18
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Para elf berkumpul. Roslyn berdiri di hadapan mereka."Kalian akan berpencar," perintahnya."Sebagian menyusuri hutan terdalam, sebagian menjaga perbatasan, dan sisanya mengawasi jalur tersembunyi."
Suasana di lapangan kecil Desa Elf berubah tegang. Angin yang biasanya berembus lembut kini terasa lebih dingin, seakan membawa firasat yang belum terucap. Para pemanah berdiri dengan busur di punggung, sementara para pengguna sihir menggenggam tongkat kayu berukir simbol kuno. Mata mereka tertuju pada Roslyn, menunggu arahan berikutnya.
Beberapa elf saling berpandangan, terdengar bisikan pelan di antara mereka."Apakah ini tentang para peri?" "Sepertinya ada sesuatu yang besar akan terjadi…"
Kecemasan memang sulit disembunyikan. Kerusakan di alun-alun kerajaan bukan sekadar kenakalan biasa. Panggung festival yang hancur dalam semalam terasa seperti peringatan. Roslyn memahami ketakutan itu, tetapi ia tidak boleh membiarkannya tumbuh.
Roslyn menatap tajam ke arah mereka."Jangan menyebarkan ketakutan. Fokuslah pada tugas kalian."Pasukan pun bergerak menyebar ke seluruh penjuru hutan Aetheria.
Langkah kaki mereka menyatu dengan suara dedaunan yang terinjak. Sebagian menghilang di antara batang-batang pohon tua yang menjulang tinggi, sebagian lagi berlari ringan menuju perbatasan yang berbatasan dengan lembah berkabut. Jalur-jalur rahasia yang hanya diketahui para elf kini kembali dijaga, seperti pada masa-masa peperangan dahulu.
Roslyn kemudian menoleh pada Miamor dan Myuran."Kalian berdua tetap di desa. Jaga tempat ini."
Nada suaranya tegas, tetapi terselip kelembutan seorang ibu. Miamor mengangguk, meski hatinya ingin ikut membantu lebih jauh.
"Ibu akan ke kerajaan?" tanya Miamor.
Roslyn mengangguk."Aku harus berdiskusi langsung dengan Raja dan Ratu."
Tanpa banyak kata, ia berbalik. Jubah hijaunya berkibar pelan saat ia melangkah meninggalkan desa. Sorot matanya lurus ke depan, penuh perhitungan.
Perjalanan menuju istana ditempuhnya dengan cepat. Di sepanjang jalan, ia melihat para penjaga manusia telah berjaga lebih rapat dari biasanya. Tombak dan perisai berkilat diterpa cahaya siang. Ketegangan terasa menyelimuti Aetheria, meskipun festival masih berusaha dipersiapkan.
Sesampainya kembali di istana, Roslyn melapor."Yang Mulia," ucapnya hormat,"seluruh pasukan pemanah dan sihir elf telah dikerahkan ke seluruh Aetheria."
Raja Arthropoda berdiri di dekat meja panjang penuh peta wilayah. Garis-garis merah dan tanda kecil tersebar di atasnya, menunjukkan titik-titik penjagaan baru. Ia mengangguk puas."Bagus. Kita perlu menyusun langkah selanjutnya."
Ratu Treasure berdiri di sisi lain, wajahnya anggun namun serius. Mereka bertiga membicarakan rencana dengan tenang namun penuh perhitungan. Penjagaan berlapis akan diberlakukan, jalur udara diawasi Dragonair, dan setiap gerakan mencurigakan harus segera dilaporkan. Semua disusun rapi, seolah bersiap menghadapi sesuatu yang lebih besar dari sekadar sabotase panggung.
Hari kian menjelang siang.Pembangunan festival masih berlangsung, namun belum mencapai setengahnya.
Di alun-alun, suara palu memukul kayu berpadu dengan gesekan tali yang ditarik kencang. Bau serbuk kayu memenuhi udara. Hiasan-hiasan baru mulai dipasang, meski beberapa sudut masih menyisakan puing kemarin.
Cellestial berhenti sejenak, memandang alun-alun yang masih dipenuhi puing dan hiasan setengah jadi. "Waktu terus berjalan…" gumamnya pelan."Aku berharap semua ini berhasil."
Tangannya kembali bergerak, membantu memasang kain hiasan berwarna emas di sisi panggung. Gaunnya sedikit kotor oleh debu, tetapi ia tak memedulikannya. Para penduduk yang melihatnya bekerja ikut merasa terdorong untuk menyelesaikan tugas mereka lebih cepat.
Seorang penduduk memberanikan diri bertanya,"Tuan Putri… mengapa Anda mau melakukan semua ini?"
Cellestial tersenyum lembut."Apa maksudmu?"
“Anda adalah putri kerajaan," lanjut penduduk itu."Biasanya kaum bangsawan tidak turun langsung seperti ini."
Angin sore mengibaskan rambut panjangnya saat ia menjawab dengan suara tenang."Aku ingin membantu rakyatku." Ia berhenti sejenak, memandang orang-orang yang bekerja tanpa mengeluh. "Kelak aku akan menjadi ratu. Aku tidak ingin menjadi ratu yang jauh dari rakyatnya."
