02: Another Mission
"PAPA minta kamu sama Radit menangani hal ini."
Ethan duduk di kursi, dan bersandar disana. "Apa?"
"Pengedar narkoba. Dari konsumsi. Selebihnya, kalian yang ngeanalisa," ucap pria itu. Menyerahkan dokumen kepada Ethan. Ethan melirik dokumen tersebut, lalu ia mengambilnya. Membacanya sebentar dan menyerahkan ke Radit. "Oke. Aku terima," Ethan menatap Radit yang kini mengangguk, "Aku terima. Narkoba lagi, kan? Kita udah berapa kali, sih, nanganin Pengedar Narkoba?"
"Lebih dari lima puluh kali," ucap pria didepannya itu, "Papa rencananya menambah partner kalian."
Ethan dan Radit memicingkan matanya, "Siapa?"
"Bian," Ethan dan Radit saling pandang, "Boleh."
"Sepertinya kalian nggak seberapa deket, ya?"
"Kita sengaja. Tapi nggak apa-apa, sih, kita bisa aja pura-pura kenalan." Ethan mengangguk saat mendengar Radit yang berbicara. "Oke. Terserah kalian. Nanti Papa yang kasih tau Bian. Enough for today, guys."
"Oke. Kita pulang." Ethan dan Radit bangkit dari duduknya. Mereka keluar melewati pintu kaca anti peluru itu.
Papa Ethan, Reynold, adalah Ketua dari National Agent Spy Company. Kemampuannya menurun ke Ethan. Ketertarikan dan kemampuan Ethan dengan dunia mata-mata sudah terlihat dari kecil. Dan juga, ia ber-acting nerd di sekolah. Berbekal kacamata khusus; yang membuat wajahnya menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda.
Well, pertama-tama sih, ia oke-oke aja. Namun lama-kelamaan, dia sering di-bully, dia pernah ditinju kakak kelas seperti tado, tapi ia pura-pura lembek aja, walaupun ia bisa saja membuat Kakak Kelas itu nggak masuk dua bulan karena masuk Rumah Sakit.
Namun ia biarkan saja. Lama-kelamaan, lagi, semakin banyak yang mem-bully-nya. Setiap orang pasti ada kadar kesabarannya masing-masing, begitupula dengan Ethan.
• • •
DITENGAH keheningan kelas yang sedang menunggu guru datang, dering ponsel berbunyi. Semua pun mengedarkan pamdangan, mencari sumber suara. "Anjing, gue lupa nge-silent. Mampus." umpat Ethan berbisik.
Tangannya merogoh saku celana, lantas memencet tombol merah dalam sekali gerakan. Tangan kanannya mencoret-coret kertas agar tak ada yang curiga. Radit disebelahnya berbisik, "Siapa?"
Ethan melirik dengan ujung matanya bahwa tidak ada yang meliriknya, "Papa," balasnya pelan, "Lagian kenapa ni kelas diem? Perasaan rame dah." gerutunya pelan. "Nggak tau, deh."
"Yo, gue ke toilet dulu, ya." pamit Ethan bangkit dari bangkunya, berbicara pada Dio, si Ketua Kelas, yang termasuk sering meledek Ethan dan Radit. "Iya, Culun." Suara tawa terdengar. Membuat Ethan memutar bolamatanya malas.
"Yo, gue juga." Radit ikut bangkit dari bangkunya, mengikuti Ethan. Suara tawa kembali menggema dari dalam kelas, membuat Radit memasang wajah bete. "Udah, nggak usah kayak cewek." ucap Ethan, lalu menjauh dari kelas.
Ia mengedarkan pandangannya, setelah dipastikan kosong, Ethan menelfon Reynold. "Iya, Pa, kenapa? Maaf tadi Ethan cancel, karena Ethan tadi di Kelas... Iya, terus?... APA?!... Pa, jangan dong... Pa, Papa tau kan, aku gimana disekolah?... Oke, oke... Iya, aku sama Radit kerjain... Daah."
"Kenapa?" tanya Radit menepuk pundak Ethan. "Kita... Pulang sekolah, ada misi. Misinya ringan katanya. Buat yang The Beat Up itu kan, masih enam hari lagi. Jadi Papa percayain sama kita." Radit terdiam, mencerna penjelasan sahabatnya itu, setelah berhasil mencerna, ia langsung membulatkan matanya, "Jadi kita harus ngerubah diri dulu, gitu? Mobil?"
"Mobil Papa kirim kesini. Dit, acting kita nggak guna." Radit terlihat berpikir, "Gue tau. Kenapa nggak nyuruh Bokap lo buat naronya dimana gitu, nggak di sekolah?"
"Bisa. Bisa. Ah, lo emang pinter, Dit." kata Ethan mengetik sesuatu di ponselnya, lalu memasukkan ke saku celana. Mereka berjalan berdampingan ke kelas. Saat mereka masuk, terlihat Pak Tomi sudah berada di depan Papan Tulis. "Maaf, Pak. Kami abis dari toilet."
"Nggak apa-apa. Silahkan ketempat duduk kalian." Ethan dan Radit mengangguk, lalu duduk di bangkunya. Seperti biasa, mereka dapat menjawab pertanyaan dengan mudah karena otak mereka yang encer.
• • •
"PERMISI," Ethan dan Radit dengan tergesa-gesa, melewati lautan murid yang berhamburan keluar. Bagaikan beras tumpah dari tadahnya. "Pulang jalan kaki lagi, Culun?" tanya James. Radit mendengus, "Yeah, pulang jalan kaki abis itu naik Ferarri di ujung jalan, dickhead." desisnya pelan. Ethan hanya dapat terkekeh. Lalu mereka mulai menempuh untuk menaiki mobil mereka.
"Buset, gue emang bilang jauh, tapi nggak sejauh ini juga, kali," kata Radit setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. "Kalo agak deket, nanti ketauan, gobs," ledek Ethan membuat Radit menepak kepala sahabatnya itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya disana, terdapat mobil Lamborghini Huracan LP 610-4 dan Ferarri 458 Spider. Orang yang mengirim mobil tersebut keluar, "Makasih ya, Pak. Ini ongkos buat balik." Ethan memberikan uang lima puluh ribu kepada mereka. "Makasih, Mas Ethan dan Mas Radit."
"Iya, sama-sama," jawab mereka berdua. Ethan menaiki mobil Ferarri 458 Spider miliknya, di ikuti oleh Radit yang menaiki Lamborghini Huracan LP 610-4. Mobil ini beda. Mobil ini Limited Edition karena khusus untuk National Agent Spy Company. Terdapat interface saat menekan tombol tersembunyi.
Mereka menancapkan gas membuat mobil melesat cepat. Dan mereka tidak tahu apa yang terjadi diluar sana.
• • •
A.N
Nah, ini chapternya Ethan. How do you think about this chapter? Eanjir gue publish jam segini. HAHAHA. Don't forget to tap the star and comment! Luv ya!
