14
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Ruangan itu hening. Cahaya pagi masuk melalui celah dedaunan, menyinari wajah Roslyn yang tampak lebih muram dari biasanya. Miamor memandang ibunya dengan raut ragu, lalu akhirnya membuka suara.
"Ibu," kata Miamor pelan, "sejak pembahasan tentang para peri tadi, Ibu terlihat berbeda. Seolah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ibu."
Ia menunduk sedikit. "Ada apa sebenarnya?"
Roslyn tidak langsung menjawab. Pandangannya kosong, seolah menembus dinding ruangan dan kembali pada bayangan masa lalu yang lama ia kubur. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, lalu terlepas perlahan ketika ia menarik napas dalam.
"Ini tentang ayahmu, Miamor."
Miamor langsung mengangkat kepala. "Apa maksud Ibu?" suaranya meninggi tanpa ia sadari.
Jantungnya berdegup lebih cepat. "Aku tahu ayah telah tumbang di medan perang. Ibu sendiri yang mengatakan itu padaku, bukan?"
Roslyn menutup matanya sejenak, seperti mengumpulkan keberanian. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya terasa berat oleh penyesalan.
"Apa yang selama ini Ibu ceritakan padamu… adalah kebohongan."
Miamor membeku. Kata itu menggantung di udara, terasa asing sekaligus menyakitkan.
"K-kebohongan…?"
Roslyn menatap anak lelakinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ayahmu tidak gugur di medan perang, Miamor. Ia menjadi salah satu korban para peri."
"Tidak…" Miamor menggeleng pelan, langkahnya mundur setengah tapak. "Itu tidak mungkin."
Namun Roslyn melanjutkan, suaranya bergetar namun tegas. "Dahulu, sebelum permusuhan dan sebelum batas wilayah menjadi seketat sekarang, ayahmu adalah pemburu batu magis. Ia bekerja bersama Raja Arthropoda, saat bangsa elf dan manusia masih saling percaya dan hidup makmur."
Miamor terdiam, mencoba menyelaraskan cerita baru ini dengan ingatan yang selama ini ia pegang.
"Mereka berkelana menyusuri Aetheria, mencari sumber sihir alami," lanjut Roslyn. "Hingga suatu hari, mereka tiba di depan sebuah gua."
Roslyn menatap Miamor dalam-dalam. "Gua Aetheria."
Jantung Miamor terasa berdenyut lebih cepat. Nama itu terasa asing namun juga sarat makna.
"Di dalam gua itu," lanjut Roslyn, "mereka menemukan banyak bibit batu magis. Itu berarti gua tersebut menyimpan sihir dalam jumlah besar."
Roslyn menggenggam tangannya sendiri, seolah masih merasakan kecemasan hari itu. "Saat mereka keluar, beberapa peri menghadang. Para peri mengklaim bahwa gua itu masih termasuk wilayah mereka."
"Padahal tidak," sela Miamor pelan, suaranya kini lebih terkendali meski dadanya terasa sesak.
Roslyn mengangguk. "Ayahmu menolak menyerahkannya. Ia tahu gua itu bukan wilayah peri." Wajah Roslyn menegang. "Para peri memaksakan kehendak mereka. Mereka menyerang."
Miamor menahan napas. Gambaran pertempuran tanpa ia lihat sendiri terasa hidup di benaknya.
"Ayahmu hanya bisa bertahan dengan sihir perlindungan. Namun semakin banyak peri berdatangan. Mereka mengepung."
Suara Roslyn melemah. "Ayahmu ditangkap… dan dibawa pergi."
Ruangan terasa semakin sunyi. Miamor menatap lantai, mencoba mencerna setiap kata. "Lalu Raja Arthropoda?" tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
"Ia berhasil lolos," jawab Roslyn. "Dan segera kembali ke desa elf untuk memberi tahu Ibu."
Air mata akhirnya jatuh di pipi Roslyn. "Aku sedang mengandungmu saat itu. Aku panik, takut… namun Raja Arthropoda berjanji akan mencari ayahmu."
Miamor mengepalkan tangannya erat, kuku-kukunya menekan kulit telapak hingga memucat.
"Kerajaan mengerahkan pasukan dan rakyat," lanjut Roslyn. "Namun saat mereka tiba di wilayah para peri… tidak ada apa-apa. Lahan itu kosong."
Roslyn menggeleng pelan. "Para peri telah pergi dari Aetheria, membawa ayahmu bersama mereka."
