03: School Magazine
MISI ringan itu belum selesai saat Ethan dan Radit pulang. Padahal jam sudah menunjukan pukul 01.00. "Bangsat emang," gumamnya kesal.
Ethan langsung berlari ke arah kamar tidurnya. "Wohoo!" pekiknya lalu menjatuhkan dirinya di ranjang. "Enak banget, deh. Lo emang nggak ada tandingannya, Sur." gumamnya sembari menepuk-nepuk kasurnya. Dan ia pun langsung terlelap.
• • •
ETHAN memasuki kelas dengan ekspresi risih. Bagaimana tidak, sejak ia menapakkan kakinya di Sekolah. Semua orang menatapnya, lalu berbisik-bisik. Begitupun yang lagi berbisik-bisik, berhenti saat Ethan lewat. Sangat mencurigakan. Apalagi Ethan yang pendengarannya tajam bisa mendengar samar-samar. "Masa sih? Kayaknya nggak mungkin dia deh."
Ini pada ngomong apaan coba? Nggak jelas amat, batinnya.
Ethan melihat Radit yang memegang majalah sekolah dengan raut gelisah sekaligus shock. "Dit, pada kenapa sih? Dari tadi gue diliatin mulu. Kayak orang abis nyuri apa aja gue." gerutunya pada Radit.
Radit menjulurkan majalah yang sudah ia buka itu, "Liat." katanya, membuat Ethan mengernyit dan melihat apa yang ada di lembaran tersebut.
Ethan membulatkan matanya tak percaya, ia meneliti kembali foto yang ada disana. Ini benar dia dan Radit, ini benar mobilnya dan Radit. "Eth," panggil Radit hati-hati. Ethan melirik siapa yang mengetik hal tersebut. Rena, Anak Jurnalis.
Ethan bangkit dari duduknya, berjalan dengan santai di koridor, namun auranya berbeda. Ia berjalan ke arah Koridor IPS. Ia memasuki XI-IPS-3, kelas Rena. Ia melihat Rena ada disana, duduk dengan kalem.
"Ren," panggilnya, membuat sang empu nama menoleh. "Kenapa?"
Ethan melempar majalah tersebut di meja Rena. "Siapa yang ngasih foto itu?" tanyanya tajam. Rena tersenyum, "Muka lo nggak cocok sama sekali, Eth, kalo kayak gitu. Sumpah. Malah kocak, tau." kata Rena disusul gelak tawa Kelas XI-IPS-3 yang tiba-tiba penuh, entah emang XI-IPS-3 kelas mereka, atau bukan. Ethan berdecak malas, "Harus banget, ya, ngetawain orang? Waktunya nggak tepat banget," ucapnya santai namun sinis, Etham tidak pernah berbicara seperti itu sebelumnya.
Tangan Ethan bergerak melepas kacamatanya. Saat tangan Ethan hendak melepas kacamata tersebut, Radit menahannya. "Seriously, Eth? Sekarang? Oh, come on," wantinya, "Sekali lo udah buka tu kacamata. Lo udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi, Eth. Cuma buka kacamata, lo udah menunjukkan jati diri lo yang sebenarnya. Gue dukung lo, emang. Tapi gue nggak mau lo nyesel nantinya, cuma karena lo marah." tutur Radit pelan-pelan.
"Gue nggak marah," kata Ethan gamang, "Lebih tepatnya, belum. Gue masih berpikir secara logis. Dan ya, gue mau lepas ni kacamata. Lo?"
"Kalo lo buka, gue buka. Karena sekalinya lo ngebuka, gue juga kena imbasnya, Bro," kata Radit langsung. "Udah obrolan sahabatnya? Sepertinya, lo nyari gue, Eth," ucap sebuah suara. Yang membuat rahang Ethan terkatup rapat. "Oh, jadi lo ngaku kalo misalnya lo yang ngefotoin itu?" tanya Ethan. "Gue ngaku, iyalah, gue bukan pengecut kayak lo," Ethan mendengar teman-temannya kembali tertawa. Ia mendengus.
"Lo jangan ngurusin urusan pribadi orang, James," ucapnya datar. "Atur aja idup lo yang masih berantakan itu." lanjutnya. James menatap Ethan, "Wow, ada yang ceramah,"
"Gue nggak ceramah, James. Tapi emang idup lo berantakan, kan? Jujur aja lah. Katanya bukan pengecut," Ethan menaikan sebelah alisnya.
Bugh!
Satu pukulan mendarat tepat di pipi Ethan. "Shit," umpatnya kesal. Rambutnya yang tadinya dibelah tengah, ia acak-acak. Lalu ia melepas kacamata yang letaknya sudah miring. Kini mata hitam mengkilap itu nyata. Tatapan matanya yang tajam mempesona.
Bugh!
"Sebenernya, gue bisa buat lo nggak masuk dua bulan gara-gara adu bogeman mentah sama gue, James. Cuma," jeda, Ethan menunduk di depan James yang terduduk, karena keseimbangannya yang tak stabil, "Nanti ada yang ngadu. Lo udah bangunin singa dari tidurnya, bro. Gue nggak suka kalo ada yang ngurusin urusan pribadi gue, tanpa tau dari guenya sendiri."
