12 страница29 апреля 2026, 14:58

11

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

dd8c0081cdfb99392887dbbead6de337.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Di Arthropoda, malam itu, dekorasi panggung utama festival akhirnya selesai. Lampu-lampu kristal tergantung rapi, memancarkan cahaya lembut yang berpendar seperti bintang-bintang kecil di alun-alun. Kain-kain hias berwarna biru dan emas berkibar pelan tertiup angin malam, menimbulkan suara gesekan halus yang menenangkan. Aroma kayu panggung yang baru dipoles bercampur dengan wangi bunga yang sudah dipasang di sekeliling tiang-tiang utama.

Miamor berdiri di tengah panggung, memandangi hasil kerja mereka dengan napas panjang yang terasa lega. Jemarinya masih memegang ujung kain yang tadi ia rapikan. Wajahnya lelah, namun sorot matanya hangat.

"Tidak terasa ya, tinggal tiga hari lagi," ujarnya pelan, lebih seperti gumaman kagum daripada keluhan.

Cellestial duduk di tepi panggung sambil melepas sarung tangan kerjanya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, dan ada debu tipis di pipinya. Ia tersenyum tipis, kelelahan yang menyenangkan setelah kerja keras seharian.

"Aku harap festival ini berjalan lancar," katanya lembut.

"Semua orang sudah bekerja keras… aku tidak ingin ada yang kecewa."

Myuran mengangkat kotak kayu terakhir berisi peralatan kecil dan menaruhnya di sudut dengan hati-hati.

"Setidaknya malam ini kita bisa sedikit bernapas," ucapnya tenang, meski bahunya terlihat kaku karena lelah.

Alun-alun perlahan menjadi sepi. Para pekerja sudah kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan cahaya kristal yang berpendar di tengah malam. Ketiganya saling bertukar pandang, merasakan kepuasan kecil atas apa yang telah mereka selesaikan.

"Bagaimana kalau kita menyampaikan undangan ke Iron Ginger sekarang?" usul Cellestial tiba-tiba, berdiri dan menepuk gaunnya. "Besok mungkin kita terlalu sibuk."

Miamor mengangguk setuju. "Lembah Eltora jarak nya cukup jauh. Kalau ingin cepat kembali kita harus cepat pergi juga."

Myuran sempat menatap langit yang mulai gelap sepenuhnya, namun akhirnya menyetujui. "Baiklah. Kita pergi bersama."

"Lebih cepat lebih baik bukan. " lanjut Cellestial

Rumah Iron Ginger berdiri kokoh di Lembah Eltora, bangunan batu sederhana dengan cerobong asap yang mengepulkan aroma kayu bakar. Cahaya hangat keluar dari jendela kecilnya, kontras dengan udara malam yang mulai dingin.

Iron Ginger membuka pintu ketika mereka mengetuk. Wajahnya yang dihiasi janggut tebal tampak terkejut melihat ketiganya berdiri di depan rumahnya.

"Kalian datang malam-malam begini, ada apa?" tanyanya heran, namun tidak terdengar keberatan.

Cellestial melangkah maju dengan sikap sopan.

"Tiga hari lagi akan diadakan festival perdamaian di Kerajaan Arthropoda. Kami ingin mengundangmu untuk datang."

Miamor menambahkan dengan semangat yang kembali muncul di wajahnya, "Akan ada karnaval, pertunjukan cahaya, dan makanan dari dua kerajaan. Ini perayaan untuk semua."

Iron Ginger terdiam sesaat, lalu tawa kecil keluar dari dadanya. "Festival perdamaian…" ulangnya pelan. "Sudah lama aku tidak mendengar kabar sebaik ini."

Matanya melembut. "Aku akan datang. Aku ingin merayakan kebersamaan seperti dulu."

"Terima kasih," ucap Cellestial tulus, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat.

Setelah berbincang singkat dan berpamitan, mereka bertiga kembali menyusuri jalan menuju kerajaan. Malam semakin dalam, dan hutan Aetheria yang harus mereka lewati tampak lebih gelap dari biasanya.

Awalnya, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di antara dedaunan. Namun perlahan, suasana berubah. Angin yang tadi berembus pelan tiba-tiba berhenti. Daun-daun yang bergesekan pun terdiam, menyisakan keheningan yang aneh.

Miamor merasakan bulu kuduknya berdiri. "Kau merasakannya?" bisiknya.

Belum sempat Myuran menjawab, dari balik kegelapan pepohonan muncul sepasang mata merah menyala. Cahaya itu tidak berkedip, hanya menatap tajam dari antara bayangan.