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara napas keduanya yang terdengar pelan. "Ayahmu dinyatakan telah tiada," kata Roslyn lirih. "Aku menangis berhari-hari. Dan Raja Arthropoda… ia merasa gagal karena tidak menepati janjinya."
Miamor menunduk. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang baru saja diletakkan di sana.
"Sejak saat itu," lanjut Roslyn, "hingga satu tahun lalu, para peri tidak pernah terlihat lagi di Aetheria."
Beberapa saat berlalu sebelum Miamor berbicara. "Kenapa… Ibu tidak pernah mengatakan yang sebenarnya padaku?"
Roslyn menatapnya penuh rasa bersalah. "Ibu ingin melindungimu. Ibu takut kebencian akan tumbuh di hatimu sebelum waktunya."
Miamor menelan ludah. "Jadi… nama belakangku…"
Roslyn mengangguk. "Itu nama ayahmu. Ibu ingin kau selalu mengingatnya, meski tanpa mengetahui seluruh kebenarannya."
Air mata jatuh dari mata Miamor, namun ia tidak terisak. Ia berdiri tegak meski perasaannya bergejolak. "Aku mengerti… tapi tetap saja rasanya sakit."
Roslyn bangkit dan mendekat, lalu memeluknya erat. "Maafkan Ibu, Miamor."
Beberapa saat kemudian, Miamor menarik napas panjang dan mengusap matanya. "Hari ini," katanya pelan namun tegas, "aku tidak ingin pergi ke mana-mana."
Roslyn menatapnya. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin menemani Ibu," jawab Miamor. "Setidaknya hari ini."
Roslyn tersenyum tipis, meski matanya masih basah. "Itu sudah lebih dari cukup."
Di luar ruangan, dunia tampak berjalan seperti biasa. Namun bagi Miamor, pagi itu menjadi awal dari kebenaran yang selama ini tersembunyi dan bayangan masa lalu yang perlahan kembali mendekat.
Sementara itu, di dapur kecil dekat taman istana, Cellestial menghentikan gerakan tangannya dan menoleh ke arah pintu.
"Miamor ke mana?" tanyanya sambil mengerutkan dahi. "Dari tadi belum terlihat juga."
Myuran yang sedang mengaduk adonan hanya mengangkat bahu. "Mungkin hari ini ia tidak datang."
Cellestial terdiam sejenak. "Tadi sikapnya juga berbeda. Seperti sedang memikirkan sesuatu."
Myuran mengangguk pelan. "Aku juga merasakannya. Tapi kalau memang ia ingin sendiri, kita tidak bisa memaksanya."
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan, meski ada rasa khawatir yang tersisa. Saat itulah Dragonair datang terbang rendah dan mendarat di atas meja, membawa selembar surat kecil yang terikat rapi di kakinya.
Cellestial mendekat dan membuka surat itu. "Ini dari Miamor," katanya. Ia membaca pelan, lalu menghela napas. "Ia tidak akan datang hari ini. Ia ingin menemani ibunya."
Myuran tersenyum tipis. "Kalau begitu, tidak apa-apa. Mungkin ia memang membutuhkan waktu bersama keluarganya."
Cellestial mengangguk. "Semoga ia baik-baik saja."
Mereka kembali bekerja, kini ditemani Dragonair. Myuran bertugas menyiapkan adonan dan memasak, Cellestial menghias hidangan dengan rapi, sementara Dragonair membantu menyalakan api dengan semburan kecil yang terkontrol.
"Pelan-pelan saja, Dragonair," ujar Cellestial sambil tertawa kecil. "Kita tidak ingin dapur ini terbakar." Dragonair mengeluarkan suara pelan seolah mengerti.
Tak lama kemudian, hidangan pun selesai. Kue cokelat dan berbagai puding berry tersusun rapi di atas meja.
Myuran mencicipi puding terlebih dahulu. "Ini… enak sekali."
Cellestial ikut mencicipi, lalu tersenyum puas. "Pudingnya sempurna."
Namun saat mencicipi kue cokelat, Cellestial langsung mengernyit. "Ini agak pahit."
Ia menatap Myuran sambil tersenyum jahil. "Sepertinya kau memang tidak berbakat memasak, Raindrop."
Myuran langsung membela diri. "Hei, pudingnya enak, bukan? Kue itu hanya sedikit terlalu matang."
Cellestial tertawa ringan. "Sedikit katanya, hahaha..."
Dapur itu di penuhi candaan dan tawa. Dua hari menjelang festival terasa berat bagi Aetheria penuh kesibukan, harapan, dan kekhawatiran yang tersembunyi.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)