14 страница1 мая 2026, 08:12

13: the Murder(s)

"EHEM,"

Suara itu mengintrupsi kelas agar diam, Pak Wisnu sudah berdiri di depan pintu dengan kertas di tangannya. Kelas XI IPA-1 menjadi sunyi. Memang, Kelas yang seperti dulu di batalkan, masa percobaan tidak lulus. Dan kembali menjadi normal.

"Besok kalian akan berenang, okay. Materinya tentang renang. Untuk yang cowok, terserah mau pakai baju renang, atau hanya celana renang saja, itu terserah. Tapi kalau cewek, diwajibkan memakai baju renang, tidak boleh memakai bikini." terang Wisnu dengan tegas.

"Yah, nggak apa-apa dong, Pak, kalo pake bikini. Asoy, kan." celetuk Bimo. Yang di pelototi oleh yang lain. "Bimo, kamu itu." Pak Wisnu sampai tak bisa mengucapkan apa-apa.

"Ya sudah, terimakasih atas waktunya. Kalian boleh pulang, terimakasih."

"IYAAA, PAAKK."

"SELAMAT SIANG JUGA PAAK."

Dan lain-lain.

Ethan lantas menyambar tasnya yang ada di atas meja. Raditpun sedang mengobrol dengan yang lain. Ethan hanya mengkode kepada Radit seakan gue-pergi-dulu. Radit hanya mengangguk tipis. Tepat saat Ethan keluar, Vania, Elisa, Fara, dan Risca keluar dari kelas mereka. Ya, Elisa dan Vania sekelas.

"Hai, Van," sapa Ethan pada Vania. "Gue nggak disapa? Gitu lo, ya." Ethan melirik Elisa kesal, "Lo mah, di rumah juga bisa."

"Ya udah, gue ada urusan. Gue pergi dulu." Ethan langsung ngacir sebelum di tanya macam-macam. Tujuannya cuma satu. Taman Belakang Sekolah.

Taman Belakang Sekolah sedang sepi, dan Ethan bersyukur karena itu. Ethan sama sekali belum menyentuh pohon itu setelah kejadian Veera dibunuh. Maka dari itu, sekarang Ethan akan mengeceknya.

Mata tajamnya meneliti pohon yang paling besar di Taman itu. Namun, nihil, tak ada apa-apa. "There's have to be something in here." gumam Ethan, penasaran. Mendongak. Lalu matanya menatap dahan pohon tersebut.

Lalu ia memanjat pohon yang tinggi tersebut, lalu ia melihat di batang pohon dekat dahan pertama, ada goresan pisau yang dalam, lalu ia menyelipkan semacam notes di dalamnya, dengan warna coklat yang sama sehingga tidak ada yang mengetahuinya. Ethan tersenyum, "I knew it!" pekiknya lalu mengambil notes tersebut dan duduk di dahan pohon, badannya bersender di batang pohon.

Perlahan membuka notes yang terlipat. Isinya;

Oke, kali ini aku akan menulis lebih panjang. Kau tahu dengan pasti artinya di surat pertama, kan? Kau terlampau cerdas, Eth. Tapi sayang, kau tidak secerdasku. Kau juga belum tahu siapa aku. Kau bodoh.

-Unknown

Ethan meremas notes kecil itu dengan geram. "Damn it, lo siapa, sih?" Ethan memutar otak untuk mengingat siapa orang itu. "Eth, lo ngapain di atas?" pekikan itu membuat Ethan menoleh ke bawah. Vania.

"Oh, nggak kok, nggak apa-apa." Ethan tersenyum. Vania hendak memanjat pohon itu juga, membuat Ethan terbelalak. "Are you kidding me, Van? Biar gue yang turun. Stay right there." Ia memasuki notes tersebut ke saku celana, lalu kembali memanjat turun.

"Lo ngapain di atas sana?" tanya Vania bingung. "Cuma... Nyari udara aja. Kan enak tuh, kalo diatas juga, adem. By the way, lo nggak pulang?" Ethan mengalihkan pembicaraan. "Oh, Kakak gue biasa, telat jemputnya. Gue bosen. Akhirnya ke sini, deh. Eh, nemu lo diatas."

"Oh, gitu." Ethan manggut-manggut. "Sekalian jalan, yuk." kata Ethan, Vania mengangguk setuju. "Temen-temen lo mana?"

"Udah pulang."

"Elisa?" tanya Ethan. Vania mengingat-ingat. "Oh, sama Radit atau nggak Bian, kalo nggak salah." Ethan mendengus. "Dasar kucing garong." gumamnya yang terdengar oleh Vania, membuat gadis itu terbahak.

Ethan menatap wajah Vania lamat-lamat. Ia suka wajah tertawa itu. Rasanya perasaan senang itu akan tertular padanya. "Eth," gumam Vania salah tingkah. Ethan mengerjap, lalu memalingkan mukanya, "Oh," ia berdeham canggung. Dan hening. Semuanya terasa canggung.

