16
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Kembali ke Aetheria, tepatnya di Desa Elf, Miamor duduk di samping ibunya. Suasana di sekitar terasa lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma dedaunan dan tanah yang lembap. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan, menciptakan bayangan lembut di lantai kayu rumah mereka. Tidak ada suara keramaian, tidak ada langkah tergesa. Hanya ketenangan yang sederhana, seolah dunia memberi ruang bagi keduanya untuk bernapas lebih lega setelah kebenaran yang terungkap.
"Ibu…" ucap Miamor pelan.
"Apa yang ingin Ibu lakukan sekarang?"
Roslyn menatap anaknya dengan lembut. Sorot matanya tak lagi setegang sebelumnya, meski bekas kesedihan masih tersisa.
"Tidak ada yang istimewa," jawabnya.
"Ibu hanya ingin bersamamu, Amor."
Miamor terdiam sejenak. Ia memandang tangan ibunya yang terlipat tenang di pangkuan. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak ruang kosong dalam cerita tentang ayahnya yang kini terasa begitu nyata. Ia menarik napas pelan, mengumpulkan keberanian yang sejak tadi berputar di dalam dada.
"Ibu… ceritakanlah semuanya tentang Ayah."
Roslyn menghela napas panjang, bukan karena keberatan, melainkan karena kenangan yang hendak dibuka kembali bukanlah kenangan ringan. Ia menatap jauh ke luar jendela sebelum mulai berbicara.
"Ayahmu adalah seseorang yang sangat kuat," katanya perlahan.
"Menghadapi rintangan bukanlah hal yang sulit baginya. Ia terbiasa hidup di tengah kehancuran."
Suara Roslyn tidak keras, namun setiap katanya terasa jelas. Miamor mendengarkan dengan saksama, seolah takut kehilangan satu detail pun.
"Nenekmu… tidak pernah menginginkan ayahmu lahir," lanjut Roslyn.
"Sejak kecil, ia sering dimarahi tanpa alasan. Bukan karena kesalahan, tetapi karena kebencian."
Miamor menunduk. Gambaran masa kecil yang keras itu terasa menyakitkan untuk dibayangkan.
"jahat…" gumamnya.
Roslyn mengangguk pelan. "Ibunya menghilang saat ayahmu berusia enam belas tahun. Sejak itu, ia hidup sendirian. Berburu di hutan untuk makan, tidur tanpa rumah, tanpa tempat berlindung."
Bayangan seorang remaja yang bertahan hidup sendirian di hutan terlintas dalam benak Miamor. Angin malam, dinginnya tanah, dan sunyi yang panjang. Namun di balik semua itu, ada keteguhan yang tumbuh perlahan.
"Namun ia tidak pernah mengeluh," lanjut Roslyn. "Ia terus bertahan, terus berjuang."
Roslyn tersenyum tipis, penuh kenangan. "Hingga akhirnya ia menjadi pemimpin kesatria kerajaan. Di situlah ia bertemu Raja Arthropoda. Mereka berteman, dan ayahmu menjadi orang kepercayaan raja."
Ada kebanggaan dalam suara Roslyn. Kebanggaan yang tidak pernah ia ceritakan sebelumnya.
"Ia dikenal dengan nama Cracked lius Snowheart, kesatria kehancuran," ujar Roslyn dengan mata penuh kenangan.
Nama itu terdengar kuat dan berat, seolah menyimpan sejarah panjang di dalamnya. Miamor menunduk. Dadanya terasa berat, bukan hanya oleh kesedihan, tetapi juga oleh rasa hormat yang tumbuh perlahan terhadap sosok yang belum pernah ia temui secara utuh.
"Terima kasih sudah menceritakannya, Ibu."
Roslyn menggenggam tangan Miamor dengan hangat. "Ayahmu akan bangga padamu."
Kata-kata itu sederhana, namun cukup untuk membuat Miamor merasa sedikit lebih tegak. Seolah ia baru saja menerima warisan yang tak terlihat bukan berupa benda, melainkan keteguhan.
