2 страница29 апреля 2026, 14:58

1 (bagian pertama : sᴛᴀʀᴛɪɴɢ ғʀᴏᴍ ᴀ ᴍɪsᴜɴᴅᴇʀsᴛᴀɴᴅɪɴɢ)

𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚𝐚... 𝐒𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚.
(づ ̄ ³ ̄)づ

1f917008f9e3f35c4e44276cccf97074.jpg

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛

Di pulau yang dikenal sebagai Aetheria, dunia tidak pernah benar-benar bersatu. Pulau ini adalah rumah bagi manusia, elf, dwarf, dan makhluk ajaib lainnya, namun ketegangan selalu terasa di udara, seolah setiap nafas membawa bisikan sejarah yang penuh luka.

Sejak konflik besar yang memecah tanahnya menjadi dua wilayah, masyarakat Aetheria terbagi dalam dua fraksi yang kaku. Satu pihak setia pada mahkota lama, menjaga tradisi dan kehormatan kerajaan manusia. Pihak lainnya, mereka yang percaya pada tatanan baru, menjunjung tinggi kebebasan dan hubungan harmonis dengan alam, dipimpin oleh para elf dan dwarf yang hidup di Hutan Aetheria.

Perpecahan ini bukan sekadar garis perbatasan di peta. Itu adalah batas keyakinan, batas rasa aman, dan batas hati. Dua bangsa yang dulu hidup berdampingan dalam damai kini saling mencurigai. Kecurigaan itu lambat laun menjadi kebencian, kebencian menjadi dendam yang terselubung, dan dendam itu memengaruhi setiap keputusan, setiap bisik-bisik di pasar, dan bahkan doa-doa di kuil.

Kerajaan manusia berada di bawah pimpinan Raja Arthropoda Royal Grande dan Ratu Treasure Royal Flogrece, penguasa yang dikenal adil namun tegas.

Di sisi lain, Hutan Aetheria adalah negeri para elf dan dwarf, dijaga oleh Roslyn Vein Ivy, penguasa sihir tumbuhan dan mawar, yang dikenal anggun, cerdik, dan tak kenal kompromi dalam menjaga hutan.

Awalnya, dua bangsa ini hidup damai. Manusia mematuhi batas hutan, elf memberi izin terbatas bagi pedagang dan pelancong, dan dwarf membantu menjaga keseimbangan antara kota dan hutan. Namun semua itu berubah ketika artefak suci para elf, yang menjadi jantung keseimbangan alam menghilang tanpa jejak.

Para elf menuduh manusia, karena hanya manusia yang pernah diizinkan memasuki tempat suci hutan itu. Suasana damai runtuh perlahan, digantikan kecurigaan yang menusuk. Artefak itu bukan sekadar benda berharga. Ia adalah inti dari kehidupan hutan, sumber energi yang menjaga semua makhluk hidup tetap selaras dengan alam. Tanpanya, akar-akar tumbuhan merambat liar, pohon-pohon bergerak seolah bernyawa sendiri, dan sihir alam menjadi kacau.

Para elf bisa menahan tapi tidak terus-menerus, mereka bisa kehabisan sihir, dan jikalau menggunakan artefak yang tersisa untuk memulihkan daya sihir yang mereka punya maka artefak-artefak itu akan kehabisan kekuatan nya dan tidak akan ada artefak yang bisa menjaga hutan lagi.

Di ruang singgasana kerajaan manusia, suasana terasa tegang. Pilar-pilar batu menjulang tinggi, dingin dan keras, seperti saksi bisu kemarahan yang membara di hati Raja Arthropoda. Ia berdiri tegak, jemarinya menggenggam busur sihir yang berdenyut oleh energi magis, urat-urat tangannya menegang karena murka yang sulit dibendung.

Ia merasa dikhianati. Tuduhan para elf baginya adalah hinaan yang menodai kehormatan bangsanya. Ladang-ladang manusia mulai ditelan akar dan duri dari hutan yang mengamuk, dan ia tak tahu lagi siapa yang benar. Suara amarahnya menggema di aula, memantul dari dinding batu, menambah berat udara di sekitar.

"Mereka menuduh kita mencuri? Tak tahu terima kasih! Hutan mereka kini menelan ladang rakyatku. Siapa lagi kalau bukan mereka yang bermain sihir kegelapan?" Suaranya bergemuruh, dan sekonyong-konyong, para pengawal dan pejabat kerajaan menunduk, takut memancing amarahnya lebih jauh.

