6 страница1 мая 2026, 08:12

05: The Beat Up

•3 Days Later•

"JADI gini, kita kesana, nyebar, ngamatin, ngumpul lagi dimana kek. Udah, gitu aja strateginya. Easy. Intinya, kabarin kalau ada yang mencurigakan, baca gerakan tubuh dan mata, abis itu kalau yang udah dapet lapor, salah satu darikita juga nelfon Papa gue." Radit dan Bian mengangguk mengerti. Ethan menunjuk ke arah peta digital di interface. "Sekarang, kita bagi," Ethan menunjuk disalah satu tempat, lebih tepatnya dekat pintu keluar, "Gue bagian sini," jari telunjuknya pindah ke sisi lain, dekat panggung, "Radit bagian sini," jarinya kembali berpindah tempat, di tengah-tengah, "Dan, Bian bagian sini." tutupnya.

        Ethan menutup layer bagian peta. Ia pun kembali membesarkan layer yang isinya berupa data-data target mereka. "Gue sent ke interface mobil kalian. Sekarang, siap-siap!" titahnya.

        Radit dan Bian lantas keluar dari ruangan tersebut. Ruangan yang sistem keamanannya paling ketat karena banyak barang-barang yang sangat berharga, serta ruangan yang paling tersembunyi.

        Ethan berlari ke kamarnya, membuka handle fingerprint-nya dengan sekali gerakan. Ia melepas bajunya dan lantas mengenakan kaus putih dengan jaket parasut biru dan celana denim hitam. Ia langsung mengambil dompet dan memasukkan ke saku celananya, serta mengambil pistol FN-57 yang ia selipkan di balik kaus dan jaketnya itu, dan mengambil ponselnya yang sedang di-charge. Ia memasang earphone wireless-nya di telinga.

        Ia langsung turun saat sudah siap. Ia langsung membawa Tag Focus Glasses-nya, dan menaruhnya di saku jaketnya. Tepat saat Ethan turun, Radit dan Bian sudah duduk di ruang keluarga. "Udah?"

"Lo pikir?" tanya Radit malas. "Nanya doang. Kuy, berangkat." Mereka pun keluar rumah, dan menaiki mobil mereka masing-masing. Dan seperti biasanya, mereka kebut-kebutan.

• • •

TIGA mobil itu mencuri perhatian siapapun, termasuk sang empu mobil. Radit turun dengan gayanya yang khas. "Mencar, oke? Seperti yang gue bilang dirumah." ucap Ethan pelan. Bian dan Radit mengangguk. Mereka lantas bertos dan berpencar.

"Guys," Ethan berbicara kepada Radit dan Bian lewat earphone wireless-nya, "Banyak anak Wirajaya yang kesini." lapornya karena melihat sekelompok orang Wirajaya. Ethan berusaha nampak santai dan menyembunyikan wajahnya. Namun ternyata, masih ketauan. "Eh, lo Ethan, kan?"

"Shit," umpatnya pelan. Lalu mendongak. "Iya. Lo...," Ethan menatap orang itu dari atas sampe bawah, meneliti, "Lo..., oh, temennya Tomy, sama James sama Dio, kan?"

"Iya. Tenang. Gue cuma mau ngajak lo ngumpul, kok. Mau?" Ethan terkekeh, ia melirik sekumpulan orang dengan senyum miring, "Boleh." ucapnya kembali menatap prang tersebut. "Good," Ethan berjalan di samping Galih—nama orang itu, dengan santai.

"Wow, seorang Ethan mau mengumpul sama kita? Kemajuan." James berkomentar saat Ethan masuk dilingkaran. "Sekali-sekali, nggak apa-apa lah, ngumpul sama yang dulu sering nge-bully gue. Iya, kan?" balas Ethan nyindir. "Sekolah kita ..., urutan keberapa?" tanya Ethan sembari mengedarkan pandangannya. "Sekitar, jam setengah lima. Sebentar lagi."

"Guys, I think I found him," ucap Radit terengah-tengah di earphone wireless Ethan dan Bryan. Air muka Ethan berubah menjadi tegang. Ia lantas menjauh dari kumpulan James tersebut. "Dia, kemana?" tanya Ethan sembari mengedarkan pandangan dan berlari. "Gue nggak tau pasti itu dia atau nggak, tapi gue curiga." suara Radit kembali terdengar. "Bilang kalo ada apa-apa, Dit, gue liat lo darisini."

