16 страница29 апреля 2026, 14:58

15

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

7a45ee0e5d232e598476c555c71ac493.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Sementara itu di istana, Raja Arthropoda dan Ratu Treasure masih membicarakan kabar tentang para peri. "Mereka muncul kembali setelah sekian lama," ujar raja dengan nada serius.
"Dari mana mereka datang, dan apa yang mereka rencanakan?"

Ruang singgasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Pilar-pilar tinggi menjulang kokoh, sementara cahaya siang yang masuk melalui jendela besar memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Raja Arthropoda berdiri di dekat singgasananya, kedua tangan terlipat di belakang punggung. Sorot matanya tertuju jauh ke luar jendela, seolah mencoba membaca pertanda dari hutan Aetheria yang tampak damai.

Ratu Treasure menatap suaminya dengan lembut. "Kita tidak sendiri. Elf dan manusia kini bersatu. Apa pun yang mereka rencanakan, kita akan menghadapinya bersama."

Suaranya tenang, namun tersimpan kekhawatiran yang sama. Ia melangkah mendekat, gaunnya yang berwarna lembut menyapu lantai dengan gerakan halus.

Raja mengangguk perlahan, terlihat sedikit lebih tenang. "Persatuan itu kekuatan kita," gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Namun para peri tidak pernah bertindak tanpa tujuan."

Saat itu, Thunder Storm Hold masuk ke ruang singgasana. Langkahnya tegas, suaranya berat namun penuh hormat.

"Yang Mulia," katanya sambil menundukkan kepala, "ada utusan dari Kerajaan Roosevelt yang ingin menemui Anda."

Raja Arthropoda menoleh. "Silakan masuk," jawabnya.

Pintu besar terbuka perlahan. Seorang kesatria wanita berzirah besi melangkah masuk dengan sikap tegap. Cahaya memantul di permukaan zirahnya yang terawat baik. Ia berhenti beberapa langkah dari singgasana, lalu berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai.

"Yang Mulia," ucapnya tegas, "nama saya La Vey Dencroos, utusan Raja Gleason."

Ia mengeluarkan sebuah surat yang tersegel rapi. "Raja Gleason menitipkan surat ini dan meminta agar Yang Mulia menyampaikan jawabannya langsung kepada saya."

Raja Arthropoda menerima surat itu. Ia membuka segel dan membaca dengan saksama, matanya bergerak perlahan mengikuti setiap baris tulisan. Ratu Treasure memperhatikan dari samping, mencoba menangkap perubahan ekspresi suaminya.

Setelah selesai, raja terdiam sejenak. "Perihal perjodohan," gumamnya pelan. "Raja Gleason menyetujuinya dan ingin datang ke Aetheria… esok lusa."

Ratu Treasure sedikit mengernyit. Festival yang akan datang memang menjadi perhatian utama kerajaan saat ini.

Raja menggeleng pelan. "Lusa adalah hari penting bagi kami. Kami akan mengadakan festival."

Ia lalu menatap La Vey dengan sikap tegas namun sopan. "Nona Vey, sampaikan pada Raja Gleason bahwa kami tidak dapat menerima kunjungan pada lusa. Bagaimana jika pertemuan dilakukan setelah festival selesai?"

La Vey mengangguk hormat. "Saya akan menyampaikan pesan Anda, Yang Mulia."

Ia berdiri, memberi salam dengan kepalan tangan di dada, lalu berbalik dan meninggalkan istana. Langkahnya kembali terdengar di lorong panjang sebelum akhirnya menghilang.

Raja Arthropoda menatap ke luar jendela, ke arah hutan Aetheria yang tampak tenang. Pepohonan bergoyang pelan tertiup angin siang. "Semoga kedamaian ini bertahan lebih lama," katanya pelan.

Hari menjelang siang sementara itu, siang hari menyelimuti Kerajaan Roosevelt dengan cahaya hangat. Dari balkon istana, Raja Gleason Roosevelt berdiri menatap taman kerajaan yang tertata rapi. Air mancur di tengah taman memantulkan cahaya keemasan, menciptakan kilau lembut di udara.

Ia berbicara pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Semoga ini berhasil…"

Di halaman belakang istana, Ratu Clover Roosevelt sedang menyirami bunga-bunga herbal kesayangannya. Aroma lembut menyebar di udara, bercampur dengan wangi tanah yang masih basah. Ia menunduk memperhatikan kelopak bunga yang hampir mekar, menyentuhnya dengan hati-hati agar tidak merusaknya.

Saat ia sedang memeriksa satu tanaman kecil, seorang pengawal datang menghampiri dan memberi hormat. "Yang Mulia Ratu, Raja Gleason memanggil Anda ke ruang singgasana."

