24
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
"Jadi, berapa lama kalian di Aetheria?" tanya Cellestial dengan nada sopan, menjaga sikapnya tetap anggun seperti yang diajarkan sejak kecil.
Pertanyaannya terdengar ringan, namun di dalam hatinya ada sedikit ketegangan yang belum sepenuhnya hilang sejak pagi tadi. Ia menatap Ratu Clover dengan sopan, menunggu jawaban dengan penuh perhatian.
Ratu Clover menatapnya dengan senyum lembut, senyum yang tidak terasa dibuat-buat.
"Kami tidak akan lama," jawabnya dengan suara tenang. "Hari ini saja. Kami akan kembali ke Gloaming menjelang siang menuju sore."
Jawaban itu terdengar sederhana, tidak berlebihan, bahkan mungkin biasa bagi orang lain.
Namun bagi Cellestial, kata-kata itu seperti membuka ruang napas.
Baguslah...
Jadi aku bisa kembali seperti biasa... bersama Miamor dan Myuran.
Ia menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecil yang nyaris muncul. Ujung jarinya secara refleks menyentuh kain gaunnya, seolah menenangkan dirinya sendiri.
Di dalam hatinya, ada kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Percakapan kembali berlanjut. Suasana sudah jauh lebih cair dibandingkan saat awal pertemuan.
Pelayan mulai mengganti piring-piring kosong dengan hidangan ringan, sementara gelas diisi ulang dengan minuman teh bunga camomile yang harum. Suara lembut peralatan makan dan langkah pelayan menjadi latar yang menenangkan.
Raja Gleason, yang sejak tadi lebih banyak mengamati daripada berbicara, akhirnya kembali angkat suara.
"Di Aetheria," ujarnya pelan, nadanya dalam namun tidak menekan, "apakah ada makhluk yang dianggap sebagai penjaga? Yang hanya bisa ditemukan di sini?"
Pertanyaan itu membuat beberapa orang di meja sedikit terdiam.
Bukan karena tegang.
Melainkan karena rasa ingin tahu yang tulus.
Cellestial menoleh sedikit ke arah ayahnya, lalu ke ibunya. Ia tahu bahwa pertanyaan seperti ini bukan sekadar basa-basi. Ini adalah bagian dari memahami satu sama lain budaya, kekuatan, dan nilai yang dijaga masing-masing kerajaan.
Ratu Treasure menatap Gleason sejenak sebelum menjawab.
Ekspresinya tetap lembut, namun ada keseriusan halus yang muncul di matanya.
"Di Aetheria memang banyak makhluk yang memiliki sihir," katanya tenang. "Namun ada satu yang tidak dapat ditemukan di pulau-pulau lain."
Ia berhenti sejenak.
Bukan karena ragu.
Tetapi seolah memberi ruang agar kata-katanya benar-benar diperhatikan.
"Makhluk itu bernama Halla."
Nama itu menggantung di udara, seolah membawa makna yang lebih dalam dari sekadar sebutan.
Cellestial sedikit mengangkat wajahnya, ikut memperhatikan.
Ia belum pernah benar-benar mendengar tentang makhluk itu secara jelas. Atau mungkin pernah... tapi tidak pernah benar-benar dipahami.
"Halla adalah rusa jantan putih," lanjut Treasure, "dengan tanduk yang bersinar seperti cahaya bulan."
Suasana ruangan terasa lebih tenang saat ia berbicara.
"Mereka sangat jarang terlihat."
Raja Gleason dan Clover mendengarkan dengan saksama. Bahkan Monna yang biasanya lebih ekspresif kini terlihat lebih diam, menyerap setiap kata.
"Mereka hanya akan muncul ketika ketenangan hutan mulai runtuh," tambah Treasure.
Nada suaranya tetap lembut, namun maknanya terasa jelas.
"Dan ketika itu terjadi... Halla akan bergerak. Mereka menjaga keseimbangan, mengembalikan kedamaian, dan memastikan Aetheria tetap seperti seharusnya."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Bukan keheningan yang canggung.
Melainkan keheningan yang penuh penghormatan.
Cellestial sedikit mengernyit.
Pikirannya mulai berputar.
Halla...?
Makhluk seperti itu... apakah aku pernah melihatnya?
Ia mencoba mengingat. Hutan. Cahaya. Bayangan putih di antara pepohonan...
Namun tidak ada gambaran yang benar-benar jelas.
Hmmm... nanti saja kutanyakan, gumamnya dalam hati.
Ratu Clover tampak benar-benar terpesona.
"Itu luar biasa," ujarnya pelan. "Makhluk penjaga yang muncul hanya saat dibutuhkan... sangat selaras dengan alam."
Raja Gleason mengangguk, lalu sedikit menyandarkan tubuhnya.