Di sisi lain Aetheria, di kawasan kerajaan, suasana jauh lebih cerah. Dapur kecil yang tadi dipenuhi aroma manis kini terasa lebih santai. Cellestial, Myuran, dan Dragonair sedang menikmati hidangan yang mereka buat sendiri. Meja kayu dipenuhi mangkuk puding berry berwarna cerah dan kue cokelat yang bentuk dan rasanya kurang sempurna.
"Ini enak sekali," kata Myuran sambil mencicipi puding. "Tapi jumlahnya terlalu banyak. Apa kita bisa menghabiskannya?"
Cellestial tersenyum, menyandarkan dagunya pada telapak tangan. "Tentu tidak. Sebagian akan kita bagikan kepada penduduk."
Ia melirik kue cokelat di meja, ekspresinya berubah sedikit jahil. "Kalau yang itu…" katanya bercanda, "sebaiknya dibuang saja. Tidak enak."
"Apa?" protes Myuran. "Itu hanya sedikit terlalu matang!"
Cellestial tertawa kecil. "Aku hanya bercanda."
Tawa mereka membuat suasana terasa ringan, jauh dari bayangan kekhawatiran yang sempat menyelimuti Aetheria. Setelah itu, mereka mulai membereskan meja. Puding dimasukkan ke dalam kotak-kotak kecil, disusun rapi agar mudah dibagikan. Dragonair memperhatikan dari atas lemari, sesekali mengepakkan sayap kecilnya.
Mereka berkeliling kerajaan, membagikan puding kepada penduduk yang mereka temui. Anak-anak tersenyum lebar, para orang tua mengucapkan terima kasih dengan hangat. Percakapan ringan dan tawa mengiringi langkah mereka di jalanan berbatu. Hari perlahan berubah menjadi sore, langit mulai memerah di ufuk barat.
Melihat masih ada sisa puding, mereka sepakat menuju Desa Elf. Jalan menuju desa terasa lebih sunyi, hanya terdengar suara daun yang tertiup angin.
Saat sampai di depan rumah Miamor, Cellestial mengetuk pintu dengan ringan. "Miamor, kami membawakan puding untukmu dan ibumu," katanya.
Pintu terbuka, dan Miamor muncul dengan ekspresi yang lebih tenang dibanding pagi tadi. Ia menerima kotak itu dengan kedua tangan. "Kalian yang membuatnya?"
"Iya," jawab Myuran bangga. "Enak, kan?"
Cellestial tersenyum jahil. "Oh ya, Miamor, Myuran juga mencoba membuat kue cokelat. Tapi gagal. Rasanya pahit."
"Jangan dibahas terus!" bantah Myuran kesal.
Miamor tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus. "Terima kasih. Ibu pasti menyukainya."
Setelah berpamitan, Cellestial dan Myuran kembali ke kerajaan. Sementara itu, di rumah kecil Desa Elf, Roslyn menerima puding itu dengan senyum hangat. Kehangatan sederhana dari teman-teman Miamor membuat suasana rumah terasa lebih hidup.
Malam turun perlahan, membawa kesejukan yang berbeda dari pagi tadi. Lampu-lampu kecil mulai dinyalakan di beberapa sudut kerajaan. Perlahan seluruh Aetheria terlelap, tenggelam dalam keheningan malam yang tampak damai.
Namun di area istana, Dragonair terbangun dari tidurnya. Ia mengangkat kepala kecilnya, telinganya menangkap suara berisik dari arah alun-alun. Tidak keras, namun cukup berbeda dari suara malam biasanya.
Dari kejauhan, tampak cahaya-cahaya kecil berhamburan di sekitar panggung utama festival. Cahaya itu bergerak cepat, berkelip-kelip seperti bintang yang jatuh ke tanah.
Dragonair mengangkat kepalanya lebih tinggi, merasa ada sesuatu yang aneh. Naluri kecilnya terusik, meski ia belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Namun rasa kantuk kembali menguasainya. Kelopak matanya terasa berat. Ia menurunkan kepalanya perlahan dan menutup mata, napasnya kembali teratur.
Tanpa menyadari bahwa malam itu, sesuatu telah bergerak dalam diam.
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)