5 страница29 апреля 2026, 14:58

4

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ


1fe08830b76dc1fcf0cb8c621af38745.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Sementara itu, di menara tertinggi istana, Raja Arthropoda Royal Grande berdiri di depan jendela. Angin malam meniup tirai berat berwarna merah pekat, membuat kain itu bergerak perlahan, namun ia tak bergeming. Tatapannya kosong menembus kegelapan hutan yang membentang jauh di bawah sana, seolah berharap bisa menangkap sekilas sosok yang dirindukan sekaligus yang dikhawatirkannya.

Cahaya bulan memantul di mahkota emasnya, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer yang terlihat seperti sosok raksasa terbelah antara seorang ayah dan penguasa yang dingin.

"Cellestial… di mana kau berada?" gumamnya lirih, suaranya rendah, namun sarat amarah yang dipendam. Kata-katanya nyaris tersesat di udara tebal ruangan itu, yang seolah ikut menahan napas.

Udara di ruangan itu terasa berat, dipenuhi energi sihir yang bergetar tidak stabil. Lilin-lilin di dinding berkedip, meski tidak ada angin yang menyentuhnya, seolah tunduk pada denyut emosi sang raja. Di sudut ruangan, simbol kuno kerajaan terukir di batu, memantulkan cahaya merah samar yang bergetar mengikuti detak jantung raja.

Tiba-tiba, pintu kayu besar terbuka dengan suara keras, mengagetkan semua yang ada di ruangan itu.

"Yang Mulia," ujar seorang pengawal sambil berlutut tergesa. Keringat mengalir di pelipisnya, jelas ia takut akan reaksi rajanya.

Raja menoleh perlahan. Sorot matanya tajam, menusuk seperti bilah pedang yang siap menghancurkan segalanya.

“Putri tidak ada di kamarnya. Kami sudah menyisir seluruh istana,” kata pengawal itu, suaranya nyaris hilang oleh ketegangan.

Keheningan menyelimuti ruangan. Bahkan detik jam seolah berhenti berdetak, menahan napas bersama raja yang berdiri tegap.

"Apa kau barusan bilang… tidak ada?" suara raja bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mendidih di dalam dadanya.

Dalam satu gerakan cepat, ia menghunus busur sihirnya. Cahaya merah menyala dari matanya, merambat ke lengan dan aliran energi itu bergerak ke senjata di tangannya. Urat-urat cahaya di busur berdenyut, seperti api yang mencari jalan keluar.

"Cari dia,"perintahnya dingin, tanpa celah kompromi. "Di hutan, di desa, di mana pun. Bawa Thunder Storm Hold. Aku ingin putriku ditemukan. Hidup."

Ia berhenti sejenak, menarik napas berat, lalu menambahkan dengan nada yang lebih gelap dan menggetarkan:

"Dan jika kalian bertemu dua elf itu… aku ingin kepala mereka."

Tak lama kemudian, halaman istana dipenuhi derap kaki dan dentingan zirah. Thunder Storm Hold telah siap. Zirah peraknya memantulkan cahaya obor, jubah birunya berkibar tertiup angin malam. Pedang besar di punggungnya berdenyut dengan energi listrik kecil, sesekali petir melompat di permukaannya seolah merespons emosi tuannya.

Di balik helmnya, wajah Thunder tegang. Ia prajurit setia, namun juga mengenal Cellestial sejak kecil. Sebuah firasat buruk berputar di dadanya, meski ia menahan diri untuk tidak terlihat panik.

"Aku akan menemukannya," ucap Thunder dengan suara mantap, meski di dalam dadanya berputar rasa tidak nyaman yang sulit ia jelaskan.

Pasukan bergerak, menembus hutan gelap dengan obor sihir yang menembus kabut tipis. Pepohonan raksasa menyambut mereka dengan bayangan yang menakutkan, dan udara lembap menyelimuti setiap langkah. Burung malam terbang menjauh, ranting patah di bawah kaki mereka terdengar seperti bisikan peringatan. Setiap jejak diperiksa, setiap bayangan dicurigai.

Jam demi jam berlalu tanpa hasil. Tanah basah menyembunyikan bekas langkah, sungai kecil menghapus setiap tanda yang mungkin ditinggalkan. Hutan seakan bermain-main dengan mereka, menyembunyikan putri yang dicari dari mata yang paling tajam sekalipun.

Thunder menghentikan langkahnya di sebuah clearing kecil. Rumput di sana terinjak samar, namun terlalu samar untuk menjadi petunjuk pasti. Ia menatap sekeliling dengan cermat, menilai kemungkinan yang tersisa.

"Dia mungkin sudah terlalu jauh," ucapnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk pasukannya.

Salah satu pengawal mendekat, menurunkan suaranya. "Perintah raja… wilayah elf," katanya.

Thunder menghela napas berat. Ia tahu risikonya. Perbatasan itu bukan sekadar garis tak terlihat, tetapi luka lama yang belum sembuh, bekas pengkhianatan dan konflik lama.

“Jika kita masuk tanpa izin, ini bukan lagi pencarian. Ini provokasi,” katanya, menatap ke depan dengan serius.

Namun ketika tak ada pilihan lain, langkah mereka akhirnya membawa pasukan itu ke batas wilayah para elf. Tanah berubah menjadi lembut, pepohonan lebih rapat, dan udara dipenuhi aroma dedaunan basah yang menenangkan sekaligus menakutkan.

