan. "UDAH, PAK." pekik semuanya. Wisnu mulai mengabsen murid-muridnya. Kelas IPA-1 dan Kelas IPA-2. "Baik. Lengkap. Kalian silahkan naik ke bus."

Ya, mereka memang memakai bus untuk sampai ke Kolam Renang. Ethan, Bian, dan Radit memutuskan duduk di bagian belakang. Ethan duduk di tengah jendela. Di dekat jendela ada Radit. Dan yang paling pinggir ada Bian. Saat bus sudah mulai berjalan. Setelah dipastikan tidak ada yang mendengar obrolan mereka.

"Kenapa lo yakin kalo itu Anakbuahnya Ivar?" tanya Bian membuka pembicaraan. Ethan mengeluarkan handphone-nya, "Karena criminal record-nya." Ethan menyodorkan data-data milik Ivar yang NASC punya. "Liat deh, rata-rata, mereka main pisau, tapi entah abis itu mereka apain. Kreatif."

"Ivar-nya udah keluar dari penjara?" Ethan menjentikkan jarinya, "Nah, itu dia. Gue udah ngomong sama Papa, dan katanya. Ivar itu jadi buronan. Dia kabur dari penjara." Radit mengernyit, "Kok bisa? Pembunuh kayak dia pasti di sel tahanan khusus, kan?"

"Udah gue bilang, he's smart, tapi otaknya nggak di pake buat yang baik-baik. Jadi, waktu dia ditahan, ada beberapa anakbuahnya yang nggak ketangkep karena mereka kamuflase, ada juga karena nggak ketemu. Dia nyebar anakbuahnya di beda-beda tempat, Dit. Jadi dia kayak punya back-up."

"O... Kay. So, kita harus nyari Ivar atau anakbuahnya?" Ethan menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi, memijat pangkal hidungnya. "Menurut gue, mending anakbuahnya dulu yang entah siapa itu."

"Oke, strategi udah mulai kebentuk. Dan lebih baik, kita bicarakan ini di rumah, nanti."

• • •

"YEY, berenang! Udah lama nggak latihan fisik." kata Ethan saat menatap kolam renang yang jernih. Walaupun Ethan adalah anak dari Ketua NASC, tetapi Ethan tetap mengikuti peraturan yang diterapkan oleh NSC; Latihan fisik yang hebat.

        Yang cewek sedang mengganti baju seragam dengan baju berenangnya. "Well," Ethan melempar string bag-nya ke kursi pantai—yang tersedia disana, "Ganti baju?"

        "Lo tau kebiasaan gue kalo berenang, Eth. Jangan nanya lagi." Radit dan Bian mengambil celana renang mereka. Ethan menyengir, mengambil celana renangnya dan menyampirkan di bahu, "Yeah, memastikan doang."

       Mereka berjalan beriringan, sepertinya mereka yang paling terakhir karena keasikan ngobrol. Mereka keluar dari bilik pergantian pakaian. "Widih, makin kotak-kotak aja tuh perut." kata Radit melihat perut Ethan yang sudah mendekati sixpack. "He-em, bentar lagi mau upgrade ke sixpack, dari fourpack."

        "RADIT, BIAN, ETHAN, KALIAN CEPET KELUAR! LAMA BANGET KAYAK ANAK CEWEK LO! PAK WISNU UDH CEMBERUT, TUH." Bimo mulai memekik. Ethan memang cukup dekat dengan anak sekelas, begitupun Radit dan Bian. Suara tawa terdengar sampai ke dalam. Mereka mendengus. "BACOT LO, BIM!" pekik Radit dari dalam. Ethan menyampirkan kemeja serta celana seragamnya di kedua bahunya.

        Lalu mulai melangkah keluar. Sama sekali belum ada yang menyebur. "Mana yang banyak bacot dari tadi? Kampret lo, Bim! Pak Wisnu-nya aja masih makan, gimana sih, lo?! Sompret!"

        "Lah, belum nyebur?" tanya Bian yang ternyata keluar terlebih dahulu. "Wah, Bimo minta di kerjain, nih." pekik Radit dari belakang Bian. Ethan berjalan ke arah kursinya, lalu memasukkan seragamnya ke string bag miliknya. Semua melotot menatap roti sobek mereka bertiga.

        "Pak, boleh nyebur, nggak?" izin Ethan pada Wisnu yang sedang meminum. Wisnu mengangguk, mengizinkan. Ethan bersorak senang. Ia pun akhirnya melompat dengan indahnya menyebur ke kolam renang. Disusul yang lain.

        Elisa menatap Kakaknya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba Radit menghampirinya, menarik Elisa yang sedang memakai sunblock mendekat ke arah pinggiran kolam. "Eh, gue tau ya, apa yang lo mau lakuin, Dit. Sorry, gue belom mau nyebur, masih belum selesai make sunblock." kata Elisa menghentak tangannya. Radit menaikkan sebelah alisnya, "Oh ya?"

        Elisa mengangguk, namun tiba-tiba ada yang mendorong tubuhnya sehingga ia tercebur ke dalam kolam. "Yes!" Radit dan Bian—yang ternyata mendorong Elisa, bertosria. Sedangkan Ethan tertawa puas di dalam kolam. "Ih, jahad. Kalian ja'ad." gerutu Elisa kesal, terbatuk-batuk karena menghirup air kolam.

        Ethan menepuk-nepukkan punggung Elisa, membantu Adiknya untuk duduk di pinggiran kolam. Ethan tersenyum jail yang hanya dapat Elisa lihat saat ini. Elisa mengangguk semangat di tengah kegiatan batuknya. Ethan keluar dari kolam renang dan duduk di tengah-tengah Bian dan Radit. Perlahan, cowok itu berdiri, lalu dengan sigap mendorong Radit dan Bian bersamaan.