Ya, Ethan mengambil angle yang tepat untuk mengamati gerak-gerik Radit. Ia melirik panggung yang berisi kelompok tari dari sekolah manapun. Tiba-tiba, seseorang menabrak Ethan membuat Ethan menahan orang tersebut dengan tangan yang memegang lengan orang tersebut. "Eh, sorry, sorry," ucap Ethan saat tersadar. Gadis didepannya ini merapihkan bajunya, "Seharusnya gue yang minta maaf. Maaf ya, gue nabrak lo."

Gadis itu mendongak. Lalu menatap Ethan kaget, ia menatap Ethan dari atas sampai bawah, dahinya berkerut, tanda sedang mengingat orang didepannya ini. "Oh, lo Ethan, ya? Gue nggak pernah ketemu lo, ketemunya malah disini, bukan disekolah."

Ethan mengernyit, lantas menatap gadis itu menyelidik, "Lo anak Wirajaya, kan? Damn, seharusnya gue udah tau." Ethan tersenyum, membuat lesung pipitnya terlihat. Manis. Satu kata terlintas di benak cewek itu.

"Gue Vaniala Aletha Ardana, lo bisa panggil gue Vania," ucap cewek itu yang ternyata Vania. "Oh, kalo gue Ethaniel Abraham Ardinata, dan lo udah tau gue biasa dipanggil apa."

"Woah, cewek-cewek disekolah bakal iri banget sama gue nih, karena gue ngobrol sama lo." kekeh Vania. Ethan terkekeh, "Yah, begitulah."

Ethan melirik ke arah Radit yang masing menunggu. "Eh, jadi kelupaan kan, gara-gara ngobrol ama elo, Eth, gue mau ke backstage." Ethan manggut-manggut, "Lo anak The D Squad, toh. Ya udah, keburu telat. See ya soon, good luck."

"See ya soon too, Eth." Vania pun hilang dari balik orang-orang.

"Ini bener dia," suara Radit terdengar darisana. "Dia ke arah lo, Eth," lanjutnya membuat Ethan mengedarkan pandangannya. Benar saja, tak lama terdapat orang yang sedang berlari ke luar—karena posisi Ethan lebih dekat ke pintu luar.

"Ehem. Mas, mau ngapain, ya? By the way, gue boleh minta makanannya?" Orang itu terlihat lega ketika melihat Ethan yang sedang berpura-pura ingin membeli. Tepat saat Ethan mengecek kemasan makanan, terdapat kode BPOM disana.

"Bentar ya, saya chat temen saya dulu. Karena temen saya yang mau. Bukan saya," katanya mengeluarkan iPhone-nya dari saku jaket. Padahal bukan untuk nge-chat, tapi untuk mengecek BPOM tersebut palsu atau tidak. Saat ia mencari kode tersebut di program khusus NASC; yang bisa ke BPOM atau organisasi penting lainnya.

None. Tulisan tersebut tertulis rapih dilayar iPhone-nya. Ethan tersenyum smirk.

"Kayaknya, lo harus lebih pinter nyari kode BPOM-nya,"

Bugh!

"I got him," kata Ethan pada earphone wireless sembari mengunci gerakan Mas-Mas yang sekarang sedang pingsan itu. "Gue keluar. Gue juga udah hubungin Om Reynold," Ethan yang sedang mengatur napasnya karena berlari pun hanya berkata, "Good."

"Udah jam setengah lima, pas. Ayo kita masuk." Bian menarik Radit dan Ethan untuk kembali masuk. Tepat saat mereka masuk, alunan lagu Don't Let Me Down berbunyi, tentu mata Ethan menuju ke arah panggung. Dan matanya menangkap gadis yang sedang diatas panggung dengan menggerakan seluruh badannya.

Semua bertepuk tangan. "The D Squad keren." puji Bian. Tanpa mereka sadari, ada yang tersenyum disana.

• • •

"UDAH gue bilang nggak, ya nggak!" pekik gadis itu kesal. "Lo harus balik sama gue, Van, gue pengen balikan sama lo." Klise, emang. Tapi emang begitu adanya. "Balikan, ya? Siapa yang ngomong di Line; Kita putus. Gue nemu yang lain. Huh?" tanya Vania nge-skak.

