21
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Fajar merekah perlahan di langit Aetheria. Cahaya keemasan menyentuh menara-menara istana, menyapu halaman yang telah dipersiapkan sejak dini hari. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, berkilau seperti serpihan kaca halus.
Cellestial terbangun lebih awal dari biasanya.
Untuk sesaat ia hanya berbaring diam, merasakan sisa kehangatan pelukan semalam. Di sampingnya, Ratu Treasure masih tertidur dengan wajah tenang jarang sekali ia melihat ibunya setenang itu. Garis-garis kelelahan yang biasanya samar di wajah sang ratu tampak menghilang dalam tidur yang damai.
Perlahan, Cellestial bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai.
Di bawah sana, para pelayan bergerak cepat namun teratur. Karpet merah dibentangkan kembali agar sempurna. Pengawal berjajar dengan baju zirah berkilau. Bendera kerajaan Arthropoda dan Roosevelt dipasang berdampingan, berkibar lembut diterpa angin pagi.
Hari ini.
Hari yang akan menentukan banyak hal.
Cellestial menatap pemandangan itu lama. Cahaya matahari membuat halaman istana terlihat hidup, namun di dalam dirinya masih ada gelombang kecil kegelisahan yang belum sepenuhnya reda. Ia mengingat kembali percakapan semalam tentang tanggung jawab, tentang menjadi dirinya sendiri, tentang masa depan yang belum jelas bentuknya.
"Tidurmu lebih nyenyak semalam?"
Suara lembut itu membuat Cellestial menoleh. Treasure telah bangun, duduk di ranjang sambil memandang putrinya. Rambut pirangnya jatuh lembut di bahu, berkilau samar tertimpa cahaya pagi yang masuk melalui jendela.
Cellestial tersenyum kecil.
"Lebih nyenyak dari yang kukira."
Ia mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Aku… merasa hangat. Sudah lama sekali aku tidak merasakannya."
Treasure tersenyum tipis, menyentuh pipi putrinya.
'Rumah akan selalu menjadi tempat terhangat untukmu."
Cellestial mengangguk pelan. Kata-kata itu sederhana, namun menenangkan.
Tidak banyak kata yang diperlukan setelah itu. Mereka bersiap dalam keheningan yang nyaman gaun dipilih dengan cermat, rambut ditata rapi, perhiasan dikenakan dengan anggun. Hari ini bukan hari untuk keraguan.
Cellestial mengenakan gaun berwarna kuning-putih dengan sulaman emas yang halus di bagian lengan dan pinggang. Rambut pirangnya ditata sederhana namun elegan, digerai dengan hiasan kecil berbentuk daun emas di belakang nya. Treasure memilih gaun yang lebih formal, dengan kilau lembut yang menunjukkan wibawa seorang ratu.
Ketika mereka keluar dari kamar, para pelayan menunduk hormat. Lorong istana dipenuhi aroma bunga segar yang diletakkan dalam vas-vas kristal.
Di ruang singgasana, Raja Arthropoda telah duduk tegak di kursinya. Busur kebesarannya diletakkan di samping, simbol kekuatan sekaligus perlindungan. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam seorang raja yang siap menyambut sekutu, sekaligus siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Ia memandang putri dan istrinya memasuki ruangan.
"Kalian sudah siap" tanyanya.
Treasure mengangguk ringan.
“Kami siap.”
Cellestial berdiri di sisi ibunya, berusaha menjaga sikap seanggun mungkin. Meski begitu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Sementara itu, jauh di hutan dekat Desa Elf, Roslyn Vein Ivy berdiri di tengah pasukannya. Sinar matahari yang menembus kanopi pohon membuat rambut hijau keperakan nya tampak berkilau lembut. Di sekelilingnya, energi sihir tumbuhan terasa hidup, seperti napas hutan itu sendiri.
"Periksa kembali batas timur dan barat," perintahnya tegas namun tenang.
"Tidak boleh ada celah sekecil apa pun."
Para elf segera bergerak. Beberapa melompat ringan dari dahan ke dahan, sementara yang lain berjalan cepat menyusuri jalur tersembunyi di antara akar-akar pohon besar.
Miamor dan Myuran membantu mengawasi jalur masuk yang tersembunyi di antara pepohonan. Jalur itu hampir tidak terlihat oleh mata biasa, tertutup oleh semak dan bayangan batang pohon.
Meski mereka berusaha fokus, pikiran mereka sesekali melayang.
"Hari ini harus berjalan lancar," gumam Miamor.
Myuran mengangguk pelan.
"Untuk Cellestial."
Miamor menatap ke arah kerajaan yang tampak samar di kejauhan.
"Semoga ia tidak terlalu tegang."
"Dia lebih kuat dari yang ia kira," jawab Myuran lembut.
Tak lama kemudian, suara tapak kuda terdengar dari kejauhan.
Tak… tak… tak…
Ritmenya teratur, semakin dekat, semakin jelas. Debu tipis terangkat di jalan utama menuju gerbang istana. Trompet ditiup, nadanya tinggi dan resmi. Karpet merah digelar sempurna.
