12
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Keesokan harinya, saat matahari terbit perlahan di ufuk timur, kehidupan di Kerajaan Arthropoda kembali bergerak. Warga keluar dari rumah masing-masing untuk bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Suasana tampak damai, seolah tidak ada bayangan ancaman yang mengintai.
Sinar keemasan menyentuh atap-atap rumah batu dan menari di sela-sela jendela kaca berwarna. Pedagang mulai membuka lapak, suara roda kayu berderit pelan di atas jalan berbatu, dan aroma roti panggang bercampur dengan embun pagi. Di kejauhan, panggung festival yang telah selesai berdiri megah di alun-alun, kristalnya masih memantulkan cahaya pagi dengan lembut.
Di istana, Raja Arthropoda telah duduk di singgasananya, menanti laporan apa pun dari rakyatnya. Aula singgasana terasa tenang, hanya dihiasi gema langkah penjaga yang berjaga di sisi ruangan. Raja tampak lebih segar dibanding malam sebelumnya, namun pikirannya tetap sibuk; festival, kerja sama, dan masa depan putrinya berputar dalam benaknya.
Tak lama kemudian, Thunder Storm Hold memasuki ruang singgasana dan memberi hormat. Zirahnnya berkilau tipis terkena cahaya pagi yang masuk dari jendela tinggi.
"Yang Mulia," ucapnya dengan suara rendah namun jelas, "ada hal yang belum sempat hamba sampaikan semalam."
Raja Arthropoda menoleh, memberi isyarat agar ia melanjutkan. "Silakan, Thunder. Apa yang ingin kau sampaikan?"
Thunder menarik napas sebelum berbicara, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Mengenai perjodohan dengan Kerajaan Roosevelt. Raja Gleason tampaknya belum sepenuhnya yakin dengan rencana tersebut. Ia meminta waktu untuk mempertimbangkannya."
Aula menjadi sedikit lebih sunyi. Raja tidak langsung menjawab. Ia bersandar perlahan pada singgasananya, jemarinya bertaut di depan dada. Ekspresinya tidak menunjukkan kekecewaan, hanya pemikiran yang mendalam.
$Tidak mengapa," ujarnya akhirnya dengan suara tenang. "Ia berhak berpikir dengan matang. Keputusan seperti itu tidak bisa diambil hanya karena satu surat." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Lagipula, aku tidak terburu-buru."
Thunder mengangguk hormat. "Baik, Yang Mulia."
Raja memberi isyarat agar ia kembali beristirahat setelah perjalanan panjang. Namun jauh di balik ketenangannya, ada secercah pertanyaan: apakah waktu akan berpihak pada rencananya, atau justru membawa arah yang berbeda?
Sementara itu, di kamar istana yang dipenuhi cahaya pagi, Cellestial baru saja terbangun. Ia berdiri di dekat jendela, memandang taman istana yang mulai ramai oleh para pelayan yang bekerja. Udara pagi terasa segar, membawa semangat baru.
Setelah bersiap dan mengenakan gaunnya yang cukup sederhana dan lebih cocok untuk kegiatan luar ruangan terutama hutan, ia berjanji bertemu Miamor dan Myuran di tepi hutan. Mereka berencana memetik buah berry untuk mencoba resep hidangan festival.
Di batas hutan, Miamor sudah menunggu sambil memeriksa keranjang anyam yang dibawa Cellestial. Myuran datang tak lama kemudian, membawa pisau kecil untuk memotong ranting jika diperlukan.
"Baik, mari kita mulai," ujar Cellestial ceria, mengangkat keranjangnya sedikit. "Kita butuh banyak berry untuk percobaan."
Myuran menatapnya dengan senyum samar, sedikit heran namun hangat.
"Agak aneh, ya. Seorang putri kerajaan masuk hutan hanya untuk memetik buah berry."
Cellestial tertawa pelan, menepis komentar itu dengan ringan. "Aku juga manusia biasa, Myuran. Lagipula, aku ingin festival ini terasa istimewa. Bukan hanya megah, tapi juga hangat."