Penduduk lain tersenyum bangga. Kehadirannya bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari mereka.
Mereka pun kembali bekerja dengan semangat, meski bayang-bayang ancaman belum sepenuhnya sirna.
Sementara itu, di Desa Elf, Myuran dan Miamor menyirami bunga-bunga milik Roslyn. Bunga-bunga itu berasal dari Pulau Gloaming, tepatnya dari Kerajaan Roosevelt. Kelopaknya berkilau lembut, memantulkan cahaya seperti kristal tipis.
Miamor menghela napas."Ibu lama sekali… dari pagi sampai siang belum kembali juga."
Myuran mencoba terdengar santai."Mungkin sedang sibuk membahas hal penting." Ia menyesuaikan aliran air agar tidak terlalu deras. "Bunga ini tidak suka terlalu banyak air."
Desa terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu yang dikirim Cellestial mulai digantung. Tak lama kemudian, Dragonair mendarat membawa keranjang besar berisi pita dan tali warna-warni.
Sebuah surat dari Cellestial menjelaskan bahwa Desa Elf juga harus dihias meriah untuk festival. Ajakan itu disambut hangat. Penduduk desa segera berkumpul, membawa tangga, kain, dan peralatan sederhana.
Desa yang biasanya tenang perlahan berubah cerah. Pita-pita melingkar di batang pohon, lampu kecil digantung di sepanjang jalan setapak. Anak-anak elf berlarian kecil membantu membawa gulungan kain.
Meski tawa terdengar, bisikan cemas tetap ada di sudut-sudut percakapan. Festival kali ini terasa berbeda.
Di bawah salah satu pohon besar Desa Elf, Miamor mencoba membuat simpul pita. Tangannya kaku, hasilnya miring.
Myuran mendekat dan menunjukkan cara yang lebih rapi. Gerakan tangannya pelan dan teratur. Miamor memperhatikan dengan sungguh-sungguh, lalu mencoba lagi.
Akhirnya satu pita sederhana tergantung dengan rapi.
Mata Miamor berbinar. Ada rasa bangga kecil dalam hatinya. Ia bukan hanya membantu, tetapi benar-benar berkontribusi.
Desa Elf perlahan berubah menjadi hangat dan bercahaya menjelang sore.
Sementara itu di kerajaan, Cellestial berdiri memandangi hasil kerja bersama rakyatnya. Panggung telah berdiri kembali, meski masih perlu sentuhan akhir.
Seorang pengawal memanggilnya ke ruang singgasana.
Di sana, Raja Arthropoda memberitahukan tentang kedatangan keluarga kerajaan Roosevelt lusa nanti, sehari setelah festival.
Berita itu mengejutkannya. Dalam situasi seperti ini, kunjungan resmi terasa berisiko. Namun Raja meyakinkannya bahwa penjagaan telah diperketat.
Ratu Treasure kemudian menasihatinya untuk bersikap lebih anggun, lebih menjaga jarak dari rakyat saat keluarga Roosevelt datang.
Ucapan itu membuat hati Cellestial terasa berat. Ia memahami tanggung jawabnya sebagai putri, tetapi ia juga tak ingin kehilangan kedekatannya dengan rakyat.
Ia kembali ke kamarnya dengan langkah cepat, menutup pintu perlahan, dan duduk diam. Di luar jendela, senja mulai turun, mewarnai langit dengan jingga lembut.
Hari mulai sore. Di Desa Elf, Roslyn akhirnya kembali dan tertegun melihat pemandangan di hadapannya. Lampu-lampu menggantung indah, pita-pita berwarna menghiasi rumah-rumah, dan suasana desa terasa hidup.
"Indah sekali…" ucap Roslyn pelan. "Siapa yang melakukan semua ini?"
Miamor tersenyum bangga dan menjelaskan bahwa seluruh desa ikut membantu.
Roslyn memeluknya erat, merasakan kehangatan yang menenangkan di tengah ketegangan yang melingkupi Aetheria.
Matahari perlahan tenggelam.Malam pun tiba.
Langit berubah gelap, dihiasi bintang-bintang yang tampak lebih terang dari biasanya. Penjaga keamanan Aetheria telah bersiap di pos masing-masing. Busur ditarik, sihir disiapkan, mata tak pernah lepas dari kegelapan hutan.
Angin malam berembus pelan, membawa suara dedaunan bergesekan.
Salah satu pemanah berhenti sejenak."Apa itu…?" gumamnya.
Di kejauhan, cahaya kecil melayang pelan di antara pepohonan. Ia melepaskan anak panah dengan hati-hati. Cahaya itu menghilang, seperti ditelan kegelapan.
Ia mengernyit."Kunang-kunang…"
Namun hatinya tetap gelisah.
Di sudut lain hutan, bayangan kecil bergerak cepat di antara batang pohon. Begitu halus hingga tak terdengar, begitu ringan hingga tak meninggalkan jejak.
Malam itu, semua tetap siaga.
Setiap orang berharap… esok hari akan berjalan lancar, tanpa kejadian buruk.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)