5 страница1 мая 2026, 08:12

04: Prepare

"BAJU kita apa? Warna apa? Design-nya gimana?" tanya Lala beruntun. "Kalo dulu, apa?" tanya Vania ikut duduk. Mereka membentuk lingkaran. Lala melirik Lily dan Shera, "Kalo dulu sih, kita utamakan di putih."

"Gimana kalo, kita tema-nya flanel? Terserah mau dipake atau mau diiket di pinggang, yang penting flanel," celetuk Teresa. "Bisa, bisa. Ya udah, fix itu aja?" tanya Lala memastikan.

Vania memainkan kuku jarinya, "Gue sih, oke. Lagian, nari kan enakan casual aja gitu," Lala menuliskan 'utamakan; kemeja flanel' di papan tulis yang memang disediakan di Ruang Tari. "Okay. Acara dibuka sekitar jam empat-an. Iya kan, Ly?" tanya Shera saat melihat sudah waktunya ia berbicara.

Lily mengangguk. Shera kembali melanjutkan ucapannya, "Nah, kalo nggak salah, kita kebagian jam setengah lima, jadi udah agak gelap. Dan kemungkinan besar, makin sore, makin banyak yang nonton."

"Lokasinya udah fix disana. Gue nggak tau pasti itu dimana. Tapi nanti gue locate pake Google Maps. Gampang. Udah pada masuk semua, kan? Vania udah masuk?"

Vania mengangguk, "Udah, Kak." Lily tersenyum, "Oke. Bagus. Sekarang, latihan nari. Make us proud of you, guys!"

Semua langsung berdiri di posisinya. Memulai gerakan mereka dengan serentak secara berbarengan, kompak. Membuat Shera, Lily, dan Bu Sasha tersenyum. Setelah alunan lagu berhenti. "Kalian tinggal latih terus setiap hari. Agar konsisten dan kompak. H-4, gengs."

• • •

ETHAN berjalan terburu-buru setelah mendapat pesan di ponselnya. Earphone wireless telah terpasang di telinganya, untuk menghubung tanpa ponsel. "Dit, gawat, Dit, anjir. Papa, edan." ucapnya

"Kenapa?" suara Radit terdengar santai disebrang sana. "Apa yang Papa gue ucapin di-chat itu beneran dia lakuin."

"Oh," kini suara Bian terdengar. "Wait, what?! Gue tau lo ngasih tau ke Radit. Tapi gue juga kaget." pekik Bian kembali terdengar. "Mobil gue juga?" tanya Radit. "Katanya sih, iya. Mampus anjrit." Ethan mengutuk sekolah yang sangat besar itu, entah kenapa perjalanan terasa sangat lama sekarang.

"Watch your steps, girls!" pekik Ethan saat ada segerombolan cewek ingin menabraknya. "Gue mendekati lobby. Lo dimana? Rame banget."

"Gue di lobby. Rame banget. Ini juga lagi ngelewatin anak-anak." ucap Radit kembali. "Permisii," ucap Ethan menyelip ditengah-tengah padatnya lobby sekolah yang memang selalu ramai saat jam pulang sekolah. Namun entah kenapa, sekarang terasa semakin padat bagi Ethan. Saat Ethan berdiri di ambang pintu lobby bersamaan dengan Radit yang berdiri disampingnya dengan rambut acak-acakan.

Benar saja. Terdapat dua mobil yang paling mencolok disini. Radit dan Ethan saling berpandangan, "Bapak lo gila, Eth." gumam Radit yang dihadiahi anggukan oleh Ethan, "Setuju."

Seseorang menepuk pundak keduanya, "Shit. Bapak lo nggak main-main, Eth." gumamnya pada Ethan. "Emang. Ya udah, nasi telah menjadi bubur, eak."

Terlihat James yang mendekat ke arah mobil keduanya, membuat sang empu mobil mengamati James teliti. "Tuh orang pengen ngapain?" tanya Ethan mengamati James yang mengelus mobil Ferarri 458 Spider milik Ethan. "Kagak tau gue. Daripada berabe, kita kesana sekarang." Ethan mengangguk, sedangkan Bian mengeluarkan kunci mobilnya, "Gue ke mobil dulu."

Ethan dan Radit mengangguk seiring mereka berjalan ke arah mobil mereka. "Ehem," deham Ethan sengaja. "Ada apa, ya, James? Uh, Kak Erza and the geng juga. Oh, ada Dio juga ternyata. Ngapain, ya?"

Ethan membuka pintu mobil yang notabene-nya itu di design dengan fingerprint. Mobil yang dipakai Radit, Bian, Ethan di design khusus karena Ferarri dan Lamborghini serta Porsche bekerjasama Agent Spy Company.