Tin.

"Itu... Mobil Kakak lo, kan?" Vania menoleh, lalu mengangguk saat melihat plat nomor mobilnya. "Iya," jawabnya, "Ya udah, gue balik dulu ya, Eth." Ethan mengangguk canggung, lalu mengacak rambutnya. "Umh, see ya." Vania tersenyum, lalu mengangguk. Gadis itu pun berjalan ke mobilnya.

Ethan pun begitu. Dan ia mempunya satu tujuan, lagi; Ruang Berkas National Agent Spy Intelligent.

• • •

SETELAH Vania menyambungkan saluran handphone-nya dengan tape mobil. Lagu End of the Day mengalun di mobil. "Jadi... Udah punya pacar, tapi nggak ngomong-ngomong, nih?"

Vania melirik Arsen penasaran, "Apa? Pacar? Gue masih jomblo, Bro. Jomblo."

Arsen menaikkan sebelah alisnya, "Terus, yang tadi nemenin lo siapa? Boleh juga tuh, selera lo." Vania mendengus kesal, "Jangan ngada-ngada."

"Gue nggak ngada-ngada, lho. Perasaan itu hadir kapan aja, Van. Dan lo harus bisa ngebedain yang mana kagum, suka, naksir, sayang sebagai Adek-Kakak atau semacamnya, sama cinta. Karena mereka itu beda.

"Dan jangan sampe lo baru ngeh dengan perasaan lo itu di saat dia udah pergi." Arsen menghembuskan napasnya. Hening.

"Gue tau, lo pernah ditusuk dari belakang sama pacar—" Vania memotong perkataan Arsen dengan cepat, "Mantan, Kak." Arsen manggut-manggut, "Oke. Sama mantan lo dan sahabat lo, at the same time. Dan lo kayak orang hopeless, tau nggak. Lo kayak mayat hidup. Makan, tidur, bangun, makan, tidur, bangun, that's it. Dan ngomong-ngomong makan, gue laper."

"KAK!" pekik Vania kesal karena Kakaknya merusak suasana. "Oke, Van. Chill out." Dan Arsen membelokkan mobilnya di McD. Setelah memesan makanan, mereka duduk di meja. Arsen tiba-tiba membulatkan matanya. "Eh, gue ngambil saus sambal dulu, ya." Arsen memandang Vania lamat-lamat, saat memastikan Adiknya itu tidak apa-apa, ia mengangguk perlahan. "Ati-ati." Vania mengernyit. "Ah, kayak kemana aja gue."

        Tepat saat Vania berbalik, seluruh tubuhnya membeku. Ia memutar kepalanya untuk melihat Arsen, "Karena ini lo bilang 'Ati-ati'?" tanya Vania, "Gue udah nggak apa-apa, Kak. Cuma pengen.. Yeah, main-main sama mereka aja."

        Arsen tersenyum, "I know."

        Vania berjalan dengan santai, melewati meja sepasang kekasih yang sepertinya sedang nge-date, dan ceweknya memakai seragam sama sepertinya. Kayaknya, Si Cowok melihat Vania. Ia lantas menahan Vania, langkah Vania terhenti. Ia melirik pergelangan tangannya. "Mau apa? Terbukti kan, apa yang gue bilang waktu itu? I already know you, Det."

        Vania menghentakkan tangan Deto keras-keras. Ia melirik cewek yang ada di hadapan Deto. Ia menampilkan senyum miring, "Hai, Kanina Clarissa."

• • •

ETHAN mengobrak-abrik Ruang Berkas. "Mana sih?" gumam Ethan meneliti folder-folder yang berjejer di lemari besi. Lalu ia menemukan folder yang bertulis 'Kasus Pembunuhan'. Ethan tersenyum miring, "Got you." Ethan mengambil folder yang berisi beberapa business file.

        Ia membalikkan kertas-kertas yang di semat foto disana. Sampai matanya bertumpu pada salah satu kertas. Ia mengenali orang ini. Ia menaruh kembali business file ke folder. Ia menelfon Bian karena ia yakin salah satu dari mereka bertiga, tidak ada yang memakai earphone wireless mereka.

        "Kenapa, Eth?" Suara Bian terdengar. Ethan berjalan keluar, dari Ruang Berkas.

        "Di sana ada Elisa sama Radit?" tanya Ethan.

        "Ada."

        "Speaker-in." titah Ethan pada sahabatnya itu.

        "Sip."

        "Listen carefully, gue tau siapa." Ethan masuk ke mobilnya.

        "Siapa?"

         "Anak buah-nya Ivar."

• • •

A.N

HAHAHAH. Oke, disini gue sengaja nggak diadain penjelasan. Dan mungkin gue akan double publish.

14 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!