"Lo udah bosen sama bitch lo yang satu itu? Makanya lo mau balikan sama gue? Sorry, gue lebih berharga dari itu. So, get off."

"Karina bukan bitch, Van."

Vania tertawa sumbang, "Ya ya ya, bela aja terus. Ya udah, berarti lo masih sama dia karena lo masih bela dia."

Risca dan Fara yang sedari tadi diam, mulai bersuara. "Udah lah, Det, lepasin Vania." kata Risca dihadiahi tatapan tajam dari Deto, "Lo nggak usah ikut campur, Ris."

Vania mengkode kepada Risca dan Fara untuk diam. Namun ia terkesiap saat Deto menarik tangan Vania, "Deto!" pekik mereka berbarengan. Risca dan Fara berusaha melepaskan cengkraman tangan Deto. Namun, nihil. Kekuatan Fara, Risca, dan Vania masih belum kuat.

Ternyata, Dewi Fortuna berpihak pada Vania karena seseorang menariknya dengan kuat. Sakit emang. Tapi ia bersyukur karena bisa lepas dari cengkraman seorang Deto. "Sorry," ucap orang itu membut Vania mendongak. "Lho?"

"Shht, pokoknya apa yang gue lakuin ke lo, maaf." kata orang itu langsung merangkul bahu Vania. Deto menggeram, "Lo siapanya Vania?"

"Gue? Oh, gue sahabat deketnya
Vania," ucap orang itu santai. "Ethan," desis Vania pelan. "Sahabat doang, kan? Lo nggak punya hak buat ikut campur urusan gue sama Vania."

Ethan mengedikkan bahunya, "Jelas gue punya hak, sebagai sahabat. Daripada lo, nggak ada haknya sama sekali. Hak mantan? Anjir, baru denger gue." ucapnya datar. "Bisa aja," Deto memutar bola matanya malas, kembali menarik tangan Vania. "Udah dibilang ilah, dia nggak mau ngikut ama monster kek lo. Lepasin atau tangan lo patah."

James, Tomy, dan Dio yang dibelakangnya terkekeh kecil mendengar ancaman Ethan. Sedangkan Bian dan Radit hanya diam. Deto tetap menarik Vania membuat Ethan sedikit jengah, ia mempererat rangkulannya. "Gue peringatin lo sekali lagi, lepasin atau tangan lo patah," ancamnya sekali lagi. Vania mencengkram lengannya, Deto tetap menarik tangan Vania, tidak gentar sekalipun.

Tangannya yang bebas menarik tangan Deto secara kasar, lantas menarik lengan Deto kebelakang dengan satu tangan dan menguncinya. Tangan Ethan melepaskan rangkulan dibahu Vania, membiarkan Vania sedikit menjaga jarak darinya. "I already warn you. Setelah ini lo pergi, atau tangan lo patah." ancam Ethan.

"Lepasin, gue bakal pergi." ucap Deto akhirnya. "Good. Now go," ucap Ethan melepaskan kunciannya. Membiarkan Deto memasuki mobilnya.

"Eth, makasih lagi ya. Kayaknya gue utang budi banget sama lo." ucap Vania membuat Ethan menatapnya, "Nggak usah utang budi gitulah. Kesannya kayak gue nolong lo buat dapet imbalan banget. Gue nolong lo ikhlas, kok. Oh ya, tangan lo nggak apa-apa, kan? Kayaknya tadi mantan lo itu nariknya kuat banget."

Vania melihat pergelangan tangannya yang memerah, "Merah doang. Nanti juga ilang sendiri." ucapnya lagi. Membuat Ethan manggut-manggut. "Ya udah, gue pergi ya, Eth."

        Ethan mengangguk, "Okay."

• • •

A.N

Taqabalallahu Minna Wa Minkum. Maafin aku kalo ada salah ya. Maaf kadang suka lemot publish-nya. Maaf kalau cerita chapter-nya tiba-tiba jadi gaje sendiri. Maaf kalau setiap aku publish chapter nggak sesuai dengan ekspektasi kalian. Pokoknya maaf deh. Maaf kalo pertemuan Ethan-Vania nggak berkesan sama sekali. Tapi cuma ini yang terlintas di otak gue. Don't forget to tap the star and comment!

Lots of Love,
Nabilaputi

6 страница1 мая 2026, 08:12

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!