Begitu kaki mereka melangkah masuk, udara berubah seketika. Cahaya hijau lembut menyala di antara pepohonan, seakan hutan sendiri menyiapkan pertahanan. Puluhan elf muncul dari balik bayangan, busur telah terentang, anak panah berkilau dengan sihir alam. Daun-daun berputar perlahan di udara, seakan mengikuti irama yang hanya mereka dengar.

Di depan mereka berdiri Roslyn Vein Ivy. Rambutnya panjang, berkilau seperti dedaunan basah oleh embun. Mata hijau zamrudnya tajam, dingin, penuh peringatan.

"Apa urusan manusia di tanah kami?" suaranya seperti lonceng peringatan, menghentikan langkah siapa pun yang berniat melanjutkan.

Thunder maju setapak, menurunkan pedangnya sebagai tanda damai. Namun kata-katanya terhenti ketika akar-akar pohon merayap keluar dari tanah, melilit kaki para pengawal. Tanah itu seakan menolak kehadiran mereka.

Roslyn tak memberi ruang untuk penjelasan panjang. Amarah lama masih hidup di matanya, tentang artefak yang hilang, tentang kepercayaan yang dikhianati. Hubungan manusia dan elf tidak pernah benar-benar pulih sejak dahulu.

Malam itu berakhir tanpa pertumpahan darah, tetapi juga tanpa jawaban. Kedua pihak mundur selangkah, menjaga batas rapuh yang bisa pecah kapan saja. Thunder kembali ke istana dengan rasa berat di pundaknya, setiap langkah kudanya terdengar seperti dentang kesalahan yang terus menghantui.

Saat laporan itu disampaikan, amarah Raja Arthropoda meledak tanpa sisa. Energi sihir memenuhi aula, membuat para pelayan dan pengawal gemetar. Pilar-pilar batu retak halus, dan api di obor berubah merah menyala, seakan meniru kemarahan tuannya.

"Kalau begitu perang," katanya dingin. "Biarlah dunia tahu akibat menantangku."

Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis, menandai awal gelombang konflik yang belum terlihat ujungnya.

Di tempat lain, jauh dari ancaman istana dan kemarahan para raja, matahari pagi menembus jendela rumah Iron Ginger. Cahaya hangat menyorot telur biru yang mereka bawa, membuat permukaannya memantulkan kilau lembut seperti menyimpan denyut kehidupan di dalamnya.

Cellestial terbangun dengan perasaan campuran antara damai dan gelisah, yang tak bisa ia jelaskan. Ia berdiri sejenak, menatap hutan di luar jendela, seakan merasakan gerakan halus di antara pepohonan yang masih jauh dari jangkauannya.

Iron Ginger memberi mereka petunjuk terakhir tentang Gua Aetheria, tentang makhluk yang tak pernah kembali, dan tentang kekuatan yang tidak selalu bisa dijinakkan. Suaranya tenang, namun tatapannya menyiratkan peringatan lebih dalam daripada kata-kata.

Perjalanan pun dimulai kembali. Hutan berubah menjadi lembah berbatu, dengan bebatuan yang memantulkan cahaya bulan. Myuran menemukan kristal merah bercahaya di antara reruntuhan batu. Kilauannya berdenyut lembut, seolah menjawab panggilan yang tak terdengar.

Saat jari Miamor hampir menyentuhnya, ingatan samar muncul di benaknya, bayangan api, suara retakan, dan bisikan yang memanggil namanya dari kejauhan. Namun ia menekan rasa itu dalam-dalam, menahan diri untuk tetap fokus.

Gua Aetheria menyambut mereka dengan keindahan yang hampir tidak nyata. Cahaya biru dan jamur bercahaya menempel di dinding, air berkilau seperti bintang jatuh di permukaan sungai kecil. Kristal di sekeliling memantulkan bayangan mereka menjadi sosok-sosok asing yang menatap, seakan gua itu hidup dan menilai setiap langkah mereka.

Cellestial merasakan tatapan itu paling kuat. Setiap langkahnya terasa diperhatikan, seolah gua mengetahui darah yang mengalir di nadinya, mengetahui niat yang tersembunyi di hatinya.

Lorong demi lorong membuat waktu kehilangan makna. Ketika mereka akhirnya menemukan batu magis Aetheria, cahaya biru dan merahnya berdenyut pelan seperti jantung raksasa yang tertanam di perut bumi. Energinya hangat, namun menggetarkan, mengisi udara dengan gema halus yang membuat dada mereka berdebar.

Mereka menambang dengan hati-hati, menahan diri agar tidak serakah. Batu itu seakan menguji niat mereka. Setiap kepingan yang terlepas terasa seperti izin, bukan rampasan.

Saat mereka akhirnya keluar dari gua, malam telah turun tanpa mereka sadari. Langit dipenuhi bintang, dan udara terasa jauh lebih dingin, menusuk kulit namun membangkitkan semangat.

Myuran menatap langit lama sebelum berbicara. Miamor mengangguk pelan, menyadari bahwa batas pencarian telah dilewati.

Cellestial memeluk dirinya sendiri, merasakan perasaan tak enak yang belum pergi, bayangan perang perlahan bergerak mendekat. Mereka pun akan bergegas kembali ke rumah Iron Ginger, menyadari bahwa setiap langkah mereka kini memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

*****

5 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!