Di sampingnya, Ratu Treasure melangkah perlahan. Tatapannya lembut, tapi penuh kebijaksanaan yang menenangkan. Ia tahu amarah suaminya bukan lahir dari kebencian semata, melainkan dari rasa takut kehilangan rakyat dan keluarga. Dengan suara yang menyejukkan, ia berkata,

"Tenangkan hatimu, Yang Mulia. Jangan biarkan amarah menguasai cinta dalam hatimu. Mungkin semua ini hanyalah kesalahpahaman."

Raja menoleh, mata nya memerah seperti menyala karena emosi, menatap ratu dengan gejolak yang belum reda. Ada keraguan yang tak diungkapkan, namun jelas terasa di setiap garis wajahnya. Ia ingin percaya, tapi luka kehormatan terlalu dalam untuk dibiarkan begitu saja.

Sementara itu, jauh di dalam Hutan Aetheria, kemarahan yang serupa tumbuh, tapi dari akar yang berbeda. Di tengah lingkaran mawar berduri dan cahaya hijau yang berdenyut pelan, Roslyn Vein Ivy berdiri anggun namun dingin. Rambutnya panjang, tergerai seperti sulur tanaman, dan matanya menyimpan kekecewaan yang dalam.

"Artefak suci tak mungkin hilang sendiri!" gumamnya pelan, namun penuh tekad. "Manusia satu-satunya yang pernah kuizinkan masuk hutan. Siapa lagi pelakunya?"

Alam menjawab emosinya. Daun-daun merambat ke arahnya, tanah bergetar halus, dan bunga-bunga menutup kelopaknya, seolah ikut merasakan kemarahan sang penguasa. Burung-burung hutan berhenti berkicau, serangga menahan suara mereka, dan angin berhenti sejenak, memberi ruang bagi kemarahan yang menakutkan itu.

Di tengah kegelapan prasangka dan dendam, ada secercah harapan. Dua hati muda yang belum tercemar kebencian tetap ada. Miamor Crystalious Snowheart, putra Roslyn, elf muda dengan sihir kristal dan es, dan Cellestial Royal Sweetheart, putri kerajaan manusia yang lembut namun berani, adalah harapan itu.

Sejak kecil, takdir telah mempertemukan mereka dalam pertemuan-pertemuan singkat yang tak disengaja. Dari rasa ingin tahu muncul persahabatan. Dari persahabatan, lahir kepercayaan sesuatu yang langka di dunia yang semakin retak. Kini, saat mereka beranjak remaja, dinding batu besar berdiri sebagai pemisah dua dunia. Namun tidak ada dinding yang cukup tinggi untuk memisahkan hati mereka.

Di balik batu dingin itu, mereka sering bertemu diam-diam, berbagi cerita, tawa, dan kecemasan yang tak bisa mereka bagi pada siapa pun. Suatu sore, di bawah sinar rembulan lembut, Cellestial menyentuh permukaan batu itu dengan jemarinya yang kecil. Senyum tipis terukir di wajahnya, penuh harapan yang nyaris mustahil.

"Kau tahu, aku sering berharap dinding ini tidak pernah ada," ucapnya, suara hampir terseret oleh angin malam.

Miamor tertawa pelan, tawanya lembut tapi mengandung kesedihan yang tak ia sembunyikan. "Aku juga berharap seperti itu. Kalau bangsa kita tidak saling membenci dan memusuhi, mungkin dinding ini sudah tak ada. Mungkin kita bisa sering bertemu sejak lama."

Cellestial menatapnya, mencoba membaca kejujuran di balik mata sebening es musim dingin itu. "Ayahku percaya bangsamu yang membuat hutan menjadi tak terkendali. Tapi aku... aku tidak yakin."

Miamor menatap balik, sorot matanya berkilau seperti kristal es yang diterpa cahaya bulan. "Aku bersumpah, Cellestial. Kami tidak bisa mengendalikan hutan terus-menerus. Selama ini hutan dikendalikan oleh artefak suci para elf. Sejak artefak itu hilang, hutan menjadi liar. Aku juga tidak yakin kalau manusia yang mencurinya."

Keesokan harinya, mereka menjelajahi hutan bersama. Langkah mereka ringan, seolah alam masih mengizinkan kedekatan itu. Cahaya sihir berpendar lembut di antara pepohonan, daun-daun berbisik membawa rahasia yang belum terungkap.

