9
𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Raja Arthropoda Royal Grande telah selesai menulis surat untuk Raja Gleason Roosevelt.
Cahaya sore yang masuk melalui jendela tinggi istana memantulkan warna keemasan di atas meja kayu tua tempat surat itu tergeletak. Tinta hitamnya masih tampak segar, setiap goresan huruf ditulis dengan ketelitian seorang raja yang memahami bahwa kata-kata dapat membangun atau meruntuhkan masa depan.
Di dalam surat itu bukan hanya tercantum rencana kerja sama dan pembahasan aliansi, tetapi juga benih keputusan besar yang kelak akan menyentuh kehidupan putrinya.
Sang raja menggulung surat tersebut perlahan, mengikatnya dengan pita bersegel lambang Arthropoda. Ia berdiri tegak sebelum memanggil pengawal kepercayaannya.
"Thunder Storm Hold," panggilnya tegas, suaranya bergema di ruang kerja yang luas.
Pintu kayu berat terbuka, dan seorang ksatria tinggi berzirah perak melangkah masuk. Helmnya dibuka, memperlihatkan wajah tegas dengan mata yang menyiratkan disiplin. Ia berlutut dengan satu kaki, kepala tertunduk hormat.
"Baginda memanggil saya."
Raja menyerahkan gulungan surat itu dengan kedua tangan, sikapnya resmi namun penuh kepercayaan. "Aku mempercayakan misi penting padamu. Surat ini harus sampai ke tangan Raja Gleason secepatnya. Tidak seorang pun boleh membacanya."
Thunder menerima surat itu dengan sikap penuh tanggung jawab.
"Saya siap, Baginda. Surat ini tidak akan jatuh ke tangan siapa pun selain Raja Gleason."
Ratu Treasure yang berdiri di sisi ruangan melangkah mendekat. Wajahnya lembut namun penuh kewaspadaan.
"Perjalanan ke Pulau Gloaming tidak selalu mudah. Kabutnya tebal, dan arus lautnya tak bisa ditebak."
Thunder menundukkan kepala lagi. "Saya akan berhati-hati, Yang Mulia."
Tak lama kemudian, ia meninggalkan istana dengan langkah mantap. Di halaman, kudanya telah disiapkan, namun untuk perjalanan laut ia harus beralih ke perahu khusus kerajaan. Angin sore bertiup pelan, membawa aroma asin dari kejauhan pertanda laut sedang tenang, setidaknya untuk saat ini.
Setelah kepergian Thunder Storm Hold, Raja Arthropoda dan Ratu Treasure memutuskan berangkat ke Hutan Aetheria. Mereka ingin memastikan bahwa kerja sama yang telah terjalin selama setahun terakhir tetap kuat, bukan hanya di atas kertas, tetapi juga dalam hati rakyat.
Perjalanan menuju Aetheria terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada lagi pengawalan tegang atau tatapan curiga di perbatasan. Para penjaga elf menyambut dengan anggukan hormat, dan gerbang kayu ukir terbuka tanpa ragu.
Roslyn, pemimpin para elf, menunggu di balai pertemuan yang dikelilingi pohon-pohon tinggi dengan dedaunan berkilau. Cahaya matahari yang menembus sela cabang menciptakan pola lembut di lantai kayu.
"Selamat datang di Aetheria, yang mulia," ucap Roslyn dengan anggun. Suaranya setenang aliran sungai di hutan. "Kehadiran Anda selalu membawa kabar baik."
Raja Arthropoda membalas dengan senyum tipis. "Seharusnya kau langsung menyebut nama saja... Aku berharap demikian. Kedamaian kita telah berjalan setahun, Roslyn. Aku ingin memastikan ia tetap terjaga."
Mereka duduk mengelilingi meja bundar dari akar pohon tua yang dipoles halus. Pembicaraan berlangsung dengan nada tenang, lebih banyak berupa pertukaran gagasan daripada perdebatan. Mereka membahas peran elf dan manusia dalam pemerintahan bersama, pembagian tanggung jawab dalam festival, hingga rencana pembangunan pusat kesehatan dan pendidikan lintas wilayah.
Ratu Treasure menambahkan beberapa catatan tentang program pertukaran tenaga kerja antara elf Aetheria dan orang-orang di Arthropoda, berharap generasi muda tumbuh tanpa prasangka lama.
Roslyn mendengarkan dengan saksama sebelum mengangguk. "Kami tidak ingin perpecahan terjadi lagi. Jika kita ingin perdamaian ini bertahan, kita harus menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari."
Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya berubah hangat dan keemasan. Di luar balai, suara burung petang terdengar bersahutan.
"Festival nanti," ujar Roslyn akhirnya, "akan menjadi lambang persatuan kita. Bukan hanya perayaan, tetapi pengingat."
Raja menutup buku catatannya perlahan. "Aku sedang menyiapkan pidato pembukaan. Aku ingin kata-kata itu menjadi simbol harapan, bukan sekadar janji."
Ia menatap hutan yang damai di luar jendela terbuka. Dalam hatinya, ia tahu bahwa setiap keputusan yang diambil hari ini akan membentuk arah kerajaan untuk waktu yang lama.
Sementara itu, Thunder Storm Hold telah mencapai pelabuhan barat Arthropoda. Perahu kecil berlapis perisai besi telah menantinya. Laut terbentang luas, permukaannya tampak tenang namun menyimpan kekuatan yang tak terduga.
Ia menaiki perahu dan mulai mengatur layar. Angin malam mulai turun, membawa hawa dingin yang menusuk. Ombak kecil menghantam lambung perahu dengan ritme teratur.
"Semoga angin malam ini bersahabat," gumamnya pelan.
Perjalanan berlangsung selama berjam-jam. Kabut perlahan turun, menipiskan jarak pandang. Thunder mengandalkan bintang dan kompas kecil yang tergantung di lehernya. Pikirannya tetap fokus pada tugas surat itu terasa lebih berat dari sekadar gulungan kertas.
Akhirnya, di balik kabut yang menipis, lampu-lampu Pulau Gloaming muncul seperti kunang-kunang di kejauhan. Cahaya kerajaan Roosevelt bersinar lembut, memantul di permukaan air.
Saat perahunya merapat di pelabuhan, beberapa penjaga segera mendekat. Baju zirah mereka berbeda bentuk, lebih ramping dengan lambang Roosevelt terukir di dada.
"Selamat datang di Pulau Gloaming," ujar salah satu penjaga dengan nada formal.
"Sebutkan identitas Anda."
Thunder berdiri tegak, membuka helmnya agar wajahnya terlihat jelas. "Thunder Storm Hold dari Kerajaan Arthropoda. Saya membawa surat penting untuk Raja Gleason."
Penjaga itu saling bertukar pandang sejenak sebelum mengangguk. "Silakan ikut kami. Raja akan diberi tahu."
Thunder melangkah mengikuti mereka melewati jalan batu yang diterangi lentera biru pucat. Kabut tipis masih menggantung rendah, memberi suasana misterius pada pulau itu. Di kejauhan, menara istana Roosevelt menjulang tinggi, siluetnya tampak kokoh di bawah cahaya bulan.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)