20 (bagian ketiga : matchmaking with ʀᴏᴏsᴇᴠᴇʟᴛ )
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Festival telah usai.
Lampu-lampu di alun-alun perlahan dipadamkan satu per satu, meninggalkan cahaya bulan yang menggantung pucat di langit Aetheria. Angin malam berembus lembut melewati menara istana, membawa sisa-sisa aroma manis kue dan karamel yang tadi memenuhi udara.
Beberapa penjaga masih berjalan berkeliling, langkah mereka teratur dan pelan. Suara tawa terakhir dari para pedagang yang membereskan lapak perlahan menghilang, digantikan keheningan yang terasa lebih dalam setelah hari yang begitu meriah.
Namun tidak semua orang tertidur malam itu.
Di dalam kamarnya yang luas dan tenang, Cellestial masih terjaga. Gaun festivalnya telah ia ganti dengan pakaian tidur sederhana berwarna putih, rambutnya terurai lembut di bahu. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap gelang batu magis berbentuk hati yang melingkar di tangan kanannya.
Ia memutarnya perlahan dengan ibu jari.
"Kenapa rasanya berbeda sekarang…" gumamnya pelan.
Cahaya bulan menyentuh permukaan gelang itu, membuatnya berkilau samar. Kilau itu mengingatkannya pada tawa sore tadi pada Miamor yang tersenyum tulus, pada Myuran yang selalu berbicara dengan nada lembut seolah tak pernah marah pada dunia.
Ia menghela napas panjang.
Besok.
Keluarga kerajaan Roosevelt akan datang. Dan ia harus bersikap seperti putri kerajaan pada umumnya anggun, tenang, menjaga jarak. Ia harus berpura-pura tidak mengenali dua sahabatnya sendiri di hadapan tamu kerajaan.
Pikiran itu membuat dadanya terasa sempit.
"Apa ini benar…?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela. Dari sana, ia bisa melihat sebagian alun-alun yang kini kosong. Tempat ia tertawa beberapa jam lalu kini tampak jauh dan sunyi.
"Bagaimana kalau mereka kecewa?" ia berbisik lagi.
"Bagaimana kalau aku terlalu meyakini kata-kata Ibu… dan melukai mereka tanpa sadar?"
Ia membayangkan Miamor berdiri di keramaian esok hari, menatapnya dari jauh tanpa bisa menyapa. Myuran mungkin hanya akan tersenyum kecil, berpura-pura biasa saja. Tapi apakah benar mereka tidak akan merasa apa-apa?
"Kenapa menjadi putri terasa seperti harus memilih…" gumamnya.
Jam di sudut kamar berdentang pelan menandakan tengah malam telah lewat. Cellestial kembali ke ranjang, mencoba berbaring. Ia menarik selimut hingga ke dagu dan memejamkan mata.
Namun suaranya sendiri kembali terdengar dalam benaknya.
"Seorang putri tidak sepantasnya terlalu dekat dengan rakyat jelata."
Kata-kata itu terngiang. Ia membuka mata lagi.
"Aku tidak ingin menjadi seseorang yang jauh," katanya lirih.
"Aku tidak ingin kehilangan diriku."
Tiba-tiba terdengar ketukan lembut di pintu.
Cellestial terdiam sejenak, lalu menarik napas.
"Masuk," ucapnya pelan.
Pintu terbuka perlahan, dan Ratu Treasure masuk dengan langkah tenang. Gaun malamnya berkilau lembut tertimpa cahaya bulan, aura sihir cahayanya yang hangat menyelimuti ruangan tanpa menyilaukan.
Treasure menatap putrinya yang masih terjaga.
"Kau belum tidur, sayang?"
Cellestial duduk kembali, berusaha tersenyum kecil.
"Aku mencoba… tapi tidak bisa."
Ratu mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan wajah putrinya dengan saksama.
"Kau terlihat gelisah. Apa yang mengganggu pikiranmu?"
Cellestial menunduk, tangannya meremas ujung selimut.
"Aku takut, Ibu."
Treasure tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, memberi ruang.
"Aku takut besok harus bersikap seolah-olah aku tidak mengenal mereka," lanjut Cellestial.
"Miamor dan Myuran bilang mereka mengerti. Tapi bagaimana kalau sebenarnya mereka terluka? Bagaimana kalau aku terlihat sombong di mata mereka?"
Treasure menyentuh tangan putrinya.
"Apakah kau merasa akan berubah hanya karena satu hari?"
"Aku tidak tahu," jawab Cellestial jujur.
"Aku takut kebiasaan itu melekat. Takut kalau suatu hari aku benar-benar menjadi dingin… dan bahkan tidak menyadarinya."
Ratu mengusap rambutnya perlahan.
"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri."
Cellestial menatap ibunya, matanya berkaca-kaca.