"Fine, case closed!" ucapnya bangkit dari jongkoknya. Semua yang ada disana menganga. Wajah Ethan sangat sangat tampan. Tatapan matanya tajam membius nan mempesona. Hidungnya mancung bak perosotan. Bibirnya yang merah alami. Bolamata hitam pekatnya yang sangat mendukung tatapan mata tajamnya. Alisnya yang tebal sampai-sampai cewek-cewek iri. Rahangnya yang kokoh. Dan satu lagi, dia memiliki lesung pipit, dimples.
"Anjay," Radit melepas kacamatanya, berlari mengikuti Ethan yang sudah berjalan jauh. Semua anak disana menatap Ethan macam-macam, kagum sekaligus bingung; Gue nggak pernah ngeliat ni anak disini. "ETHAN! Jangan tinggalin gue, bangsat. Udah capek-capek gue tahan juga lo. Dasar nggak tau diri."
Pekikan dari Radit menjawab semua pertanyaan yang ada di otak anak Wirajaya. Dan semuanya tak percaya. "Gue nggak nyuruh lo nyusul gue, ya, sorry," ucap Ethan seperti biasa. "Nyesel gue sahabatan sama lo," Radit berbicara seperti itu, namun ia tetap berjalan berdampingan. "Udah masuk, anjing."
Radit langsung ngacir saat mendengar bel berdenting, membuat Ethan tersenyum kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya, "TUNGGUIN GUE, DIT!" Ia pun dengan cepat menyusul Radit yang sudah jauh didepannya.
• • •
BIAN duduk ditengah-tengah Ethan dan Radit dengan basa-basi sok-sok pake perkenalan kayak anak TK dulu. Mereka hanya ingin tidak ada yang mencurigainya. Kini mereka sedang berada di Kantin.
Ethan hanya mendengar. "Goblok, anjing. Kenapa ni info udah nyampe ke telinga Bokap-Nyokap gue?"
"Saya tidak terkejut," kata Radit, menyuapkan kembali nasinya. "Bokap lo pasti langsung kirim mobil lo kesini. Apalagi lo ada tuutt abis ini, kan?" tanya Bian pelan. "Iya. Liat deh," Ethan menunjukan chat nya ke Radit dan Bian.
Papa: HOHOHO. Kamu beneran udah nggak pake kacamata nggak guna tu? Wah, aku turut bersenang, Nak. KAMU GANTENG BANGET, ASLI, ALHAMDULILLAH KAMU MIRIP PAPA!!👯👯
Ethan: Papa mau muji aku atau mau muji Papa sendirii??
Papa: Dua-duanya. HAHAHA. Oke, berarti Papa bisa nganter mobil kamu ke sekolah, dongs. Akhirnya doa Papa terkabul juga. Nanti Papa suruh Jerry buat nganter mobil kamu sama Radit.
Ethan: Semerdeka Papa lah.
Ethan menjawab seperti itu karena ia kita Papanya hanya bercanda. "Gila," Bian berdecak, "Ternyata dibalik karismanya sebagai Ketua dia punya sisi humorisnya itu."
"Itu yang bikin gue kalo ada rapat kayak; Ngesok amat sih. Gitu," kata Ethan membuat Radit yang ngakak semakin ngakak. "Anjir, anjir, Bokap lo gokil banget,"
"Begitulah," Ethan mengedikkan bahunya. "Gue balik ke kelas dulu, ya," Ethan bangkit dari duduknya. Lalu ia berjalan di koridor yang ramai karena jam istirahat. Namun seseorang menahannya, membuat Ethan menoleh dan mengernyit. Orang itu menganga lebar. "Lo yakin dia ... Ethan?"
Orang yang dibelakangnya mengangguk yakin, "Iya. Dia Ethan. Nggak percaya kan lo?"
"Ada apa, Kak?" tanya Ethan menekan kata Kak pada perkataannya. "Lo ... Ethan?" Ethan memasuki tangannya ke saku celana..
"Iya, kenapa?"
"Anjir, nggak nyangka gue, si culun jadi kayak gini. Ternyata gosip itu bener." Ethan mengangkat alisnya, "Gosip? Lo denger gosip? Anjir, cewek banget," cibir Ethan meremehkan. "Nggak sengaja denger, Eth," air muka Ethan berubah menjadi meledek, "Wah, manggilnya Eth sekarang. Keren, keren, kemajuan yang sangat pesat."
"Jangan mainin emosi gue, Eth," Ethan terkekeh, "Wah, manggil Eth lagi. Gue harus tumpengan sama keluarga gue, nih," ucapnya semakin. Saat melihat tangan Tomy, si Kakak Kelas Yang Suka Bully Ethan terkepal, Ethan melambaikan tangannya. "Gue pergi, daah."
"Tai, dia mainin emosi gue."
• • •
A.N
Oh well, gue tau banget ini chapternya absurd. Gue kasih tau, guys, misi 'ringan' ini nggak gue jelasin, nggak gue jabar dengan baik. Maaf. Don't forget to tap the star and comment! Luv ya!
