17
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Pagi hari telah tiba.
Sinar matahari menembus tirai kamar Cellestial, menghangatkan ruangan istana yang masih sunyi. Udara pagi terasa segar, membawa aroma bunga dari taman istana yang mulai bermekaran. Cahaya keemasan itu perlahan merambat di lantai marmer, menyentuh sisi tempat tidur tempat Cellestial masih terbaring dalam sisa kantuknya.
Cellestial menggeliat pelan. "Hmm… pagi sudah datang," gumamnya.
Ia mengusap matanya, lalu bangkit duduk. Beberapa detik ia hanya diam, membiarkan kesadarannya sepenuhnya kembali. Festival tinggal esok hari pikiran itu melintas begitu saja. Seharusnya pagi ini terasa menyenangkan.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan mendekati jendela. Saat tirai ditarik, udara segar langsung masuk. Namun alisnya mengernyit.
Di kejauhan, alun-alun kerajaan tampak ramai. Orang-orang bergerak cepat, berkumpul dalam lingkaran besar. "Aneh…" bisiknya. "Kenapa orang-orang sudah berkumpul pagi-pagi begini?"
Rasa penasaran membuatnya segera bersiap. Ia mengenakan gaunnya dengan cepat lalu keluar dari kamar. Langkahnya terdengar ringan namun tergesa di lorong istana yang panjang.
Begitu Cellestial melangkah keluar istana, para penduduk langsung menoleh.
"Tuan Putri!"
"Selamat pagi, Tuan Putri!"
Sapaan itu terdengar, tetapi nada mereka tidak seperti biasanya. Tidak ada keceriaan. Mereka memberi jalan, membiarkannya berjalan ke tengah kerumunan.
Cellestial menatap sekeliling. "Apa yang terjadi?" tanyanya sambil melangkah. "Mengapa kalian semua berkumpul di sini?"
Tak ada yang langsung menjawab. Wajah-wajah mereka terlihat tegang. Beberapa orang saling berpandangan seolah tak ingin menjadi yang pertama menjelaskan.
Saat Cellestial tiba di alun-alun, ia terhenti. "Ini…" suaranya tercekat.
Panggung utama festival hancur. Kayu-kayu patah berserakan di tanah. Tiang penyangga roboh, kain hiasan yang kemarin berkibar indah kini robek dan kotor. Lentera-lentera jatuh dan pecah. Alun-alun yang kemarin masih indah kini porak-poranda, seperti diterpa amukan tak terlihat.
"Siapa yang melakukan ini…" bisiknya pelan.
Tanpa menunggu lama, Cellestial berbalik dan berlari kembali ke istana. Nafasnya memburu, gaunnya berkibar mengikuti langkahnya yang cepat.
Di ruang singgasana, Raja Arthropoda dan Ratu Treasure sedang berbincang ketika Cellestial masuk dengan napas tergesa.
"Ayah, Ibu!"
"Terjadi sesuatu di alun-alun!"
Raja menatapnya tajam. "Apa maksudmu, Cellestial?"
Cellestial mengatur napas. "Panggung festival rusak, Ayah. Hancur. Semua hiasan berantakan. Aku tidak tahu siapa pelakunya, saat aku datang semuanya sudah seperti itu."
Ratu Treasure menutup mulutnya kaget. "Bagaimana bisa…"
Raja Arthropoda mengepalkan tangan. "Festival tinggal esok hari. Ini tidak bisa dibiarkan."
Sementara itu, di Desa Elf, Miamor dan Myuran belum mengetahui kejadian tersebut. Mereka berjalan menuju kerajaan dengan wajah cerah. Jalan setapak yang biasa mereka lewati terasa damai.
"Aku tidak sabar menunggu festival," kata Myuran sambil melangkah ringan. "Kemarin saja sudah seru."
Miamor tersenyum tipis. "Iya. Besok pasti lebih ramai. Cellestial pasti sibuk sekali."
Myuran mengangguk. "Semoga semuanya berjalan lancar."
Namun langkah mereka melambat saat melihat keramaian di depan kerajaan.
"Kenapa ramai sekali?" tanya Myuran heran.
Saat mereka mendekat ke alun-alun, senyum itu menghilang.
"…Hah?"
"Itu… panggungnya?" suara Miamor mengecil.
Mereka melihat puing-puing yang berserakan.
"Ini hancur…" kata Myuran tak percaya. "Padahal baru kemarin kita memasangnya."
Belum sempat mereka berbicara lebih jauh, keluarga kerajaan datang ke lokasi. Raja Arthropoda memandang sekeliling dengan wajah muram.
"Myuran, Miamor," katanya, "apa yang terjadi di sini?"
