13 страница1 мая 2026, 08:12

12: Gempar

"LO udah siap belom?! Gila, lama banget lo, milih sepatu doang. Bentar lagi masuk, nih." Ethan menggerutu kesal karena Elisa dari tadi belum siap hanya karena masalah sepatu. "Halah, lo juga sering telat kali, Eth." bela Radit. "Yaa, tapikan ini beda. Dia kan, murid baru, masa udah telat."

"Iya, iya, cerewet. Udah kok, yuk." Elisa menepuk pipi Ethan yang mengembung, lalu mencium pipinya; dengan berjinjit karena Ethan lebih tinggi darinya. "Udah, ah, yuk." Ethan menarik Elisa ke dalam mobilnya. Di ikuti Radit dan Bian yang ikut menaiki mobil mereka masing-masing.

"Well," kata Elisa memecah keheningan di antara mereka, "Gue yakin banget lo sekarang udah famous, Eth. Banyak cewek yang flirting ke lo, kan?" Ethan mendengus, "Yeah, lumayan. Cuma ada satu yang agresif kebangetan."

"Tipe-tipe ganjen gitu, ya?" Ethan mengangguk, "Seperti itu. Udah, lo cepet siap-siap. Lo kan, orangnya ribet. Udah mau nyampe, nih." Elisa mendengus mendengar ledekan dari Ethan. "Tau. Ngambek gue sama lo. Ngeledekin gue mulu, lo."

        "Jangan dong," Ethan membelokkan mobilnya di Gerbang Sekolah. Ternyata, semua menatap mobil Ethan, malahan, ada yang menunggu kehadiran Ethan.

        Ethan keluar dari mobil, lalu berdiri di hadapan mobilnya menunggu Elisa keluar. "Jangan ngambek, elah." Elisa menjulurkan lidahnya, sembari keluar dari mobil, "Ya bodo, serah gue. Mau ngambek kek, mau nggak kek."

"Jangan, ih. Kalo lo ngambek nggak enak soalnya," rayu Ethan lagi, membuat Elisa yang sedang berjalan kearahnya menatap menyelidik, "Nggak enak kenapa? Pasti ada apa-apanya, nih." Ethan nyengir, "Nggak enak karena nggak ada yang masakin di rumah."

"Heh!" Elisa menepuk bahu Ethan keras, membuat pemuda itu meringis. Wajahnya cemberut membuat Ethan terbahak. Ethan merangkul Elisa dan membawa ke dalam Sekolah. Semua yang melihat itu melongo. "Halah, nanti juga lo pas malem-malem kalo ada petir gede langsung buka pintu kamar gue, langsung ngeringkuk di samping gue, minta peluk. Muna lo, dasar."

Kali ini, Elisa yang menyengir. "Yaa, kan lo doang yang bisa ngelonin gue. Masa gue minta dikelonin Radit atau Bian. Paling juga, lo ngegorok mereka berdua kalo kayak gitu." Ethan menepuk ujung rambut Elisa, "Emang."

        Di sisi lain, ada gadis yang terpaku di tempat. Sedangkan sahabat-sahabatnya menatap gadis itu was-was. "Lo nggak apa?" tanya Fara. Gadis itu tersenyum, "I'm fine."

        Setelah apa yang dilakukan Ethan kemarin? Setelah Ethan menceritakan masa lalunya kepada Vania yang membuat Vania merasa spesial, sekarang ia dihempaskan begitu saja? Lihat, mereka lebih cocok. Gadis yang dirangkulan Ethan sangatlah cantik. Vania lantas berbalik badan dan langsung berjalan cepat ke arah lapangan.

"Ethaaaannnn," pekikan itu membuat Ethan memutar bolamatanya malas, ia pun langsung mengubah ekspresinya menjadi datar, tatapannya menusuk. Elisa menatap cewek itu dari atas sampai bawah, meneliti. Cewek itu, bergelayut di tangan Ethan membuat Ethan menyentak tangannya, "Apaan sih, Clar?! Pergi sono lu." Kini pusat perhatian pada mereka.

         "Oh," Elisa melirik Claris tajam, "Ini cewek yang lo bilang di mobil, Eth?" Mata Claris berseri-seri. "Kamu ngomongin aku? So sweet banget sih. Pasti kamu ngomong aku ini cantik, ya?" Semua terdiam. Tiba-tiba suara tawa dari mulut Elisa tak dapat dibendungnya lagi. Ia tertawa sekeras-kerasnya sampai badannya ling-lung dan harus di tahan oleh Ethan; dengan memeluk pinggangnya dan menarik sedikit agar tubuh Elisa mendekat sehingga bisa bersender.

        "Pede abis, astaga. Emang lo tau gue sama Ethan ngomongin apaan?" Elisa menaikkan sebelah alisnya, menatap Claris yang menatapnya sengit. Claris menggeleng. "Lo mirip kayak bitch. Gue kira, nggak sampe pake rok ketat juga kali. Kayak badan lo bagus aja. Badan kayak lidi gitu aja sombong."