Miamor mengangguk setuju. "Justru itu yang membuatnya berarti. Jika kau terlibat langsung, rasanya akan berbeda."
Mereka pun masuk lebih dalam ke hutan. Sinar matahari menembus celah daun, menciptakan bercak-bercak cahaya di tanah. Berry merah, biru, dan ungu menggantung di semak-semak rendah, tampak matang dan berkilau oleh embun.
Suasana terasa tenang. Burung-burung kecil berkicau, dan sesekali terdengar suara ranting patah di bawah kaki mereka.
Saat sedang asyik memetik berry, perhatian Cellestial tertuju pada sosok seseorang berdiri tak jauh dari mereka. Seorang warga Kerajaan Arthropoda, berpakaian sederhana, berdiri kaku menghadap ke arah hutan yang lebih dalam.
Wajahnya tegang. Tatapannya terpaku pada sesuatu yang tidak bisa langsung dilihat.
Cellestial mendekat dengan langkah hati-hati.
"Permisi..."
"Anda sedang melihat apa?"
Orang itu tersentak kaget, hampir menjatuhkan tas kecil yang dibawanya. Ketika menyadari siapa yang berbicara, wajahnya semakin pucat.
"Yang Mulia... maafkan saya, saya tidak tahu Anda berada di sini." Ia menunduk cepat, suaranya gemetar tipis.
Cellestial mencoba tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa. Apa ada sesuatu yang mengganggu?"
Orang itu tampak ragu, menoleh sekali lagi ke arah hutan sebelum menjawab singkat, "Saya... saya harus segera menghadap raja."
Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia bergegas pergi, langkahnya tergesa seolah takut tertinggal oleh sesuatu yang tak terlihat.
Cellestial berdiri diam, lalu menoleh ke arah yang tadi diamati orang tersebut. Ia mengerutkan kening. "Aku tidak melihat apa-apa..."
Di antara semak, hanya tampak seekor Jackalope, makhluk mirip kelinci dengan tanduk seperti rusa di kepalanya. Makhluk itu dikenal dengan kecerdikan, kelincahan, dan kesetiaannya kepada orang yang merawatnya, dikatakan juga dalam legenda ia bisa meniru suara hewan lain.
Miamor mendekat dan mengikuti arah pandangan Cellestial. "Apa yang kau lihat?"
Cellestial menunjuk pelan.
"Oh, hanya seekor Jackalope. Ibuku memelihara satu di rumah. katanya mereka bisa meniru suara hewan lain."
Jackalope itu menggerakkan telinganya, lalu melompat ringan menjauh, menghilang di balik semak.
Namun Myuran tidak tersenyum. Ia masih memandang jalur yang tadi dilalui warga tersebut. "Entah kenapa... sikap orang tadi terasa aneh."
Ia menatap ke arah istana yang samar terlihat di balik pepohonan. "Mungkin sebaiknya kita menyusulnya."
Miamor dan Cellestial saling berpandangan sejenak. Meski hutan tampak normal, ada sesuatu dalam nada suara Myuran yang membuat mereka tidak menganggapnya sepele.
Setelah memastikan keranjang berry sudah cukup penuh, mereka bertiga berlari kecil menuju istana.
Sesampainya di istana, mereka tiba tepat ketika orang tadi sedang berbicara dengan raja. Tanpa disengaja, mereka mendengar percakapan dari balik pintu ruang singgasana yang sedikit terbuka.
"Yang Mulia," kata orang itu dengan suara tegang, "saya ingin melaporkan sesuatu yang saya lihat di hutan."
Raja Arthropoda menjawab dengan nada tenang namun penuh perhatian, "Katakanlah. Apa yang engkau lihat?"
Orang itu ragu sejenak. Suara napasnya terdengar jelas bahkan dari balik pintu.
"Saya melihat sesuatu yang seharusnya sudah tidak terlihat lagi di sekitar wilayah ini..."
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)