Clover mengangguk pelan. "Baik. Tolong jaga bunga-bunga ini."

Ia meletakkan penyiram air dan melangkah menuju istana. Gaunnya yang sederhana bergerak lembut mengikuti langkahnya.

Tak lama setelah bertemu di ruang singgasana, Raja Gleason langsung membuka pembicaraan tanpa basa-basi.

"Clover," ucapnya dengan suara rendah namun tegas, "aku telah memutuskan untuk menerima perjodohan antara Keanu dan Putri Cellestial dari Kerajaan Arthropoda."

Ratu Clover berhenti sejenak. Keputusan itu tidak sepenuhnya mengejutkan, namun tetap terasa berat. "Bukankah itu terlalu cepat?" tanyanya pelan. "Keanu baru berusia enam belas tahun."

Raja Gleason menoleh, menatap istrinya dengan pandangan penuh perhitungan. "Perjodohan ini memiliki banyak keuntungan," katanya.

Ia berjalan perlahan di depan singgasana, seolah menyusun pikirannya dengan hati-hati. "Jika kelak Keanu menjadi raja di Arthropoda, hubungan kita akan terjalin kuat dalam jangka panjang. Lagi pula, lebih baik ia mengenal Cellestial sejak sekarang."

Clover terdiam. Ia menimbang kata-kata suaminya, memahami sisi politis dari keputusan itu, meski sebagai seorang ibu hatinya tetap gelisah. "Jika itu demi masa depan kerajaan…"

Ia menghela napas kecil. "Aku akan mendukung keputusanmu."

Tak lama kemudian, La Vey Dencroos masuk ke ruang singgasana dan memberi hormat.

"Yang Mulia," katanya, "saya membawa balasan dari Raja Arthropoda. Beliau meminta agar pertemuan ditunda satu hari, karena lusa akan diadakan festival di kerajaannya."

Raja Gleason mengangguk. "Tidak masalah. Kita akan menyesuaikan."

Nada suaranya tetap tenang, seolah perubahan jadwal itu tidak memengaruhi rencananya sedikit pun.

Setelah La Vey pergi, Raja Gleason menoleh kembali pada Ratu Clover. "Anak-anak harus diberi tahu sekarang," ujarnya. "Lebih cepat, lebih baik."

Ratu Clover memanggil seorang pelayan. "Tolong panggil kedua anakku ke ruang singgasana."

"Baik, Yang Mulia," jawab pelayan itu sebelum pergi.

Di salah satu ruangan istana, Keanu Roosevelt Junius duduk di sofa sambil membaca buku sihir. Rambut cokelatnya tersisir rapi, dan kacamata tipis bertengger di hidungnya. Ia membalik halaman dengan tenang, seolah tenggelam dalam dunia tulisannya.

Di sudut ruangan lain, Monna Roosevelt Julius sedang berbicara pelan pada peliharaannya, seekor Jackalope. Makhluk kelinci bertanduk rusa itu bergerak lincah, sesekali memiringkan kepala seolah memahami ucapan Monna.

"Tenang saja," kata Monna lembut. "Aku tidak akan pergi lama."

Saat pelayan datang menyampaikan panggilan, keduanya menghentikan kegiatan mereka.

"Ada apa ya?" tanya Monna penasaran, mengangkat alisnya.

Keanu menutup bukunya dengan hati-hati. "Kalau Ayah memanggil, pasti ada hal penting."

Mereka pun berjalan berdampingan menuju ruang singgasana. Langkah mereka bergema pelan di lorong panjang istana Roosevelt yang dihiasi lukisan leluhur kerajaan.

Begitu tiba, Monna langsung bertanya dengan nada polos. "Ayah, Ibu, ada apa memanggil kami siang-siang begini?"

Raja Gleason tersenyum tipis, senyum yang sulit dibaca.

"Keanu Roosevelt Junius," katanya perlahan, "aku memiliki tugas penting untukmu."

Keanu berdiri tegak. "Tugas apa, Ayah?"

Percakapan berlanjut dengan suara yang lebih rendah. Tidak banyak yang terdengar jelas dari luar ruang singgasana. Hanya wajah Raja Gleason yang tetap tenang, Ratu Clover yang sesekali menatap Keanu dengan raut ragu, dan Keanu sendiri yang mendengarkan tanpa banyak bertanya, tanpa penolakan.

Monna memperhatikan dari samping, matanya menyipit seolah merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya ia mengerti. Ia menatap kakaknya, mencoba membaca perubahan di wajahnya.

Di dalam istana Roosevelt, keputusan besar tengah disusun dengan rapi. Tenang di permukaan, namun menyimpan maksud yang belum sepenuhnya terungkap.

*****

16 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!