         Claris melongo. "Apa lo bilang? Bitch? Lo kali yang bitch! Nempel-nempel sama Ethan, pake tidur seranjang sama Ethan, lagi." Elisa terkekeh kecil, "Oh ya? Emang nggak boleh, ya? Waw, baru tau gue, Adek-Kakak nggak boleh seranjang. Lagian, itukan karena gue takut." Elisa menatap Ethan yang memandang Claris tajam. Claris melongo. "Eth, gue nggak setuju punya Kakak Ipar kayak dia, oke? No way. Kayak lo nggak bisa gebet cewek lain aja. Cari cewek lain, sono."

        "Dih, siapa juga yang mau. Ogah." cibir Ethan tajam. Menarik tangan Elisa dari hadapan Claris yang membeku. Mereka menuju ke lapangan yang sudah banyak orang. "Uh, panas," gerutu Elisa kesal. "Dasar. Ya udah, cari tempat yang adem aja." Ethan menarik Elisa ke arah yang sedikit adem.

        "Woy, Eth, di sini lo ternyata. Si Claris mukanya merah banget, oyt." Radit terbahak melihat ekspresi Claris saat Ethan menarik Elisa menjauh. "Hhh, mana mau gue punya Kakak Ipar kayak cabe-cabean goceng begono. Hih, amit-amit, dah. Astaghfirullah. Semoga gue nggak gitu-gitu amat, ya Allah." Elisa mengelus dadanya. "Tumben nyebut," ledek Bian disamping Elisa. "Eh, tuh, ada KepSek."

        "Kita kan, udah tau. Ngapain dengerin lagi. Males. Ngantuk. Pengen tidur." Ethan menaruh dahinya ke rambut Elisa, seolah rambut Elisa adalah bantal. Setelah hampir dua jam dipanggang di lapangan, mereka dibagikan jadwal oleh OSIS.

        "Okay. Kelas Fisika. Ada yang sekelas sama gue?" tanya Ethan. Bian nyengir, "Gue." Ethan memutar bolamatanya, "Lo lagi, lo lagi. Pokoknya, pasang earphone wireless kalian, oke?"

• • •

ETHAN yang sedang di lorong loker pun melihat Vania yang sedang mengobrol dengan Fara dan Risca. Ia tersenyum tipis, lalu menarik Elisa. "Van," panggil Ethan membuat Vania menoleh, "Apa?" Vania melirik tangan Ethan yang menggenggam tangan Elisa, tanpa tahu-menahu tentang hubungan mereka.

        "Loh, elo, El. Hai," sapa Vania pada Elisa. "Kalian udah kenal?" tanya Ethan melongo. "Udah, Eth. Udah. Lo kira gue se-introvert itu, apa?" Elisa menepuk punggung Ethan. Ethan terkekeh, merangkul Elisa dan mengacak-acak rambutnya. Sedangkan Vania tersenyum canggung. Ia memang mengenal Elisa, namun ia belum mengetahu bahwa Elisa adalah Adik Ethan.

        "Eh, iya. Sampe lupa, kan. Lo sih, El—" Elisa melotot, "Kok gue?!" Ethan mengedikkan bahunya. "Van, Elisa ini Adek gue." Vania tercenung, "Hah?"

        "Gue kan, sempet cerita ke lo waktu itu, tentang Adek gue yang lagi di Swiss." Vania mengangguk. "Nah, ini dia anaknya."

        "Oh. Jadi elo yang diajak nge-date sama Ethan?!" pekik Elisa tiba-tiba membuat Vania menggeleng canggung. "Abriana Elisa Ardinata, I already told you many times, it's not a date." kata Ethan malas. "Yes, it is! Nah, kalo lo pilih cewek yang kayak gini, kan, keren. Gue mau lagian, punya Kakak Ipar kayak dia." Ethan dan Vania kompak membulatkan matanya ke arah Elisa, sementara gadis itu terbahak.

        "Van," panggil Fara dan Risca tiba-tiba. "Eh, hai!" sapa Elisa ramah. "El, ini sahabat gue, Fara sama Risca."

        "Hai, Far, Ris. Gue Elisa." kata Elisa ceria. Fara dan Risca membalas sapaan itu. "Ya udah, gue tinggal, ya. El, kalo lo macem-macem gue gorok lo. Bye. Van, kalo ada apa-apa Line gue aja, ya." Ethan tersenyum ke arah Vania, yang dibalas anggukan oleh Vania. Elisa tersenyum menatap Ethan yang sepertinya sedang kasmaran itu.

        Ia tinggal menunggu tanggal mainnya.

• • •

"EH, cabe!" Vania menggeram saat mendengar suara cempreng itu. "Lo bisa diem? Gue muak liat muka ondel-ondel lo itu." ketus Vania. "Enak aja lo bilang ini muka ondel-ondel. Gue pake NYX, MAC, make-up branded lainnya."