        Ethan tertawa puas di atas sana, sedangkan yang di air sedang mengumpatnya. "ETHAN ANJING!" pekik mereka berdua. "Impas," lalu Ethan kembali menyebur. Elisa hanya tertawa meledek, lalu ia bertos dengan Ethan. "Resek lu, ya." pekik Bian lalu menarik Elisa kebawah ketiaknya—Elisa sudah turun ke kolam renang, sedangkan Radit mengelitiki pinggang Elisa yang ramping.

        "RADIT, STOP! Lepasin gue, iih." Elisa menggeliat dibawah ketiak Bian. "Damn you two!" umpat Elisa ditengah tawanya dengan muka memerah. Ethan menaikkan tubuhnya, duduk di pinggiran kolam sembari melihat sahabat dan Adiknya yang akur. "Hei," sapa seseorang membuat Ethan menoleh. "Eh, hai, Van."

        Vania duduk di sebelah Ethan, ikut menatap Elisa, Radit, dan Bian. "Adek lo itu spesial, Eth." buka Vania di tengah keheningan antara mereka berdua. Ethan menoleh, menatap Vania tak mengerti, "Maksudnya?"

        "Dia bisa membuat gue percaya sama dia dalam waktu sekejap. Gue nggak tau kenapa. Gue kenal dia, gue langsung percaya sama dia. Nggak tau kenapa." Ethan mengangkat alisnya, mengacak rambutnya yang basah, membasahi bibirnya yang sudah basah, "Mungkin karena dia Adek gue?" Vania mengedikkan bahunya, "Mungkin juga, iya."

        Ethan mengangkat alisnya, "Mau berenang?" Vania tersenyum lalu menyeburkan diri sendiri. "Well, yeah," Vania terkekeh. Ethan tersenyum. Suara Wisnu mengintrupsi kegiatan semua murid, mereka mencabikkan bibirnya kesal. "Ayo. Bapak ingin melihat kemampuan kalian, Gaya Katak, Gaya Kupu-kupu, Gaya Bebas, itu saja."

"Bapak bilang, saja? Itu banyak, Pak. Ya Allah." Wisnu mendengus mendengar keluhan Reihan, anak Kelas IPA-2. Wisnu memang masuk dalam list guru favorit di Wirajaya. "Sekali ada yang ngeluh, Bapak tambahin, nih!" ancam Wisnu membuat semua mengatupkan bibir mereka.

Aldo, anak Kelas IPA-1, sang Ketua OSIS, mengacungkan tangannya. Wisnu melotot ke arah Aldo, "Apa? Mau nawar?" kata Wisnu. Aldo tersenyum geli, "Orang pengen nanya, kok. Kapan kita mulainya?"

"Tahun depan," celetuk Wisnu, sarkatis, "Ya, sekarang lah." lanjutnya. Murid naik ke pinggiran kolam, karena jika seperti ini, mereka akan mengantre. Mereka dipilih secara random, sesuai kemauan hati sang guru. "Radit," panggil Wisnu menuju ke arah Radit yang mau membuka mulutnya, mengobrol dengan Bian dan Ethan. "Ah, Bapakmah, milih saya mulu yang pertama. Ethan sekali-kali napa, atau Bian, kek." dumelnya, mendekat ke arah pinggiran kolam. Mengambil ancang-ancang untuk menyelam.

Wisnu membunyikan pluitnya, menghasilkan suara melengking. Setelah berhasil, ia lantas menaiki pinggiran kolam renang sebrang, hanya seorang diri. "Cie, jomblo!" Ethan meledek, berteriak. "Pak, tuh Pak. Ethan aja, Pak, Ethan." tunjuk Radit memohon agar Ethan yang dipilih. "Ya sudah, Ethan, maju."

Dan seperti itu, seterusnya.

• • •

"Selamat sore semuanya, ini saya, Aldo Ramadhan Putra. Untuk Ethaniel Abraham Ardinata, Raditya Altha Rivanno, Abian Ilham Reynando—"

Suara speaker yang dipasang di seluruh sudut berbunyi. "Fuck," umpat Ethan kesal. Bayangan pulang, rumah, dan kasur lenyap begitu saja saat menyadari namanya dipanggil. "Ngapain nama gue dibawa-bawa juga?" tanya Radit sewot. "Wah, ck ck, Ethan membawa malapetaka ya, ternyata."

Ethan menjitak kepala Bian kesal. "—harap berkumpul di Ruang OSIS—." Dengan cepat, mereka berlari ke Ruang OSIS. Ternyata, sudah ada Wakil Ketua OSIS, Reihan—Iya, Reihan yang tadi, dengan anggota OSIS lainnya. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "Kenapa lo, senyum-senyum?" kata Ethan ketus. Reihan mengedikkan bahu, "Duduk, sana." Reihan menunjuk kursi-kursi di Ruang OSIS.

Setelah beberapa orang—yang tadi dipanggil, ada di Ruang OSIS, Aldo memasuki Ruang OSIS dengan santai. Ethan memainkan pulpen ditangannya, memutar-mutarnya dengan lincah, tanpa mendongak, ia berbicara, "Kenapa manggil ke Ruang OSIS?" tanyanya to the point.

Aldo tersenyum. "Gue panggil kalian kesini karena...," ia menggantungkan kata-katanya, "Pengen kalian jadi Pengurus Upacara. Besok, Senin."

• • •

A.N

BUAHAHAHAHA. Judul chapternya agak-agak aneh, ya? Bodo ah. Don't forget to tap the star⭐️ and comment💬!

16 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!