"Bukankah aku harus mengikuti aturan? Bukankah itu tugasku?"
"Ya," Treasure menjawab lembut, "tugasmu memang besar. Tapi tugas tidak pernah dimaksudkan untuk menghapus hatimu."
Cellestial terdiam.
"Kunjungan itu hanya sementara," lanjut Treasure.
"Kau diminta menjaga sikap karena itu bagian dari tata krama kerajaan. Bukan karena kau harus menjauh selamanya."
"Tapi rasanya seperti aku sedang memilih," bisik Cellestial.
"Memilih apa?"
"Memilih antara menjadi putri… atau menjadi diriku sendiri."
Treasure tersenyum tipis.
"Siapa bilang keduanya tidak bisa berjalan bersama?"
Cellestial mengerutkan kening. "Bagaimana caranya?"
"Dengan tidak melupakan alasanmu," jawab Treasure.
"Kau ingin menjadi ratu karena kau peduli pada rakyatmu. Itu bukan sifat yang harus disembunyikan."
Cellestial menunduk lagi. "Ibu… jika aku tidak sanggup berpura-pura, apakah itu berarti aku mengecewakan kerajaan?"
Pertanyaan itu membuat Treasure terdiam lebih lama. Hatinya terasa berat, mengingat rahasia yang belum ia ungkapkan.
"Tidak," jawabnya akhirnya.
"Kau tidak mengecewakan siapa pun hanya dengan menjadi dirimu sendiri."
Cellestial mengamati wajah ibunya.
"Ibu terdengar… berbeda malam ini."
Treasure tersenyum lembut, meski di dalam hatinya ada pergulatan.
"Mungkin karena Ibu melihat putri ibu tumbuh lebih cepat dari yang Ibu bayangkan."
"Aku tidak merasa tumbuh," Cellestial berbisik.
"Aku merasa bingung."
"Itu bagian dari tumbuh," jawab Treasure pelan.
Keheningan menyelimuti kamar beberapa saat. Hanya suara angin yang menyentuh tirai.
"Ibu," kata Cellestial lagi, lebih pelan, "apakah menjadi ratu selalu sesulit ini?"
Treasure menatap jauh sejenak sebelum menjawab.
"Menjadi ratu berarti sering menempatkan kebahagiaan banyak orang di atas keinginan pribadi. Tapi bukan berarti kau harus mengorbankan seluruh dirimu."
Cellestial menggenggam gelangnya.
"Aku tidak ingin kehilangan sahabatku."
"Jika persahabatan itu tulus," kata Treasure, "ia tidak akan hilang hanya karena jarak atau waktu."
Cellestial terdiam lama. Kata-kata itu menenangkan, tetapi tidak sepenuhnya menghapus rasa takutnya.
Treasure menatap putrinya dengan lembut.
"Bolehkah Ibu menemanimu tidur malam ini?" tanyanya pelan.
"Jika kau tidak ingin, Ibu akan pergi. Ibu hanya tidak ingin kau merasa sendirian."
Cellestial terkejut sebentar, lalu tersenyum kecil.
"Aku tidak keberatan."
Treasure berbaring di sampingnya, memeluk putrinya dengan lembut. Pelukan itu hangat dan akrab, seperti saat Cellestial masih kecil dan takut pada petir.
Cellestial menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.
"Aku hampir lupa rasanya seperti ini," katanya pelan.
Treasure tersenyum.
"Beberapa hal tidak pernah berubah."
"Meskipun aku tumbuh?"
"Meskipun kau menjadi ratu suatu hari nanti."
Cellestial menarik napas dalam, mendengarkan detak jantung ibunya yang stabil.
"Ibu…"
“Ya?”
"Jika suatu hari nanti aku membuat keputusan yang berbeda dari harapan kerajaan… apakah Ibu akan tetap mendukungku?"
Treasure memejamkan mata sejenak sebelum menjawab.
"Ibu akan selalu berada di sisimu. Bahkan jika dunia terasa menentangmu."
Cellestial tersenyum tipis.
"Itu sudah cukup."
"Tidurlah," bisik Treasure lembut.
"Besok akan menjadi hari yang panjang."
Perlahan, napas Cellestial menjadi lebih teratur. Tangannya yang semula menggenggam gelang kini mengendur. Kekhawatiran itu belum sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi terasa menyesakkan.
Di luar jendela, langit Aetheria dipenuhi bintang. Angin malam berdesir lembut menyentuh tirai kamar, membawa ketenangan yang tipis namun cukup untuk membuat mereka terlelap.
Malam itu indah.
Tenang.
Penuh cahaya bulan dan kilau bintang.
Namun di balik keindahannya, malam itu juga menyimpan kegelisahan seorang putri yang berdiri di persimpangan antara hati dan kewajiban.
Dan esok hari…
akan membawa jawaban yang belum ia ketahui.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)