        "Oh. Emang gue nanya?" tanya Vania santai. "Lo ya! Nge-sok bisa nge-dance, padahal mah payah, caper sama Ethan lagi." Vania menggeram lagi, "Nggak level caper sama gue, mah. Lo kali yang caper. Udah ditolak sama Ethan masih aja ngerayu kayak nggak pernah punya cowok gitu. Situ harga dirinya mana?"

        "Udahlah, Van. Nggak usah di urus sayton kayak gitu mah." kata Elisa yang akhirnya angkat suara. Ia menarik Vania agar pergi dari hadapan Claris. "Lo bisa nge-dance? Baru tau." kata Elisa. "Dia mah, tiada hari tanpa nari, El." kata Risca.

        "Oh ya? Keren, dong." Vania terkekeh, "Nggak, biasa aja." Elisa manggut-manggut. "Lo sejak kapan deket sama Ethan?" tanya Elisa saat duduk di bangku kantin. "Waktu acara The Beat Up, bulan lalu." Elisa mengangguk kembali, "Kok bisa?"

"Waktu itu gue lagi di... Apa ya, bilangnya? Pokoknya, mantan gue itu minta balikan, sama gue. Abis itu narik-narik gue gitu. Taunya Ethan nolong gue." Vania mengedikkan bahunya. "Kalo gue boleh tanya, kenapa kalian putus? Sorry banget, nih, gue kan baru kenal sama kalian."

Fara terkekeh, "Lo udah kita anggep sahabat lama kita, tau, El." Elisa tersenyum manis. "Nggak tau. Tiba-tiba dia nge-Line gue minta putus, alesannya gara-gara ada cewek lain. Yah, gue mah udah nyuruh dia buat mikirin lagi. Tapi dia udah bulet. Ya gitu deh." Vania mengedikkan bahunya. "Dih, labil amat jadi cowok."

Vania terkekeh. "Iya, dan dengan gobloknya dia ngajak gue balik. Heh, gue tau kok, hubungan dia sama ceweknya sejauh apa."

"El, karena lo udah deket sama Vania. Can you protect her while I can't?" Elisa melirik Ethan yang sedang memandangnya dengan tatapan memohon. Elisa hanya mengangguk mengiyakan. Anggukan yang tipis agar tidak ada yang melihatnya, namun berhasil membuat senyum Ethan terbit, menghiasi wajahnya yang handsome as hell itu. "Thanks."

• • •

ETHAN mendengus kesal mendengar perdebatan antara Bian dan Radit. Bukan apa-apa. Masalahnya, mereka memperdebatkan yang tidak penting. Seperti saat ini,

        "Tahun Baru itu 31 Desember, bukan 1 Januari!"

        "Ya nggaklah. 1 Januari-lah, yang bener."

        "Yekali, kan Desember lebih dulu daripada Januari."

        Mereka memperdebatkan, Tahun Baru itu ditanggal 31 Desember, atau 1 Januari. Dan itu yang membuat Ethan kesal. Sudah banyak pikiran didalam benaknya; Yang mana strategi yang dipakai Si Unknown ini?. Kira-kira, begitulah isi pikiran Ethan.

        "Shut up!" bentak Ethan tak betah. Radit dan Bian menoleh. Ethan mendengus kesal, "Guys, mending bahas yang lain daripada Tahun Baru itu 31 Desember atau 1 Januari, deh."

        Di piring Nasi Goreng Radir terdapat seiris Tomat. Ia melirik Bian, "Eh, tomat itu sayur kan, ya?" Bian menggeleng, "Nggak, buah-lah."

        "Sayuran, lah. Kan Tomat ada di Toko Sayur. Pasti sayur."

        "Buah, anjer. Coba liat bentuk-bentuk sayur. Beda, kan, sama tomat?"

       Shit, Ethan merutuk dalam hati. "Damn, kalian bisa diem nggak sih?" tanya Ethan kesal. "Ethan mah, nggak bisa diajak bercanda. Nggak seru." Bian cemberut. Sedangkan Radit memasang wajah memelas yang membuat Ethan berjengit jijik, "Anjir, najis."

        "Nah, lo jangan terlalu banyak pikiran, Eth. Kalo lo kebanyakan pikiran, lo malah nggak bisa nemuin jalan keluarnya. Lo harus relax dulu, baru mikirin. Pasti bisa." saran Bian. Ethan mengusap kasar wajahnya, "Gimana bisa tenang kalo misalnya bisa aja Vania yang jadi victim selanjutnya? Dammit, gue nggak bisa tenang."

        Dalam satu tarikan napas, Radit bertanya, "Lo cinta sama dia?"

• • •

A.N

Halo, aku datang dengan 1688 words. Sumpah, pusing gara-gara gue harus presentasi, buat powerpoint, dan yang bikin pusingnya itu karena yang gue ketik banyak banget. Like, anjir, ni guru mau ngerjain gue apa? Ni guru mau nambahin kerjaan gue? Udah banyak kok, kerjaan gue dirumah. Huh. Don't forget to tap the star⭐️ and comment💬! Luv ya!

13 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!