11 страница29 апреля 2026, 14:58

10

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

925936661c52976ce7f0aaa9cdcdf025.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Mereka segera mengantar Thunder ke dalam Istana Roosevelt.

Langkah kaki para penjaga bergema pelan di lorong batu yang panjang dan tinggi. Lentera mawar biru tergantung di dinding, memancarkan cahaya lembut yang menembus kabut tipis khas Pulau Gloaming. Udara di dalam istana terasa lebih dingin dibandingkan daratan Arthropoda, seolah kabut laut ikut merayap masuk melalui celah-celah jendela tinggi.

Thunder Storm Hold berjalan dengan punggung tegak, tangannya tetap menjaga kotak kecil dan gulungan surat di balik jubah perjalanannya. Ia menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil bukan sekadar perjalanan diplomatik biasa, melainkan pijakan awal dari kemungkinan perubahan besar bagi dua kerajaan.

Pintu aula utama terbuka perlahan. Ruangan itu luas dengan langit-langit melengkung, dihiasi ukiran kisah-kisah kemenangan laut Roosevelt.

Di ujung ruangan, singgasana dari batu abu-abu berdiri kokoh. Raja Gleason Roosevelt duduk dengan sikap berwibawa, sementara di sampingnya Ratu Clover memancarkan ketenangan yang anggun.

Thunder melangkah ke tengah aula, lalu berlutut dengan satu kaki menyentuh lantai marmer.

"Salam hormat dari Raja Arthropoda, Yang Mulia," ucapnya sambil menyodorkan gulungan surat dengan kedua tangan.

Raja Gleason menerima surat itu tanpa tergesa. Tangannya yang besar dan kokoh membuka segel lilin berlambang Arthropoda. Aula menjadi sunyi, hanya suara halus kertas yang dibuka terdengar di antara dinding batu.

Thunder tetap menunduk, namun dari sudut pandangnya ia dapat melihat perubahan samar di wajah sang raja saat membaca baris demi baris isi surat tersebut. Awalnya netral, lalu perlahan mengeras dalam keseriusan.

"Perjodohan antara anakku Keanu dan Putri Cellestial…" gumam Raja Gleason pelan. Janggutnya ia usap perlahan, tanda ia sedang mempertimbangkan sesuatu yang tidak ringan.

Ratu Clover sedikit memiringkan kepala, membaca ekspresi suaminya sebelum akhirnya ikut berdiri mendekat. Ia tidak langsung berbicara, tetapi tatapannya menunjukkan bahwa ia memahami bobot usulan tersebut.

"Itu hal besar," lanjut Raja Gleason setelah hening beberapa saat. "Aku membutuhkan waktu untuk mempertimbangkannya."

Thunder mengangkat wajahnya sedikit, tetap dalam sikap hormat. "Tentu, Yang Mulia. Raja Arthropoda juga menyampaikan bahwa tidak perlu jawaban tergesa-gesa. Keputusan ini menyangkut masa depan kedua kerajaan."

Ratu Clover akhirnya bersuara, nadanya lembut namun tegas.

"Kami menghargai permintaan ini. Putri Cellestial dikenal berhati baik dan membawa kedamaian bagi negerinya. Namun perjodohan bukan hanya tentang politik. Ia juga tentang keseimbangan hati dan tanggung jawab."

Kata-kata itu menggantung sejenak di udara, memberi ruang bagi pemikiran. Raja Gleason lalu kembali menunduk membaca bagian berikutnya dari surat tersebut.

Ekspresinya berubah lagi kali ini bukan karena beban, melainkan karena ketertarikan yang jelas.

"Kerja sama pertukaran sumber daya alam…" ia membaca lebih saksama. "Bunga herbal dari kerajaan kami, dan batu magis dari Arthropoda."

Matanya yang tajam kini berbinar. Ia menatap Thunder dengan minat yang tak lagi disembunyikan. "Batu magis Arthropoda terkenal hingga ke negeri seberang. Bahkan di wilayah laut dalam, kisahnya sering disebut."