"Di Gloaming, kami juga memiliki makhluk yang hanya bisa ditemukan di sana."
"Benarkah?" tanya Raja Arthropoda, tertarik.
Nada suaranya tetap tenang, namun jelas ada rasa ingin tahu.
"Kami menyebutnya Hippogriff," jawab Gleason.
Monna tersenyum kecil, tampak bangga mendengar nama itu disebut.
"Mereka adalah makhluk setengah kuda dan setengah elang," lanjut Clover. "Simbol kehormatan dan martabat."
Cellestial membayangkan makhluk itu dalam benaknya sayap besar, tubuh kuat, dan tatapan tajam.
"Namun mereka tidak mudah didekati," tambah Keanu dengan nada tenang.
Semua mata sedikit beralih padanya.
"Mereka hanya akan menghormati seseorang yang menunjukkan sikap yang sama," lanjutnya.
Nada suaranya tidak tinggi, tidak pula berusaha menarik perhatian. Namun setiap katanya terdengar jelas.
"Jika seseorang mendekati dengan rasa ingin menguasai... mereka akan menjauh. Tapi jika seseorang datang dengan hormat... mereka bisa menerima."
Raja Arthropoda tersenyum tipis.
"Makhluk yang bijak."
"Dan keras kepala" tambah Monna sambil tertawa kecil.
Clover ikut tersenyum.
"Mereka tinggal di tebing-tebing tinggi di Gloaming," lanjutnya. "Jarang sekali bertemu manusia."
"Aku jadi ingin melihatnya," ujar Raja Arthropoda. "Tapi sepertinya itu bukan hal yang mudah."
"Tidak mudah," jawab Gleason ringan. "Namun bukan berarti mustahil."
Percakapan itu mengalir dengan alami tentang makhluk, tentang simbol, tentang dunia yang mereka jaga masing-masing.
Cellestial mendengarkan dengan tenang.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa tidak terlalu tertekan oleh situasi ini.
Ia bahkan mulai menikmati percakapan yang terjadi.Sesekali ia melirik ke arah Keanu.
Pangeran itu tidak banyak bicara, tetapi ketika berbicara, ia terdengar tulus.
Tidak berlebihan.
Tidak dibuat-buat.
Dan itu... entah kenapa membuat Cellestial sedikit lebih tenang.
Waktu pun berjalan tanpa terasa.
Cahaya matahari mulai bergeser, menandakan siang semakin dekat.
Hidangan di meja hampir habis. Pelayan mulai perlahan membereskan piring dan gelas yang telah kosong. Suara lembut mereka tetap menjaga suasana tetap nyaman.
Suasana menjadi lebih santai.
Tidak lagi sepenuhnya formal.
Beberapa tawa kecil terdengar lebih lepas. Bahkan Monna mulai berbicara tentang kebiasaannya di Gloaming, sementara Clover sesekali menanggapi dengan cerita singkat.
Cellestial duduk dengan tenang, namun pikirannya mulai kembali ke satu hal.
Sebentar lagi... mereka akan pergi.
Dan semuanya akan kembali seperti biasa.
Ia tidak yakin mengapa pikiran itu terasa menenangkan sekaligus... sedikit aneh.
Ratu Treasure berdiri perlahan.
Gerakannya anggun, namun tegas.
"Jika kalian berkenan, kami ingin mengajak kalian berkeliling ke Desa Elf," ujarnya dengan senyum sopan. "Di sana, kalian bisa melihat langsung bagaimana keseimbangan Aetheria terjaga."
Clover tersenyum.
"Kami akan dengan senang hati."
Gleason mengangguk setuju.
"Melihat langsung tentu lebih baik daripada hanya mendengar."
Kursi-kursi bergeser perlahan saat semua bangkit berdiri.Suara langkah kaki mulai terdengar, ringan namun teratur.
Para pelayan mundur dengan rapi, memberi ruang bagi rombongan kerajaan untuk bergerak.
Cellestial ikut berdiri, merapikan gaunnya dengan gerakan halus.
Ia menarik napas pelan.
Menenangkan dirinya.
Semuanya berjalan baik sejauh ini.
Ia hanya perlu menjaga langkahnya.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia berjalan mengikuti arah rombongan, menjaga jarak yang tepat di antara para tamu dan keluarganya.
Gaunnya bergerak lembut mengikuti langkahnya.
Namun saat ia melangkah lagi...
Tanpa disadari, ujung gaunnya terinjak oleh kakinya sendiri.
Dalam sepersekian detik, keseimbangannya goyah.
Tubuhnya sedikit condong ke depan.
Waktu terasa melambat.
Ia sempat mencoba menahan, namun langkahnya tidak cukup cepat untuk mengembalikan keseimbangan.
"Aaaaa-!!"
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)