4 страница29 апреля 2026, 14:58

3

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

7f70095551c2d0902f8bceed5dcdfd15.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Mentari baru saja terbit di ufuk timur. Kabut tipis menari di antara pepohonan perbatasan kerajaan dan hutan Aetheria, melingkupi akar-akar pohon yang menjalar seperti urat bumi.

Burung-burung bernyanyi pelan, seolah menyambut pagi yang tenang, meski di balik keheningan itu, udara membawa firasat samar tentang hal-hal yang belum terungkap.

Miamor berdiri di bawah pohon tua, tatapannya menembus kabut jauh ke arah istana manusia, hatinya masih membekas oleh kejadian semalam. Napasnya keluar pelan, membentuk uap tipis di udara dingin. Di sampingnya, Myuran sedang memeriksa kantong air sihirnya, memastikan energi elemen air yang dibawa semalam tidak hilang atau melemah.

"Sepertinya perjalanan hari ini bakal panjang," gumam Myuran, menarik tudungnya dan menyeka keringat dari dahinya. Wajahnya masih menegang, sorot matanya tajam seperti elang yang mengawasi setiap gerakan di hutan.

"Semoga tanpa gangguan," sahut Miamor, suaranya rendah, namun penuh tekad.

Namun ketenangan pagi itu terasa rapuh, seolah hanya menunggu saat untuk pecah. Kabut yang menari perlahan mulai menipis, memperlihatkan tembok perbatasan batu yang menjulang tinggi, garis pemisah antara dua dunia yang seharusnya tidak pernah saling bermusuhan. Angin pagi menggerakkan dedaunan dan membawa aroma tanah basah, kayu, dan daun yang baru saja tersiram embun.

Tiba-tiba, suara lirih memanggil dari arah tembok.

"Miaaamor!"

Suara itu terdengar tergesa, hampir putus oleh napas yang tersengal. Miamor dan Myuran menoleh bersamaan. Dari balik tembok batu besar itu, muncul sesosok gadis dengan gaun putih yang kini kotor dan lusuh.

Rambutnya sedikit acak, namun mata indahnya menyala penuh tekad, memancarkan keberanian yang jarang terlihat pada seorang putri kerajaan.

Cellestial memanjat tembok dengan hati-hati, jemarinya bergetar menahan berat tubuhnya sendiri. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia berlari kecil menghampiri mereka. Napasnya tersengal, dada naik turun cepat, namun langkahnya tetap mantap, tak goyah oleh ketakutan.

"Cellestial!? Apa yang kau lakukan di sini?" seru Miamor, terkejut sekaligus cemas. Hatinya bergetar melihat keberanian sang putri.

Cellestial berhenti di hadapan Miamor, menunduk. Untuk sesaat, ia terlihat rapuh, bukan sebagai putri kerajaan, tetapi seorang gadis muda yang dihantui rasa bersalah.

"Aku… aku ingin meminta maaf," katanya lirih, suaranya hampir patah. Kata-kata itu keluar dengan berat, seolah telah menahannya sepanjang malam. Ia mengangkat wajah perlahan, dan mata indahnya berkaca-kaca, menahan air mata yang nyaris jatuh.

"Tadi malam aku diam. Aku pengecut. Aku takut pada ayahku… tapi aku juga takut kehilangan kalian, Miamor... Dan kau juga Myuran, walaupun walaupun kita baru bertemu tapi aku yakin kau adalah elf yang baik seperti Miamor" ucapnya, menundukkan kepala lagi sejenak sebelum menatap Miamor dan Myuran.

Myuran mengamati adegan itu dengan ekspresi sulit dibaca. Alisnya terangkat sedikit, lalu ia melirik Miamor, memberi isyarat tanpa kata: ini berbahaya, tapi juga manusiawi.

Miamor sendiri terdiam, membiarkan angin pagi menyibakkan rambutnya, dan di dadanya terasa sisa luka malam kemarin berdenyut pelan.

Akhirnya Miamor berbicara, suaranya lembut namun tulus.

"Cellestial, aku mengerti. Kau tak bersalah. Dunia kita memang tidak mudah dijembatani."

Kata-kata itu seperti melepaskan beban berat dari bahu sang putri. Cellestial mendongak, matanya berkaca-kaca.

"Jadi… kau memaafkanku?"

"Tentu," jawab Miamor tanpa ragu.

"Kau selalu jadi sahabatku. Dan jika kau ingin ikut perjalanan ini, aku tak akan melarang," lanjutnya.

Wajah Cellestial berubah bahagia, ingin tersenyum, tapi air mata tak bisa dibohongi. Senyum kecil terukir di wajahnya penuh kelegaan, dengan air mata mulai mengalir pelan.

"Terima kasih, Miamor…"

Cellestial langsung memeluknya dengan erat. Miamor membalas, merasakan kehangatan yang menenangkan, seolah malam sebelumnya tak pernah terjadi.

Myuran menghela napas panjang, kemudian menyilangkan tangan. "Baiklah. Tapi kalau kita tertangkap gara-gara putri ini, aku tak mau disalahkan," ujarnya setengah bercanda, menambahkan sedikit humor untuk mencairkan ketegangan.

Ketegangan pagi itu perlahan mencair. Tawa kecil terdengar di antara mereka, singkat namun cukup untuk menguatkan langkah. Dengan tiga hati yang kini sejalan, perjalanan mereka kembali dilanjutkan.

