3 страница29 апреля 2026, 14:58

2

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

450d21df76b06e854167db9ba050571d.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Kabut tipis menyelimuti Hutan Aetheria, merayap rendah di antara akar-akar pohon kuno yang basah oleh embun. Udara dingin dan berat, seolah alam sendiri menahan napas, menahan bisikan rahasia yang tersembunyi di antara dedaunan. Suara gemerisik daun terdengar lebih keras daripada biasanya, seakan memberi tahu bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.

Di tengah tanah lembap yang retak oleh pertarungan, tubuh Miamor Crystalious Snowheart terbaring tak bergerak. Serpihan kristal merah berserakan di sekelilingnya, masih mengeluarkan asap tipis yang berkilau di cahaya rembulan.

Napasnya naik turun pelan, terlalu pelan untuk disebut aman. Darah dan serpihan es menyatu di tanah, membentuk pemandangan yang menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.

Langkah kaki terdengar tergesa, memecah keheningan hutan.

"Miamor!"

Suara itu bergema di antara pepohonan, penuh kepanikan yang tak mampu disembunyikan. Dari balik kabut muncul Myuran Cloudy Raindrop, gadis elf dengan paras cantik yang dikenal Miamor sejak kecil. Rambut peraknya tergerai acak, jubah birunya basah dan kotor oleh tanah. Ia berlari tanpa memedulikan cabang-cabang yang mencakar kulitnya, sampai akhirnya berlutut di sisi Miamor dengan napas tersengal.

Wajah Myuran pucat saat melihat kondisi sahabatnya. Ia menekankan kedua tangannya di tanah lembap, lalu menundukkan kepala, menutup mata dan memaksa dirinya fokus.

"Jangan mati, Miamor… bukan sekarang," bisiknya, hampir seperti doa.

Sihir air mengalir dari dalam dirinya, merespons panggilan hati yang panik. Udara di sekeliling mereka berubah dingin, dan embun dari daun-daun serta genangan air mulai berputar perlahan, membentuk pusaran bercahaya di sekitar tubuh Miamor.

"Roh air, penuntun kehidupan," ucap Myuran lirih namun tegas, "jawablah panggilanku."

Tanah lembap bergetar. Dari genangan air muncul sosok roh berbentuk kuda air bertanduk, tubuhnya tembus cahaya dengan surai menyerupai ombak perak yang terus bergerak. Roh itu meringkik lembut, menundukkan kepalanya ke arah Miamor.

Cahaya biru mengalir dari tubuh roh itu, menyelimuti sang elf muda. Kristal es perlahan tumbuh di sekitar Miamor, bukan untuk membekukan, tetapi menstabilkan sihirnya. Kilauannya menyerupai bintang-bintang kecil jatuh ke bumi.

Kelopak mata Miamor bergetar, lalu perlahan terbuka.

Napas Myuran terhenti sejenak sebelum ia menghembuskannya dengan lega. "Ugh… di mana aku…?" suara Miamor serak, nyaris tak terdengar.

Myuran tersenyum tipis, meski matanya masih basah oleh ketakutan. "Kau hampir jadi patung es di tengah hutan, tahu?"

Miamor berusaha duduk, tubuhnya terasa berat dan nyeri. Pandangannya menyapu sekeliling, berhenti pada serpihan kristal merah yang berserakan. Dadanya mengeras melihat bekas kehancuran itu.

"Monster itu… kuat sekali," gumamnya. "Matanya seperti menyimpan sesuatu. Dan… aku merasakan sihir elf di dalam tubuhnya."

Wajah Myuran mengeras. Ia tahu ini bukan pertanda baik. "Yang jelas, kita tidak bisa melawannya dengan tangan kosong. Kita harus pergi dari sini sekarang juga. Kita tak mungkin menang melawannya saat ini."

Miamor mengangguk pelan. Kesadaran pahit mulai terbentuk di pikirannya. "Kita butuh senjata. Sesuatu yang bisa menghadapi kekuatan seperti itu."

Perjalanan mereka membawa mereka keluar dari hutan menuju kaki pegunungan, ke desa para Dwarf. Sore berubah menjadi malam saat mereka tiba, dan cahaya api tungku menyala di mana-mana. Suara palu menghantam besi terdengar ritmis, memenuhi udara dengan dentang logam yang berat dan tegas. Bau besi panas dan arang menusuk hidung, mengingatkan mereka pada kerja keras dan keteguhan hati para Dwarf.

Namun harapan mereka perlahan memudar. Setiap Dwarf yang mereka tanyai hanya menggeleng. Wajah-wajah keras itu menunjukkan kelelahan dan penyesalan.