Ethan melempar tasnya di jok sebelah-kemudi, lalu kembali menengok ke James yang masih mematung di depan mobilnya. "Eth, ayo, jangan ngurusin James dan kawan-kawan." ucap Radit di telinganya. "Hmm," Ethan menggumam dan memasuki mobilnya. Serta menyalakan mobil yang berupa tombol. Ia langsung menginjak pedal gas pelan-pelan, mundur sedikit buat mengambil ancang-ancang menghindar dari James and the geng.

Setelahnya, ia langsung menancapkan gas dan langsung melesat keluar. "Ayo sih, ayo. Tapi jangan ninggalin juga, kali." gerutu Radit di telinganya. "Hahah, daripada gue nggak kudu keluar dari sana. Kan gawat."

Ethan menghidupkan interface di mobilnya. Lalu melaksanakan misi itu dengan serius dan penuh perhitungan.

• • •

"EARPHONE wireless selalu ada di kita. Kita perlu bawa FN-57. Apalagi, ya? Tag Focus Glasses, Gadget Bag. Okay, that's it." ucap Ethan pada diri sendiri. Ia kini sedang mempersiapkan semuanya dengan Bian dan Radit di rumah Ethan. "Udah kan, ya?"

"Gue rasa, sih, udah. Karena, sumpah demi apapun ini berat, anjir." keluh Radit. "Kita ke kamar aja,"

Memang, di rumah Ethan ada kamar khusus untuk Radit dan Bian. Malahan, Radit dan Bian lebih sering menginap di rumah Ethan dan orangtua mereka; Radit dan Bian pun tampaknya oke-oke aja, karena memang orangtua mereka sahabatan. Jadi, fine.

Ethan sendiri juga senang kalo ada sahabatnya tinggal dirumahnya. Walaupun ngeselin abis, tapi jadi rame. Seru.

Pintu kamar Reynold, Ethan, Radit, dan Raga memiliki handle fingerprint yang bisa di aktifkan maupun di non-aktif. Handle fingerprint ini bukan hanya di setting untuk satu orang, namun lebih. Semua keamanan di rumah Ethan juga seperti itu, bisa di set lebih dari satu orang. Jadi, mereka; Ethan, Bian, dan Radit, bisa memasuki kamar satu sama lain, atau ruangan penting lain, dengan leluasa.

"Gue boseennn," pekik Bian kencang-kencang sembari berguling kesana-kemari di ranjang Ethan. "Jalan-jalan, kuy. Kemana gitu. Bosen banget, anjir." ucap Bian kembali dengan posisi terlentang. "Oh ya, Dit, Eth, Instagram lo udah di un-private?"

Dulu, Ethan dan Radit memang me-private Instagramnya karena isinya ada muka aslinya. "Belom. Lupa," tangan Ethan bergerak membuka Instagram yang harus ia log-in karena tadi memang ia un-install, karena entah-kenapa-nggak-bisa-dibuka. Tepat proses loading selesai, dan saat ia me-unprivate akun Instagramnya.

Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!

Dan seterusnya. Ethan melongo, "Baru ditinggal tadi pagi. Nggak ada notification apa-apa karena jomblo. Lha, sekarang? Leh ugha."

Ethan lantas mengecek Instagramnya. Di post-nya banyak jejak yang berupa comment minta follback;

Eth, follback gue yak, temen sekelas lo.

Kak Ethannnn, follback aku dong. Pliss. Aku sekolah di Wirajaya juga, lho.

ETHAANN GANTENG DEH, FOLLBACK DONG!

Ethan tersenyum usil, followers-nya meningkat drastis. "Lo harus coba, Dit. Gue berasa jadi apaan tau."

Radit mengambil ponselnya, lalu ia setting menjadi unprivate sehingga semua bisa comment, like, dan stalking di Instagramnya. Tak lama, sama seperti Ethan ponselnya terus menerus berbunyi. Bian geleng-geleng kepala, "Kampungan."

• • •

A.N

Plis. Yang nggak ngerti sama penjelasan gue diatas, mana? Nih ya, gue jelasin disini. Maksud gue itu, kan kalo fingerprint pasti ada setting-annya, kan? Nah, maksud gue, nggak satu handle, satu orang yang bisa buka, tapi banyak, sesuai yang udah di setting. Oh ya, bentuk handlenya sesuai imajinasi kalian, yup. Buat yang bingung; Maksudnya ruangan penting tuh, apa(?). Maksud gue itu, kan kalo film-film spy-spy gitu pasti ada ruang rahasianya, kan? Atau ruangan yang ada banyak hightech dan segala printil-printilannya? Nah, maksud gue tuh, itu. Untuk visual Ethan, Vania, Fara, Risca, Radit dan Bian, belom semuanya. Ethan udah fix di visualin sama seseorang. Azek, sok misterius gitu #cih. Njay, gue bacot banget yak? Udah deh. Don't forget to tap the star and comment! Luv ya!

5 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!