Mereka melintasi pepohonan rimbun, semak berduri, dan bebatuan biru yang memantulkan cahaya pagi. Cahaya matahari yang menyusup di celah dedaunan menciptakan bayangan yang menari-nari di tanah. Langkah demi langkah membawa mereka menjauh dari perbatasan, menuju wilayah hutan yang lebih dalam dan penuh misteri.

Namun Myuran tiba-tiba berhenti, matanya menangkap sesuatu yang aneh di balik semak tebal. "Lihat itu," bisiknya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Di antara daun yang basah, tergeletak sebuah telur besar berwarna biru keemasan. Permukaannya berkilau lembut, memantulkan potongan langit yang tersisa di pagi hari. Energi hangat mengalir darinya, halus namun kuat, dan getaran magisnya terasa hingga ke ujung jemari.

Cellestial mendekat perlahan, takut mengganggu keseimbangan makhluk di dalam telur itu. Ia menundukkan kepala, merasakan ketenangan yang aneh, seolah sang makhluk kecil sudah mengetahui niat mereka.

"Cantiknya… makhluk apa yang bertelur sebesar ini?" gumamnya.

Miamor memejamkan mata sejenak, memanggil sihir kristalnya. Getaran lembut menjalar hingga ujung jarinya, menyentuh permukaan telur dengan kehangatan sihirnya.

"Ada energi magis di dalamnya," ucapnya pelan. "Lembut, hangat, dan murni."

Myuran tersenyum kecil. "Mungkin takdir mempercayakan makhluk kecil ini pada kita."

Mereka sepakat membawanya. Cellestial membungkus telur itu dengan kain tebal yang dibawanya dari istana, memeluknya seperti menggendong bayi rapuh. Sejak saat itu, langkahnya terasa lebih penuh tanggung jawab, lebih pelan namun pasti.

Perjalanan berlanjut hingga senja. Cahaya jingga menyelimuti Lembah Eltora saat mereka tiba. Di kaki pohon besar dengan akar menjalar ke segala arah, berdiri sebuah rumah bundar dari batu, dengan cerobong yang mengeluarkan asap tipis berbau besi dan kayu bakar. Suasana rumah hangat, kontras dengan dinginnya hutan malam.

Miamor mengetuk pelan. "Ktok… ktok…" Suara itu terdengar lembut, namun cukup jelas untuk mengundang perhatian.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Dwarf bertubuh kekar dengan janggut lebat dan palu besar berukir batu merah. Suaranya berat, namun tetap membawa wibawa.

"Siapa yang berani mengganggu waktu istirahatku!?"

Namun begitu matanya menangkap Cellestial, sikapnya berubah seketika. Ia menunduk cepat. "Yang… yang mulia Putri Kerajaan Arthropoda!"

Cellestial tersenyum sopan, menanggalkan sikap bangsawannya. "Kami datang bukan sebagai bangsawan, tapi sebagai teman."

Iron Ginger menatap dua Elf di sisi sang putri, menggumamkan keheranannya. Dunia memang telah berubah, dan perubahan itu kini berdiri tepat di depan pintunya.

Miamor menjelaskan segalanya: tentang golem kristal merah yang menyerang hutan, hutan yang kehilangan kendali tanpa artefak suci, dan kebutuhan akan senjata magis untuk melindungi dunia mereka.

Setiap kata disampaikan dengan kesungguhan, seolah nasib dua bangsa bertumpu pada pengakuan itu.

Iron Ginger terdiam lama, menimbang kata-kata mereka. "Tanpa batu magis biru dari Gua Aetheria, senjata itu mustahil dibuat," katanya akhirnya.

Namun tatapan memohon dari Cellestial melunakkan hatinya. "Jika sang putri yang meminta… aku tak punya pilihan."

Harapan kembali menyala. Mereka menyetujui syaratnya tanpa ragu. Permintaan senjata pun disampaikan: pedang air, anak panah pelemah, dan pedang es yang mampu menghentikan waktu sesaat. Iron Ginger mengangguk puas, seakan melihat kembali api lama yang hampir padam di dalam dirinya.

Malam pun turun. Tuan Ginger menawarkan mereka menginap malam itu, mengingat malam di hutan dipenuhi makhluk berbahaya. Mereka menerima tawaran itu, menyusuri lorong rumah bundar dengan dinding batu tebal.

Makan malam bersama di ruang tamu yang hangat terasa sederhana namun penuh arti. Suara api yang berderak lembut menemani percakapan singkat tentang rencana besok, sambil sesekali mata mereka menoleh ke arah telur biru keemasan yang tetap dibawa Cellestial dengan hati-hati.

Di luar, malam menjadi semakin gelap. Pepohonan bergoyang oleh angin, bayangan bergerak perlahan, dan sesuatu mulai bergeliat di dalam hutan, tak terlihat namun terasa oleh kepekaan Miamor dan Myuran.

Malam itu, di ruang hangat rumah Dwarf, mereka berbaring di kasur yang sederhana, namun hati mereka dipenuhi harapan baru. Perjalanan masih panjang, dunia masih retak, dan bahaya mengintai di setiap sudut. Namun dengan persatuan tiga hati muda itu, segalanya terasa mungkin.

*****

4 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!