"Sudah tak ada yang bisa membuat senjata magis lagi," kata seorang Dwarf tua, akhirnya. "Yang terakhir… pergi ke arah kerajaan bertahun-tahun lalu."

Myuran menoleh ke Miamor, alisnya berkerut. "Jadi… ke kerajaan?"

Miamor terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Cellestial tahu. Dia pernah bekerja sama dengan para Dwarf. Kita harus menemuinya."

Myuran terkejut. "Cellestial? Kau… berteman dengan manusia?"

"Bukan sembarang manusia," jawab Miamor pelan. "Cellestial berbeda. Dia… ia bisa dipercaya."

Langit sudah sepenuhnya gelap ketika mereka tiba di dekat kerajaan manusia. Bintang-bintang bertabur indah, kontras dengan ketegangan yang terasa di udara malam itu. Menara istana menjulang tinggi, dijaga pasukan pemanah Raja Arthropoda Royal Grande.

Mereka tidak menemukan Cellestial di area luar. Tak ada pilihan selain menyelinap masuk.

"Kita tidak bisa lewat gerbang utama," bisik Myuran. "Penjaga terlalu ketat."

"Aku tahu jalan lain," jawab Miamor. "Taman belakang. Tidak dijaga."

Dua sosok berjubah gelap itu bergerak menyusuri bayangan tembok. Tudung mereka menutupi telinga runcing Miamor dan Myuran. Jantung Myuran berdetak kencang setiap kali terdengar langkah penjaga di kejauhan.

Mereka melewati taman mawar putih yang harum lembut. Angin malam membawa aroma bunga yang kontras dengan ketegangan yang mencekam. Di ujung taman, air mancur batu tua tertutup lumut tampak mencurigakan.

"Ada lubang…" bisik Myuran.

"Lorong bawah tanah," sahut Miamor. "Sempit, tapi satu-satunya jalan."

Lorong itu gelap dan lembap, diterangi jamur bercahaya biru. Cabangnya banyak, membingungkan, namun Miamor bergerak dengan yakin. Hingga akhirnya, mereka menemukan sebuah batu besar berkilau samar, berukir simbol hati bersayap. Simbol itu terasa… familiar.

Miamor menyentuhnya. Cahaya putih meledak memenuhi lorong. Angin berputar liar, dan dunia seakan runtuh dan terlipat dalam satu tarikan napas.

Saat kesadaran kembali, mereka berdiri di ruangan luas berlapis marmer putih. Tirai emas bergoyang pelan oleh angin yang lembut.

"Di mana kita…?" Myuran berbisik, menatap sekeliling dengan mata terbelalak.

"Artefak teleportasi," jawab Miamor perlahan. "Ini lambang kesejahteraan antara Elf dan manusia. Buatan kakekku. Seharusnya disimpan oleh raja."

Kesadaran itu membuat dada mereka terasa sesak. Mereka kini berada di dalam istana manusia.

Bergerak diam-diam, mereka akhirnya sampai di sebuah pintu kayu putih bertuliskan nama yang dikenal Miamor: Cellestial Royal Sweetheart.

Pertemuan mereka singkat, penuh ketegangan. Cellestial terkejut, cemas, takut ayahnya akan melihat Miamor dan Myuran, dan itu adalah kali pertama ia melihat Myuran. Tatapannya agak canggung, namun ia mencoba berbicara seperti biasa.

Mereka mendiskusikan rencana mereka, dan saat alamat serta nama Iron Ginger disebut, harapan mulai muncul kembali.

Namun takdir tidak memberi mereka waktu. Pintu terbuka keras.

Raja Arthropoda Royal Grande berdiri di sana, wajahnya menakutkan dan dingin.

"Elf… di dalam istanaku?" suaranya bergema di aula.

Cellestial membeku. Tidak satu pun kata keluar dari bibirnya.

Di hadapan tatapan dingin sang raja, sesuatu di hati Miamor retak. Pelarian mereka brutal, penuh kejaran dan panah sihir, hingga akhirnya hutan kembali menyambut mereka.

Di bawah pohon besar, napas terengah-engah, Miamor menatap langit malam.

"Cellestial… tidak membela kita," bisiknya, pahit.

Myuran hanya terdiam. Ia tahu luka itu lebih dalam dari sekadar kata-kata.

Malam berlalu dalam keheningan, hanya ditemani suara hutan yang samar. Saat fajar menyingsing, mereka melanjutkan perjalanan menuju Lembah Eltora, membawa harapan yang rapuh dan kepercayaan yang mulai retak, namun tetap ada sebuah janji bahwa dunia yang terpecah ini bisa disatukan kembali suatu hari nanti.

*****

3 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!