"Itu… itu apa?" suara Miamor bergetar.

Myuran menegang. "Blood Woody Wolf," ucapnya lirih namun tegas. Nafasnya mulai memburu.

"LARI!"

Mereka berbalik hampir bersamaan, berlari sekuat tenaga menyusuri jalur tanah yang sempit. Ranting patah di bawah kaki, napas mereka berpacu dengan detak jantung yang memekakkan telinga.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan tertahan.

"Aah!"

Myuran terjatuh keras ke tanah. Cellestial segera berhenti dan berlutut di sampingnya, membantu menariknya berdiri.

"Apa yang kau injak?" tanyanya cepat.

Myuran menunduk. Di tanah, tertancap sebuah kristal merah yang memancarkan cahaya redup, seperti bara yang hampir padam. Permukaannya halus, namun warnanya terlalu pekat untuk terlihat alami.

"Ini… kristal?" gumamnya, kebingungan bercampur takut.

"Jangan dipikirkan!" seru Miamor, matanya masih mengawasi kegelapan di belakang mereka. "Kita harus pergi sekarang!"

Tanpa sempat menyelidiki lebih jauh, mereka kembali berlari tetapi arahnya berbelok ke Desa Elf. Hingga akhirnya, cahaya obor Desa Elf terlihat di kejauhan. Mereka baru berhenti ketika benar-benar keluar dari batas hutan.

Napas mereka tersengal, dada terasa panas. Tidak ada lagi mata merah yang terlihat, hanya malam biasa dengan suara serangga.

Myuran menatap tanah kosong di hadapannya, pikirannya masih tertinggal di tempat ia terjatuh.

"Aku tersandung kristal merah," ucapnya serius. "Aku takut… jangan-jangan golem yang dulu mengambil artefak elf akan kembali."

Miamor menggeleng tegas, mencoba terdengar meyakinkan. "Itu tidak mungkin. Golem itu sudah lama dikalahkan."

Cellestial menambahkan dengan suara lembut namun rasional, "Ketakutan bisa membuat bayangan terlihat nyata. Kita mungkin hanya terlalu lelah."

Myuran terdiam. Ia ingin percaya, namun bayangan cahaya merah itu terlalu jelas untuk diabaikan.

Di desa elf, suasana masih cukup ramai. Di dekat balai pertemuan, Raja Arthropoda, Ratu Treasure, dan Roslyn Vein Ivy tampak berbincang serius.

Cellestial terkejut melihat orang tuanya di sana. "Ayah? Ibu? Mengapa kalian ada di sini?"

Raja tersenyum hangat. "Kami sedang membahas rapat pembukaan festival bersama Roslyn."

Ratu Treasure menambahkan, "Semua harus dipersiapkan dengan baik. Ini bukan sekadar perayaan."

Tak lama kemudian, langkah tegap terdengar mendekat. Thunder Storm Hold muncul dengan membawa beberapa ikat bunga harum di tangannya.

"Baginda," ucapnya hormat. "Raja Gleason Roosevelt menerima ajakan kerja sama. Ini bunga-bunga herbal dari Kerajaan Roosevelt."

Raja Arthropoda mengangguk puas. "Kerja sama ini akan sangat membantu kerajaan kita."

Cellestial mendengarkan dengan rasa ingin tahu, tanpa mengetahui bahwa sebagian isi surat itu tentang perjodohan yang tidak disebutkan malam itu.

Raja kemudian menjelaskan tentang pertukaran batu magis dan bunga herbal, tentang kebutuhan Aetheria akan obat alami, dan pentingnya menjaga keseimbangan penggunaan sihir.

Roslyn melangkah maju dengan tenang. "Aku bersedia menyimpan dan menjaga bunga-bunga itu. Aku mengetahui cara perawatan dan penyimpanannya."

"Tugas itu aku percayakan padamu, Roslyn," jawab sang raja yakin.

Malam semakin larut. Satu per satu mereka kembali ke tempat masing-masing. Raja, ratu, Thunder Storm Hold, dan Cellestial menuju istana. Roslyn, Miamor, dan Myuran kembali ke rumah mereka.

Desa tampak damai di bawah cahaya bulan. Namun di dalam hati Myuran, bayangan kristal merah di tengah hutan masih terlintas jelas cahaya redup yang terasa tidak wajar.

Malam itu tampak tenang, namun seolah menyimpan sesuatu yang belum terungkap.

*****

12 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!