Kereta kerajaan Roosevelt akhirnya terlihat megah dengan ukiran perak dan lambang bunga khas Pulau Gloaming. Permukaannya memantulkan cahaya matahari pagi, membuat ukiran-ukiran di sisinya tampak hidup.
Kereta berhenti perlahan.
Pintu terbuka.
Yang pertama turun adalah Raja Gleason Roosevelt dan Ratu Clover Roosevelt. Wibawa mereka terasa bahkan sebelum mereka melangkah sepenuhnya ke tanah Aetheria. Pakaian mereka menunjukkan kemewahan kerajaan yang telah lama berdiri warna-warna elegan, kain berkualitas tinggi, dan simbol-simbol keluarga yang disulam dengan teliti.
Disusul oleh Pangeran Keanu Roosevelt Junius dan Monna Roosevelt Julius.
Keanu berdiri tegap, pakaiannya rapi dan berkelas. Tatapannya tenang, penuh perhitungan namun tidak dingin. Ada rasa ingin tahu di matanya saat ia memandang sekitar.
Monna di sisinya tampak anggun dan mempesona sambil menggendong Jackalope milik nya, gaunnya berkilau lembut tertimpa cahaya pagi. Ia melangkah dengan kepercayaan diri seorang bangsawan yang terbiasa menjadi pusat perhatian.
Cellestial melangkah maju.
Dengan gerakan yang telah ia latih sejak kecil, ia sedikit menundukkan tubuh dan mengangkat ujung gaunnya dengan anggun.
"Selamat datang di Aetheria, Kerajaan Arthropoda menyambut Pangeran Keanu dan keluarga dengan kehormatan."
Suaranya stabil. Terkendali.
Keanu membalas dengan senyum sopan.
"Terima kasih atas sambutan hangatnya, Putri Cellestial. Kami merasa terhormat bisa berkunjung."
Sejenak, tanpa disadari orang lain, Cellestial melirik ke samping.
Di antara kerumunan, ia melihat Miamor dan Myuran. Mereka berdiri sedikit di belakang barisan penjaga dan rakyat. Kedua sahabatnya itu tersenyum kecil senyum penyemangat. Tidak ada tuntutan. Tidak ada kekecewaan.
Hanya dukungan.
Dadanya terasa sedikit lebih ringan, meski pikiran semalam belum sepenuhnya hilang.
Penyambutan berlanjut. Raja Arthropoda dan Ratu Treasure memperkenalkan tradisi Aetheria, makanan khas, dan keindahan hutan yang dijaga para elf. Para tamu kerajaan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Namun di sela percakapan resmi itu, pikiran Cellestial kembali berbisik.
"Jika kau merasa tidak sanggup berpura-pura… maka jangan."
Kata-kata ibunya semalam terngiang.
Ia menegakkan punggungnya.
Belum saatnya.
Ia masih bisa melakukan ini.
Rombongan kemudian dipersilakan masuk ke dalam istana. Ratu Treasure menuntun mereka menuju ruang makan besar yang telah dihias elegan. Meja panjang itu dihiasi dengan emas dan batu magis ditaruh di tengah meja, digunakan untuk memancarkan daya sihir yang menyebarkan wewangian. Agar pembicaraan berjalan lancar.
Mereka duduk saling berhadapan.
Suasana awalnya formal, penuh senyum diplomatis.
Ratu Clover membuka percakapan dengan nada ringan namun penuh perhatian.
"Bagaimana bunga-bunga yang kami kirim dari Gloaming? Apakah perawatannya berjalan lancar?"
Treasure menjawab dengan senyum lembut.
"Bunga-bunga itu dirawat oleh orang kepercayaan kami. Ia adalah pemimpin elf di Aetheria."
"Seorang elf?" Clover tampak tertarik.
"Itu menakjubkan. Bunga herbal dari pulau kami bukanlah jenis yang mudah dirawat."
Ia melanjutkan dengan nada ingin tahu.
"Bolehkah aku bertemu dengannya, Treasure?"
"Tentu saja," jawab Treasure tanpa ragu. Ia memberi isyarat pada pengawal.
"Tolong panggil Roslyn Vein Ivy. Katakan bahwa kami menunggunya."
Pengawal itu membungkuk dan segera pergi.
"Beliau akan segera datang," ujar Treasure dengan sopan.
Di sisi meja, Cellestial memperhatikan pertukaran itu dengan tenang. Ia melihat bagaimana kedua ratu berbicara bukan hanya tentang bunga, tetapi tentang kepercayaan, kerja sama, dan hubungan yang lebih dalam.
Aliansi ini bukan sekadar formalitas.
Ia melirik sekilas ke arah Keanu. Pangeran itu tampak memperhatikan sekeliling dengan rasa ingin tahu yang tulus, bukan sekadar sikap basa-basi.
Sementara itu, di luar istana, langkah Roslyn mulai mendekat, diiringi hembusan sihir tumbuhan yang samar.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)