prolog
𝐇𝐚𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧𝐲𝐚!
𝐈𝐧𝐢 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐥𝐢𝐬 𝐩𝐞𝐦𝐮𝐥𝐚. 𝐂𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐦𝐚𝐣𝐢𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐚𝐦, 𝐝𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐜𝐨𝐛𝐚 𝐭𝐮𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐥𝐢𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐠𝐢𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢.♡
𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐤𝐚 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚, 𝐣𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐯𝐨𝐭𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫 𝐲𝐚. 𝐃𝐮𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐫𝐭𝐢 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐩𝐚𝐲𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐣𝐚𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐧𝐠.♡
𝐓𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚 𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫, 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚!

♛┈⛧┈┈•༶♡✾♡༶•┈┈⛧┈♛
Sejarah selalu ditulis oleh mereka yang bertahan hidup.
Namun, tidak semua kebenaran pernah dicatat.
Di sebuah pulau besar bernama Aetheria, dua bangsa hidup berdampingan selama ratusan tahun manusia dan elf. Mereka berbagi tanah, langit yang sama, dan aliran waktu yang perlahan mengikis ingatan akan peperangan lama. Perdamaian itu tidak lahir dari kepercayaan, melainkan dari kesepakatan rapuh yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Manusia membangun kerajaan dengan dinding batu dan pedang besi.
Elf menjaga hutan dengan sihir kuno dan artefak nya.
Di antara mereka berdiri batas yang tak kasat mata bukan tembok, melainkan rasa curiga.
Artefak suci bangsa elf, kebersamaan mereka, selama ini menjadi penyeimbang dunia. Artefak itu menjaga aliran sihir tetap stabil, menahan monster purba agar tetap tertidur, dan menjadi simbol kepercayaan terakhir antarbangsa. Selama artefak itu aman, Aetheria akan tetap damai.
Namun, pada suatu malam yang diselimuti kabut tebal, artefak itu menghilang.
Tak ada tanda perusakan.
Tak ada jejak sihir yang jelas.
Hanya ruang kosong di altar suci dan ketakutan yang segera menyebar seperti api.
Para tetua elf menyimpulkan satu hal yang paling masuk akal bagi mereka
manusia adalah pelakunya.
Tuduhan itu sampai ke telinga kerajaan manusia sebelum matahari terbit. Raja manusia menyangkal, tetapi kata-kata tidak pernah cukup kuat untuk melawan kecurigaan yang telah lama tertanam. Pasukan mulai bersiap. Pedang diasah. Panah direntangkan.
Dan sejarah yang seharusnya tetap terkubur... mulai bangkit kembali.
Di tengah ketegangan itu, seorang elf muda bernama Miamor berdiri di tepi hutan yang liar ditemani oleh seorang elf lainya yang bernama Myuran... memandangi kristal kecil yang berpendar lemah di telapak tangannya. Miamor belum memahami sepenuhnya mengapa sihirnya berbeda dengan elf lainnya, mengapa kristal merespons emosinya, atau mengapa hatinya terasa gelisah sejak malam artefak itu menghilang.
Di sisi lain pulau, di balik dinding istana manusia, Cellestial putri kerajaan merasakan kegelisahan yang sama. Meskipun ia tidak memiliki sihir, nalurinya mengatakan bahwa perang yang akan datang bukanlah perang yang seharusnya terjadi.
Tak seorang pun dari mereka tahu bahwa takdir telah mulai bergerak.
Bahwa persahabatan yang terlarang akan lahir di antara dua bangsa yang saling membenci.
Dan bahwa sejarah yang akan tercipta bukan sekadar catatan masa lalu
melainkan kisah tentang pilihan, pengkhianatan, dan keberanian untuk percaya.
Karena terkadang, perang terbesar tidak dimulai oleh kebencian,
melainkan oleh kebenaran yang disembunyikan.
*****
![THE MEDIEVAL HISTORY [HIATUS]](https://watt-pad.ru/media/stories-1/6c9c/6c9cdcc6b5c0630b8f952d2c02319f01.avif)