22
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Hari itu masih panjang.
Dan Aetheria, untuk saat ini, tetap berdiri dalam keseimbangan yang rapuh di antara diplomasi, harapan, dan rahasia yang belum terungkap.
Pintu ruang makan terbuka perlahan.
Roslyn Vein Ivy melangkah masuk dengan anggun. Gaun hijau gelapnya tampak menyatu dengan aura alam yang samar mengelilinginya. Rambutnya tergerai rapi, dihiasi ornamen daun perak yang berkilau lembut. Setiap langkahnya tenang, seolah irama hutan ikut bergerak bersamanya.
Beberapa tamu kerajaan tanpa sadar memperhatikannya. Bukan hanya karena penampilannya yang anggun, tetapi juga karena aura alami yang terasa berbeda dari manusia biasa.
Ia berhenti beberapa langkah dari meja panjang dan membungkuk hormat.
"Sungguh kehormatan besar bagi saya untuk bertemu dengan Yang Mulia Raja dan Ratu dari Gloaming, Kerajaan Roosevelt," ucapnya tenang namun penuh wibawa.
Ratu Clover tersenyum ramah. Sorot matanya tampak tulus, bukan sekadar formalitas diplomasi.
"Kehormatan itu milik kami juga, Lady Roslyn," balasnya lembut. "Aku mendengar bahwa kaulah yang merawat bunga-bunga herbal yang kami kirim."
Roslyn mengangguk perlahan.
"Benar, Yang Mulia. Bunga-bunga dari Pulau Gloaming bukanlah jenis yang mudah dirawat."
Ia melangkah sedikit mendekat. Para pelayan yang berdiri di sekitar ruangan tetap tenang, namun jelas memperhatikan percakapan itu dengan penuh rasa hormat.
"Bunga herbal dari wilayah Anda memiliki struktur akar yang sensitif terhadap perubahan suhu dan cahaya," lanjut Roslyn dengan suara yang jelas namun tetap lembut. "Selain itu, mereka membutuhkan aliran sihir alam yang stabil agar tidak layu."
Ratu Clover terlihat semakin tertarik. Ia sedikit memiringkan kepala, memperhatikan setiap kata yang diucapkan Roslyn.
"Jadi benar bahwa diperlukan sihir untuk menjaganya tetap hidup?" tanyanya seraya memastikan bahwa Roslyn benar-benar paham cara merawat bunga itu, karena sebelumnya ia tidak pernah memberi tahu orang luar cara merawat bunganya
"Ya," jawab Roslyn. "Sihir alam yang lembut, bukan sihir yang memaksa. Tanaman-tanaman itu sangat peka. Jika alirannya terlalu kuat, mereka justru akan mati."
Ia menambahkan dengan nada tenang,
"Di Aetheria, yang paling memahami sihir alam adalah para elf. Karena itulah bunga-bunga tersebut dipercayakan kepada saya."
Raja Gleason mengangguk pelan, tampak benar-benar terkesan.
"Sungguh menakjubkan. Itu berarti hubungan antara manusia dan elf di sini benar-benar selaras."
"Keselarasan itulah yang kami jaga," jawab Raja Arthropoda dengan nada tegas namun tetap tenang.
Treasure menambahkan dengan senyum diplomatis,
"Hubungan itu dibangun selama bertahun-tahun. Kepercayaan tidak datang dalam semalam."
Clover mengangguk setuju.
"Kerajaan yang mampu menjaga hubungan seperti itu biasanya juga mampu menjaga perdamaian."
Di sela pembicaraan itu, Cellestial yang duduk tidak jauh dari Roslyn tanpa sadar melirik ke arah jendela tinggi di sisi ruangan.
Di luar, pada jarak yang tidak terlalu dekat namun cukup untuk terlihat, berdiri dua sosok yang ia kenal baik.
Miamor dan Myuran.
Mereka tidak masuk ke dalam, tidak mengganggu jalannya pertemuan kerajaan. Mereka hanya berdiri di halaman luar, di dekat taman batu yang dipenuhi bunga liar.
Ketika tatapan Cellestial bertemu dengan mereka, Myuran tersenyum kecil dan Miamor mengangkat tangan sedikit, memberi semangat tanpa suara.
Wajah Cellestial yang sejak tadi terasa tegang perlahan melunak. Senyum tipis muncul tanpa ia sadari.
Roslyn menyelesaikan penjelasannya dengan singkat, lalu kembali membungkuk hormat.
"Jika Yang Mulia memerlukan penjelasan lebih lanjut, saya siap membantu."
"Terima kasih, Lady Roslyn," ujar Clover. "Kunjungan ini terasa semakin berarti."
Raja Gleason menambahkan,
"Pengetahuan seperti itu sangat berharga. Kami senang mengetahui bahwa bunga-bunga dari pulau kami berada di tangan yang tepat."
Setelah beberapa kalimat penutup yang sopan, Roslyn undur diri dari ruang makan. Langkahnya tetap tenang. Namun sebelum benar-benar keluar, ia sempat melirik sekilas ke arah Cellestial tatapan singkat yang penuh pengertian.
Pintu ruang makan tertutup kembali dengan perlahan.
Perjamuan mulai disajikan.
Pelayan membawa hidangan satu per satu, sate daging hangat dengan aroma khas bumbu segar Aetheria, roti madu yang masih mengepulkan uap tipis, puding dengan taburan kristal yang berkilau seperti permata kecil, dan berbagai hidangan lainnya.