Seekor burung kecil bercahaya turun dari ranting, sayapnya berkilau seperti debu bintang. Miamor menunduk, menatap burung itu seakan berbicara dengan sahabat lama. Cellestial mencondongkan kepala, bingung.

"Memangnya kamu mengerti yang ia ucapkan, Amor?" tanyanya.

"Tentu saja aku mengerti. Kebanyakan elf bisa berkomunikasi dengan hewan," jawab Miamor, suaranya lembut.

Burung itu berkicau, suaranya terdengar seperti denting kristal. "Kau mencari artefak hilang itu, ya? Aku melihatnya... dibawa oleh makhluk kecil bersayap. Mereka tampak seperti anak-anak, tapi matanya kosong."

Cellestial menggenggam lengan Miamor dengan lembut. "Apa yang ia katakan, Amor?"

Miamor menelan ludah. "Ia bilang ada makhluk kecil bersayap membawa artefak elf."

"Berarti... itu bukan manusia, juga bukan elf," ucap Cellestial dengan napas tertahan. "Berarti... ada bangsa ketiga."

Harapan kecil tumbuh, meski diiringi rasa takut. Untuk memastikan, Cellestial mengajak Miamor masuk ke wilayah kerajaan. Miamor mengenakan jubah besar, menutupi telinga lancipnya.

"Hati-hati, Miamor. Kalau ada yang melihat telingamu, semuanya bisa berakhir buruk," kata Cellestial dengan cemas.

"Aku lebih takut kehilangan sahabatku daripada ketahuan, Cellest," jawabnya sambil tersenyum, meski jantungnya berdegup cepat.

Tawa kecil mereka pecah, hangat, namun angin tiba-tiba bertiup kencang, membuat jubah Miamor hampir tersingkap. Cellestial menutupnya dengan tangan gemetar.

"Jangan bercanda lagi... nanti ketahuan," ucapnya, suara bergetar.

Waktu berlalu tanpa terasa. Saat senja turun, mereka berpisah dengan hati gelisah, membawa beban yang lebih berat dari sebelumnya. Keesokan harinya, mereka bertemu lagi di hutan untuk merencanakan pertemuan besar yang bisa mengubah segalanya. Cellestial mencoba membujuk ayahnya untuk ikut, tapi Raja menolak dengan berat hati.

"Ayah, maukah kau menemani aku masuk hutan untuk memetik buah?" tanyanya penuh harap.

Raja menghela napas panjang. "Maaf anakku, ayah tidak bisa meninggalkan kerajaan. Kalau kau ingin ke hutan, pergilah bersama pengawal, atau tetaplah di istana."

Cellestial tertunduk, harapannya perlahan runtuh. Ia pergi ke hutan dan menyampaikan kegagalannya pada Miamor.

"Maaf... aku tak berhasil," ucapnya sedih.

Miamor menggigit bibirnya. "Mungkin rencana kita gagal... Tapi aku akan mencari cara lain."

"Maaf, aku harus kembali ke istana sebelum ayah tahu," kata Cellestial.

"Baiklah... sampai jumpa lagi," ucap Miamor sambil melambaikan tangan, menyembunyikan kegelisahan di balik senyum tipis.

Ia melangkah lebih dalam ke hutan sendirian. Kabut turun tebal, menelan jalan setapak. Tanah bergetar di bawah kaki Miamor. Dari balik pepohonan, muncul sosok besar: monster golem kristal merah. Matanya menyala seperti bara api yang haus kehancuran.

"Makhluk apa itu...?" gumam Miamor, gemetar tapi menahan diri.

Ia mengangkat tangan, kristal es berputar, membentuk tombak tajam. Mantra terucap, tombak melesat, namun hanya memantul dari kulit keras golem. Monster itu membalas dengan ledakan serpihan kristal merah, menghujani udara. Tubuh Miamor terpental, menghantam pohon besar dengan keras.

"Cellest...." bisiknya, suara penuh rasa takut dan putus asa.

"Siapapun... tolong..."

Bisikan terakhir itu keluar sebelum kesadarannya memudar, meninggalkan hutan yang sunyi kecuali desiran angin dan cahaya kristal yang memudar dari tubuhnya.

*****

2 страница29 апреля 2026, 14:58

Комментарии

0 / 5000 символов

Форматирование: **жирный**, *курсив*, `код`, списки (- / 1.), ссылки [текст](https://…) и обычные https://… в тексте.

Пока нет комментариев. Будьте первым!