Thunder memahami saat itu telah tiba. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka kotak kecil yang sedari tadi dijaganya.

Di dalamnya, batu-batu magis tersusun rapi di atas kain gelap. Merah seperti bara api, biru sebening lautan, hijau secerah dedaunan musim semi, emas sehangat cahaya matahari, dan satu batu putih bercahaya lembut seperti bintang.

Cahaya dari batu-batu itu memantul di dinding aula, menciptakan kilau warna-warni yang memikat.

Raja Gleason berdiri dari singgasananya tanpa sadar, mendekat untuk melihat lebih jelas.

"Batu elemen api, air, angin, bumi… dan batu cahaya," ucapnya perlahan, hampir seperti desahan kagum.

Ratu Clover pun tak dapat menyembunyikan ketertarikannya. "Energi mereka terasa bahkan dari sini."

Thunder tetap menjaga sikapnya, meski kebanggaan kecil menyelinap dalam dadanya. "Sebagai simbol niat baik dan kesungguhan kerja sama, Baginda Raja mengirimkan batu-batu ini."

Raja Gleason menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis senyum seorang pemimpin yang melihat peluang besar. "Sampaikan pada Rajamu: Kerajaan Roosevelt menerima kerja sama ini."

Keputusan itu diucapkan dengan mantap, menggema ringan di aula luas.

"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Thunder sambil membungkuk dalam.

Ratu Clover memberi isyarat kepada seorang pelayan yang menunggu di sisi ruangan. "Bawa beberapa ikat bunga herbal terbaik kita."

Tak lama kemudian, beberapa pelayan kembali dengan membawa rangkaian bunga yang diikat rapi. Warna ungu tua, biru lembut, dan merah muda pucat berpadu indah. Aroma harumnya segera memenuhi ruangan lembut, menenangkan, dan menyegarkan.

"Ini adalah bunga-bunga terbaik yang tumbuh di tanah Roosevelt," ujar Raja Gleason. "Masing-masing memiliki khasiat penyembuh yang kuat. Semoga bermanfaat bagi rakyat Arthropoda."

Thunder menerima rangkaian itu dengan penuh hormat. Ia tahu bahwa hadiah ini bukan sekadar balasan, melainkan tanda pengakuan dan penghormatan setara.

"Atas nama Raja Arthropoda, saya berterima kasih."

Beberapa saat kemudian, formalitas istana ditutup dengan anggukan saling menghormati. Thunder mundur perlahan sebelum berbalik meninggalkan aula.

Di luar istana, malam telah semakin pekat. Kabut kembali turun, namun lentera-lentera pelabuhan memancarkan cahaya hangat yang menuntunnya kembali ke perahu.

Ia menyimpan bunga herbal dengan hati-hati di dalam peti kayu agar tidak rusak oleh angin laut. Batu-batu magis telah berpindah tangan, tetapi misinya kini membawa sesuatu yang tak kalah penting: kabar penerimaan kerja sama.

Thunder menaiki perahu dan mulai mengatur layar. Angin malam berembus lebih dingin dibanding saat kedatangannya, namun kali ini ia merasakannya sebagai pertanda baik.

"Semoga Baginda Raja senang mendengar kabar ini," gumamnya pelan sambil menatap horizon yang gelap.

Perahunya perlahan menjauh dari dermaga Pulau Gloaming. Di belakangnya, cahaya istana Roosevelt tampak seperti gugusan bintang di daratan. Di depannya, laut terbentang luas dan sunyi, namun tidak lagi terasa asing.

Perjalanan pulang akan panjang, mungkin melelahkan. Tetapi di dalam dadanya, Thunder Storm Hold membawa keyakinan bahwa langkah malam ini telah menguatkan jembatan antara dua kerajaan.

Dan di bawah langit penuh bintang, ia mengarahkan perahunya kembali menuju kerajaan Arthropoda, memulai perjalanan pulang yang panjang namun penuh harapan.

*****

11 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!