Cahaya matahari yang masuk melalui jendela tinggi memantul di permukaan piring perak, menciptakan kilau lembut yang membuat ruangan terasa hangat.
Percakapan beralih pada kerja sama kedua kerajaan.
Raja Gleason membuka pembicaraan dengan suara tenang namun penuh pertimbangan.
"Kerajaan Roosevelt ingin memperkuat jalur perdagangan herbal dan batu magis dengan Aetheria. Wilayah kita memiliki sumber daya yang saling melengkapi."
Raja Arthropoda mengangguk.
"Itu akan memperkuat stabilitas kedua wilayah. Terlebih dalam situasi yang tidak sepenuhnya tenang akhir-akhir ini."
Clover menatapnya penuh makna.
"Kami juga mendengar kabar mengenai gangguan kecil di sekitar perbatasan hutan."
Treasure menjawab dengan nada diplomatis.
"Semua telah ditangani dengan baik. Pengawasan diperketat, dan kerja sama dengan para elf membuat wilayah tetap terkendali."
Gleason mengangguk pelan.
"Ikatan antara manusia dan elf di sini benar-benar kuat. Itu sesuatu yang jarang kami temui."
"Menjaga perdamaian memang bukan perkara mudah," lanjut Clover. "Terutama di wilayah seindah ini. Keindahan sering kali mengundang keinginan untuk memilikinya."
"Aetheria adalah wilayah yang harus dijaga," jawab Treasure lembut. "Bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena keseimbangannya."
Percakapan itu berjalan tertata. Tidak ada suara meninggi, tidak ada ketegangan terbuka, namun setiap kalimat memiliki bobotnya sendiri.
Di tengah suasana tersebut, Keanu Roosevelt akhirnya angkat bicara.
"Aku mendengar bahwa di Aetheria terdapat sebuah artefak yang melambangkan kesejahteraan antara elf dan manusia," ujarnya dengan suara tenang. "Apakah itu benar?"
Ruangan menjadi sedikit lebih hening.
Raja Arthropoda menjawab langsung.
"Ya, itu benar. Artefak tersebut berada di sebuah kuil kecil di antara perbatasan kerajaan dan Desa Elf."
Ia melanjutkan dengan nada lebih dalam.
"Artefak itu bukan sekadar simbol. Ia memancarkan energi yang memperkuat harmoni di Aetheria. Kesejahteraan yang dirasakan rakyat kami sebagian besar berasal dari keseimbangan yang dijaganya."
Treasure menambahkan dengan suara yang sama tenangnya,
"Artefak itu juga menjadi pengingat bahwa manusia dan elf pernah memilih untuk saling percaya."
"Tanpa artefak itu," tambah Raja Arthropoda, "akan jauh lebih sulit mempertahankan perdamaian yang kami miliki."
Raja Gleason tampak kagum.
"Menjaga perdamaian bukanlah tugas ringan. Aku menghormati cara Aetheria melakukannya."
Clover mengangguk setuju.
"Wilayah yang indah seperti ini memang pantas dijaga dari konflik."
"Tidak mudah," jawab Treasure pelan. "Namun semua ini dilakukan demi masa depan Aetheria."
Sementara percakapan para raja dan ratu terus berlanjut membahas jalur aliansi dan stabilitas wilayah, perhatian Keanu perlahan beralih.
Tatapannya tertuju pada Cellestial.
Bukan tatapan yang menilai.
Bukan pula tatapan kagum yang berlebihan.
Melainkan tatapan yang mengamati.
Seolah ia sedang mencoba memahami bukan hanya penampilan atau sikap resmi sang putri, tetapi sesuatu yang lebih dalam.
Cellestial menyadari tatapan itu. Untuk sesaat ia menahan napas, lalu membalas dengan senyum sopan yang terlatih.
Namun di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
Tatapan itu tidak terasa mengancam.
Tidak pula terasa kosong.
Seolah Keanu sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang belum ia ucapkan.
Di luar jendela, angin siang berembus pelan melewati taman istana.
Dan di dalam ruang makan itu, di antara percakapan tentang aliansi dan perdamaian, sebuah dinamika baru mulai terbentuk halus, hampir tak terlihat, namun nyata.
Di luar istana, suasana tidak sehangat ruang makan yang dipenuhi aroma hidangan.
Miamor berdiri di bawah bayangan pohon tua dekat halaman depan, tatapannya menyapu langit dan menara-menara batu yang menjulang. Angin siang berembus lembut, tetapi ada sesuatu di balik kesejukannya sesuatu yang tidak biasa.
Ia menoleh pada Myuran yang berdiri di sampingnya.
"Apa kau merasakannya?" tanya Miamor pelan.
Myuran memejamkan mata sejenak, mencoba menangkap aliran sihir yang bergetar tipis di udara.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya membuka mata kembali.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Ada hawa sihir yang cukup besar… tapi tidak liar."
Miamor mengernyit.
"Menurutmu ini dari dalam istana?"
"Bisa jadi," sahut Myuran. "Atau mungkin dari artefak itu sendiri. Ketika banyak energi asing berkumpul, kadang keseimbangan ikut bergetar."
Ia membuka mata dan menatap ke arah gerbang. Para penjaga berdiri waspada seperti biasa.
"Semoga ini bukan pertanda buruk," lanjutnya lebih pelan. "Jika memang ada sesuatu yang kembali… para penjaga pasti sudah menyadarinya."
Miamor menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
"Hari ini harus berjalan baik," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Myuran.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)