Miamor menoleh ke Cellestial. "Apa yang sebenarnya terjadi semalam?"
Cellestial menggeleng. "Aku tidak tahu, Amor. Saat aku datang pagi ini, semuanya sudah rusak seperti ini."
Raja menarik napas panjang. "Festival esok hari harus tetap berlangsung." Ia menoleh ke para penduduk. "Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus membereskannya hari ini."
Raja lalu membagi tugas. "Para elf, bantu membuat hiasan baru."
"Para manusia, bangun ulang panggung."
"Sebagian lagi, bertugas memasang dan mengamankan area."
Semua langsung bergerak. Suasana yang semula penuh kejut berubah menjadi kesibukan teratur. Palu mulai diketuk, kayu diangkat, kain dibersihkan.
Ratu Treasure menatap pekerjaan mereka. "Mungkin… dengan kerja sama, festival masih bisa diadakan."
Raja Arthropoda mengangguk. "Ini tidak akan mudah. Bisa jadi baru selesai malam nanti. Dan setelah itu, harus ada yang berjaga. Kita tidak boleh kecolongan lagi."
Saat semua sibuk bekerja, Cellestial berhenti melangkah. Perhatiannya tertarik pada Dragonair yang berputar-putar di sekitar sesuatu di tanah.
"Apa itu?"gumamnya.
Cellestial mendekat dan memungut sebuah pita yang terjatuh. "Ini kan…" matanya menyempit. Di pita itu, terdapat serbuk bunga halus yang berkilau samar di bawah cahaya matahari.
Myuran dan Miamor mendekat.
"Itu serbuk apa?" tanya Myuran.
Miamor menatapnya lebih lama. "…Serbuk bunga peri."
Myuran terkejut. "Peri?"
Cellestial mengepalkan pita itu. Ingatan tentang pembicaraan kemarin langsung terlintas.
"Kita harus memberi tahu raja dan ratu," kata Myuran.
Miamor langsung mengangguk. "Ayo. Ini penting, Cellest, beri tahu ayah dan ibumu sekarang."
Mereka bergegas menuju istana. Langkah mereka cepat, napas terdengar berat, kecemasan jelas tergambar di wajah masing-masing.
Sesampainya di ruang singgasana, Cellestial langsung maju dan membuka pembicaraan. "Ayahanda, Ibunda," ucapnya dengan suara serius, "di alun-alun aku menemukan ini."
Ia menyerahkan pita yang telah terjatuh itu. Raja Arthropoda dan Ratu Treasure menatapnya dengan saksama. Saat mereka melihat serbuk bunga halus yang menempel di pita tersebut, raut wajah keduanya langsung berubah.
"…Serbuk bunga peri," gumam Ratu Treasure pelan.
Raja Arthropoda mengangguk perlahan. "Tidak salah lagi. Ini perbuatan mereka."
Ia berdiri dari singgasananya, suaranya mengeras. "Kita tidak bisa membiarkan ini berlanjut."
Raja menoleh ke arah pengawal. "Perintahkan seluruh prajurit untuk memperketat penjagaan. Tidak boleh ada satu celah pun, siang ataupun malam."
Lalu pandangannya beralih pada Miamor dan Myuran. "Kalian berdua," katanya tegas, "temui Roslyn di Desa Elf."
Miamor menegakkan tubuhnya. "Baik, Yang Mulia."
"Beri tahu Roslyn," lanjut Raja Arthropoda, "agar mengerahkan seluruh pasukan pemanah dan sihir elf. Kita harus memperketat pengawasan di Aetheria, baik di dalam maupun di luar kerajaan."
Ratu Treasure menambahkan dengan nada khawatir, "Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan para peri. Semua harus waspada."
Tanpa menunda waktu, Miamor dan Myuran segera berpamitan dan berangkat menuju Desa Elf.
Sesampainya di sana, Miamor langsung menemui ibunya. "Ibu," ucap Miamor, “/"telah terjadi kerusakan besar di alun-alun kerajaan pagi ini."
Roslyn menoleh tajam. "Kerusakan?"
Myuran melangkah maju. "Raja Arthropoda meminta bantuan. Ia ingin penjagaan diperketat di seluruh Aetheria."
Miamor menambahkan, "Ditemukan pita dengan serbuk bunga peri. Kemungkinan besar ini ulah mereka."
Roslyn terdiam sesaat. Tatapannya mengeras. "Jika demikian," katanya, "kita tidak boleh lengah."
Tanpa basa-basi, Roslyn mengangkat suaranya. "Panggil seluruh pasukan pemanah!"
"Pasukan sihir, bersiap!"
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)